NovelToon NovelToon
DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bullying dan Balas Dendam / Dark Romance / Wanita perkasa
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.

Kini, ia kembali.

Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.

Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.

Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.

Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.

Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:

Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.

Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.

Melainkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang Sang Korban

Kalinda mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya yang tajam tak lepas dari Indri. Di ruangan tamu kediamannya yang megah namun suram, mereka telah menghabiskan berjam-jam meneliti setiap dokumen dari hard drive yang ditinggalkan Hisoka, melacak setiap jejak kejahatan yang tertanam dalam. Data-data itu ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang mereka bayangkan, mengungkap jaringan perdagangan manusia yang dipimpin langsung oleh Ardika, dengan ayah Indri sebagai salah satu korban pertamanya.

"Jadi, semua ini bukan hanya tentang balas dendam," ujar Kalinda, suaranya rendah, penuh dengan kepuasan yang dingin. "Ini tentang keadilan yang sesungguhnya. Kebenaran yang selama ini tersembunyi." Ia tersenyum tipis. "Dan kita, Nona Izanami, adalah orang-orang yang akan mengungkapnya."

Mereka telah merancang jebakan. Sebuah panggilan pengadilan yang dipalsukan, menuding Ardika atas pencucian uang dalam skala besar, sebuah skenario yang dirancang untuk menariknya ke ruang sidang, di mana Indri akan menunggu sebagai saksi kunci, lengkap dengan bukti fisik yang tak terbantahkan.

Hari persidangan tiba. Ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dipenuhi oleh para jurnalis dan pengamat, semua ingin menyaksikan kejatuhan Ardika Prawira, sang pengacara muda yang kariernya meroket begitu cepat. Lampu kamera berkedip-kedip, persis seperti kilatan petir di tengah badai yang akan datang.

Ardika memasuki ruangan dengan langkah tegap, setelan jas mahalnya tampak sempurna, seperti biasa. Namun, ada sedikit ketegangan di sudut matanya, sedikit keraguan yang mengintai di balik sorot matanya yang biasanya penuh keyakinan. Ia melihat Indri, duduk di barisan saksi, mengenakan gaun biru safir sederhana namun elegan yang tidak menunjukkan sedikitpun emosi. Ia mengangguk padanya, sebuah gestur yang dipenuhi kepura-puraan, berharap Indri masih akan mematuhi perjanjian mereka.

Sidang dimulai. Jaksa penuntut, yang telah diberi petunjuk oleh Kalinda, mempresentasikan kasusnya. Ardika membantah semua tuduhan dengan argumen hukum yang kuat, berusaha memutarbalikkan fakta dan mencari celah. Ia tampak tenang, mengendalikan situasi, seperti biasa.

Namun, saat nama Indri dipanggil untuk memberikan kesaksian, suasana berubah. Indri melangkah maju, berjalan tenang menuju podium. Matanya bertatapan langsung dengan mata Ardika. Tidak ada senyum. Hanya tatapan dingin yang penuh peringatan.

"Nona Indri," suara jaksa menggema di ruangan yang hening. "Mohon berikan kesaksian Anda mengenai aliran dana ilegal yang terkait dengan klien terdakwa, Ardika Prawira."

Indri mengambil flash drive yang ia pegang erat-erat. Ia tidak perlu banyak bicara. Ia hanya perlu menekan satu tombol. Ia menatap Ardika, lalu memasukkan flash drive itu ke laptop yang disediakan di meja saksi. Layar besar di dinding ruangan menampilkan isi flash drive tersebut: bukti transfer dana, rekaman percakapan, dan yang paling krusial, email terenkripsi dari ayahnya yang membuktikan keterlibatan Ardika dalam sindikat perdagangan manusia.

"Ini adalah bukti lengkap dari kejahatan yang dilakukan oleh Ardika Prawira," ujar Indri, suaranya tenang namun menggema, "termasuk keterlibatannya dalam kematian orang tua saya lima tahun lalu."

Ruangan itu meledak dalam kegemparan. Para jurnalis berebut mikrofon, meneriakkan pertanyaan. Wajah Ardika berubah pucat pasi. Ia mencoba bangkit dari kursinya, namun jaksa penuntut segera memblokir jalannya.

"Terdakwa, tetap di tempat!"

Ardika mengabaikan peringatan itu. Ia berteriak pada Indri, "Kau pengkhianat! Kau tidak punya hak melakukan ini!"

Indri hanya menatapnya dengan tatapan dingin. Di lorong pengadilan yang sempit, ia masih harus berhadapan langsung dengan Ardika. Saat Indri beranjak dari podium, Ardika mencegatnya, cengkeramannya pada lengan Indri kuat dan menyakitkan.

