Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngeselin
"Kenapa sih nggak bilang kalo beli satenya dibungkus?"
"Sengaja yah ngerjain gue!" gerutu Ziano.
"Aku kan nggak bilang sate nya bakal dimakan di tempat, A."
"Tapi tadi lo bilang kalian duluan, biar pas gue sampe sana satenya udah siap."
"Lah kan emang iya, pas Aa sampe satenya udah siap. Nih buktinya kita bisa langsung pulang." balas Ara tak mau kalah.
"Tau ah gue cape." akhirnya Ziano memilih diam.
"Papi jangan marah-marah, nanti satenya Uci kasih banyak." lerai gadis yang mereka tuntun.
"Papi nggak usah dikasih, Uci. Kayaknya papi kamu nggak doyan sate beginian." ledek Ara.
Kali ini Ziano tak menanggapi, ia memilih cepat-cepat jalan ke kandang dan mengambil motor supaya bisa lebih cepat sampai rumah.
Sepanjang jalan Ziano hanya menanggapi ocehan Lusi, setiap kali Ara ikut nimbrung selalu ia alihkan ke yang lain. "ceritanya ngambek." sindir Ara.
Tiba di rumah, Ziano membawa Lusi main di warung sambil melihat Yudi yang sedang merapikan sayur-mayur. Sementara Ara pergi ke dalam rumah. Tak lama ia kembali dengan membawa rice cooker.
"Ayo makan dulu kita..." serunya.
"Ayo mamam..." Lusi menyaut girang. Ia berlari menghampiri Ara.
"A Yudi ayo makan dulu, aku ngaliwet ini." ajaknya, "bawa kerupuk satu bungkus, A." lanjutnya.
"A Ano ayo!" teriaknya pada Ziano yang pura-pura merapikan tomat.
"A Ano jangan deket-deket tomat deh, takut ancur ntar tomatnya." ledeknya kemudian.
"Papi, duduk deket Uci." Lusi langsung menarik Ziano begitu ia datang.
"Wah mantap. Liwet, asin peda, sama sate." ucap Yudi sambil membuka kerupuk. Ia langsung memberikan satu kerupuk untuk Lusi.
"Makasih, Amang."
"Sama-sama, Uci geulis." balas Yudi.
Ara dengan cekatan mengisi piring, masing-masing untuk Yudi, dirinya dan Ziano. Sate nya pun dibagi rata, masing-masing dapat tiga tusuk. Kecuali piring miliknya ada lima tusuk soalnya berdua sama Lusi.
"Eh, punya A Ano dikit dulu aja deh takut nggak doyan." Ara mengurangi nasi dan sate yang semula sudah di piring Ziano.
"Bukan pelit yah, A.Ini takut jadi mubah aja kalo misal Aa nggak suka." lanjutnya menegaskan.
"Pasti suka lah, bang Nono juga." timpal Yudi yang sudah lebih dulu melahap jatahnya. "Apalagi kalo ditambah jengkol goreng euhhh mantap banget ini." lanjutnya.
"Cobain papi..." sebelum Ziano menerima piringnya, Lusi sudah lebih dulu menyodorkan sendok di tangannya, "Uci suapin Papi.."
Sedikit ragu, tapi setelah mendapat anggukan dari Ara, Ziano menerima suapan dari Lusi. Enak.
"Enak kan, Pi?"
"Iya." jawab Ziano. jujur, bukan karena tak enak hati. Makanan kali ini benar-benar enak. Padahal Lusi hanya menyuapkan nasi tanpa lauk padanya, tapi ini nasi terenak yang ia makan, ada gurih-gurihnya. Tapi beda dengan nasi gurih yang dibuat mamanya.
"Gue mau lagi..." Ziano menyodorkan piringnya pada Ara setelah menadaskan isinya.
"Yakin, A? nggak takut mat-" Ara tak melanjutkan ucapanya. Ada Lusi disana.
"Serius enak. Cara bikinnya gimana? gue mau resepnya deh, bisa buat menu baru di resto besan nenek ini."
"Mulai deh ngarangnya." cibir Ara.
"Serius, keluarga gue ada yang punya resto. Ntar kalo gue pulang, kalian gue ajak deh."
"Nggak usah, Makasih. Aa kalo mau nambah tinggal nambah aja, toh masih banyak nasinya. Nggak usah pake embel-embel usaha resto segala." jelas Ara.
