NovelToon NovelToon
My Cold Boss Is A Spicy Writer!

My Cold Boss Is A Spicy Writer!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wie Arpie

Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.

Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"

Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.

Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Luar Naskah

Jakarta sedang tidak bersahabat malam ini. Hujan sisa sore tadi menyisakan udara lembap yang membuat aspal jalanan mengkilap di bawah lampu kota. Di dalam apartemen Arkan, suasananya justru berbanding terbalik. Suhu ruangan diatur sempurna, aroma kopi yang baru diseduh memenuhi udara, dan ada ketegangan yang jauh lebih pekat daripada sekadar tenggat waktu naskah.

Sia duduk di karpet bulu di depan meja kopi, dikelilingi oleh tumpukan catatan dan laptop yang menyala. Sejak kembali dari Bogor, ada sesuatu yang bergeser. Jika dulu apartemen ini terasa seperti kantor kedua bagi Sia, kini tempat ini terasa seperti medan magnet yang terus-menerus menariknya ke titik pusat: Arkan Dewangga.

Arkan keluar dari dapur membawa dua cangkir kopi. Ia tidak lagi mengenakan kemeja kantor. Ia hanya memakai kaus hitam polos yang pas di badan dan celana jogger santai. Penampilan yang "berbahaya" karena menonjolkan sisi maskulinnya yang biasanya tersembunyi di balik jas kaku.

"Ini," Arkan meletakkan cangkir itu di depan Sia, lalu duduk di sofa tepat di belakangnya.

"Makasih, Pak," jawab Sia tanpa menoleh. Ia sedang sibuk membaca ulang draf Bab 19 yang baru saja diunggah. "Pak, komentar pembaca makin liar. Ada yang bilang kalau Bima mulai 'lunak', tapi ada juga yang bilang kalau ini sebenarnya adalah fase di mana Bima jadi makin obsesif. Menurut Bapak, Bima itu tipe yang bakal nunggu atau tipe yang bakal ambil paksa apa yang dia mau?"

Arkan terdiam sejenak. Ia meletakkan cangkirnya, lalu perlahan ia turun dari sofa, duduk di karpet tepat di belakang Sia. Jarak mereka sangat dekat, hingga Sia bisa merasakan hawa panas dari tubuh Arkan.

"Bima bukan tipe yang suka menunggu, Sia. Dia hanya suka memastikan bahwa saat dia bergerak, tidak ada jalan untuk kembali," suara Arkan terdengar rendah, bergetar tepat di tengkuk Sia.

Sia menelan ludah. "Oke... itu jawaban yang sangat 'Bima'. Jadi untuk Bab 20, soal penyerahan diri yang Bapak bilang tadi... bagaimana Bapak mau menggambarkannya?"

Arkan tidak langsung menjawab. Alih-alih bicara, tangannya bergerak pelan, menyingkirkan rambut Sia yang menutupi leher bagian belakang. Jari-jarinya yang hangat menyentuh kulit Sia, membuat wanita itu berjengit kecil.

"Pak... ini bagian dari riset juga?" bisik Sia, suaranya mulai tidak stabil.

"Bukan," jawab Arkan lugas. "Ini di luar naskah. Saya sedang bosan dengan teori, Sia. Saya rasa kita sudah terlalu banyak bicara soal 'apa yang akan dilakukan Bima'. Bagaimana kalau sekarang kita bicara soal apa yang diinginkan Arkan?"

Sia memutar tubuhnya perlahan, hingga kini mereka duduk berhadapan. Jarak lutut mereka bersentuhan. Sia bisa melihat pantulan dirinya di mata gelap Arkan. Tidak ada lagi keraguan di sana. Yang ada hanyalah keinginan yang sangat transparan.

"Arkan... ingin apa?" tanya Sia menantang, meski jantungnya serasa ingin melompat keluar.

Arkan tidak membuang waktu. Ia menarik tengkuk Sia, memperpendek jarak di antara mereka hingga hidung mereka bersentuhan. "Arkan ingin tahu seberapa jauh asistennya ini bisa bertahan sebelum dia sendiri yang meminta saya untuk berhenti bersikap profesional."

Arkan menciumnya, ciuman yang menuntut, penuh dengan dominasi yang selama ini ia tahan di balik meja kerjanya. Sia terkesiap, namun sedetik kemudian ia menyerah pada sensasi itu. Ia membalas ciuman Arkan, tangannya merambat naik, meremas kaus hitam Arkan, berusaha mencari pegangan di tengah badai emosi yang meluap.

Arkan melepaskan ciumannya sejenak, namun tidak menjauh. Ibu jarinya mengusap bibir Sia yang sedikit bengkak. "Masih mau bicara soal plot, Saffiya?"

Sia menggeleng pelan, napasnya tersengal. "Plotnya... sudah rusak, Pak. Bapak benar-benar menghancurkan kerangka ceritanya."

"Bagus," gumam Arkan. Ia berdiri, namun tidak melepaskan tangan Sia. Ia menarik wanita itu ikut berdiri. "Ikut saya."

Arkan menuntun Sia bukan menuju meja kerja, melainkan menuju balkon apartemen yang tertutup kaca besar. Di sana, mereka bisa melihat lampu-lampu Jakarta yang berkedip seperti permata. Arkan berdiri di belakang Sia, melingkarkan kedua lengannya di pinggang wanita itu, mendekapnya erat.

