Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 16 TERBAYANG
Erlangga sedang dalam perjalanan menuju Puskesmas. Namun, pikirannya masih tertuju pada Aline. Tanpa terasa sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tidak sampai ke mata, saat bayangan Aline melintas dalam benaknya.
Beberapa menit kemudian akhirnya ia sampai di Puskesmas tersebut.
Beberapa perawat menyapanya dengan sopan. "Selamat siang Dokter Erlangga." sapa salah satu dari mereka. Yani seorang perawat yang ditugaskan untuk menjadi asistennya.
Erlangga hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.
"Kenalkan saya Yani yang ditugaskan untuk membantu Bapak selama di sini." ucap Yani mencoba memperkenalkan dirinya sama dokter tampan itu. Ia diam-diam terpesona saat pandangan pertama.
Erlangga tetap profesional. Namun, saat ia sedang menjalankan profesinya sebagai dokter wajahnya sama sekali tidak terlihat seperti biasanya.
"Tunjukkan ruangan saya ada di mana?" perintah Erlangga tanpa memedulikan wanita itu yang baru saja memperkenalkan dirinya.
Yani tampaknya masih berusaha mencari perhatian Erlangga. Ia menjelaskan berbagai macam ruangan yang jelas Erlangga sudah tau karena terdapat papan nama di depan pintunya.
"Ruangan Dokter ada di samping ruangan dokter Dina." tunjuk Yani sambil memberi arah.
Erlangga hanya mengikutinya tanpa banyak bicara. Wajahnya yang biasanya lembut jika berhadapan dengan Aline kali ini hanya tatapan dingin dan raut wajah datar.
Ia melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya, dari jendela ia bisa melihat pemandangan kebun teh. Ia menyimpan tas medisnya di atas meja lalu duduk di kursi kerjanya dan mulai sibuk melihat data-data pasien yang akan ia tangani hari ini.
Tiba-tiba Yani sang asisten masuk dengan raut wajah cemas. "Dokter ada pasien yang mengalami pendarahan." lapor Yani, nada suaranya sengaja dilembut-lembutkan.
Erlangga yang sedang mengecek laporan langsung mendongak. "Siapa dokter kebidanan wanita di sini? Panggilkan dia untuk menemani saya memeriksanya." perintah Erlangga tegas, ia langsung bangkit dari kursinya dan menuju ke ruangan pasien tersebut.
Saat tiba di ruangan itu Erlangga melihat seorang ibu muda yang nyaris seusia Aline. Ia mulai memeriksa denyut nadinya terlebih dahulu dan memeriksa tekanan darah pasien. Setelah ia selesai memeriksa, dokter kandungan wanita yang bertugas di puskesmas itu masuk.
"Silakan anda cek bagian dalamnya saya akan menunggu hasilnya." ucap Erlangga yang terdengar profesional.
Dina, seorang dokter kebidanan yang di tugaskan di puskesmas itu tampak terkejut melihat pria di hadapannya yang sangat gagah dan tampan, untuk beberapa menit ia terdiam sejenak dan melupakan jika ada pasien yang sedang mengalami pendarahan. Hingga suara dingin Erlangga menyadarkannya.
"Apa Anda akan menunggu pasien itu sekarat! dengan hanya tetap berdiam diri di sana!" ucap Erlangga dingin dan tegas.
"Sa-ya... minta maaf, Dok!" jawab Dina gugup, lalu ia mulai memeriksa pasien tersebut.
Beberapa menit kemudian Dina menyerahkan hasil laporannya kepada Erlangga. "Dok! ini hasil pemeriksaanya. Saya melihat area dalamnya mengalami benjolan dan juga selain pendarahan pasien mengeluarkan cairan yang sangat berbau." jelas Dina.
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut Erlangga langsung sigap membuatkan surat rujukkan ke rumah sakit pribadi milik keluarga Dewangga. Ia jelas tau ini awal tanda keguguran yang mungkin lebih patal dari itu yaitu penyakit seksual.
"Yani kabarkan pihak kelurganya untuk datang ke rumah sakit ini." perintah Erlangga sambil memberikan surat itu kepada Yani.
Yani mengangguk cepat dan langsung keluar dari ruangan itu.
Di ranjang puskesmas, pasien itu merintih kesakitan. "Do-kter tolong saya..."
