Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Mata Takdir Pertama
KRAK...
Retakan halus menjalar di dada zirah hitam Penjaga Makam Elite. Suaranya pelan, tapi membuat seluruh gua menjadi sunyi.
Pedang raksasa yang meluncur deras terhenti hanya sejengkal dari wajah Lin Yuan.
Mata biru gelap Penjaga Makam Elite menatap lurus ke arahnya dengan tajam.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, tatapan penjaga itu tidak lagi kosong tanpa emosi.
Ada sedikit keterkejutan di sana. Seolah dia tidak menyangka ada serangan yang bisa melukainya.
Lin Yuan segera mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak. Napasnya memburu hebat dan keringat menetes deras.
Mata kanannya masih memancarkan cahaya hitam yang misterius. Di dalam pupilnya, bayangan sebuah gerbang kecil terus berputar perlahan.
Suara sistem bergema di benaknya.
[Mata Takdir aktif. Sisa durasi: Dua tarikan napas. Segera tentukan langkah selanjutnya!]
Dalam sekejap, dunia di penglihatan Lin Yuan berubah.
Dia tidak lagi melihat sosok fisik Penjaga Makam Elite. Dia melihat ribuan benang tipis yang memenuhi seluruh gua.
Sebagian benang berwarna hitam pekat, sebagian lagi berwarna emas berkilauan. Benang-benang itu saling bersilangan membentuk jaring raksasa yang rumit.
Setiap kali Penjaga Elite menggerakkan bahunya sedikit saja, seluruh susunan benang itu ikut berubah.
Lin Yuan melihat banyak kemungkinan buruk.
Ada benang yang menunjukkan kematiannya. Ada benang yang menunjukkan lengannya putus. Ada benang yang menunjukkan pedang besinya patah.
Di antara ribuan kemungkinan buruk itu, hanya ada satu benang merah yang bersinar terang.
Benang itu berkelok melewati setiap serangan lawan, lalu berhenti tepat di dada zirah hitam sang penjaga elite.
"Itulah satu-satunya jalan menuju kemenangan..." bisik Lin Yuan pelan.
Di kejauhan, lelaki tua berjubah hitam menyipitkan matanya. Dia mengamati setiap gerakan Lin Yuan dengan serius.
"Aneh sekali..." gumamnya.
"Bocah ini tidak membaca gerakan fisik lawan seperti ahli bela diri."
"Dia sedang membaca setiap kemungkinan takdir yang akan terjadi," lanjutnya dengan kagum.
"Jadi... Gerbang Agung itu benar-benar telah membuka otoritas Mata Takdir bagi pewaris ini," bisiknya dengan suara gemetar.
BOOM!
Penjaga Makam Elite kembali menyerang. Pedang raksasanya berputar membentuk lingkaran besar yang mematikan.
Gelombang Qi hitam menyapu seluruh gua. Batu-batu besar di sekitarnya langsung hancur menjadi debu halus.
Lin Yuan tidak melompat atau menangkis. Dia hanya melangkah setengah langkah ke kiri.
SWISH!
Gelombang pedang tajam itu melewati ujung rambutnya dengan selisih tidak sampai satu jari.
Belum sempat debu menghilang, Penjaga Makam Elite sudah muncul tepat di belakang Lin Yuan. Pedang raksasa turun dengan kekuatan penuh.
Lin Yuan memutar tubuhnya dengan gerakan yang sangat sederhana.
Langkahnya terlihat sederhana tapi selalu tepat berada di luar lintasan serangan penjaga elite.
Seolah dia sudah tahu arah ayunan pedang itu bahkan sebelum gerakan lawan dimulai.
Wajah lelaki tua itu mulai menunjukkan kekaguman tulus.
"Setelah seratus ribu tahun menunggu di kegelapan... akhirnya aku bisa melihat kemampuan legendaris itu bangkit kembali di tangan manusia fana," ucapnya dengan haru.
Lin Yuan terus bergerak lincah. Setiap langkahnya mengikuti benang merah yang hanya bisa dilihat oleh Mata Takdir.
Satu langkah... dua langkah... tiga langkah...
Tiba-tiba, Mata Takdir menangkap sesuatu yang sangat penting.
Retakan di dada zirah hitam itu ternyata bukan sekadar retakan fisik biasa.
Di baliknya tampak sebuah kristal hitam seukuran kepalan tangan. Ribuan benang emas keluar dari kristal tersebut.
Seluruh tubuh Penjaga Makam Elite ternyata terhubung pada kristal hitam yang tersembunyi di balik zirah itu.
