Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016
Lidah Natasha
"Kalau kau terus begini... aku tidak bisa menahan diri lagi."
Seraphina merasakan kalimat itu di kulitnya sebelum benar-benar memahaminya.
Dahi Reynard masih menempel pada dahinya. Jarak mereka begitu dekat sampai ia bisa melihat bayangan dirinya di mata pria itu. Di luar dapur, Sejuta menggesek pintu dengan cakar pelan, seolah mengingatkan bahwa dunia masih ada dan tidak semua hal bisa berhenti di napas yang sama.
Seraphina seharusnya mundur.
Ia tidak segera melakukannya.
"Kalau begitu," bisiknya, "tahan sedikit lagi."
Napas Reynard berhenti.
Matanya menjadi semakin gelap. Namun alih-alih menarik Seraphina lebih dekat, ia justru memejamkan mata sebentar, seperti orang yang sedang menahan badai dari dalam dada.
Ketika ia membuka mata lagi, tangannya naik hanya untuk merapikan rambut Seraphina yang jatuh di pipi.
"Kau kejam, kucing kecilku."
Seraphina menelan senyum yang hampir keluar. "Aku sedang marah padamu."
"Aku tahu."
"Jangan terdengar senang."
"Sulit."
Malam itu tidak melewati batas. Reynard mengantarnya pulang setelah memastikan ia membawa kotak makanan untuk sarapan. Di depan pintu apartemen SCBD, ia tidak masuk. Hanya menyentuh puncak kepala Seraphina sebentar, lalu berkata, "Kunci rumah ini tetap milikmu. Tapi pintuku juga punya namamu."
Kalimat itu mengikutinya sampai tidur.
Dua hari kemudian, kalimat manis itu digantikan oleh suara Yolanda di sebuah acara siang keluarga Wibowo.
Acara itu seharusnya sederhana: trunk show perhiasan amal di sebuah butik hotel kawasan Thamrin. Natasha mengajak Seraphina, Michelle, dan Jessica datang karena sebagian hasilnya disumbangkan untuk program pendidikan anak perempuan. Seraphina pikir itu akan menjadi acara ringan.
Ia lupa bahwa di Jakarta, bahkan amal pun bisa menjadi panggung.
Yolanda berdiri di dekat meja champagne bersama Tamara dan dua perempuan lain. Gaun pastel, rambut rapi, senyum terluka. Saat Seraphina masuk bersama Natasha, suara Yolanda cukup pelan untuk terlihat tidak sengaja, tetapi cukup keras untuk didengar orang di sekitarnya.
"Aku cuma kasihan pada Papa. Baru saja Sera pulang, sudah banyak berita aneh. Proyek pemerintah, Hartono Group, Tuan Muda Hartono... orang-orang bisa salah paham."
Tamara menimpali, "Salah paham bagaimana?"
Yolanda menunduk, memainkan gelang di pergelangan tangannya. "Aku tidak mau bicara buruk. Dia tetap keluargaku. Hanya saja, sejak kecil dia tidak dibesarkan di lingkungan kami. Mungkin dia belum tahu batas kedekatan dengan pria."
Beberapa kepala menoleh.
Jessica langsung menegang. Michelle memegang lengannya agar tidak maju terlalu cepat.
Natasha tersenyum.
Itu bukan pertanda baik.
Seraphina masih berdiri diam. Ia sudah pernah mendengar hinaan yang lebih kasar. Namun yang membuat dadanya dingin adalah cara Yolanda membungkus racun dengan kepedulian. Bukan menuduh, hanya "khawatir". Bukan menyerang, hanya "kasihan Papa".
Natasha berjalan mendekat sambil membawa gelas jus.
"Yolanda," sapanya cerah.
Yolanda pura-pura terkejut. "Tasha. Aku tidak lihat kau datang."
"Tentu. Kau terlalu sibuk melihat hidup orang lain."
Senyum Yolanda membeku.
Tamara memutar mata. "Kami cuma ngobrol."
"Aku tahu. Sayangnya, kualitas obrolan kalian merusak dekorasi ruangan." Natasha menaruh gelas di meja, lalu menatap Yolanda dari ujung rambut sampai sepatu. "Kau bilang Sera belum tahu batas kedekatan dengan pria. Menarik. Karena setahuku, dia membangun perusahaan, menang proyek, dan bicara dengan pria dewasa dalam konteks kerja. Sementara kau berdiri di dekat meja champagne mengubah iri hati menjadi kegiatan sosial."
