NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tulisan_nic

"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"

Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cek Cok Berkepanjangan

*

*

*

Seakan ada sesuatu yang menghantam dadanya, Isana langsung mengangkat kepala. Tatapannya menusuk wajah Andreas tanpa berkedip sedikit pun. Sementara Andreas sendiri tampak membeku sesaat.

"Apa itu?" tanya Isana pelan.

"Aku nggak tahu."

Jawaban itu keluar begitu cepat hingga justru terdengar semakin mencurigakan.

"Kamu nggak tahu?" Isana tertawa pendek. Tawa yang hambar dan penuh sindiran. "Tentu saja. Semua laki-laki yang ketahuan pasti jawabnya sama."

"Isa, dengarkan dulu—"

"Mau dengar apa?" potong Isana. Suaranya mulai bergetar menahan emosi. "Pesan seperti itu dikirim tengah malam dari nomor yang nggak dikenal, lalu kamu bilang nggak tahu?"

Andreas mengusap wajahnya kasar. Kepalanya mulai terasa berdenyut. Ia bahkan belum selesai membaca situasinya, tetapi Isana sudah lebih dulu menjatuhkan kesimpulan.

Belum sempat ia menjelaskan apa pun, layar ponselnya kembali menyala.

Sebuah panggilan video masuk dari nomor yang mengirim pesan tadi.

Isana langsung berdiri dari duduknya.

"Bagus!" telunjuknya mengarah ke layar ponsel. "Cepat, angkat!"

"Isa, jangan berlebihan. Aku nggak tahu ini siapa ..."

"Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa takut?" bentaknya.

Suasana ruang tamu mendadak membeku. Bahkan Bik Marni yang sedang menggendong Ghazi sampai menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah mereka.

Andreas mengatupkan rahang. Beberapa detik ia habiskan, hanya menatap wajah istrinya yang penuh tuduhan. Tatapan itu lagi. Tatapan yang sejak kemarin selalu menyambutnya setiap kali mereka berbicara.

Andreas menghela napas panjang. Jarinya gemetar, menekan tombol terima.

Layar video terbuka. Detik berikutnya, suara perempuan langsung memenuhi ruang tamu.

"ISANAAA! Kamu jahat banget sih!"

Baik Andreas maupun Isana sama-sama terdiam.

Perempuan di layar itu mendekatkan wajahnya ke kamera, masih dengan ekspresi kesal yang belum berubah sedikit pun.

"Kamu tuh tega banget nggak ngabarin aku!"

Isana mengerjapkan mata beberapa kali. Sedang Andreas mengisi paru-parunya, dengan leluasa.

"Gendis?" Isana membelalak, menatap layar ponsel itu.

"Iya!"

Keheningan singkat terjadi sebelum Gendis memukul dahinya sendiri.

"Ya Allah ... Kamu tuh, kemana aja? Chat aku dicuekin, telpon aku di anggurin!"

Wajah Isana perlahan kehilangan warnanya. "Jadi, kamu yang kirim pesan di nomer Mas Andreas?"

"Ya iyalah!" Gendis langsung mengomel tanpa memberi kesempatan. "Aku nyariin kamu tiga hari, tahu nggak? Telepon nggak angkat, chat masuk kamu baca, hilang kayak ditelan bumi!"

Isana spontan menoleh ke arah meja. Baru saat itu ia teringat bahwa ponselnya memang belum pernah dinyalakan lagi sejak keluar dari rumah sakit.

"Aku panik, Isa. Aku sampai mikir kamu kenapa-kenapa. Untung aku masih simpan nomor Andreas, makanya aku hubungi dia."

"Terus, pesan tadi?" tanya Isana lirih. Ia menggigit bibir.

"Pesan apa?"

'' Kamu kirim pesan, 'Aku kangen, kamu tega nggak ngabarin aku'."

Gendis terdiam sesaat sebelum mendelik.

"Ya iya lah! Aku kangen sama sahabat aku! Masa sama tukang galon?"

Andreas spontan memejamkan mata menahan sesuatu yang nyaris menyerupai tawa. Sementara Isana hanya bisa terpaku, merasakan panas yang perlahan menjalar ke wajahnya.

