NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 14

Tiga hari. Tiga hari penuh Amerta terisolasi dari peradaban, terkunci di dalam kamar tidurnya sendiri yang kini bertransformasi menjadi sebuah sangkar emas yang kedap suara. Tanpa ponsel, tanpa koneksi internet, dan tanpa jam dinding yang berfungsi—karena Mahesa sengaja mencopot baterainya agar Amerta kehilangan orientasi waktu—gadis itu hanya bisa mengandalkan perubahan bias cahaya dari balik gorden abu-abu tebal untuk menandai pergantian siang dan malam.

Pada hari pertama, Amerta masih memiliki energi untuk berteriak dan menggedor pintu hingga telapak tangannya memar kebiruan. Pada hari kedua, ia beralih memohon dengan suara serak yang parau, menangis di balik daun pintu kayu ek yang kokoh hingga tenggorokannya terasa terbakar dan mengeluarkan darah. Namun pada hari ketiga, keheningan total mulai menggerogoti jiwanya. Amerta berhenti bersuara. Ia hanya berbaring di atas ranjang king size miliknya, meringkuk memeluk lutut dengan tatapan mata yang kosong menatap dinding putih di hadapannya.

Efek psikologis dari isolasi tersebut rupanya berdampak buruk pada fisiknya. Sejak malam kedua, Amerta menolak menyentuh makanan apa pun yang dibawakan Mahesa. Tubuhnya menolak nutrisi, memicu asam lambungnya naik dan memicu respons imunnya runtuh total.

Sore itu, menjelang hari keempat penyekapan, badai di luar rumah kembali mengamuk. Petir menyambar bertubi-tubi, menciptakan kilatan cahaya yang menakutkan di dalam kamar yang remang-remang. Amerta menggigil hebat di bawah selimut tebalnya. Kulitnya yang biasanya seputih pualam kini tampak pucat pasi keabu-abuan, sementara kedua pipinya merona merah padam akibat panas yang membakar dari dalam tubuhnya. Napasnya terdengar pendek, berat, dan tersengal-sengal.

Tepat pukul 17.00 WIB, suara klik dari kunci pintu yang berputar memecah keheningan.

Mahesa melangkah masuk dengan setelan kemeja kerja yang sedikit basah di bagian bahu karena air hujan. Wajahnya yang biasanya tegas dan penuh kendali, seketika mengeras saat matanya menangkap siluet Amerta yang meringkuk kaku di atas ranjang. Di atas meja nakas, mangkuk bubur ayam yang ia bawakan tadi pagi masih utuh, permukaannya telah mengeras dan mendingin.

"Amerta?" panggil Mahesa, suaranya baritonnya mengalun rendah, mencoba mempertahankan nada tenangnya yang manipulatif.

Tidak ada jawaban. Jangankan suara, pergerakan sekecil apa pun tidak ditunjukkan oleh gadis itu.

Kerutan di dahi Mahesa semakin dalam. Ia melangkah mendekati ranjang, sepatunya menimbulkan bunyi ketukan yang teratur di atas lantai parket kayu. "Jangan memulai drama baru, Amerta. Aku sudah katakan, mogok makan tidak akan membuatku melepaskanmu. Besok lusa Ayah dan Mamamu mendarat di Jakarta. Aku harus memastikan kamu sudah 'patuh' sebelum mereka tiba."

Tetapi, begitu Mahesa berdiri di sisi ranjang dan mengulurkan tangan untuk menyibak selimut Amerta, langkahnya mendadak terkunci.

Hawa panas yang luar biasa langsung menerpa telapak tangan Mahesa bahkan sebelum ia menyentuh kulit gadis itu. Ketika jemari kokohnya mendarat di dahi Amerta, Mahesa tersentak. Kulit adiknya terasa seperti tungku api yang menyala.

"Sial," umpat Mahesa, topeng ketenangannya runtuh dalam sedetik. Ketenangan yang selama tiga hari ini ia bangga-banggakan sebagai penguasa rumah langsung menguap, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa.

