NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:31.3k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32.

Dua minggu berlalu. Freya terbaring di rumah sakit, sementara Rafael bergerak di balik layar. Dengan kekuasaan mutlaknya, ia menyelesaikan semua kekacauan yang ditinggalkan oleh Sean, Leticia, dan Bianca.

​Sore itu, di ruang kerja utama mansion Ravindra, Sean duduk bersimpuh di lantai marmer dengan tubuh gemetar. Di depannya, Rafael berdiri membelakangi jendela besar, menatap putranya dengan pandangan dingin yang mematikan.

​"Papa, aku mohon... ampuni aku," ratap Sean, air mata ketakutan mengalir di pipinya. "Jangan coret namaku dari ahli waris. Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Semua kartuku diblokir!"

​Rafael berbalik perlahan. Ia melemparkan sebuah map tebal tepat ke wajah Sean hingga kertas-kertas di dalamnya berserakan.

​"Itu adalah bukti seluruh penggelapan dana yang kau lakukan di kantor pusat, termasuk biaya liburanmu bersama Bianca," ucap Rafael, suaranya berat dan datar tanpa emosi. "Aku tidak akan memasukkanmu ke penjara, Sean. Itu terlalu mudah bagi seorang pengecut sepertimu."

​Sean mendongak dengan harapan palsu. "Jadi, Papa memaafkanku?"

​"Memaafkanmu?" Rafael mendengus sinis. "Mulai besok, kau akan dikirim ke daerah pertambangan paling pelosok di pedalaman. Kau akan bekerja di sana sebagai buruh kasar tanpa nama belakang Ravindra. Kau akan merasakan bagaimana rasanya hidup di bawah tanah, merangkak, persis seperti apa yang telah kau lakukan pada tulang belakang istri yang kau sebut jalang itu."

​"Tidak, Pa! Aku bisa mati di sana! Aku ini anakmu!" jerit Sean histeris.

​"Kau bukan anakku lagi sejak kau mematahkan tubuh Freya," potong Rafael mutlak. "Penjaga, seret dia ke mobil. Pastikan dia tidak membawa satu sen pun dari rumah ini."

​Dua pria berbadan tegap langsung menarik Sean yang terus berteriak memohon ampun, mengabaikan tangisannya yang memekakkan telinga hingga suara itu hilang di koridor luar.

*

​Satu jam kemudian, mobil mewah Rafael berhenti di depan mansion Dirgantara. Rumah itu tampak sepi sejak kepergian Dirga. Di dalam ruang tamu, Leticia dan Bianca sedang asyik memilah-milah berkas sertifikat rumah sambil meminum teh, mengira mereka telah memenangkan segalanya.

​Brak!

​Pintu depan dibuka kasar oleh pengawal Rafael. Leticia dan Bianca tersentak berdiri saat melihat Rafael melangkah masuk dengan wibawa yang mengintimidasi.

​"Tuan Besar Ravindra? Ada apa ini?" tanya Leticia, mencoba mengulas senyum ramahnya yang palsu. "Ada yang bisa kami bantu mengenai Sean atau Freya?"

​Rafael tidak menjawab. Ia memberi isyarat pada pengacaranya yang berdiri di belakang untuk maju.

​"Nyonya Leticia, ini adalah surat kepemilikan mutlak atas mansion Dirgantara dan seluruh sisa aset Almarhum Tuan Dirga," ujar sang pengacara tegas. "Semua saham rahasia atas nama mendiang ibu kandung Nyonya Freya telah dialihkan sepenuhnya dan secara sah ke atas nama Nyonya Freya Arunika Dirgantara selaku ahli waris tunggal."

​Wajah Leticia seketika pucat pasi. "Apa?! Tidak bisa! Saya ini istri sahnya! Saya berhak atas rumah ini!"

​"Kau tidak berhak atas satu butir debu pun di rumah ini, Leticia," sahut Rafael dengan nada dingin yang menusuk. "Semua bukti penipuan dan manipulasi dana medis yang kau lakukan selama Dirga sakit sudah berada di tanganku. Jika kau menolak keluar dari rumah ini sekarang, pengawal saya akan menyerahkan berkas ini ke kepolisian."

​Bianca yang panik langsung bergelayut di lengan ibunya. "Om Rafael, tolong jangan lakukan ini! Di mana Sean? Sean pasti tidak akan membiarkan kami diusir!"

​Rafael melirik Bianca dengan pandangan jijik. "Sean sudah membusuk di tempat yang layak untuknya. Dan kalian berdua... keluar dari rumah menantuku dalam waktu lima menit. Jika ada barang milik keluarga Dirgantara yang terbawa oleh kalian, aku sendiri yang akan memastikan kalian membusuk di penjara."

