NovelToon NovelToon
Akulah Sang Pemakan Takdir

Akulah Sang Pemakan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Action / Sistem / Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.

Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.

**Sistem Pemakan Takdir.**

Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.

Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.

Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Guru Tanpa Nama

Lin Yuan memandang pedang kayu yang tergeletak di hadapannya, tetapi tidak segera membungkuk untuk mengambilnya.

Pria berjubah putih tetap berdiri santai di tengah halaman, seolah tidak merasa perlu menjelaskan perkataannya barusan.

"Sejak kapan kau menjadi guruku?" tanya Lin Yuan sambil mengamati setiap gerakan pria tersebut.

Pria itu tersenyum tipis, kemudian memutar pedang kayu di tangannya seperti sedang memainkan ranting biasa.

"Sentuh ujung jubahku dengan pedangmu. Setelah itu, kau boleh berhenti menganggapku sebagai guru."

Lin Yuan tidak membalas ejekan tersebut. Ia justru semakin waspada karena tidak dapat merasakan sedikit pun aura kultivasi dari lawannya.

Keadaan itu jauh lebih mengkhawatirkan daripada menghadapi seseorang yang secara terang-terangan menunjukkan kekuatan jauh di atas dirinya.

Lin Yuan membungkuk mengambil pedang kayu, lalu mengayunkannya sekali untuk menyesuaikan berat dan panjang senjata tersebut.

Pedang itu jauh lebih ringan dibandingkan pedang besinya, tetapi keseimbangannya hampir sempurna dari gagang sampai ujung.

"Aturannya hanya menyentuh jubahmu?"

"Hanya itu."

Lin Yuan mengatur napas, kemudian melangkah maju tanpa memberikan peringatan sebelum mengirimkan tebasan menuju bahu lawannya.

Kaki, pinggang, napas, dan pedang bergerak hampir bersamaan seperti pemahaman yang mulai terbentuk dalam pertarungan sebelumnya.

Namun pria berjubah putih hanya memiringkan pedangnya beberapa inci dan menyentuh sisi senjata Lin Yuan.

Tak!

Tebasan Lin Yuan langsung berubah arah, membuat pedang kayunya hanya memotong udara kosong di samping tubuh lawan.

Ia segera memutar pinggang dan melanjutkan serangan kedua tanpa menghentikan langkah, tetapi hasilnya tidak berbeda.

Pria itu bergeser setengah langkah.

Ujung pedang Lin Yuan kembali gagal menyentuh jubahnya.

Lin Yuan mempercepat serangan dan mengubah arah tebasan beberapa kali, mencoba mencari celah melalui sudut yang berbeda.

Namun setiap serangan selalu dihentikan dengan gerakan sederhana yang bahkan tidak terlihat seperti teknik pedang.

Tidak ada ledakan Qi ataupun kekuatan besar.

Pria itu hanya menggunakan posisi, sudut pedang, dan waktu yang tepat untuk menghancurkan seluruh rangkaian serangannya.

Pada serangan ketujuh, pedang kayu pria tersebut menyentuh pergelangan tangan Lin Yuan dengan ringan.

Rasa kebas langsung menjalar hingga ke jari, membuat senjata Lin Yuan hampir terlepas dari genggaman.

Ia segera mundur beberapa langkah dan mengatur kembali napas yang mulai kehilangan iramanya.

"Pedangmu sudah mulai menjadi milikmu," ujar pria berjubah putih. "Sayangnya, kau masih berpikir sebelum menebas."

Lin Yuan mengerutkan kening.

"Seorang pendekar yang tidak berpikir sebelum menyerang hanya sedang menyerahkan lehernya kepada lawan."

"Benar."

Jawaban itu justru membuat Lin Yuan semakin bingung.

Pria berjubah putih mengangkat pedang kayunya, kemudian menunjuk dada Lin Yuan menggunakan ujung senjata tersebut.

"Tapi berpikir dan menunggu pikiranmu memberikan perintah adalah dua hal yang berbeda."

Lin Yuan terdiam.

"Tubuhmu melihat celah, pikiranmu memutuskan menyerang, kemudian tanganmu baru menggerakkan pedang. Terlalu banyak langkah."

Pria itu kembali berdiri santai.

"Di hadapan lawan yang cukup cepat, keraguan sepersekian detik sudah cukup untuk menentukan siapa yang mati."

Lin Yuan mengingat pertarungannya melawan Pewaris Ketujuh.

Ketika Naluri Tempur dinonaktifkan, ia mulai membaca bahu, pijakan, napas, bahkan niat lawan sebelum serangan terbentuk.

