Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Tawa Di Tengah Luka
Setelah hampir setengah jam meraung di bawah langit kelam, Jena mengangkat wajahnya. Jemarinya yang tadi terasa kehilangan tenaga, kini sudah bisa digerakan lagi. Perlahan, ia mengusap air matanya. Menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Aku harus pulang," gumamnya sambil mengeluarkan ponsel. Ia memesan taksi. "Semoga taksinya cepat datang." Jena berdiri, terus mengusap-usap wajahnya yang basah.
Tak sampai lima menit, sebuah mobil hijau mengilap muncul dari arah depan. Mobil itu melambat, lalu putar balik dan berhenti tepat di samping Jena.
Seorang sopir yang masih muda segera keluar dari balik kemudi. Ia menatap layar ponselnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan kepada Jena.
"Mbak Jena, ya?" tanyanya memastikan.
Jena mengangkat wajah. "Iya."
Baru beberapa detik menatap wajah penumpangnya, mata sopir itu langsung membelalak lebar. "Astagfirullah!" serunya spontan sambil menepuk dadanya sendiri.
Jena mengernyit bingung. "Mas, kenapa?"
Sopir itu menggeleng pelan sambil masih memandangi wajah Jena. "Lho ... justru saya yang mau nanya, Mbak kenapa? Kok penampilannya kayak gitu? Saya kaget. Saya kira tadi ..." Ia menggantung kalimatnya sejenak. "Mbaknya hantu."
Bukannya tersinggung, Jena malah tertawa keras untuk pertama kalinya setelah hampir setengah jam menangis. "Hahaha ..." Tawanya menggema di pinggir jalan yang sepi itu. "Beneran wajah saya kayak hantu?" tanyanya sambil mengusap sisa air mata yang masih menempel di pipinya.
Sopir itu menunjuk spion samping mobil. "Coba lihat sendiri, Mbak."
Jena mendekat dan berkaca di spion. Begitu melihat pantulan wajahnya sendiri, kedua matanya langsung melebar. "Astagfirullah ..." Ia sampai menutup mulutnya sendiri. "Iya, Mas ... wajah saya beneran kayak hantu."
Maskaranya luntur membentuk garis hitam di bawah mata. Eyeliner yang tadi rapi kini belepotan ke mana-mana. Rambutnya kusut berantakan karena berkali-kali diacak saat menangis. Wajahnya pucat, sementara hidung dan matanya memerah. "Pantesan Mas kaget."
Sopir itu terkekeh kecil. "Maaf ya, Mbak. Saya tidak bermaksud mengejek."
Jena ikut tersenyum geli. "Nggak apa-apa, Mas. Malah makasih udah jujur. Kalau nggak dikasih tahu, saya bisa bikin orang-orang di jalan ikutan istigfar, atau mungkin lari ketakutan."
Mereka sama-sama tertawa. Suasana yang semula begitu muram perlahan mencair.
"Ya sudah, Mbak. Silakan masuk. Nanti di mobil ada tisu basah dan kering. Siapa tahu bisa sedikit dirapikan sebelum sampai rumah."
Jena mengangguk penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Mas." Ia pun masuk ke dalam mobil sambil kembali mengusap wajahnya, berharap penampilannya tidak lagi semenyeramkan beberapa menit yang lalu.
Jena menutup pintu.
Begitu Jena duduk dengan nyaman, sopir muda itu langsung mengambil sekotak tisu dari dashboard dan satu bungkus tisu basah dari tas kecil miliknya, lalu menyodorkannya. "Ini, Mbak tisunya."
Jena menerimanya sambil tersenyum tipis. "Terima kasih, Mas."
"Sama-sama."
Mobil pun mulai melaju meninggalkan kompleks perumahan elite yang sunyi itu. Lampu-lampu taman dan deretan rumah mewah perlahan berganti menjadi jalan raya yang masih cukup lengang.
Beberapa saat suasana hening. Jena sibuk menghapus maskara dan eyeliner yang belepotan di bawah matanya.
Tak lama kemudian, sopir itu berdeham pelan. "Maaf ya, Mbak ... kalau saya lancang."
Jena menoleh. "Iya, Mas?"
"Sebenernya Mbak kenapa? Kok penampilannya bisa sampai belepotan begitu? Mbak bukan korban jambret, kan?"
Jena mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Bukan, Mas."
"Lalu?"
Jena tersenyum getir. "Saya korban PHP."
"What?!"
Seruan spontan itu membuat Jena sampai menoleh cepat. "Wih ... gaya," katanya sambil terkekeh. "Saya baru pertama kali dengar sopir kaget terus pakai bahasa Inggris."
"Hehe ..." Sopir itu ikut tertawa malu. "Biasa, Mbak. Niru dari televisi."
"Hahaha ..." Tawa Jena kembali pecah.
Entah kenapa, obrolan sederhana itu terasa begitu menghibur. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama menangis, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Selama hampir dua tahun menjadi pelanggan Taksi Green Fast, baru kali ini ia bertemu sopir yang sekocak ini. Usianya pun masih terlihat muda, mungkin tak jauh berbeda dengannya.