​"Tuan Rafael, tolong kami! Kami tidak punya tempat tinggal lain!" tangis Leticia pecah, topeng keangkuhannya runtuh total.

​"Itu bukan urusanku," jawab Rafael tanpa belas kasihan. "Pengawal, keluarkan mereka."

​Dengan paksa, Leticia dan Bianca diseret keluar dari mansion Dirgantara tanpa membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuh mereka. Mereka menangis dan menjerit di halaman, namun Rafael sama sekali tidak menoleh.

​Pria paruh baya itu berjalan mengitari ruang tamu mansion Dirgantara yang kini telah kembali menjadi milik Freya. Ia menyentuh foto mendiang ibu Freya yang terpajang di dinding, lalu membisikkan sesuatu dengan obsesi yang kian pekat.

​"Aku sudah mengembalikan rumahmu, Freya. Aku sudah membalaskan sakitmu pada mereka semua," bisik Rafael dengan senyuman tipis yang dingin. "Kini, kau tidak punya alasan lagi untuk menolakku. Kau akan tetap bersamaku, selamanya."

**

Dua minggu di rumah sakit. Setelah melalui masa-masa kritis dan pemeriksaan pascaoperasi yang melelahkan, tim medis akhirnya mengizinkan Freya untuk pulang. Meskipun luka fisik di punggungnya berangsur membaik, kenyataan pahit bahwa ia lumpuh dari pinggang ke bawah tetap tidak berubah.

​Siang itu, Rafael sendiri yang datang ke ruang VIP untuk menjemputnya. Pria matang itu melangkah masuk dengan setelan jas formalnya yang rapi, membawa sebuah map kulit berwarna hitam. Di belakangnya, seorang perawat mendorong kursi roda kosong.

​Rafael meletakkan map tersebut di atas meja kecil di samping ranjang Freya. "Semua administrasi rumah sakit sudah selesai. Dan ini... adalah hal pertama yang harus kau terima sebelum kita meninggalkan tempat ini."

​Freya menoleh perlahan, menatap map hitam itu dengan pandangan hampa. Dengan tangan yang masih agak lemah, ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat dokumen resmi perceraian antara dirinya dan Sean. Di lembar paling bawah, tanda tangan Sean sudah tertera di sana, kasar dan tampak terburu-buru.

​Melihat coretan tinta itu, pertahanan Freya runtuh. Air matanya seketika menetes, membasahi lembaran kertas dokumen di pangkuannya. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah membelah kesunyian kamar.

​Rafael yang berdiri di sisi ranjang hanya diam memperhatikan. "Kau masih menangisi bocah tidak berguna itu?" tanya Rafael, ada nada cemburu yang samar dalam suaranya yang berat.

​Freya menggeleng kuat-kuat, menghapus air matanya dengan kasar meski sia-sia karena air mata itu terus mengalir. "Aku tidak menangisi Sean..." bisik Freya, suaranya serak dan bergetar hebat. "Aku menangisi diriku sendiri... Kenapa nasibku harus semalang ini? Aku kehilangan Ayah, kehilangan kehormatanku, dan sekarang aku bahkan tidak bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Aku cacat..."

​Rasa perih menjalar di dada Rafael melihat kerapuhan wanita di depannya. Namun, ego dan obsesinya jauh lebih besar. Ia mengisyaratkan perawat untuk membantu memindahkan tubuh ringkih Freya dari ranjang ke kursi roda. Begitu Freya sudah duduk di kursi roda dengan selimut yang menutupi kakinya yang mati rasa, Rafael mengambil alih kendali kursi tersebut.

​"Semuanya sudah berlalu. Sekarang, kita pulang ke mansion Ravindra," ucap Rafael sembari mendorong kursi roda menuju pintu keluar.

​Mendengar kata 'mansion Ravindra', Freya langsung mencengkeram roda kursi itu dengan tangannya, memaksa pergerakan mereka terhenti. Ia mendongak, menatap Rafael dengan tatapan menolak.

​"Tidak. Aku tidak mau kembali ke rumah itu," tegas Freya. "Aku sudah bercerai dari Sean. Surat ini buktinya. Aku sudah bukan lagi bagian dari keluarga Ravindra, jadi aku tidak punya alasan untuk tinggal di sana."

​Rafael menghentikan langkahnya. Ia memutari kursi roda, lalu berlutut di depan Freya agar tinggi mereka sejajar. Sepasang mata elangnya mengunci manik mata Freya dengan tatapan mutlak yang tak terbantahkan.