Suara sistem berbunyi memberikan informasi.
[Inti Takdir Elite ditemukan! Status: Stabil. Peringatan! Menghancurkan inti secara paksa berpotensi memusnahkan seluruh Warisan Makam Takdir ini.]
Mata Lin Yuan membelalak. "Jika aku menghancurkannya, warisan ini juga akan lenyap selamanya?"
[Kemungkinan kehancuran warisan adalah 93% jika inti dihancurkan secara paksa.]
Jantung Lin Yuan berdetak cepat. Dia akhirnya mengerti makna ujian ini.
Ujian ini bukan sekadar tentang mengalahkan lawan yang kuat, melainkan tentang apakah dia layak menjadi pewaris sejati.
Kalau hanya mengandalkan kekuatan kasar, dia memang bisa menang, tapi dia juga akan menghancurkan semua warisan tempat ini.
Tatapan Lin Yuan kembali tertuju pada kristal hitam itu dengan penuh pertimbangan.
Gerbang Pemakan Takdir di dalam kesadarannya bergetar semakin kuat. Suara dentingan rantai menggema tanpa henti.
KLANG! KLANG!
Notifikasi baru yang belum pernah ada sebelumnya muncul di hadapannya.
[Syarat minimum terpenuhi. Kemampuan khusus Gerbang tersedia. Mode Pemangsaan Takdir dapat diaktifkan.]
Lin Yuan menahan napas. Dia belum tahu arti sebenarnya dari kemampuan Mode Pemangsaan Takdir ini.
Tapi nalurinya mengatakan kemampuan inilah yang akan menentukan hidup atau matinya.
Di hadapannya, pedang raksasa kembali terangkat tinggi. Di dalam kesadarannya, gerbang agung mulai membuka celah lebih lebar.
Gerbang Pemakan Takdir bergetar semakin hebat, memancarkan cahaya hitam yang pekat dari balik retakan rantai emas.
Suara sistem kembali terdengar, tapi kali ini nadanya tidak lagi datar melainkan berat dan agung.
[Mode Pemangsaan Takdir siap diaktifkan. Silakan Tuan memilih target untuk memulai proses pemangsaan.]
Tatapan Lin Yuan langsung tertuju pada kristal hitam di dada Penjaga Makam Elite tanpa ragu.
Dia menarik napas panjang untuk memantapkan hati.
"Lakukan sekarang!" perintahnya dengan tegas.
Begitu perintah itu keluar, Gerbang Pemakan Takdir terbuka sedikit lebih lebar.
Dari celah gerbang muncul satu rantai hitam tipis yang melesat keluar tanpa suara, menembus udara gua yang dingin.
WHOOSH!
Dalam sekejap, rantai itu menembus celah retakan zirah hitam dan langsung melilit Inti Takdir Elite.
Mata Penjaga Makam Elite yang semula dingin mendadak bergetar hebat. Untuk pertama kalinya ekspresi kesakitan muncul di wajahnya yang kaku.
BOOOOM!
Aura hitam di tubuh penjaga elite meledak ke segala arah, membuat Lin Yuan terdorong mundur beberapa langkah.
Darah kembali mengalir dari sudut bibirnya, tapi dia tetap mengatupkan rahangnya untuk menahan tekanan energi.
Rantai hitam mulai menarik Energi Takdir dari kristal itu secara perlahan menuju Gerbang Pemakan Takdir.
Kristal hitam di dada penjaga elite memancarkan cahaya yang menyilaukan, sementara ribuan benang emas berusaha melepaskan diri.
Suara sistem berbunyi dengan sangat cepat.
[Sedang memangsa Energi Takdir... Proses mencapai 19%. Seluruh energi diserap menuju Gerbang Pemakan Takdir.]
Seluruh gua berguncang hebat akibat benturan energi yang besar, membuat lelaki tua berjubah hitam akhirnya berubah ekspresi.
"Mustahil..." bisiknya tidak percaya.
"Bocah ini tidak mencoba menghancurkan Inti Takdir untuk menang."
"Dia justru mengambil energi takdir di dalamnya tanpa merusak inti itu sedikit pun," lanjutnya dengan sangat terkejut.
Tatapannya penuh keterkejutan karena teknik itu bahkan tidak pernah berhasil dilakukan oleh para Kaisar agung dahulu.
Di sisi lain, Lin Yuan merasakan rasa sakit yang luar biasa seolah ribuan jarum menusuk lautan kesadarannya.