"Dulu, saya pikir menulis novel ini hanya untuk membuktikan pada diri saya kalau saya bisa melakukan apa pun," bisik Arkan di telinga Sia. "Tapi sekarang, saya sadar kalau saya butuh Nightshade sebagai alasan untuk tetap berada di dekat kamu. Supaya saya punya hak untuk marah saat ada pria lain yang mendekatimu. Supaya saya punya alasan untuk memintamu datang ke apartemen saya setiap malam."

Sia menyandarkan punggungnya pada dada bidang Arkan. "Itu terdengar sangat manipulatif, Pak Bos."

"Memang," akui Arkan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia memutar tubuh Sia agar kembali menghadapnya. "Saya adalah seorang pebisnis, Sia. Saya terbiasa mendapatkan apa yang saya inginkan dengan strategi. Dan strategi terbaik saya adalah membuat kamu jatuh cinta pada karakter yang saya ciptakan, sebelum akhirnya menyadari bahwa pria itu ada di depan matamu sekarang."

Arkan kembali merunduk, namun kali ini ia tidak mencium bibir Sia. Ia mendaratkan kecupan-kecupan kecil di sepanjang garis rahang Sia, turun ke leher, membuat Sia mendongak dan mendesah pelan.

"Pak Arkan... ini benar-benar di luar kontrak," gumam Sia di sela napasnya.

"Kontraknya bisa kita revisi," sahut Arkan serak. Ia mengangkat tubuh Sia dengan mudah, mendudukkannya di atas meja konsol kayu yang ada di dekat balkon.

Sia refleks melingkarkan kakinya di pinggang Arkan. Di bawah pencahayaan apartemen yang remang-remang, Arkan terlihat seperti pemangsa yang akhirnya mendapatkan mangsanya. Ia menatap Sia dengan tatapan yang seolah ingin menelanjangi jiwa wanita itu.

"Kamu tahu apa yang paling saya benci dari Gibran?" tanya Arkan tiba-tiba, tangannya kini mulai merayap masuk ke balik cardigan Sia, mengusap pinggangnya dengan gerakan melingkar yang memabukkan.

Sia menggeleng, terlalu fokus pada sentuhan tangan Arkan.

"Saya benci cara dia menyebut namamu dengan begitu santai. Seolah-olah dia punya akses ke duniamu," Arkan mendekatkan wajahnya, suaranya kini kembali penuh dengan nada posesif yang gelap. "Mulai besok, saya tidak mau melihat kamu tertawa terlalu lama dengan pria lain di kantor. Jika kamu butuh hiburan, datang ke ruangan saya. Jika kamu butuh teman bicara, telepon saya. Saya tidak suka berbagi, Sia. Apalagi sesuatu yang sudah saya klaim sebagai milik saya."

Sia menatap Arkan, ada kilat tantangan di matanya. "Bapak belum mengklaim apa-apa secara resmi."

Arkan menyeringai, sebuah senyum predator yang sangat tampan. "Oh, benarkah? Kalau begitu, biarkan saya meresmikannya malam ini."

Arkan kembali mengunci bibir Sia dengan ciuman yang lebih dalam, lebih intens. Tangannya kini bergerak lebih berani, menjelajahi lekuk tubuh Sia yang selama ini hanya ia bayangkan dalam draf-draf novelnya. Di ruangan itu, tidak ada lagi sekat antara fiksi dan kenyataan. Arkan telah melepaskan topeng CEO-nya sepenuhnya, menyisakan sisi "Bima" yang jauh lebih nyata dan jauh lebih lapar akan kehadiran Sia.

Sia merasa dunianya berputar. Segala logika yang ia bangun untuk tetap profesional luluh lantak di bawah sentuhan Arkan. Pria ini tidak lagi meminta izin; ia mengambil apa yang ia yakini sebagai miliknya. Dan anehnya, Sia merasa sangat lengkap saat berada dalam kendali Arkan.

Malam semakin larut, namun pekerjaan mereka malam itu jauh dari kata selesai. Bukan naskah Nightshade yang mereka kerjakan, melainkan sebuah bab baru dalam hidup mereka yang tidak akan pernah diunggah ke platform mana pun. Sebuah bab yang hanya milik mereka berdua, yang ditulis dengan sentuhan, napas yang memburu, dan janji-janji tanpa kata di tengah kesunyian apartemen mewah itu.

Keesokan paginya, naskah Bab 20 mungkin akan sedikit terlambat diunggah. Karena sang penulis sedang sibuk mempelajari "riset" paling nyata yang pernah ia alami: tentang bagaimana rasanya memiliki seseorang sepenuhnya, dan bagaimana rasanya membiarkan diri sendiri dimiliki tanpa syarat.

Arkan Dewangga telah menang. Bukan karena ia berhasil menulis novel yang sukses, tapi karena ia berhasil meruntuhkan dinding antara dirinya dan wanita yang selama ini hanya ia perhatikan lewat laporan-laporan kerja. Dan bagi Arkan, kemenangan ini jauh lebih manis daripada kesepakatan bisnis bernilai miliaran rupiah mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!