NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Pesta Ulang Tahun

"Ada hal yang perlu kau ketahui tentang empat tahun lalu."

Kalimat Kevin membuat udara di Maison de Belle seperti berhenti. Naomi menatap pria itu, tetapi yang ia lihat bukan wajah Kevin hari ini. Yang muncul di matanya adalah ruang tamu apartemen lama, kardus barang, dan suaranya yang meminta Naomi pergi dari hidup Darren.

Darren melangkah ke samping Naomi. Ia tidak menyentuhnya, tetapi posisinya cukup dekat untuk menjadi penyangga.

"Om akan bicara sekarang," kata Darren.

Kevin melihat ke arah pegawai boutique yang pura-pura merapikan kain, lalu pada Tiffany yang jelas siap meledak. "Tidak di sini."

Tiffany mendengus. "Nyaman sekali. Datang lempar bom, lalu minta tempat privat."

"Tiffany," Naomi berbisik.

"Aku akan membawa bukti," lanjut Kevin, suaranya tetap rendah. "Ada sesuatu yang selama ini aku salah pahami. Ada juga orang yang ikut memastikan kalian tidak bisa saling menemukan."

Jantung Naomi berdenyut keras.

Darren membeku. "Siapa?"

Kevin menatapnya. "Besok malam. Setelah acara ulang tahunmu. Aku akan jelaskan semuanya."

"Tidak," kata Darren dingin. "Sekarang."

"Kalau aku salah satu langkah, orang itu akan menghancurkan bukti sebelum sampai ke tanganmu."

Naomi seharusnya mendesak. Ia berhak tahu. Namun melihat wajah Darren yang berubah gelap, ia justru merasa tubuhnya semakin lelah. Empat tahun hidupnya sudah retak. Satu malam lagi tidak akan memperbaiki atau menghancurkan semuanya sekaligus.

"Besok," ucap Naomi akhirnya.

Darren menoleh. "Nao."

"Aku ingin mendengar dengan kepala jernih." Naomi menatap Kevin. "Tapi kalau Anda berbohong lagi, saya tidak akan memaafkan Anda."

Kevin menunduk. "Aku tidak layak dimaafkan. Tapi kau tetap layak mendapat kebenaran."

Malam berikutnya, Naomi berdiri di depan cermin kamar hotel dengan gaun biru gelap yang ia rancang sendiri.

Pesta ulang tahun Darren diadakan di ballroom Hotel Maharaja, hotel yang lebih besar dan jauh lebih mewah daripada gala tempat mereka bertemu kembali. Wijaya Group mengundang rekan bisnis, keluarga konglomerat, media gaya hidup, dan orang-orang yang namanya sering muncul di halaman ekonomi. Bagi mereka, ulang tahun Darren bukan sekadar perayaan, melainkan pameran kekuatan.

Naomi hampir tidak datang.

Tiffany yang memaksanya memakai anting. "Lo datang bukan sebagai perempuan yang mengejar dia. Lo datang sebagai pemilik Maison de Belle yang gaunnya bisa bikin semua tante sosialita iri."

"Kamu yakin?"

"Yakin. Dan kalau Vanessa muncul, gue doain hak sepatunya patah."

Naomi akhirnya tertawa kecil.

Namun tawanya hilang ketika pintu ballroom terbuka.

Darren berdiri di tengah kerumunan dengan setelan hitam, dasi longgar, dan senyum malas yang biasa ia pakai untuk menghadapi dunia. Banyak orang mengelilinginya. Ada yang memberi selamat, ada yang menyinggung proyek baru Wijaya Group, ada yang membawa putri mereka terlalu dekat dengan harapan terlalu jelas.

Tetapi begitu Naomi masuk, Darren berhenti mendengar semuanya.

Matanya menemukan Naomi di antara puluhan tamu, secepat napas.

Ia meninggalkan seorang direktur bank yang masih bicara, lalu berjalan ke arahnya.

Bisik-bisik muncul. Naomi menegakkan punggung.

"Kamu datang," ucap Darren.

"Aku datang karena undangan resmi."

"Undangan resmi itu aku tulis sendiri."

"Tentu saja."

Darren menatap gaunnya, lalu suaranya turun. "Kamu cantik sekali malam ini. Aku jadi susah pura-pura sopan."

Pipi Naomi menghangat. "Ini acaramu. Jaga sikap."

"Aku sedang sangat menjaga sikap."

Tiffany, yang berdiri di samping Naomi dengan gaun hijau, berdeham keras. "Halo. Ada orang ketiga yang masih hidup di sini."

Darren tersenyum. "Terima kasih sudah menemani Naomi."