Namun dirinya memang masih harus menyusun semua informasi tersebut sebelum memutuskan bagaimana pedangnya akan bergerak.

"Bagaimana menghilangkannya?"

"Serang aku sampai kau menemukan jawabannya."

Lin Yuan tidak banyak bicara lagi.

Ia kembali menerjang.

Pedang kayu beradu berkali-kali di tengah halaman, sementara Lin Yuan terus mengubah langkah dan irama serangannya.

Namun semakin cepat dirinya bergerak, semakin mudah pria berjubah putih menemukan kelemahan dalam setiap serangan.

Tak!

Pedang Lin Yuan kembali terpental.

Kali ini ujung senjata lawan berhenti tepat di depan tenggorokannya.

"Kau sedang melakukan kesalahan yang sama dengan cara berbeda."

Lin Yuan menurunkan pedangnya sambil menarik napas panjang.

Pria berjubah putih kemudian mengatakan sesuatu yang tidak diduganya.

"Gunakan kemampuanmu."

Lin Yuan langsung memahami apa yang dimaksud.

"Naluri Tempur?"

"Kalau kau memiliki pisau, apakah kau harus membuangnya hanya karena takut menjadi terlalu bergantung kepadanya?"

Lin Yuan tidak segera menjawab.

Baru beberapa saat sebelumnya, Pewaris Ketujuh mengajarkannya untuk tidak membiarkan prediksi sistem mengendalikan cara dirinya bertarung.

Pria di hadapannya seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkannya.

"Kesalahanmu bukan menggunakan Sistem Pemakan Takdir."

Untuk pertama kalinya sejak duel dimulai, tatapan Lin Yuan benar-benar berubah ketika mendengar nama tersebut keluar dari mulut lawannya.

Pria berjubah putih tetap tenang.

"Kesalahanmu adalah membiarkan jawaban yang diberikannya menggantikan keputusanmu sendiri."

Lin Yuan mempererat genggaman pada pedang kayu.

Beberapa saat kemudian, ia mengaktifkan kembali kemampuan yang sebelumnya sengaja dimatikan.

【Naluri Tempur aktif.】

Lintasan-lintasan serangan muncul dalam pandangannya.

Namun kali ini Lin Yuan tidak menunggu sistem menentukan mana yang harus dipilih.

Ia hanya melihatnya sebagai kemungkinan.

Ketika pria berjubah putih bergerak, Lin Yuan membaca lintasan sistem sekaligus memperhatikan pijakan dan perubahan bahunya.

Ia memilih jalannya sendiri.

Pedang kayu menebas.

Pria berjubah putih mengangkat senjata untuk menepis seperti sebelumnya, tetapi Lin Yuan sudah mengubah langkah sebelum benturan terjadi.

Tak!

Untuk pertama kalinya, pria itu terpaksa menarik kaki kanannya setengah langkah ke belakang.

Serangan Lin Yuan masih gagal menyentuh jubahnya.

Namun pria berjubah putih menatap bekas pijakannya sendiri, kemudian mengangkat wajah dengan senyum tipis.

"Bagus."

Lin Yuan kembali mengambil posisi.

Kali ini, Naluri Tempur masih aktif.

Tetapi pedang di tangannya tidak lagi menunggu perintah dari sistem.

Pria berjubah putih kembali bergerak, kali ini dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Beberapa lintasan segera muncul dalam pandangan Lin Yuan, menunjukkan kemungkinan serangan yang dapat datang dari tiga arah berbeda.

Jika mengikuti kebiasaannya dahulu, ia pasti akan memilih lintasan dengan peluang tertinggi dan bergerak sesuai petunjuk tersebut.

Namun sekarang Lin Yuan hanya menggunakan informasi itu untuk mempersempit kemungkinan, sementara matanya tetap mengawasi tubuh lawan.

Kaki kiri pria berjubah putih bergeser.

Bahu kanannya turun sedikit.

Pedang kayunya belum bergerak, tetapi Lin Yuan sudah menangkap perubahan kecil pada pusat keseimbangan lawan.

Ia segera melangkah ke samping.

Tak!

Pedang pria itu menyapu udara tepat di tempat Lin Yuan berdiri beberapa saat sebelumnya.

Lin Yuan membalas dengan tusukan pendek, tetapi lawannya memutar pergelangan tangan dan menepisnya menggunakan sisi pedang.

Keduanya kembali bertukar serangan.

Semakin lama pertarungan berlangsung, Lin Yuan mulai menemukan keseimbangan antara kemampuan sistem dan pemahamannya sendiri.