​"Kau harus tetap tinggal di mansionku, Freya. Ini bukan penawaran," ujar Rafael dingin. "Mansion Dirgantara memang sudah kembali atas namamu, dan Leticia serta Bianca sudah kuusir. Tapi di luar sana, dua wanita ular itu masih berkeliaran. Dengan kondisimu yang seperti ini, kau akan menjadi sasaran empuk bagi mereka untuk membalas dendam atau memeras hartamu. Kau butuh perlindunganku."

​"Aku bisa menyewa pengawal! Aku tidak butuh perlindunganmu!" sentak Freya, napasnya memburu karena marah. "Tinggal bersamamu di rumah itu sama saja membiarkan diriku hidup bersama iblis yang sudah menodai menantunya sendiri!"

​"Sebut aku apa saja yang kau mau," balas Rafael tenang, berdiri kembali dan memegang erat pegangan kursi roda Freya. "Tapi faktanya, kau tidak bisa berjalan. Kau tidak bisa mandi sendiri, bahkan untuk berpindah tempat pun kau butuh bantuan orang lain. Kau pikir kau bisa bertahan sendirian di rumah sebesar itu?"

​Freya terdiam. Kata-kata Rafael bagai belati yang menusuk tepat di ulu hatinya. Ia menatap kedua kakinya yang tertutup selimut. Kenyataan bahwa ia lumpuh membuatnya tidak berdaya. Pada akhirnya, ia hanya bisa pasrah saat Rafael kembali mendorong kursi rodanya membelah koridor rumah sakit menuju mobil yang sudah menunggu.

​Namun, begitu mereka sampai di dalam mobil mewah yang melaju menuju mansion Ravindra, Freya menoleh ke arah Rafael yang duduk di sampingnya. Tatapan matanya yang tadi rapuh, mendadak berubah menjadi sangat tajam dan dingin.

​"Dengar," ucap Freya dengan nada menekan, membuat pria di sampingnya menoleh. "Aku terpaksa ikut ke rumahmu karena keadaanku yang cacat ini. Tapi jangan pernah berpikir kau bisa memanfaatkan kelumpuhanku untuk menyentuhku lagi."

​Freya mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas pangkuan. "Jika kau berani mendekatiku di malam hari, atau mencoba menodaiku lagi seperti waktu itu... aku bersumpah, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi nyawaku sendiri di depan matamu. Kau mungkin bisa mengunci tubuhku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan aku untuk mati."

​Rafael terdiam mendengar ancaman yang teramat serius itu. Ia menatap lurus ke dalam mata Freya, mencari celah kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah keputusasaan yang siap nekat. Seringai tipis yang dingin muncul di bibir Rafael. Ia memajukan wajahnya, berbisik tepat di samping wajah Freya.

​"Aku menerima tantanganmu, Freya. Aku tidak akan menyentuhmu sampai kau sendiri yang memohon padaku,"

*

*

*

1
Mita Paramita
lanjut Freya 💪💪💪
Reni Anjarwani
makin seru up doubel trs thor😍😍
MissSHalalalal: lanjut besok ya 🙏
total 1 replies
Reni Anjarwani
makin seru up doubel trs thor
Mita Paramita
lanjut Thor bikin Freya naksir berat sama Rafael atau cemburu 🤣🤣🤣
+62
lanjutkan papa.. harus jual mahal donk 🌚
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up trs
Kasmawati Ambosakka
lanjut
MissSHalalalal: update besok ya kak🙏
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
MissSHalalalal: update besok ya kak
total 1 replies
Mita Paramita
kumpul keluarga klan Ravindra mungkin mau ngelamar Freya 😍😍😍
MissSHalalalal: maunya gitu sih. tapi Freya mau GK nih
total 1 replies
Mita Paramita
kumpul keluarga klan Ravindra mungkin mau ngelamar Freya 😍
Sh
Met holiday, biar pulang bawa ide segudang, fresh menghadapi dunia persilatan 🤣
MissSHalalalal: yg ada pulang-pulang cape kak. 🤭😄
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
+62
plok2 lagi sama papa🥺
Sh
suka tapi tokoh wanita selalu sengsara,kapan bahagia nya
Kamsia
y ktnya bawa appun gak bisa ini ad penjaga bnyak lepas sudah freya di bawa.
+62
ah papa🌚
Reni Anjarwani
lanjut thor makin seru bgt thor
Mita Paramita
Rafael tanggung jawab banget jagain Freya 💪 kasian tuh masa gak dikasih kesempatan kedua🤣🤣🤣
MissSHalalalal: kesempatan dalam kesempitan nih😄
total 1 replies
+62
🌚
Piyah
langsung nikah aja freya
Sh: belum boleh, baru aja diwawancara ga ada hubungan asmara,koq tiba tiba nikah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!