Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Api yang membakar niat
Jayengrana merendahkan tumpuan kakinya. Kedua tangannya mencengkeram erat gagang tombak berbalut kain.
Di hadapannya, puluhan prajurit Mataram mulai menyebar lentur, membentuk kurungan setengah lingkaran. Mereka bergeming tanpa ayunan senjata—menanti komando mutlak dari sang pimpinan.
Pria bertopeng kayu mengayunkan langkah tenang. Kobaran api legam kemerahan di ujung tongkatnya bergetar ganjil. Meski angin malam telah mati sepenuhnya, pendar api itu terus membumbung dan meliuk hidup bagai lidah ular.
Pengemis Tua pasang kuda-kuda di sisi Jayengrana. "Satu petunjuk penting: jangan pernah membiarkan raga maupun senjatamu terhantam lidah api itu."
"Aku sudah mencatatnya," sahut Jayengrana tanpa mengalihkan pandangan.
"Bagus," timpal Pengemis Tua seraya mengangkat kendinya. "Namun aku belum sempat membeberkan jurus untuk meloloskan diri dari ilmu nya itu."
Jayengrana melirik tipis. "Kau memang selalu gemar memelihara teka-teki."
"Jika semua jawaban tersaji mudah, jalan hidupmu akan mendatar tanpa gairah."
Tok!
Pria bertopeng mengetuk ubin tanah dengan tongkatnya.
Seketika itu pula, gelombang prajurit bergerak serentak. Satu perwira memacu langkah, disusul dua prajurit tombak, lantas enam prajurit pedang menyergap dari pelbagai sudut!
"Jayengrana!" jerit istrinya dari kejauhan.
"Tetaplah berlindung!" seru Jayengrana seraya melompat maju.
Wusss!
Sabetan mata tombak Jayengrana membelah udara, memotong lintasan serangan prajurit terdepan. Perwira itu buru-buru menangkis dengan gagang besi, namun Jayengrana memutar poros tombaknya secara cermat.
Tak!
Senjata lawan terpelanting ke udara. Tanpa memberi jeda, sikut Jayengrana melesat telak menghantam tulang dada musuh hingga tumbang membentur tanah.
Dua tebasan pedang menyambar dari sisi kiri. Jayengrana merundukkan kepalanya tipis, membiarkan bilah tajam itu membabat angin beberapa milimeter di atas helaian rambutnya. Ia memutar raga setengah lingkaran, mengayunkan pangkal tombak untuk mematahkan sendi lutut sang pemegang pedang.
Buk!
Musuh mengerang dan rubuh. Namun serbuan ketiga merayap licik dari balik punggungnya.
Pengemis Tua mengayunkan kendi tanah liatnya dengan gerakan acak.
Duk!
Kendi itu memukul telak pelipis prajurit penyusup. "Aduhai... maafkan tanganku yang kurang presisi," gumam Pengemis Tua seraya mengelus kendi cantiknya. Prajurit itu langsung ambruk tak sadarkan diri.
Jayengrana melirik kagum. "Kemampuan tempurmu sangat teruji."
"Aku hanyalah pengemis jalanan."
"Jawaban yang kurang diplomatis."
"Pengemis pun wajib membekali diri agar kepalanya tak retak dihantam hujan deras," sahut Pengemis Tua jenaka.
Namun kehangatan interaksi itu menguap seketika saat dentang langkah berat menggetarkan tanah. Pria bertopeng kayu mulai mengambil alih pertempuran.
Jayengrana membangkitkan Naluri Niat. Anehnya, ia tak mendeteksi hawa pembunuh maupun gelora murka dari raga musuhnya. Hanya ada ketiadaan yang mencekam—seperti berdiri di tepi jurang tanpa dasar.
Pria bertopeng mengacungkan tongkatnya. Lidah api legam menjulur panjang, membelah malam menuju leher Jayengrana.
Jayengrana melompat mundur secara refleks.
Fsssh!
Sabetan api itu meleset, memotong batang pohon raksasa di belakangnya. Tak ada ledakan maupun percikan arang; jaringan batang yang tersapu pendar api justru mendadak berubah warna menjadi kehitaman yang mati. Daun-daunnya gugur seketika, dan kulit kayunya melenyap bagai terhisap ke alam hampa.
Pengemis Tua memperingatkan dari jauh. "Jika pendar itu menyentuh raga manusia... daya hancurnya tak cuma membakar daging!"
"Lantas apa yang dimusnahkannya?"
"Keberanian batin, memori ingatan, hingga kehendak untuk hidup. Dalam beberapa kasus... energi pendar itu sanggup menghapus total pemahaman tenaga dalam seseorang!"
Jayengrana tertegun. Kini ia paham alasan mendasar mengapa para tahanan di Gedung Utara sirna ketakutan. Pria bertopeng ini bukan sekadar penyiksa fisik, ia adalah penghancur jiwa dan niat hidup korbankan.
Wusss!
