Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Bekerja
Siang hari di Briliant Wijaya Group berjalan seperti biasa. Namun bagi Viona, semuanya terasa baru, meja kerjanya berada tidak terlalu jauh dari area eksekutif.
Ia sedang mempelajari beberapa dokumen orientasi seketika seorang wanita berpenampilan elegan menghampirinya.
Usianya sekitar akhir dua puluhan, dengan rambut panjang bergelombang dan senyum ramah terukir di wajahnya.
"Halo. Kamu Viona, ya?"
Viona segera berdiri, "Iya. Saya Viona..."
Wanita itu mengulurkan tangan.
"Saya Clarissa. Kepala Administrasi Eksekutif..."
Viona menyambut uluran tangan itu dengan sopan.
"Senang bertemu dengan Anda Bu..."
Clarissa tersenyum hangat.
"Tidak usah terlalu formal. Kita akan sering bekerja sama nantinya..."
Beberapa karyawan yang melihat interaksi itu saling bertukar pandang diam-diam. Clarissa dikenal sebagai salah satu orang kepercayaan Bryan di perusahaan. Cantik, pintar dan penuh dengan ambisius.
Dan selama bertahun-tahun lamanya, banyak orang diam-diam menganggap Clarissa sebagai wanita yang paling mungkin berada di sisi Bryan. Meski kenyataannya, Bryan sendiri tidak pernah menunjukkan ketertarikan kepada siapa pun.
"Kalau ada yang tidak kamu mengerti, tanyakan saja padaku..."
"Terima kasih..."
Clarissa mengangguk lalu pergi. Namun saat berjalan menjauh, senyum di wajahnya perlahan memudar, tatapannya sekilas kembali mengarah kepada Viona. Entah kenapa instingnya mengatakan bahwa gadis itu akan membawa perubahan besar.
Clarissa tidak terlalu menyukai perubahan, di lantai paling atas Bryan baru saja menyelesaikan rapat terakhirnya sementara itu Arlian masuk sambil membawa beberapa berkas.
"Tuan, ini laporan investasi terbaru..."
Bryan menerimanya tanpa banyak bicara namun beberapa detik kemudian Arlian berdeham pelan.
"Ada satu hal lagi tuan,"
Bryan mengangkat pandangan.
"Apa?"
"Viona..."
Bryan langsung menyipitkan mata, Arlian berpura-pura melihat langit-langit.
"Saya hanya ingin melaporkan kalau dia terlihat baik-baik saja hari ini..."
"Siapa yang menyuruhmu melaporkan itu?"
"Tidak ada."
"Kalau begitu keluar."
Arlian menahan tawa.
"Baik, Tuan."
Saat pintu hampir tertutup, suara Bryan kembali terdengar.
"Dia sudah makan siang belum?"
Arlian berhenti lalu perlahan menoleh. Sudut bibirnya mulai bergerak Bryan langsung sadar telah salah bicara.
"Saya hanya memastikan kondisi karyawan baru saja tidak lebih..."
"Tentu saja..." Arlian mengangguk sangat serius.
"Karyawan baru..."
Bryan melemparkan sebuah pulpen ke arahnya, Arlian buru-buru menutup pintu sebelum terkena sasaran.
Sementara itu di sebuah restoran mewah di pusat kota, Alvania duduk berhadapan dengan Roy. Ia masih mengenakan pakaian sederhana jauh berbeda dari penampilannya saat berada di club malam.
Tanpa riasan berlebihan, tanpa senyum palsu, tanpa topeng yang biasa ia gunakan. Roy memperhatikannya beberapa saat.
"Lo kelihatan beda hari ini..."
Alvania mengangkat alis.
"Lebih jelek?"
"Enggak..."
Roy menggeleng.
"Lebih nyata..."
Untuk pertama kalinya hari ini, Alvania tertawa sungguhan. Bukan tawa yang dibuat-buat, bukan senyum untuk menyenangkan orang lain melainkan tawa yang lahir dari hati dan Roy menyadari sesuatu. Ia mulai menyukai wanita itu lebih dari yang seharusnya.
...****************...
Menjelang senja, Viona sedang membawa beberapa dokumen menuju ruang arsip. Koridor saat ini cukup sepi namun langkahnya tiba-tiba terhenti karena tanpa sengaja ia mendengar dua orang karyawan sedang berbicara di sudut lorong.