"Amerta! Buka matamu!" Mahesa menyusupkan lengannya ke bawah tengkuk Amerta, mengangkat tubuh gadis itu yang terasa begitu ringan dan rapuh ke dalam dekapannya. Kepala Amerta terkulai lemas di dada Mahesa, napasnya yang panas berembus di leher laki-laki itu.

"Dingin... sakit..." gumam Amerta meracau dalam igauannya, sepasang kelopak matanya bergetar hebat namun tak mampu terbuka. Kesadarannya telah tenggelam jauh di bawah pengaruh demam tinggi yang nyaris mencapai empat puluh derajat.

Melihat kondisi itu, jantung Mahesa berdegup kencang dengan ritme yang kacau. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Mahesa Dirgantara, ia merasakan ketakutan yang murni—ketakutan akan kehilangan kendali atas nyawa seseorang yang begitu ia obsesikan. Ia segera membaringkan kembali tubuh Amerta dengan hati-hati, lalu berlari keluar kamar menuju dapur bawah, menuruni tangga dengan tergesa-gesa tanpa memedulikan wibawanya lagi.

Beberapa menit kemudian, Mahesa kembali dengan sebaskom air hangat, handuk kecil, dan kotak obat-obatan. Tangannya yang biasanya stabil saat menandatangani kontrak bisnis bernilai miliaran rupiah, kini gemetar hebat saat memeras handuk hangat tersebut.

Dengan perlahan, Mahesa menempelkan kompres hangat itu ke dahi Amerta. Gadis itu melenguh kesakitan, tubuhnya menyentak kecil seolah sentuhan itu menyakitinya.

"Sshh... tenang, Amerta. Ini aku. Kak Esa di sini," bisik Mahesa dengan nada suara yang belum pernah terdengar sebelumnya—lembut, cemas, dan dipenuhi keputusasaan yang pekat.

Mahesa menyadari pakaian kuliah yang dikenakan Amerta sejak tiga hari lalu sudah lembap oleh keringat dingin. Tanpa berpikir panjang, ia berjalan menuju lemari pakaian Amerta, mengambil selembar baju tidur berbahan katun tipis yang longgar dan nyaman. Dengan gerakan yang luar biasa hati-hati—berusaha menjaga agar batas kewarasannya tidak jebol oleh hasrat gelapnya sendiri—Mahesa mengganti pakaian Amerta, membersihkan tubuh gadis itu yang berkeringat dengan waslap hangat.

Setiap kali jemarinya tidak sengaja bersentuhan dengan kulit Amerta yang panas, dada Mahesa bergemuruh. Amerta tampak begitu tak berdaya, bagaikan boneka pualam yang bisa hancur kapan saja jika ia menggenggamnya terlalu keras. Rasa bersalah yang asing mulai merayap di sudut hati Mahesa, bergesekan dengan rasa kepemilikannya yang egois.

Setelah memastikan Amerta mengenakan pakaian kering, Mahesa duduk di tepi ranjang. Ia mengambil mangkuk berisi bubur hangat yang baru ia buat, lalu mencoba menyuapi Amerta.

"Amerta, buka mulutmu sedikit. Kamu harus minum obat," bujuk Mahesa, jemarinya mengetuk pelan bibir Amerta yang pecah-pecah dan kering.

Amerta menggelengkan kepalanya lemah, air mata menetes dari sudut matanya yang terpejam. "Nggak mau... pergi... Kak Esa jahat... lepasin Amerta..." racau gadis itu dengan suara yang nyaris tak terdengar, tenggelam dalam halusinasi akibat demamnya.

Dada Mahesa terasa seperti dihantam godam berat mendengar racauan itu. "Aku tidak akan pergi. Dan aku tidak akan melepaskanmu," balas Mahesa, suaranya mengeras namun bergetar. "Makan, Amerta! Jangan membuatku terpaksa menyuapimu lewat cara yang kasar!"

Ancaman itu, meski diucapkan dengan lirih, tampaknya menembus alam bawah sadar Amerta yang ketakutan. Dengan terpaksa dan penuh kepayahan, Amerta membuka sedikit bibirnya, menerima suapan bubur dan obat penurun panas yang dicekokkan Mahesa secara perlahan. Setelah tiga suapan yang dipenuhi drama penolakan halus, Amerta memalingkan wajahnya ke samping, menolak sisa makanan tersebut.