Naluri Tempur memberinya kemungkinan, tetapi tubuhnya tidak lagi menunggu sampai semua kemungkinan tersebut selesai dianalisis.

Matanya melihat.

Pikirannya memahami.

Tubuhnya bergerak.

Pedang mengikuti.

Keempatnya perlahan menyatu menjadi satu rangkaian yang semakin alami.

Pria berjubah putih beberapa kali mengubah serangan pada saat terakhir, tetapi Lin Yuan tidak lagi kehilangan ritme seperti sebelumnya.

Ketika prediksi sistem berubah, ia menyesuaikan langkah berdasarkan keadaan yang benar-benar terjadi di hadapannya.

Pedang kayu mereka beradu puluhan kali sebelum keduanya akhirnya memisahkan diri pada sisi berbeda halaman.

Napas Lin Yuan terdengar lebih berat, sementara keringat mulai membasahi bagian belakang pakaiannya.

Sebaliknya, pria berjubah putih masih terlihat seperti ketika pertarungan baru dimulai.

"Kau belajar cukup cepat."

Lin Yuan tidak merasa senang mendengar pujian tersebut.

"Kalau kau terus menggunakan kekuatan seperti ini, aku bahkan tidak akan bisa mendekati jubahmu."

Pria itu tertawa pelan.

"Setidaknya kau masih tahu perbedaan kekuatan kita."

Ia kemudian menurunkan pedangnya dan mengangkat tangan kiri.

Aura yang selama ini tidak dapat dirasakan Lin Yuan akhirnya muncul, tetapi segera ditekan hingga berada pada tingkat yang sama dengannya.

"Mulai sekarang, aku hanya menggunakan kekuatan setingkat denganmu."

Tatapan Lin Yuan berubah.

"Kenapa?"

"Karena aku ingin melihat pedangmu, bukan seberapa baik kau bertahan menghadapi seseorang yang jauh lebih kuat."

Begitu kalimat itu selesai, pria berjubah putih langsung menyerang.

Kali ini Lin Yuan tidak lagi terlempar hanya karena satu benturan.

Kedua pedang kayu beradu dengan kekuatan hampir seimbang, membuat pertarungan berubah menjadi persaingan teknik dan pemahaman.

Lin Yuan menebas dari kanan, mengubahnya menjadi tusukan, kemudian memutar tubuh ketika lawannya mencoba mengunci pedangnya.

Pria berjubah putih tetap lebih unggul.

Namun perbedaan mereka tidak lagi terasa seperti jurang yang mustahil dilewati.

Lin Yuan jatuh sekali ketika langkahnya dibaca.

Pada pertukaran berikutnya, bahunya terkena ujung pedang karena terlalu cepat mencoba membalas.

Ia bangkit dan menyerang kembali.

Setiap kegagalan membuat gerakannya semakin sederhana.

Ia berhenti mengejar serangan yang terlihat indah dan mulai membuang gerakan yang tidak benar-benar dibutuhkan.

Setelah beberapa waktu, pria berjubah putih tiba-tiba mundur dan menghentikan pertarungan.

"Cukup."

Lin Yuan menahan pedangnya.

Pria itu mengangkat satu jari.

"Satu kesempatan terakhir."

Ia membiarkan kedua lengannya turun dengan santai, sementara ujung jubah putihnya bergerak perlahan tertiup angin.

"Sentuh jubahku dan kau lulus."

Lin Yuan tidak langsung menyerang.

Naluri Tempur memperlihatkan beberapa kemungkinan jalan menuju lawannya, tetapi hampir semuanya berakhir dengan pedangnya ditahan.

Ia kemudian memejamkan mata sesaat dan mengingat seluruh pertarungan sejak memasuki Makam Takdir.

Fragmen pemahaman pedang telah mengajarinya menggunakan tubuh dengan lebih efisien.

Pewaris Ketujuh mengajarinya membaca niat sebelum serangan benar-benar terbentuk.

Pria berjubah putih membuatnya memahami bahwa sistem tidak harus dibuang hanya agar dirinya mampu berjalan dengan kekuatan sendiri.

Semua itu hanyalah alat.

Orang yang memegang pedang tetap dirinya.

Lin Yuan membuka mata.

Ia bergerak.

Pria berjubah putih mengangkat pedangnya pada saat yang hampir bersamaan.

Naluri Tempur menunjukkan bahwa tebasan Lin Yuan akan dihentikan dari sebelah kiri.