"ARGHHH!" teriaknya sambil jatuh berlutut. Pembuluh darah di lehernya menonjol sementara matanya dipenuhi garis-garis merah darah.
Gerbang memang sedang menyerap Energi Takdir, tapi tubuh fisik Lin Yuan dipaksa menjadi jembatan bagi proses transfer tersebut.
Setiap napas yang dia ambil terasa seperti membakar organ dalamnya dengan api hitam yang sangat panas.
[Peringatan! Beban terhadap tubuh meningkat drastis. Vitalitas tersisa 12%. Jika proses berlanjut, tubuh Tuan Rumah dapat hancur!]
Lin Yuan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
"Belum... aku tidak akan kalah di sini!" serunya dengan tekad baja.
Dia memaksa tubuhnya berdiri kembali, sementara rantai hitam terus menarik Energi Takdir dari kristal hitam.
[Proses pemangsaan mencapai 42%. Aura target mulai melemah signifikan.]
Aura Penjaga Makam Elite mulai melemah drastis. Pedang raksasa di tangannya perlahan turun dan tubuhnya yang kokoh dipenuhi retakan baru.
Namun dia tidak mencoba melepaskan diri dari lilitan rantai hitam. Dia justru menatap Lin Yuan dengan tenang.
Tatapan dingin itu perlahan berubah menjadi tenang, seolah dia akhirnya menemukan seseorang yang telah lama dia tunggu.
Lin Yuan melihat perubahan ekspresi itu dan memutuskan untuk tidak melanjutkan serangan fisik.
Sesaat kemudian, Penjaga Makam Elite perlahan menusukkan pedang raksasanya sendiri ke lantai batu gua dengan suara keras.
DUMM!
Dia melepaskan genggamannya pada pedang itu, lalu raksasa berbaju zirah hitam itu perlahan berlutut dengan satu kaki.
Kepalanya tertunduk hormat ke arah Lin Yuan, membuat seluruh gua bawah tanah mendadak menjadi sangat sunyi.
Delapan puluh Penjaga Makam yang tersisa di belakangnya serempak melakukan hal yang sama, berlutut memberi penghormatan tertinggi kepada sang pewaris.
Suara sistem kembali terdengar.
[Mode Pemangsaan dihentikan otomatis. Energi Takdir berhasil diserap 47%. Sinkronisasi Gerbang Pemakan Takdir meningkat menjadi 25%.]
Gerbang di dalam kesadaran Lin Yuan perlahan tertutup rapat, sementara rantai hitam yang melilit inti musuh menghilang.
Lin Yuan terengah-engah dengan napas pendek. Dia hampir roboh jika tidak menahan tubuhnya dengan pedang besi.
Lelaki tua berjubah hitam tiba-tiba muncul di hadapannya dengan senyuman tulus dan rasa bangga.
"Selamat," ucapnya pelan.
"Setelah seratus ribu tahun, akhirnya ada yang lulus ujian ini dengan cara yang benar."
Lin Yuan mengangkat kepalanya dengan susah payah.
"Apa maksudmu dengan cara yang benar?" tanyanya dengan suara serak.
Lelaki tua itu menatap Penjaga Makam Elite yang masih berlutut.
"Semua orang sebelum dirimu selalu memilih untuk menghancurkannya. Mereka mengira kekuatan kasar adalah satu-satunya jalan menuju warisan ini, tetapi kau justru memilih untuk memahami makna Takdir."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, tubuh Penjaga Makam Elite perlahan berubah menjadi titik-titik cahaya hitam yang sangat indah.
Pedang raksasa yang tertancap di lantai ikut memancarkan sinar pekat. Seluruh cahaya itu berkumpul membentuk sebuah cincin hitam kuno yang misterius.
Cincin itu melayang perlahan di hadapan Lin Yuan, dengan ukiran sembilan gerbang kecil yang saling mengelilingi satu sama lain.
Lelaki tua itu berkata dengan nada dalam. "Ambillah cincin ini. Ingatlah, ini bukan sekadar hadiah kemenangan."
"Ini adalah amanah besar. Suatu hari nanti, kau akan memahami mengapa cincin warisan ini telah menunggumu selama ribuan tahun."
Belum sempat Lin Yuan mengulurkan tangannya untuk mengambil cincin itu,
BOOOOM!
Gerbang batu raksasa di belakang mereka terbuka lebih lebar.
Kegelapan pekat menyelimuti bagian dalamnya, namun di balik kegelapan itu hanya terlihat sebuah tangga batu kuno yang memanjang ke bawah.
..........
Bersambung...