"Gue menemani dia, bukan mendukung kamu."

"Aku terima itu sebagai kemajuan."

Naomi hampir tersenyum lagi. Untuk beberapa menit, suasana terasa hampir normal. Darren memperkenalkannya kepada beberapa tamu sebagai pemilik Maison de Belle, bukan sekadar perempuan yang sedang ia kejar. Ia menyebut detail desain gaun Naomi dengan bangga, membuat dua istri pengusaha langsung meminta kartu nama.

Naomi membenci betapa mudahnya Darren membuatnya terlihat dihargai.

Jason Oei muncul tidak lama kemudian dengan segelas soda di tangan dan senyum terlalu lebar.

"Ci Nao," sapanya seolah mereka sudah akrab bertahun-tahun. "Akhirnya ketemu juga. Gue Jason, saksi penderitaan Darren sejak zaman rambutnya masih sok keren."

Darren menatapnya datar. "Pergi."

"Lihat, Ci? Begini nasib orang yang tahu terlalu banyak." Jason menepuk dada sendiri. "Kalau nanti dia mulai sok misterius, kabari gue. Gue punya arsip memalukan."

Tiffany langsung tertarik. "Arsip jenis apa?"

"Jenis yang bisa membuat CEO besar minta bumi menelan dia."

Untuk pertama kalinya malam itu, Naomi tertawa tanpa sempat menahan.

Darren menatap Jason seperti ingin mengusirnya ke luar negeri, tetapi sudut bibirnya ikut naik sedikit.

Lalu lampu ballroom meredup.

Pembawa acara naik ke panggung, mengundang semua tamu mengangkat gelas untuk Darren. Tepuk tangan memenuhi ruangan. Darren berdiri di samping Naomi, cukup dekat hingga bahu jasnya hampir menyentuh lengan Naomi.

Saat itulah pintu utama terbuka dengan keras.

Vanessa Shen masuk dengan gaun putih dan wajah pucat yang dibuat terlalu dramatis. Di belakangnya, dua wanita paruh baya tampak panik, sementara beberapa kamera tamu langsung beralih ke arahnya.

"Darren!" serunya.

Ballroom langsung hening.

Darren tidak bergerak. Tatapannya berubah dingin.

Vanessa melangkah ke tengah ruangan, satu tangan memegang perutnya yang masih rata. "Kamu bisa mempermalukanku kemarin, tapi kamu tidak bisa terus menghindari tanggung jawab."

Bisik-bisik meledak.

Tiffany memegang lengan Naomi. "Dia mau main apa sekarang?"

Naomi sudah tahu sebelum Vanessa mengucapkannya. Dari cara perempuan itu memegang perut, dari ekspresi menang yang disembunyikan di balik air mata palsu, dari tatapan yang sengaja dilemparkan ke arah Naomi.

"Aku hamil," kata Vanessa, suaranya bergetar. "Anakmu."

Gelas di tangan seorang tamu jatuh ke karpet.

Naomi merasakan wajahnya menjadi dingin. Bukan karena ia percaya begitu saja, melainkan karena tubuhnya masih punya luka lama yang terlalu mudah disentuh oleh pengkhianatan.

Vanessa menangis semakin keras. "Kamu boleh tergila-gila pada perempuan itu, tapi anak ini tidak bersalah."

Darren akhirnya bergerak.

Ia mengambil gelas dari tangan Naomi dan meletakkannya di meja terdekat. Gerakannya lembut, seolah hal pertama yang ia pikirkan tetap tangan Naomi yang mungkin gemetar.

Lalu ia naik ke panggung.

"Selesai?" tanyanya pada Vanessa.

Vanessa terisak. "Kamu tega bicara begitu padaku?"

Darren menerima sebuah amplop cokelat dari Billy yang datang dengan wajah tegang. Semua mata mengikuti gerakan tangannya saat ia membuka amplop itu.

"Aku sebenarnya ingin memberimu kesempatan pergi diam-diam," kata Darren. "Tapi kamu memilih panggung."

Wajah Vanessa berubah.

Darren mengangkat beberapa lembar kertas berkop rumah sakit swasta.

"Ini hasil pemeriksaan dari dokter kandungan yang kamu kunjungi pagi tadi," ucapnya, suara rendahnya terdengar jelas di seluruh ballroom. "Dan ini rekaman pembayaranmu kepada staf untuk membuat surat palsu."

Tepuk tangan tidak ada. Hanya hening yang jauh lebih memalukan.

Darren menatap Vanessa tanpa ampun.

"Vanessa Shen tidak hamil."

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!