"Eh ... Perut kamu kok sudah kempes? Ha? Kamu sudah lahiran?!" Gendis heboh di ujung telepon.

Beberapa menit kemudian, sudah sibuk meminta diperlihatkan Ghazi. Ia berteriak antusias, memuji bayi itu tanpa henti.

"Besok aku ke rumah kamu ya, aku nggak sabar mau gendong si mungil ganteng itu."

Isana memaksakan senyum. Hatinya masih belum bisa untuk berkompromi dengan mudah. Tetap saja, kepedihan menggantung di wajahnya.

"Oke deh, aku tutup dulu telponnya. Selamat ya ... Kalian berdua, udah sah jadi orang tua ..." Ucap Gendis, mengakhiri panggilan.

Isana menyerahkan ponsel kembali pada Andreas.

Ruang tamu kembali sunyi. Kesunyiannya terasa jauh lebih menyesakkan.

Andreas meletakkan ponselnya di atas meja dengan pelan. Kemudian menoleh ke arah Isana.

"Ada lagi?" tanyanya.

Suara pria itu tidak keras. Justru terlalu tenang hingga membuat dada Isana terhimpit.

"Ada lagi yang mau kamu tuduhkan ke aku?"

Isana terdiam.

Andreas menggeleng pelan sambil tertawa hambar.

"Aku capek, Isa."

Kalimat itu membuat Isana mengangkat kepala.

"Aku benar-benar capek. Apa yang aku lakukan justru bikin kamu curiga. Setiap aku pegang ponsel, kamu curiga. Bahkan saat sahabat kamu sendiri yang menghubungi aku, aku tetap jadi orang yang paling bersalah."

Andreas meluruskan tatapannya.

"Aku ini suami kamu. Bukan terdakwa, yang setiap hari harus membuktikan kalau dirinya nggak bersalah. Please, aku ingin memperbaiki hubungan kita. Kalau kamu begini terus, rumah tangga kita bisa hancur."

Isana menggigit bibir bawahnya. Ia tidak mampu membalas. Karena apa yang baru saja terjadi memang membuat posisinya goyah.

Andreas mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

"Isa... kamu bisa, kan, nggak terus-terusan menghakimi aku?"

Isana tertawa getir. Tawa yang terdengar pahit hingga membuat dada sesak.

"Menghakimi?" ulangnya lirih. "Aku menghakimi kamu?"

Tatapannya menancap lurus ke mata Andreas.

"Aku yang bikin rumah tangga kita hancur?"

Suaranya mulai bergetar. "Justru kamu yang memulainya lebih dulu, Mas."

Andreas menggeleng cepat. "Aku nggak ngapa-ngapain, Isa."

"Kamu yakin?"

"Aku nggak pernah punya niat menghancurkan hubungan kita."

Isana mengangguk pelan. Air matanya mulai menggenang, tetapi ia memaksanya tetap bertahan.

"Kadang yang menghancurkan itu bukan niat, Mas. Kadang yang menghancurkan itu sikap."

Hening sesaat.

"Sikap kamu selama ini... kamu bilang itu bukan apa-apa?"

Andreas mengusap wajahnya kasar.

"Aku sudah minta maaf sama kamu, soal kemarin."

"Maaf?"

"Aku kerja, Isa. Aku punya beban. Aku capek. Aku akui aku salah sudah bersikap dingin sama kamu. Tapi aku sudah minta maaf." Nada suaranya mulai meninggi.

"Tapi kamu terus memperbesar semuanya."

Mata Isana memerah. "Karena kamu belum pernah benar-benar mengakui kesalahan kamu!"

Kalimat itu membuat Andreas menatapnya tajam.

"Aku sudah mengaku salah."

"Bukan itu!" pekik Isana.

Andreas meluruhkan punggung, "Lalu apa?"

Isana menggigit bibirnya kuat-kuat. Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak lama ia kubur sendirian.

"Kamu minta maaf atas sikapmu." Suaranya rendah,

"Tapi kamu nggak pernah mengakui alasan kenapa sikap itu muncul."