"Lagian ini tuh cuma beras biasa yang dimasak bareng bawang merah, bawang putih, daun salam, sereh, cabe rawit dikit, garam sama minyak dikit." lanjutnya.
"Tapi serius ini enak banget, Ra." puji Ziano.
"Ya namanya juga lapar, A. Orang kalo cape sama lapar, makan sama garam doang juga enak." balas Ara.
"Tapi gue tiap hari makan sama daging, sama ini, itu rasanya biasa aja. Ini serius enak banget."
"Mulai deh ngarang lagi. Dibanding daging ya ini nggak ada apa-apanya lah, A." jawab Ara, "intinya segala sesuatu itu bakal enak kalo kita lagi cape, lapar, sama satu lagi yang paling penting."
"Apa?"
"Kalo kita besyukur." Ucap Ara tegas.
"Udah ah aku udah selesai. A Yudi sama A Ano kalo mau lanjut silahkan, aku mau mandiin Uci dulu. Nanti selesai makan tugas cuci piring A Ano yah." lanjutnya seraya beranjak pergi menggendong Lusi.
Ara kembali ke warung setelah memandikan Lusi, gadis kecil itu kini tak mengikutinya. Dia tertidur setelah cape jalan-jalan dan perutnya diisi.
"A Ano kenapa belum di beresin ini?" tanyanya saat menemukan sisa makanan mereka hanya ditumpuk di samping.
"Iya, ini mau diberesin. Tadi banyak yang beli jadi gue bantu Yudi dulu." jawab Ziano.
"Iya, Ra. Ini baru mulai sepi. Bang Ano bisa diandelin ternyata kalo soal hitung menghitung, cepet banget." timpal Yudi.
"Uci mana?" tanya Ziano karena tak melihat anak dadakannya.
"Bobo dia. Aa cuci piring sana, biar aku yang bantu A Yudi."
"Siap." jawab Ziano, ia segera membawa piring bekas makan dan rice cooker ke rumah.
Ziano sedang mencoba mencuci gelas dan piring dengan susah payah.Tangannya terasa begitu kaku, efek tak pernah menyentuh urusan perdapuran.
"Ano! Nono! dimana kamu!" Ziano menoleh dengan tangan yang masih penuh busa begitu mendengar pintu dapur di banting dengan begitu keras.
Aki Dikun datang dengan wajah merah menakutkan, di sampingnya ada Ara yang nampak begitu ciut.
"Dipanggil-panggil diem aja!"
"Maaf, Aki. Saya belum jawab Aki sudah sampai sini."
"Tadi pagi kamu jalan sama Ara dan Lusi?" tanya Aki dengan nada tinggi.
"Abah, Lusi lagi tidur, ntar dia kaget jadi bangun." sela Ara.
"Diem kamu!" sentak Abah. Ara langsung bungkam. Bukan hanya Ara, Ziano juga ikut bungkam.
"Iya nggak?" sentaknya pada Ziano.
"Iya apa Aki?"
"Tadi pagi ke tukang sate terus Ara di bonceng sama Marcel?" tanya Aki.
"Marcel siapa?" Ziano bingung. Sementara Ara terus menggelengkan kepala memberi kode.
Ziano membalas dengan tatapan penuh tanya pada Ara tapi gadis itu terus menggelengkan kepala. Ia jadi bingung sendiri.
"Saya nggak tau siapa itu Marcel, Aki. Tadi Ara sama Lusi dibonceng vario merah, saya jalan kaki." jawab Ziano jujur.
"Ara! kamu!" Aki Dikun melotot marah pada putrinya.
"Kamu bener-bener keterlaluan!" lanjutnya yang langsung pergi dari dapur.
"Abah dengerin Ara dulu!" teriak Ara.
"Ini semua gara-gara A ano! nyebelin!" bentaknya pada Ziano sebelum pergi mengejar ayahnya.
Tak mengerti apa yang terjadi, Ziano reflek menggaruk kepala. "ah si al!" umpatnya begitu tau tangannya masih penuh busa sabun cuci piring, sekarang malah mengenai rambut.
"Orang-orang disini kenapa sih? tiba-tiba baik, tiba-tiba marah? aneh."
"Kenapa pula selalu gue yang disalahin? selalu gue yang kena batunya? heran!" gerutunya sambil lanjut mencuci piring.
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
diiih diih