Mahesa tidak memaksa lagi. Ia menaruh mangkuk itu kembali ke nakas, lalu menghela napas panjang untuk meredakan gemuruh di dadanya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan panas tubuh Amerta belum juga turun secara signifikan.

Laki-laki itu berdiri, mematikan lampu utama kamar dan menyisakan lampu tidur yang memancarkan cahaya remang kekuningan. Alih-alih kembali ke kamarnya sendiri, Mahesa memutari ranjang. Ia melepas jam tangan mewahnya, meletakkannya di atas meja, lalu naik ke atas tempat tidur berukuran luas itu.

Mahesa merebahkan tubuh tegapnya di samping Amerta. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua, lalu menarik tubuh rapuh Amerta ke dalam dekapannya dari belakang. Pengaruh posisi ini membuat punggung Amerta menempel erat pada dada bidang Mahesa.

Amerta yang merasakan kehadiran sosok yang paling ia takuti langsung menegang dalam tidurnya. Tubuhnya gemetar, dan napasnya kembali memburu tidak teratur. "Jangan... menjauh..." gumam Amerta, mencoba menggeser tubuhnya yang lemas menjauh.

"Diam, Amerta. Tidurlah," perintah Mahesa rendah.

Untuk menenangkan kepanikan gadis itu, Mahesa menyusupkan telapak tangan kanannya yang besar ke bawah selimut, mendaratkannya tepat di atas pinggang ramping Amerta. Dengan gerakan yang sangat pelan, ritmis, dan penuh kehati-hatian, jemari Mahesa mulai mengelus pinggang Amerta naik dan turun, memberikan usapan-usapan hangat yang konstan.

Sentuhan itu tidak lagi menuntut seperti malam di chapter tiga belas. Kali ini, sentuhan Mahesa murni bertujuan untuk menenangkan badai yang sedang berkecamuk di dalam tubuh dan pikiran adiknya. Setiap usapan jemari Mahesa di pinggangnya seolah menyalurkan kekuatan, mencoba mengusir rasa dingin yang membuat Amerta menggigil.

"Besok lusa Ayah dan Mama pulang," whispered Mahesa di dekat telinga Amerta, napasnya berembus pelan di antara helai rambut gadis itu. "Mereka tidak boleh melihatmu dalam kondisi seperti ini. Jadi, cepatlah sembuh. Mengertilah, Amerta... jika kamu menurut, aku tidak akan pernah mengurungmu lagi seperti ini. Aku hanya ingin kamu berada di tempat yang bisa kulihat, setiap hari, setiap detik."

Usapan lembut yang konsisten di pinggangnya perlahan-lahan memberikan efek magis pada tubuh Amerta yang kelelahan. Ketegangan di otot-otot tubuh gadis itu berangsur-angsur mengendur. Napas Amerta yang tadinya tersengal-sengal mulai teratur, mengikuti ritme detak jantung Mahesa yang berdentum konstan di punggungnya.

Mahesa terus mengelus pinggang Amerta tanpa henti, bahkan ketika matanya sendiri sudah mulai terasa berat karena kelelahan setelah tiga hari terjaga memikirkan rencana penyekapan ini. Dalam remang kamar, Mahesa menatap lekat-lekat wajah tidur Amerta yang kini tampak lebih tenang.

Dua hari lagi, orang tua mereka akan menginjakkan kaki di rumah ini. Sandiwara sebagai kakak dan adik yang harmonis harus kembali dimainkan di depan publik. Namun Mahesa tahu, setelah tiga hari ini, tidak akan ada lagi jalan kembali bagi mereka berdua. Hubungan mereka telah bergeser ke arah yang gelap, berbahaya, dan tidak memiliki ujung yang bahagia.

Mahesa mempererat pelukannya di pinggang Amerta, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu, sebelum akhirnya ikut terlelap di bawah bayang-bayang obsesi yang kian pekat.

1
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
ela
semangat kakk💪🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!