NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Badai di Perairan Bebas

Persiapan menuju koordinat tak bertuan itu dilakukan dalam kerahasiaan tingkat tinggi selama kurang dari empat puluh delapan jam. Adrian tidak menggunakan jalur transportasi umum ataupun jet pribadi komersial miliknya yang biasa terpantau radar. Sebagai gantinya, sebuah kapal pesiar taktis semi-militer berwarna hitam legam bernama The Obsidian telah bersiap di dermaga privat terisolasi, siap membelah samudra menuju perairan internasional bebas.

Malam keberangkatan tiba tanpa bulan di langit. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam dan ketegangan yang pekat.

Elena berdiri di dek utama kapal, menatap ombak hitam yang saling berkejaran di bawah sana. Ia tidak lagi mengenakan blazer formal atau gaun mewah; malam ini, tubuh rampingnya dibalut oleh pakaian yang serba hitam yang pas di badan, lengkap dengan sabuk perlengkapan ringan dan sepatu bot anti-selip. Di lehernya, kalung permata biru safir itu kembali melingkar, berkilau samar di bawah lampu temaram kapal.

"Angin laut di luar sini bisa membuatmu sakit," sebuah suara bariton yang sangat familier terdengar dari arah belakang.

Adrian berjalan mendekat. Pria itu terlihat sangat mengintimidasi dengan pakaian taktis serupa yang membingkai sempurna tubuh tegapnya. Di pinggangnya, sebuah holster senjata api terpasang dengan kokoh, menegaskan bahwa perjalanan ini bukan lagi sekadar negosiasi bisnis. Ia memegang sebuah jaket angin tebal dan tanpa aba-aba langsung menaruhnya ke bahu Elena.

Elena menoleh, menatap wajah tegas Adrian yang diterangi lampu navigasi kapal. "Aku hanya sedang berpikir, Adrian. Sepuluh tahun lalu ayahku pergi ke koordinat yang sama dan tidak pernah kembali. Apakah malam ini kita sedang menjemput kebenaran, atau kita justru sedang berjalan menuju takdir yang sama?"

Adrian melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Elena bisa merasakan embusan napas pria itu di tengah terpaan angin malam. Adrian memegang kedua sisi pagar pembatas kapal, mengunci tubuh Elena di antaranya. Matanya yang gelap menatap langsung ke dalam manik mata Elena dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan keraguan apa pun.

"Aku sudah pernah mengatakannya padamu, Elena, dan aku tidak akan bosan mengulangnya," ucap Adrian, suaranya terdengar sangat rendah namun bergetar dengan keyakinan mutlak. "Sepuluh tahun lalu, Alexander pergi sendirian tanpa persiapan. Tapi malam ini, kamu pergi bersamaku. Aku telah membawa tim keamanan terbaik, sistem pertahanan taktis, dan yang paling penting... aku ada di sini, tepat di depanmu. Aku bersumpah demi nyawaku, takdirmu tidak akan pernah berakhir seperti ayahmu."

Elena menatap tangan Adrian yang mencengkeram besi pembatas, lalu beralih menatap wajah tampan di depannya. Rasa hangat yang familier kembali menjalar di dadanya, mengusir dinginnya angin laut yang menusuk tulang. Tanpa sadar, Elena mengulurkan tangannya, menyentuh dada bidang Adrian tepat di atas jantungnya yang berdetak dengan ritme yang tenang namun kuat.

"Aku memercayaimu, Adrian. Lebih dari apa pun saat ini," bisik Elena jujur.

Sudut bibir Adrian terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sarat akan emosi posesif. Ia meraih tangan Elena yang ada di dadanya, menggenggamnya erat, lalu membawanya masuk ke dalam kabin utama tempat layar monitor navigasi sedang berkedip menampilkan peta digital samudra luas.

Di dalam kabin, Hendra bersama tiga orang operator taktis berwajah kaku sedang sibuk memeriksa sistem radar dan persenjataan. Sebuah maket tiga dimensi mengenai struktur bawah tanah pulau tujuan mereka juga sudah terproyeksi di atas meja bundar.