Ia melihat informasi tersebut, tetapi tidak menurutinya.

Lin Yuan tetap menebas dari arah yang sama.

Tak!

Pedang mereka bersentuhan.

Pria berjubah putih mulai mengubah sudut senjatanya untuk membuang tebasan tersebut seperti yang telah dilakukan berkali-kali sebelumnya.

Namun Lin Yuan sudah menunggu saat itu.

Alih-alih mempertahankan kekuatan, ia membiarkan pedangnya mengikuti dorongan lawan.

Kakinya maju setengah langkah.

Pinggang berputar.

Pedang kayu yang seharusnya terpental justru berputar mengikuti momentum dan menyapu kembali dari sudut yang berbeda.

SRAK!

Suara kain tersentuh terdengar sangat pelan.

Lin Yuan berhenti.

Ujung pedang kayunya menyentuh lengan jubah pria tersebut.

Tidak ada luka.

Namun syaratnya telah terpenuhi.

Suara sistem terdengar beberapa saat kemudian.

【Benih Jalan Pedang mengalami pertumbuhan.】

【Pemahaman pribadi mulai terbentuk.】

Lin Yuan menarik pedangnya dan mengatur napas.

Pria berjubah putih melihat bagian jubah yang baru saja tersentuh, kemudian tersenyum tipis.

"Sepertinya kau tidak perlu memanggilku guru."

Lin Yuan tidak ikut tersenyum.

"Aku lebih ingin tahu siapa sebenarnya kau."

Pria itu terdiam sejenak sebelum berjalan menuju sisi halaman.

"Nama tidak akan membuatmu lebih kuat."

"Lalu kenapa kau menungguku?"

Langkah pria berjubah putih berhenti.

"Karena terlalu banyak orang datang ke tempat ini setelah dipilih Menara."

Ia menoleh kepada Lin Yuan.

"Kau berbeda. Menara tidak memilihmu, tetapi kau tetap berhasil masuk."

Lin Yuan teringat perkataan Pewaris Ketujuh.

"Apakah itu karena Sistem Pemakan Takdir?"

Pria berjubah putih tidak langsung menjawab.

"Sistem itu bukan jawaban, Lin Yuan. Anggap saja ia sebuah kunci."

"Untuk membuka apa?"

"Hiduplah cukup lama untuk menemukannya sendiri."

Lin Yuan mengernyit, tetapi pria tersebut sudah mengayunkan tangannya menuju dinding di belakang halaman.

Dinding itu terbelah perlahan.

Energi spiritual yang sangat padat segera mengalir keluar hingga membuat meridian Lin Yuan bergetar.

Di balik pintu terdapat sebuah kolam energi, altar batu, dan token hitam dengan sembilan garis pada permukaannya.

Fragmen Fondasi Takdir yang tersimpan dalam pakaian Lin Yuan ikut bergetar.

【Kondisi pembentukan Fondasi Roh khusus telah terpenuhi sebagian.】

【Peluang terobosan terdeteksi.】

Lin Yuan baru hendak melangkah ketika suara pria berjubah putih menghentikannya.

"Jangan mencoba membuka segel Akar Rohmu."

Lin Yuan langsung menoleh.

"Kau tahu tentang segel itu?"

Tatapan pria tersebut untuk pertama kalinya terlihat benar-benar serius.

"Dengan kekuatanmu sekarang, kalau segel itu terbuka..."

"...kau akan mati sebelum sempat mengetahui siapa yang memasangnya."

Pintu ruang warisan terbuka sepenuhnya.

Energi spiritual yang jauh lebih kuat menyapu halaman, sementara sistem kembali memberikan pemberitahuan.

【Peluang pembentukan Fondasi Roh terdeteksi.】

Lin Yuan menatap kolam energi di balik pintu.

Kali ini yang menunggunya bukan lagi sebuah ujian.

Melainkan kesempatan untuk benar-benar melangkah lebih jauh di jalan kultivasi.

...----------------...

Bersambung...

1
bang dul
cerita ini sebetulnya bagus tanpa sistim seperti di novel2 lainnya
Otna Forever: Mksih, aku lagi membuat revisinya 🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
😍😍😍💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 💪
Hadi Hadi
sikat 💪
Hadi Hadi
semangat 💪
Hadi Hadi
bunuh
Hadi Hadi
bantai 💪
nanonano
bab mengulang lagi
nanonano: ada 2 bab yang mengulang thor. judul bab beda tp isi sama dengan bab sebelumnya
total 2 replies
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪
Otna Forever: Makasih, sehat selalu 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!