Erlangga menoleh sejenak ke arah pasien itu, lalu kembali menatap Dina dengan wajah datarnya. "Buatkan laporannya untuk di pindahkan ke rumah sakit saat ini juga." Setelah mengatakan itu ia keluar dari ruangan tersebut tanpa menunggu jawaban dari wanita itu dan kembali ke dalam ruangannya.
Di dalam ruangannya Erlangga tampak terlihat cemas. Ia memikirkan bagaimana sekarang kedaan Aline di rumah. Saat ia meraih ponselnya di atas meja dan ingin menghubungi Aline, ia merutuki kebodohannya karena ia tidak memiliki nomor kontak wanita itu.
"Bodoh! Bisa-bisanya aku melupakan hal sepenting ini."
*
*
*
Di sisi lain, Aline yang mulai merasa jenuh karena hanya berdiam saja di rumah itu tanpa melakukan apapun memilih untuk keluar rumah. Ia melihat sekelilingnya tampak ibu-ibu yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka.
Ia berjalan-jalan di sekitar sana dengan langkah kaki yang sedikit pincang. Beberapa orang menyapanya dengan ramah.
"Calon Istrinya... Pak Dokter mau ke mana?" tanya salah satu ibu-ibu di sana, apalagi ibu itu melihat cara Aline yang berjalan dengan menyeret salah satu kakinya.
Aline tersenyum ramah. "Hanya ingin melihat-lihat daerah sini Bu!"
"Owalah... Sini gabung sama ibu-ibu, sebentar lagi kita mau makan petisan. Luna lagi ngambil mangganya tuh." tunjuk Asih, ibu kandung Luna sambil melihat ke arah atas pohon yang tidak jauh berada di dekatnya.
Seketika Luna yang sedang menangkring di atas dahan menyapanya sambil berteriak . "Kak Aline. Aku di sini! Kakak mau mangga nggak? Aku ambilkan yang paling kuning buat Kakak."
Aline terperangah melihat kejadian itu. Ia tampak shok saat mengetahui gadis itu yang selalu punya caranya sendiri menikmati hidup.
Bu Asih langsung mendekat ke arah Aline dan membantunya untuk duduk dengan kumpulan ibu-ibu di sana.
Aline merasakan kekeluargaan yang tidak pernah ia dapatkan semenjak kepergian ibunya.
Luna langsung melompat turun dari pohon mangga tersebut. Ia membawa beberapa mangga yang sudah kuning dan menyerahkannya kepada Aline.
"Ini untuk Kakak makan di rumah."
Sebelum menerimanya Aline menatap mangga itu sejenak lalu beralih ke wajah Luna. Andai saja adik tirinya sebaik Luna, ia pasti akan sangat merasa bahagia.
Namun, tiba-tiba pikirannya langsung teralihkan ia memikirkan ayahnya. Apakah ayahnya akan minum obat tepat waktu dan juga apakah mereka masih berada di sini atau sudah kembali ke Jakarta.
"Kak Aline! Kenapa kok bengong sih?" tanya Luna penasaran. "Ah! Aku tau pasti Kakak kangen sama Pak Dokter, ya. Karena di tinggal ke Puskesmas."
Aline langsung tersadar dari lamunannya. "Nggak kok, cuma ngerasa nyaman aja di tempat ini."
Luna mengangguk-anggukan kepalannya mengerti. Lalu menyerahkan petisan yang sudah jadi. "Nih, Cobain Kak."
Aline mengambil satu potong mangga muda saat ia hendak memasukkan ke dalam mulut, tiba-tiba ada suara dingin menghentikan gerakkan tangannya.
"Jangan makan itu dulu Aline, kamu belum makan siang."
Erlangga menatapnya dengan pandangan tajam, lalu mendekat ke arah Aline.
Sontak para ibu-ibu menunduk sopan, saat melihat ke datangan sang dokter.
"Eh, Dokter... sudah selesai bertugas Dok?" tanya salah satu ibu-ibu tersebut.
Erlangga mengangguk singkat. Namun pandangannya hanya tertuju kepada Aline.
Aline terkejut dengan kehadiran pria itu yang secara tiba-tiba. Ia lupa bahwa Erlangga sudah berpesan akan pulang dan masak makan siang untuknya.
Seram, Erlangga seram😬😬😬😬🤣
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