"Itu dia karyawan baru yang dekat dengan Pak CEO..."
"Katanya sih direkrut langsung..."
"Benarkah?"
"Entahlah. Tapi jelas ada sesuatu..."!
Viona menunduk pelan, tangannya menggenggam map sedikit lebih erat. Ia baru bekerja satu hari namun gosip sudah mulai beredar dan itu membuatnya tidak nyaman.
Tanpa mereka sadari, di ujung koridor lain Bryan baru saja keluar dari ruang rapat, ia mendengar seluruh percakapan tersebut.
Tatapannya langsung berubah dingin, dua karyawan itu bahkan tidak menyadari keberadaannya. Hingga akhirnya suara berat Bryan terdengar di belakang mereka.
"Kalau pekerjaan kalian sudah selesai,"
Keduanya langsung pucat.
"Saya bisa menambah pekerjaan untuk satu bulan ke depan bukan?"
Mereka membeku di tempat.
"Maaf, Pak Bryan..."
"Maaf, Pak..."
Bryan menatap mereka tanpa ekspresi.
"Lain kali gunakan waktu kerja untuk bekerja, bukan menggosip!"
"Baik, Pak..."
Kedua karyawan itu langsung pergi setengah berlari. Sementara Viona yang masih berdiri beberapa meter dari sana terlihat terkejut saat Bryan menoleh kepadanya.
"Kembali bekerja."
"Hah?"
"Kamu sedang jam kerja kan..."
"Oh...baik, Pak..."
Viona buru-buru berjalan pergi namun beberapa langkah kemudian senyum kecil muncul di wajahnya untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia merasa Bryan sedang membelanya dan sejak masuk perusahaan Bryan perasaan hangat perlahan tumbuh di dalam hati Viona.
Sementara itu dari balik kaca ruang kerja lantai atas, seseorang sedang memperhatikan semuanya.
Clarissa...
Tatapannya tertuju pada Viona yang berjalan menjauh, wajahnya tetap tersenyum namun matanya tidak.
"Jadi benar..." gumamnya pelan.
"Bryan mulai memperhatikan seseorang..."
Dan sejak detik itu, benih konflik mulai tumbuh tanpa diketahui siapa pun.
...****************...
Sore hari aktivitas di Briliant Wijaya Group perlahan berakhir. Satu persatu karyawan mulai merapikan meja kerja mereka, suasana kantor yang sejak pagi sibuk kini mulai tenang.
Viona menghela nafas lega setelah menyelesaikan tugas pertamanya meski masih banyak hal yang harus dipelajari, hari pertama bekerja ternyata berjalan lebih baik dari yang ia bayangkan.
"Ternyata aku berhasil melewatinya..." gumamnya pelan.
Ia mulai membereskan dokumen di atas meja ketika Clarissa kembali menghampiri.
"Kesan hari pertama?"
Viona tersenyum kecil.
"Masih gugup. Tapi menyenangkan..."
Clarissa mengangguk.
"Ok bagus..."
Lalu wanita itu duduk di kursi kosong di depan meja Viona.
"Saya dengar tadi ada sedikit masalah di koridor?"
Senyum Viona sedikit memudar.
"Oh...itu_"
"Tidak usah dipikirkan."
Clarissa tersenyum ramah.
"Di perusahaan besar, gosip memang selalu ada..."
"Baik..."
"Yang penting fokus bekerja..."
Viona mengangguk namun sebelum pergi, Clarissa kembali berkata,
"Satu hal lagi,"
"Iya?"
"Jangan terlalu dekat dengan Pak Bryan..."
Viona terdiam, Clarissa tetap tersenyum.
"Orang-orang di sini suka salah paham..."
Setelah mengucapkan itu, Clarissa pergi meninggalkan area kerja. Sedangkan Viona masih duduk terdiam, entah kenapa kalimat itu terasa aneh di telinganya.
Di lantai paling atas Bryan sedang memeriksa beberapa dokumen ketika ponselnya bergetar, nama yang muncul di layar membuat pelipisnya langsung berdenyut.
"Mama🥰"
Bryan menatap layar selama beberapa detik lalu mengangkat panggilan itu.
"Halo, Ma..."
"Kamu masih di kantor?"
"Iya..."
"Jam berapa sekarang?"
Bryan melirik jam tangan.
"Setengah enam..."