"Kau akan menyesalinya, Indri!" Ardika membisikkan ancaman itu di telinga Indri, wajahnya memerah karena amarah dan keputusasaan. Ia tidak menyadari bahwa di sudut ruangan, beberapa jurnalis yang cerdik telah mengarahkan kamera mereka ke arah mereka.

Indri menyentakkan tangannya, melepaskan diri dari cengkeraman Ardika. "Kau yang akan menyesalinya, Ardika," balasnya, suaranya nyaris tak terdengar, namun penuh dengan kekuatan yang tak terduga. "Kau telah bermain api terlalu lama."

Momen itu terekam. Wajah Ardika yang panik, amarahnya yang tak terkendali, tangannya yang mencoba mengintimidasi Indri. Semuanya terekam oleh lensa kamera yang tak terhitung jumlahnya. Reputasinya hancur berkeping-keping di depan mata publik.

Polisi bergerak cepat. Mereka mengawal Ardika keluar dari ruang sidang, tangannya diborgol. Kamera-kamera media menyorot wajahnya yang hancur, sebuah pemandangan yang memuakkan namun juga memuaskan bagi Indri.

Indri berdiri di tengah kerumunan yang riuh, gaun biru safirnya kini tampak seperti jubah kebesaran. Ia tidak merasa menang. Tidak ada euforia. Hanya sebuah kedamaian yang dingin. Ia telah menyelesaikan satu babak dalam perjalanannya. Ardika telah jatuh.

Kalinda mendekatinya, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. "Kerja bagus, Nona Izanami. Kau telah membuktikan dirimu."

Indri hanya mengangguk, matanya menyapu kerumunan, mencari bayangan ancaman baru. Ia tahu, meskipun Ardika telah tertangkap, perburuan belum berakhir. Di suatu tempat, sosok lain terus mengamati, menunggu saat yang tepat untuk muncul.

"Permainan belum berakhir, Indri," bisik Kalinda, seolah membaca pikiran Indri. "Masih ada lebih banyak ikan besar di lautan Jakarta."

Indri menatap ke depan, ke arah jalan keluar yang kini dipenuhi oleh wartawan yang menunggu. Ia telah mencapai keadilan bagi orang tuanya. Namun, ia tahu, jiwanya masih belum tenang. Ia merasakan tatapan mata yang dingin dari balik kerumunan, tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, tatapan yang membangkitkan rasa takut yang baru.

"Aku tahu," jawab Indri, suaranya nyaris tak terdengar, namun Kalinda mendengarnya. Ia merasakan dingin yang merayap di punggungnya. Ancaman baru telah datang.

"Permainan belum berakhir, Indri."

Pesan itu muncul di layar ponsel Indri, entah dari mana, entah siapa pengirimnya. Matanya menyipit. Ia baru saja merayakan kemenangan kecilnya bersama Kalinda di sebuah restoran mewah, merasakan sedikit kelegaan setelah berhasil menjatuhkan Ardika di pengadilan. Namun, kata-kata itu seperti tetesan air dingin di tengah perayaan. Permainan? Baginya, permainan sudah selesai. Ardika telah hancur, sindikat yang dipimpinnya terurai, dan ia akhirnya merasa sedikit kebebasan.

"Siapa ini?" Indri mengetik balasan, jarinya bergetar halus.

Sesaat kemudian, balasan datang. Kali ini tanpa nama, hanya nomor tak dikenal yang memancarkan aura misterius. "Kau pikir kau sudah menang, Indri? Betapa naifnya."

Sebuah rasa tidak nyaman mulai merayap di dada Indri. Ia melirik Kalinda yang sedang asyik menyantap hidangan penutupnya, tampak puas dengan jalannya persidangan. Indri tidak ingin mengganggu momen kemenangan mereka, namun pesan itu terus menghantuinya. Ia mencoba melacak nomor pengirimnya, menggunakan semua koneksi digital yang tersisa dari era Hisoka.

"Aku tidak menginginkan uangmu, Indri," pesan lain muncul, kali ini lebih panjang dan lebih mengancam. "Aku menginginkan penderitaanmu."

Indri mengerutkan kening. Penderitaan? Apa lagi yang bisa diambil darinya? Ia telah kehilangan segalanya, membangun kembali hidupnya dari nol, dan kini ia merasa aman. Namun, kata-kata ini terasa personal, jauh lebih pribadi daripada ancaman bisnis atau finansial.

1
Towang Risawang
Selamat datang para pembaca yang budiman.

Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.

Terima kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!