Tongkat hitam kembali meluncur. Jayengrana melakukan backflip menghindar, membiarkan ujung tongkat menghantam ubin tanah hingga melenyapkan warna dan kesuburan tanah tersebut.
Dari jarak dekat, Jayengrana melancarkan serangan balasan. Tombaknya melesat bagai kilat menuju celah bahu musuh.
Tak!
Gagang kayu tongkat menahan tusukan tajam itu. Getaran benturan dahsyat merambat hebat hingga membuat kedua lengan Jayengrana bergetar kebas. Pria bertopeng bergeming tanpa bergeser setapak pun.
"Bekas Senopati Mataram..." desis pria bertopeng di balik ukiran kayu.
"Kau mengenali identitasku," sahut Jayengrana seraya memperketat cengkeraman.
"Aku memantau pelbagai rekam jejakmu."
Pria bertopeng menghentakkan tongkatnya, menghempaskan tombak Jayengrana. Ia memburu cepat dengan rentetan serangan jarak pendek. Gerakannya tak terlalu berkecepatan tinggi, namun tiap sabetan membawa bobot tekanan gaib yang meremukkan tumpuan udara.
Jayengrana memutar tombaknya dalam lingkaran proteksi penuh, menangkis tiga tebasan beruntun sebelum melayangkan tusukan balasan ke arah leher.
Pria bertopeng merunduk cepat, lalu dengan gerakan kilat menyentuh gagang tombak Jayengrana menggunakan ujung jemarinya yang terbalut pendar api legam.
Ssshh!
Gagang kayu tombak pusaka itu seketika memudar warnanya menjadi kelabu rapuh. Jayengrana serta-merta melepas cengkeramannya sebelum pendar api itu menjalar ke jemarinya.
Pria bertopeng menyunggingkan kepuasan. "Kau memiliki refleks yang luar biasa."
Sementara itu, pertempuran di barisan belakang berlangsung riuh. Pengemis Tua bertarung menggunakan raga yang nampak sempoyongan bagai pemabuk berat. Namun tiap kali benturan senjata mengancamnya, raganya meliuk pas meloloskan diri.
Satu prajurit disapu dengan ayunan kendi, satu disikut lututnya, dan seorang lagi dilemparkan menabrak tumpukan semak belukar. Pertarungan tanpa pamer tenaga dalam yang mencolok—murni kepiawaian pengalaman bertahun-tahun.
Tiba-tiba, seorang prajurit Mataram berhasil lolos dari pengawasan dan memburu penuh ancaman ke arah tempat persembunyian Jaka dan istri Jayengrana.
Jaka memungut batu dengan jemari gemetar. Namun sebelum anak itu sempat melontarkannya, istri Jayengrana pasang badan melindunginya. Meski raganya masih lunglai dan tanpa senjata, sorot matanya memancarkan keteguhan penuh.
Prajurit itu mengayunkan pedangnya ke udara!
"Istriku!" jerit Jayengrana panik. Ia hendak melompat menolong, namun pria bertopeng kayu menghadang dengan sapuan tongkatnya.
Brak!
Jayengrana terpaksa menangkis dengan sisa gagang tombak hingga terpental beberapa langkah. Jarak mereka terlampau jauh!
Namun tepat sebelum pedang musuh menebas, Pengemis Tua meluncur secepat bayangan. Kendi tanah liatnya menghantam keras pergelangan tangan sang prajurit, membuat pedang itu terlepas. Disusul hantaman lutut mendalam ke perut yang merobohkan musuh seketika.
Pengemis Tua berdiri menyangga pinggangnya sambil terengah-engah. "Jangan berani-berani mengusik ketenangan sebuah keluarga!"
Istri Jayengrana menatapnya takjub. "Terima kasih banyak..."
Pengemis Tua melambaikan tangannya santai. "Simpan ucapanmu. Kau bisa melunasi utang jasa ini nanti."
"Dengan apa aku harus membayarnya?"
"Satu bumbung arak kualitas terbaik."
Wanita itu tertegun sejenak, lalu menyunggingkan tawa kecil di tengah kepungan bahaya.
Jayengrana menyaksikan adegan itu dari kejauhan. Kehangatan yang dalam merayap di relung dadanya—bukan kehangatan amarah, ini pendar kedamaian batin.
Gema suara Penunggang Perjanjian merayap pelan dalam kesadarannya. "Apakah kau menyaksikannya, Jayengrana?"
'Menyaksikan apa?'
"Kebajikan hakiki kerap terbungkus dalam raga yang kotor dan tak terpandang."
Jayengrana akhirnya menyadari hakikat sesungguhnya: perjanjian gaib ini tidak sekadar memberikan ganjaran atas tiap tindakan baiknya; jalan ini menuntun penempaan jiwanya secara bertahap. Kekuatan gaib yang muncul hanyalah cerminan dari kematangan keputusan hidup yang ia ambil.
Jayengrana menarik napas panjang, mengikat sisa gagang tombaknya dengan cengkeraman baru. Tatapannya terkunci rapat pada pria bertopeng kayu.