Perlahan tawa Jena mereda, menyisakan senyum ramah. "Mas, namanya siapa?"
Sopir itu tersenyum lebar. "Nama saya Tob-Toto, Mbak."
"Oh, Mas Toto."
"Iya, Mbak."
"Salam kenal, ya. Terima kasih sudah membuat saya tertawa."
Toto mengangguk sambil tetap fokus mengemudikan mobil. "Salam kenal juga, Mbak. Sama-sama." Sesaat kemudian ia menambahkan sambil tersenyum. "Kalau Mbak bisa ketawa lagi, berarti saya berhasil mengantar penumpang bukan cuma sampai tujuan, tapi juga sampai suasana hatinya sedikit membaik."
Jena tersenyum hangat. Sudah lama ia tidak merasakan percakapan seringan dan setulus ini dengan orang yang baru dikenalnya. Bahkan, di tengah hatinya yang sedang remuk, Mas Toto justru berhasil membuatnya tertawa berkali-kali.
Jena menoleh ke arah kursi pengemudi. "Mas Toto sopir baru, ya?"
Toto melirik sekilas melalui kaca spion tengah, lalu mengangguk. "Iya, Mbak. Kok Mbak Jena bisa tahu?"
Jena mengangkat bahu sambil tersenyum. "Feeling aja, Mas."
Toto mengangguk-angguk pelan, lalu tiba-tiba berkata dengan wajah polos, "Kirain karena wajah saya ganteng." Sesaat kemudian ia sendiri yang tertawa. "Hehehe ..."
Jena langsung menepuk dahinya pelan.
"Aduh, ya ampun ..." Tawanya kembali pecah hingga bahunya berguncang. "Mas Toto ini ada-ada aja. Tapi saya akui, wajah Mas emang tampan."
"Hehe ... Aduh jadi malu." Toto mesem. "Padahal saya tadi cuma bercanda, Mbak."
Jena menggeleng sambil masih tersenyum lebar. "Mas Toto bener-bener berhasil bikin saya lupa sama kejadian menyakitkan tadi." Ia mengembuskan napas lega. "Sekarang saya happy."
Wajah Toto ikut berbinar. "Alhamdulillah." Lalu, dengan nada penuh harap namun tetap bercanda, ia bertanya, "Berarti saya dapat rating lima, ya, Mbak?"
Jena tertawa lagi. "Kalau bisa, saya kasih sepuluh, Mas."
"Ahay!" Toto mengepalkan tangan kecil penuh semangat. "Makasih, Mbak!"
Mobil terus melaju membelah jalan malam. Untuk pertama kalinya hari itu, Jena tidak lagi memandangi jendela dengan mata yang dipenuhi kesedihan. Senyumnya kembali muncul, berkat percakapan ringan dengan seorang sopir muda yang tanpa sengaja berhasil mengangkat beban di hatinya, meski hanya untuk sementara.
Tak lama kemudian, mobil Taksi Green Fast memasuki area parkir apartemen Jena dan berhenti tepat di depan lobi.
"Sudah sampai, Mbak," ucap Toto.
Jena mengangguk pelan. "Iya. Terima kasih, Mas." Ia segera menyelesaikan pembayaran melalui aplikasi. Sebelum turun, Jena juga menambahkan sejumlah tip untuk Toto.
Ponsel Toto berbunyi pelan menandakan ada uang masuk. Matanya langsung membulat. "Lho, Mbak ... dikasih tip juga?"
"Iya. Anggap aja ucapan terima kasih karena Mas sudah bikin malam saya yang tadinya berantakan jadi lebih baik."
Wajah Toto langsung dipenuhi senyum. "Masya Allah ... makasih banyak, Mbak."
Jena membuka pintu mobil, lalu berdiri di sampingnya. "Mas, nanti saya kasih rating sempurna. Makasih buat malam ini."
Toto mengangguk senang. "Sama-sama, Mbak. Semangat ya. Jangan nangisin orang yang udah PHP-in Mbak. Lupakan ... dan tinggalkan. Buruan cari yang baru." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan wajah usil. "Saya juga masih jomblo, lho."
Jena spontan tertawa terbahak-bahak. "Mas Toto!"
"Hehehe ..."
Melihat Jena masih tertawa, Toto segera mengangkat kedua tangannya. "Bercanda, Mbak ... bercanda."
Jena menggeleng sambil mengusap sudut matanya yang kembali berair, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena terlalu banyak tertawa. "Iya, Mas."
"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Mbak."
"Hati-hati di jalan, Mas."
"Siap." Toto melambaikan tangan kecil sebelum kembali menjalankan mobilnya meninggalkan area apartemen.
Jena berdiri beberapa saat memandangi mobil hijau itu hingga menghilang di tikungan keluar. Senyum masih menghiasi bibirnya. Luka di hatinya memang belum sembuh. Namun, setidaknya, ia pulang bukan hanya membawa kesedihan, melainkan juga sebuah kenangan hangat tentang seorang sopir muda bernama Toto yang tanpa disengaja, berhasil membuatnya tertawa di saat dunianya terasa runtuh.
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