Di tempat semua orang yang sedang berjuang demi mengubah masa depan, hanya beberapa anak yang tengah berjuang demi membalaskan dendam. Ini adalah akademi bagi para bangsawan yang ingin mengubah masa depan dan memperjuangkan kemerdekaan mereka.
—
Pembantaian keji terhadap keluarga ternama dengan pasukan militer yang kuat, kini hanya tersisa nama. Sebagai satu-satunya yang terselamatkan, ia mengambil langkah untuk membalaskan dendam keluarganya. Panah api itu tak kunjung berhenti menembak, bangunan besar itu kini dilapisi oleh api, di setiap penjuru bangunan penuh dengan api dan asap.
Matanya membulat sempurna, wajahnya menegang, jari-jari kecilnya bergerak perlahan, kakinya melangkah ke depan, hanya satu langkah sebelum seseorang menahannya dari belakang. Satu tangannya terulur ke depan, berharap ini hanyalah mimpi. Kini pandangannya gelap setelah seseorang di belakangnya mulai menutup pandangan nya.
—
5 Tahun setelah Tragedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliet's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Bermalam di Gua
Malam hari pun tiba. Setelah berhasil mengisi perut hingga kenyang di kedai ramah anak tersebut, mereka segera melanjutkan perjalanan, membelah kegelapan malam menuju kota terdekat yang menjadi rute menuju Akademi Manuevier. Angin malam yang dingin berembus pelan, menerpa rambut baru mereka yang kini dibiarkan bebas tanpa tutupan tudung jubah.
Di tengah keheningan jalan setapak yang sepi, Kavyn mempercepat langkah kakinya agar sejajar dengan sang Kapten. Ia melirik ke arah Ruby yang berjalan santai di barisan paling depan.
"Di mana kita akan istirahat malam ini?" tanya Kavyn, perutnya yang sudah kenyang kini mulai menuntut haknya untuk tidur nyaman.
Ruby menghentikan langkahnya sebentar, menoleh ke belakang dengan sebelah alis terangkat. "Memangnya kita punya uang untuk sewa kamar?" balas Ruby dengan nada tanpa dosa.
Kalimat singkat itu seketika membuat langkah kaki yang lain terhenti. Detik berikutnya, Verdo dan Cole langsung terkekeh pelan, menyadari kebodohan mereka yang melupakan faktor paling krusial dalam pelarian ini: kondisi finansial.
"Hahaha, itu benar. Bagaimana kau akan membayarnya, Kavyn?" sahut Verdo menyenggol bahu si kembar, tawanya sisa-sisa kegelian masih terdengar.
Cole hanya bisa menghela napas sembari membetulkan letak kacamatanya. "Sisa koin kita hanya cukup untuk makan bubur ayam tadi dan perbekalan darurat. Menginap di tempat tidur yang empuk sepertinya harus dicoret dari daftar rencana kita untuk beberapa hari ke depan."
Kavyn langsung merengut, sementara Kzyen di sebelahnya ikut menghela napas dramatis. "Ah... jadi kita bakal tidur di alam terbuka lagi?" keluh Kzyen nestapa.
"Sudahlah, jangan banyak mengeluh, dan biasakan dirimu," ucap Ruby dingin, lalu kembali melangkahkan kakinya membelah jalan setapak yang gelap.
Langkah kakinya terdengar konstan dan tegas, sebelum ia melanjutkan kalimatnya tanpa menoleh ke belakang, "Karena itu adalah pilihanmu untuk mengikutiku seumur hidupmu."
Kalimat itu seketika membungkam mulut Kavyn. Suasana di antara mereka berlima mendadak hening selama beberapa saat. Kata-kata Ruby barusan bukanlah sekadar gertakan, melainkan sebuah pengingat mutlak tentang beban, loyalitas, dan konsekuensi dari jalan gelap yang telah mereka pilih bersama sebagai The Shadow Eagle.
Kavyn menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menghela napas pasrah. "Hahh... Kenapa kau suka sekali tidur di alam terbuka?" keluhnya lagi, mencoba mencairkan atmosfer yang sempat menegang, walau nadanya kini jauh lebih melunak.
"Udaranya bagus... Itu saja," balas Ruby singkat tanpa beban.
Mendengar jawaban super santai dan acuh tak acuh dari sang Kapten setelah kalimat berat tadi, Verdo langsung meledakkan tawa pelannya, diikuti gelengan kepala pasrah dari Cole. Sementara Kzyen hanya bisa menyenggol lengan kembarannya sembari berbisik, "Sudah, terima nasib saja, Kavyn."
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, mereka akhirnya sampai di pinggiran kota terdekat. Bukannya mendekati area pemukiman yang ramai, mereka justru membelokkan langkah kaki masuk ke dalam vegetasi hutan yang cukup lebat, mencari tempat tersembunyi yang ideal untuk beristirahat sejenak tanpa memancing perhatian.
Sepasang mata tajam mereka menyisir kegelapan, hingga akhirnya pandangan mereka tertuju pada sebuah ceruk batu besar di balik rimbunnya pepohonan.
"Kita akan gunakan gua itu. Aku akan memeriksanya terlebih dahulu," ucap Verdo tanggap.
Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, ia melangkah cepat dan sedikit berlari kecil ke arah mulut gua tersebut. Tangannya diam-diam meraba gagang senjatanya, bersiap siaga jikalau ada hewan buas, monster tersesat, atau ancaman lain yang bersarang di dalam kegelapan gua itu.
Ruby, Cole, serta si kembar Kavyn dan Kzyen menghentikan langkah mereka beberapa meter di luar gua, membiarkan Verdo menyelesaikan tugas kepanduannya dengan efisien.
Beberapa menit setelah Verdo masuk dan menghilang di balik kegelapan gua, keheningan sempat menyelimuti area sekitar hutan. Tidak lama kemudian, sosok Verdo kembali muncul di mulut gua dan langsung melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Di sini aman! Kemarilah," seru Verdo dengan volume suara yang cukup pelan namun terdengar jelas oleh yang lain.
Mendengar sinyal aman tersebut, ketegangan samar di bahu mereka seketika mengendur. Tanpa membuang waktu lagi, Ruby memimpin di depan, dan mereka pun berlari kecil ke arah gua tersebut, bergegas masuk untuk menghindari embusan angin malam perbatasan yang semakin menusuk tulang.
Gua itu ternyata cukup luas dan kering, tempat yang lebih dari layak untuk sekadar merebahkan diri setelah seharian menguras tenaga.
Kavyn menjentikkan jarinya, memicu sihir api kecil di atas telapak tangannya untuk menerangi seisi gua sebelum mereka melangkah masuk sedikit lebih dalam. Pendaran cahaya oranye itu memantul di dinding-dinding batu, mengusir kegelapan.
"Di sini sudah cukup aman," ucap Verdo sembari menunjuk area tengah gua yang datar.
"Baiklah, malam ini kita akan beristirahat yang cukup," sahut Ruby. Tanpa membuang waktu, ia langsung duduk bersandar di dinding gua yang dingin, meluruskan kedua kakinya yang lelah. "Perjalanan kita masih memakan waktu tiga hari," sambungnya.
Kavyn menghela napas pelan, lalu mengepalkan tangannya untuk memadamkan sihir api yang tadi ia nyalakan. "Lama juga ya ternyata kalau berjalan," celetuk Kavyn lesu.
"Ya menurutmu saja? Kita pergi ke perbatasan menggunakan kereta kuda yang melaju kencang, lalu kita kembali hanya menggunakan kedua kaki kita...?" balas Kzyen. Namun, sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah mendadak, menunjukkan bahwa dia sedikit bingung dengan keputusasaan kembarannya—dan tim mereka.
Kzyen menopang dagunya, menatap yang lain bergantian. "Tunggu... kita kan bisa bertransformasi ke wujud hewan? Kenapa susah-susah berjalan dengan dua kaki?" lanjutnya dengan polos, merujuk pada wujud rubah Vynloc miliknya dan Kavyn.
Ruby menghela napas pelan mendengar pertanyaan itu. Ia membuka matanya, menatap Kzyen dengan pandangan datar namun mengintimidasi. "Apa kau berpikir aku juga salah satu orang yang bisa bertransformasi menjadi hewan?" balas Ruby retoris.
Kzyen mengedipkan matanya beberapa kali mendengar balasan menohok dari Ruby. Sadar akan kekeliruan pemikirannya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan terkekeh tanpa humor untuk mencairkan suasana.
"Bukan begitu... Maksudku, kamu bisa menunggangi salah satu dari kami bertiga. Karena burung hantu tentu saja tidak bisa dijadikan tunggangan," balas Kzyen membela diri, melirik ke arah Cole yang merupakan ras Beastkin burung hantu.
"Benar, kamu benar sekali. Pintar..." sahut Cole datar. Ia membenarkan letak kacamatanya dengan satu jari sembari mulai membuka perkamen rahasia yang ia dapatkan dari toko barang antik sebelumnya. "Karena alasan itulah, aku lebih suka menunggangi daripada ditunggangi," tambahnya sarkas tanpa mengalihkan pandangan dari teks perkamen.
"Sudah, sudah..." Verdo menengahi perdebatan kecil itu sebelum melebar lebih jauh, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan rekan-rekannya.
Melihat mereka yang mulai kelelahan, Ruby menjentikkan jarinya pelan. Seketika itu juga, sebuah perisai sihir transparan tak kasat mata membungkus area tempat mereka duduk. Perisai itu perlahan mengubah suhu di dalam gua menjadi jauh lebih hangat dan nyaman, menghalau angin malam perbatasan yang menusuk.
Rasa hangat yang menjalar ditambah perut yang kenyang seketika membuat kelopak mata Kzyen terasa luar biasa berat.
"Aku mengantuk... Kael," gumam lembut Kzyen. Dalam kondisi setengah sadar dan didera rasa kantuk yang hebat, ia melupakan nama samaran mereka sejenak, lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman di atas bahu saudara kembarnya.
Kavyn tidak protes atau mendorongnya. Ia hanya diam, membiarkan Kzyen menjadikan bahunya sebagai bantal, lalu menghela napas lembut sembari menatap kobaran sisa sihir di langit-langit gua.
Perlahan-lahan, rasa kantuk yang sama mulai menyerang Kavyn. Menyusul kembarannya yang sudah pulas, ia akhirnya memejamkan matanya, ikut terlelap dalam kehangatan pelindung sihir.
tpi kamu harus tetap waspada dn jaga dirimu baik2 👍