Suara tawa kecil terdengar dari sudut ruangan.
Wajah Yolanda memucat. "Kau salah paham. Aku hanya khawatir sebagai adik."
"Adik?" Natasha mengangkat alis. "Kalau itu cara seorang adik bicara, aku bersyukur tidak punya adik sepertimu. Hemat biaya terapi."
Jessica menutup mulut, tetapi bahunya bergetar.
Michelle menghela napas pelan, seperti sudah menyerah menghentikan Natasha.
Yolanda mulai terlihat terluka. Ia ahli sekali memakai wajah itu. "Aku tahu kau teman Sera, tapi kau tidak tahu keadaan keluarga kami."
Natasha mendekat setengah langkah. "Benar. Aku tidak tahu seluruh keadaan keluarga kalian. Tapi aku tahu satu hal: perempuan yang benar-benar dicintai keluarganya tidak perlu menjatuhkan perempuan lain untuk merasa aman."
Kalimat itu mengenai tempat yang tepat.
Yolanda kehilangan kata-kata.
Seraphina akhirnya maju. Ia berdiri di samping Natasha, bukan di belakangnya. "Terima kasih sudah khawatir, Yolanda. Lain kali kalau ada yang ingin kau tanyakan tentang batas, tanyakan langsung padaku. Jangan mengajar dari belakang punggung orang."
Yolanda memaksa senyum. "Aku tidak bermaksud..."
"Aku tahu," potong Seraphina. "Kau jarang bermaksud. Semuanya selalu kebetulan."
Tamara memandang gelasnya, jelas mengingat insiden wine.
Natasha mengambil kembali gelas jusnya. "Ayo, Sera. Kalau kita terlalu lama di sini, aku takut kecerdasan kita ikut menguap."
Mereka pergi meninggalkan Yolanda dengan wajah yang tidak lagi manis.
Di area perhiasan, Jessica akhirnya tertawa. "Tasha, kau kejam."
"Aku efisien."
Seorang perempuan paruh baya dari keluarga Wibowo yang sejak tadi berada di dekat display bros menghampiri mereka. Ia mengenakan kebaya modern warna biru tua, sikapnya tenang dan berwibawa. Natasha langsung berdiri sedikit lebih sopan.
"Tante Lidia," sapanya.
Perempuan itu tersenyum kepada Seraphina. "Saya mendengar presentasi singkat yang tidak sengaja terjadi tadi."
Seraphina menahan canggung. "Maaf kalau mengganggu acara."
"Yang mengganggu acara bukan orang yang membela diri dengan sopan." Tante Lidia mengambil satu bros kecil berbentuk daun dari display, lalu menyerahkannya kepada staf. "Saya juga membaca berita tentang Astoria. Program pendidikan anak perempuan kami butuh sistem pemetaan sekolah penerima bantuan. Bukan proyek besar, tapi kalau Astoria bersedia memberi proposal sosial, saya ingin melihatnya."
Yolanda yang masih berdiri tidak jauh dari meja champagne menoleh tajam.
Natasha tersenyum seperti baru memenangkan putaran mahjong. "Tante punya selera bagus."
Seraphina menerima kartu nama yang diberikan Tante Lidia dengan dua tangan. "Terima kasih. Saya akan kirim proposal resmi. Kalau kerja sama ini berjalan, kami akan pastikan datanya bisa dipakai jangka panjang, bukan hanya laporan acara."
"Itu yang ingin saya dengar."
Ketika Tante Lidia pergi, beberapa tamu yang tadi hanya menonton mulai memandang Seraphina dengan cara berbeda. Bukan lagi sekadar anak Lim yang jadi bahan gosip, melainkan pendiri perusahaan yang bisa diajak bicara.
Natasha mencondongkan badan ke telinga Seraphina. "Lihat wajah Yolanda."
Seraphina tidak menoleh. "Tidak perlu."
"Sayang sekali. Itu pemandangan mahal."
Kali ini, Seraphina benar-benar tersenyum.
Seraphina menatap Natasha. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Itu pemanasan. Kalau dia bicara lagi, aku punya versi lebih panjang."
Michelle tersenyum. "Tolong simpan untuk keadaan darurat."
Seraphina ingin ikut tertawa, tetapi ponselnya bergetar.
Nama Hendrawan Lim muncul di layar.
Ia tidak mengangkat.
Pesan masuk beberapa detik kemudian.
Pulang malam ini. Papa tidak akan mengulang perintah.