"Jam tujuh kamu harus sudah di rumah..."
Bryan memejamkan mata.
"Iya, Ma..."
"Jangan lupa..."
"Baik."
"Jangan datang sendirian..."
Bryan langsung tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Ma..."
Namun panggilan sudah terputus, Bryan menghela nafas panjang. Dari samping meja, Arlian yang baru masuk langsung tahu apa yang terjadi.
"Nyonya besar?"
Bryan hanya menatapnya.
"Itu bukan pertanyaan..."
Arlian tersenyum kecil.
"Baik, Tuan."
Sementara itu Roy sedang mengantar Alvania pulang ke apartemen kecil yang ia sewa sendiri. Mobil berhenti di depan gedung sederhana itu untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara sementara Alvania hanya memandang keluar jendela.
"Thanks buat hari ini..."
Roy tersenyum.
"Sama-sama..."
Alvania menoleh.
"Gue udah lama enggak makan siang kayak orang normal..."
Kalimat itu terdengar sederhana namun Roy bisa merasakan kesedihan yang tersembunyi di baliknya.
"Kalau begitu kita bisa makan siang lagi lain waktu..."
Alvania menatapnya beberapa detik kemudian tersenyum tipis.
"Mungkin."
Jawaban itu sederhana tetapi cukup membuat hati Roy terasa lebih ringan.
...****************...
Menjelang malam Bryan akhirnya tiba di rumah keluarga Wijaya. Rumah besar itu sudah terang benderang. Bahkan sebelum ia masuk, pintu utama sudah terbuka, mamanya berdiri di sana dengan kedua tangan terlipat.
"Syukurlah..."
Bryan menghela napas.
"Saya datang tepat waktu?"
"Untuk pertama kalinya bulan ini."
Bryan memilih diam karena pengalaman mengajarinya bahwa membantah hanya akan memperpanjang pembicaraan. Sementara kedua manik mata mama Airin mencari-cari seseorang yang mungkin dibawa Bryan pulang namun ia tak mendapatkan apa yang di inginkannya yang ada di belakangnya justru Arlian.
Di ruang makan, berbagai hidangan sudah tersaji. Ayah Bryan yang biasanya tenang hanya tersenyum melihat putranya.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Baik."
"Masih sibuk?"
"Sangat."
Makan malam berlangsung cukup tenang setidaknya sampai mamanya kembali mengeluarkan topik favoritnya.
"Kapan Mama kenalan dengan calon menantu?"
Bryan hampir tersedak air minumnya dan ayahnya langsung tertawa kecil.
"Sudahlah, Sayang..."
"Gak bisa." Mama Bryan menggeleng tegas.
"Anak kita sudah terlalu lama sendirian Pa..."
Bryan memijat pelipisnya lagi namun kali ini mamanya menyipitkan mata.
"Tapi akhir-akhir ini kamu terlihat berbeda..."
Bryan mengangkat pandangan.
"Berbeda bagaimana?"
"Mama gak tahu..." Wanita itu tersenyum penuh arti.
"Tapi insting Mama bilang ada seseorang yang kamu sukai..."
Bryan terdiam namun cukup untuk membuat kedua orang tuanya saling bertukar pandang dan kali ini Bryan tidak langsung membantah.
Di apartemen, Viona baru selesai mandi dan sedang menikmati secangkir teh hangat. Hari pertama kerjanya berputar kembali di kepalanya.
Pertemuan dengan Clarissa, tugas-tugas baru dan Bryan. Entah kenapa wajah pria itu terus muncul dalam pikirannya. Terutama saat Bryan membungkam para penggosip di koridor, Viona segera menggelengkan kepalanya.
"Kenapa aku malah memikirkan dia..."
Namun senyum kecil tetap muncul di sudut bibirnya. Tanpa ia sadari di luar jendela apartemen dua pria berpakaian hitam sedang mengawasi dari kejauhan.
Mereka adalah orang-orang yang diam-diam ditugaskan Bryan untuk melindunginya tanpa sepengetahuan Viona.
Dan malam ini, bahaya yang selama ini mengintai keluarga Prasetya perlahan mulai bergerak kembali.
Seseorang yang sudah lama mencari keberadaan Viona akhirnya mendapatkan petunjuk baru. Sebuah nama, sebuah alamat dan sebuah kesempatan yang bisa mengubah segalanya.
BERSAMBUNG.