NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Suara di Kegelapan

Josh menatap pintu kamarnya dengan napas tertahan, tubuhnya membeku di tepi ranjang. Ketukan itu terdengar sekali lagi tiga kali, pelan namun jelas, dengan jeda yang sama persis di antara setiap ketukan, seolah dilakukan dengan penuh kesabaran oleh sesuatu yang tidak terburu-buru.

"I-ibu?" panggilnya, suaranya tercekat di tenggorokan.

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menggantung berat di udara, diselingi detak jantungnya sendiri yang terdengar begitu keras hingga memenuhi seluruh kepalanya.

Ia memberanikan diri berjalan mendekati pintu, tangannya terulur gemetar menuju gagang pintu yang terasa dingin menyengat begitu disentuh, jauh lebih dingin dari logam biasa. Dengan napas tertahan, ia membuka pintu itu perlahan.

Lorong rumah tampak kosong dan gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu kecil di ujung lorong dekat tangga. Tidak ada siapa-siapa. Namun Josh bisa bersumpah, hawa dingin yang menusuk itu terasa jauh lebih kuat di lorong dibandingkan di dalam kamarnya sendiri, seolah sesuatu baru saja melintas beberapa detik sebelum ia membuka pintu.

Ia menutup kembali pintu kamarnya dengan hati-hati, menguncinya meski tahu betul kunci sederhana itu mungkin tidak akan berarti apa-apa jika yang mengganggunya bukan makhluk fisik biasa. Ia berdiri mematung di depan pintu selama beberapa menit, telinganya menajam mendengarkan setiap suara sekecil apa pun dari luar, namun rumah kembali sunyi seolah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah ketukan itu hanya ilusi yang tercipta dari pikirannya sendiri yang terlalu lelah.

Ia memeriksa ponselnya, mempertimbangkan untuk menelepon Gibran meski jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, namun akhirnya mengurungkan niat itu, tidak ingin membangunkan sahabatnya hanya karena ketakutan yang mungkin bisa dijelaskan besok pagi dengan pikiran yang lebih jernih.

Ia duduk sendiri di kegelapan kamarnya, memeluk lutut sambil bersandar di kepala ranjang, mencoba mengatur napasnya agar kembali normal. Pikirannya melayang pada percakapan singkat dengan Pak Ian sore itu, mencoba mencari benang merah antara penjelasan ilmiah gurunya dengan pengalaman nyata yang terus ia alami setiap malam. Namun semakin ia berpikir, semakin ia sadar bahwa tidak ada satu pun teori yang benar-benar mampu menjelaskan sosok nyata yang berdiri di ujung gang, atau suara yang jelas-jelas memanggil namanya sendiri. Ia duduk sengaja tidak langsung tidur malam itu, memilih untuk duduk di kursi mejanya dengan lampu belajar menyala redup, bertekad tetap terjaga untuk mengamati apa yang sebenarnya terjadi ketika jam mendekati pukul tiga pagi.

Namun rasa kantuk yang menumpuk sejak berhari-hari kurang tidur akhirnya mengalahkannya perlahan-lahan. Matanya semakin berat, kepalanya mulai terkulai, hingga akhirnya ia tertidur tanpa sadar dengan kepala bersandar di atas meja belajarnya.

Ia terbangun mendadak oleh dinginnya udara yang menusuk kulit hingga ke tulang. Josh mengangkat kepalanya perlahan, mendapati napasnya sendiri membentuk uap tipis di udara kamar, meski AC kamarnya sama sekali tidak menyala.

Jam di dinding menunjukkan pukul 02.02.

Suara detak jam yang biasanya nyaris tak terdengar kini menggema begitu jelas di telinganya, lebih lambat dari seharusnya, seolah waktu di sekitarnya benar-benar melambat, meregang seperti sesuatu yang hendak robek. Josh berdiri perlahan dari kursinya, jantungnya berdebar kencang, matanya menyapu seisi kamar yang temaram dengan waspada.

Dari balik pintu kamarnya yang entah bagaimana kini kembali sedikit terbuka meski ia yakin sudah menguncinya rapat, terdengar suara langkah kaki pelan di lorong rumah. Josh tahu betul, tidak mungkin itu langkah kaki ibunya ibunya sudah lama tidur nyenyak, dan langkah itu terdengar terlalu berat, terlalu teratur, seperti seseorang yang berjalan dengan sengaja tanpa terburu-buru sama sekali, menikmati setiap detik yang berlalu.

Ia mendekati pintu dengan langkah gemetar, tangannya menyentuh gagang pintu yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Ketika ia membukanya perlahan, lorong rumah tampak kosong namun di ujung lorong, tepat sebelum tangga menuju lantai bawah, bayangan panjang seolah bergerak menjauh dengan cepat, seperti seseorang baru saja melintas sesaat sebelum ia sempat melihatnya secara langsung.

Josh menahan napas, matanya mengikuti bayangan itu, namun tidak berani melangkah lebih jauh dari ambang pintu kamarnya sendiri, kakinya seolah terpaku di tempat.

Tiba-tiba, suara bisikan itu kembali terdengar, kali ini seolah berasal dari sangat dekat, tepat di belakang telinganya, begitu dekat hingga ia bisa merasakan hawa dingin embusan napas yang tidak seharusnya ada di sana.

"Josh..."

Ia berbalik cepat dengan gerakan refleks, namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya kegelapan kamar yang biasa, dengan jam meja yang masih menyala terang menampilkan angka yang sama, seolah mengejeknya.

02.02.

Josh menutup pintu kamarnya dengan tergesa, menyandarkan punggungnya yang gemetar di daun pintu sambil mencoba menenangkan napasnya yang memburu tak beraturan. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa yakin sepenuhnya bahwa apa yang ia alami bukanlah sekadar ilusi, bukan pula gangguan tidur biasa yang bisa dijelaskan dengan istilah medis apa pun.

Ada sesuatu yang nyata di rumah ini bersamanya malam itu, dan sesuatu itu siapa pun atau apa pun itu tahu persis namanya, tahu persis di mana menemukannya, dan yang paling mengerikan, tampaknya semakin berani mendekat setiap malam yang berlalu.

Di balik pintu yang baru saja ia kunci rapat-rapat, terdengar suara pelan menggaruk permukaan kayu, seperti kuku panjang yang ditarik perlahan dari atas ke bawah.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!