Andreas membeku, ia melihat sorot mata Isana tidak lagi dipenuhi kekecewaan. Tapi keyakinan. Seperti menemukan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan.

"Mas..." suara Isana bergetar. "Kalau memang nggak ada apa-apa..."

Ia menatap Andreas tanpa berkedip.

"Kenapa setiap kali aku menyebut nama Risa, kamu selalu terlihat bersalah?"

Andreas terdiam. Tatapannya tidak mampu bertahan menatap mata Isana. Rahangnya menegang, sementara jemarinya sibuk mengusap tengkuk. Bibirnya bergerak-gerak, seperti ingin menyusun pembelaan, tetapi tak satu pun kalimat yang segera keluar. Sikap tenangnya perlahan runtuh, menyisakan kegugupan yang terlalu jelas untuk disembunyikan.

"Kamu bilang, kamu capek. Tapi bukan cuma kamu. Aku juga ..."

Suara Isana nyaris berbisik. Namun cukup jelas untuk membuat Andreas terdiam.

"Aku capek terus meyakinkan diri kalau semua ini cuma perasaanku."

Isana mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Dadanya sesak, kehabisan ruang untuk menampung kecewa yang terpendam.

"Aku nggak mau tidur sekamar sama kamu dulu."

Andreas langsung menatapnya.

"Isa—"

"Sampai semuanya jelas."

Kalimat itu memotong langkah Andreas yang hendak mendekat.

*

*

*

~Salam hangat dari Penulis 🤍

1
Cheryl 🧚‍♀️
ini gila sih visualnya Althaf dapet banget... anak bos si Andreas lagi kalau nanti udah bisa sama-sama Isana. si Andreas bisa mampus karena menyesal dan aku menunggu momen itu sambil tertawa jahat. hahahaha
Cheryl 🧚‍♀️
ngeras bersalah pas ketahuan orang lain, giliran nggak ketahuan mainya dilanjutkan soalnya berbuat dosa itu enak ya Andreas. huh!! mendengus sebal aku.
Black Swan
Lo tau nggak, An. Punya dua istri tuh ribet, satu aja ribet apalagi dua.
Black Swan
Share lok Ris, tak gunduli rambutmu biar tambah keren😏😏😏
Black Swan
Mending pergi aja Isana, cari papa baru buat Ghazi dan suami baru🤭🤭🤭
Black Swan
😭😭😭😭Gue kecewa sama An
mawar merah
Wah manager.. ayo buka cctvnya Kahfi
mawar merah
Ayo kahfi bantu adik kamu mencari bukti perselingkuhannya
mawar merah
Hahahaaa kopi...kopi apaan tuch 🤭🤭
mawar merah
sekali berbohong akan selalu berbohong
neny
sudahlah,,tdk bs diperbaiki mereka,,smg ajh gendis dng cepat menemukan bukti perselingkuhan mereka,,se pandai2 nya tupai melompat,,pasti ada tiseureuleuna🤣🤣🤣
neny: ayo ath kak othor bantuin 🤣🤣
total 2 replies
Cheryl 🧚‍♀️
apa yang sudah dimulai tidak segampang itu kamu menghentikannya Andreas dan Risa juga nggak mungkin mau.
Cheryl 🧚‍♀️
Yaallah ini wanita terbuat dari apa😭
_Nic: Dari tanah kuburan apa ya?😭
total 1 replies
Cheryl 🧚‍♀️
Lelah habis bermanja-manja 🤭
Cheryl 🧚‍♀️
Berasa paling bener banget kamu Andreas
_Nic: playing victim mode on si Andreas
total 1 replies
Cheryl 🧚‍♀️
Laki-laki kalau udah sekali kaya gitu pasti nggak akan pernah berubah, aku harap kamu cukup bersabar Isana. Sumpahh berasa aku yang ada di posisi itu😭
_Nic: Ngga terima ya kak
total 1 replies
Cheryl 🧚‍♀️
Nyesek banget sampai kesini😭
_Nic: Aku puk puk kamu kak🥲
total 1 replies
mawar merah
sukur mampus
mawar merah
Dih punya otak kok gk dipakai
mawar merah
preeeettt
_Nic: sabar kak, sabar🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!