"Tuan, Nyonya," Hendra membungkuk hormat memberi laporan. "Kita akan memasuki wilayah perairan internasional bebas dalam waktu satu jam lagi. Radar kami mendeteksi tidak ada aktivitas kapal asing dalam radius dua puluh mil laut saat ini. Namun, sistem pertahanan udara pulau tersebut dipastikan aktif. Kita harus mendarat menggunakan perahu karet taktis senyap dari jarak dua mil agar tidak memicu alarm Syndicate"

Adrian mengangguk paham, matanya langsung menganalisis peta topografi pulau tersebut. "Bagaimana dengan jalur masuk menuju fasilitas penyimpanan data fisik?"

"Ada dua jalur, Tuan," Hendra menunjuk ke arah maket digital. "Jalur utama melewati dermaga barat yang dijaga ketat oleh tentara bayaran, dan jalur kedua adalah celah tebing karang di sisi timur yang langsung terhubung dengan ventilasi udara darurat. Jalur timur sangat curam dan berbahaya, tapi minim penjagaan."

"Kita ambil jalur timur," putus Adrian tanpa ragu. Ia menoleh ke arah Elena. "Kamu bisa memanjat tebing, Putri Kecil?"

Elena menaikkan sebelah alisnya, tertantang oleh nada meremehkan yang sengaja dilemparkan Adrian. "Aku memegang sabuk hitam taekwondo dan rutin melakukan rock climbing setiap akhir pekan sebelum aku menjadi CEO, Tuan Arsa. Pikirkan saja dirimu sendiri."

Tawa rendah yang renyah keluar dari mulut Adrian, sebuah suara yang sangat jarang didengar oleh siapa pun di ruangan itu, membuat Hendra dan anak buahnya sempat saling pandang dengan heran. Adrian mendekatkan wajahnya ke telinga Elena, berbisik dengan nada yang teramat intim.

"Bagus. Aku suka wanita yang memiliki cakar. Itu membuatku semakin tidak sabar untuk menaklukkanmu sepenuhnya setelah semua ini selesai."

Wajah Elena mendadak memerah mendengar bisikan nakal namun berbahaya itu, namun sebelum ia sempat membalas, lampu indikator di dalam kabin mendadak berubah menjadi warna merah pekat, diikuti oleh suara alarm peringatan yang melengking pendek.

BEEP! BEEP! BEEP!

"Tuan! Radar mendeteksi ada pergerakan cepat dari arah jam dua!" seru salah satu operator taktis dengan nada panik. "Dua kapal patroli cepat tanpa identitas sedang melaju ke arah kita dengan kecepatan empat puluh knot! Mereka mengunci posisi kita!"

Suasana di dalam kabin langsung berubah menjadi tegang dalam hitungan detik. Adrian menarik Elena ke belakang tubuhnya dengan gerakan refleks yang sangat cepat, sementara tangan kanannya sudah mencengkeram gagang senjata api di pinggangnya. Wajah santainya menguap sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi predator yang siap mencabik musuh.

"Mereka sudah tahu kita akan datang," desis Elena, mencengkeram lengan jaket Adrian.

"Hendrawan mungkin sudah tumbang, tapi dia pasti sempat mengirimkan sinyal darurat ke pusat sebelum ditangkap oleh Komisi Tindak Integritas," sahut Adrian dingin. Ia menatap layar radar yang menunjukkan jarak kedua kapal musuh yang semakin mengikis. "Mereka pikir mereka bisa menghentikan The Obsidian di tengah laut?"

Adrian menatap Hendra dengan sorot mata yang menyala penuh amarah dan determinasi. "Hendra, aktifkan sistem pengacau radar dan siapkan meriam kaliber ringan di dek depan. Jangan biarkan satu pun dari mereka mendekati lambung kapal ini. Kita akan tunjukkan pada Syndicate bahwa lautan ini adalah milik Arsa Group malam ini."

"Siap, Tuan!"

Kapal The Obsidian mendadak melaju dengan sentakan hebat, memotong ombak besar di depan mereka saat mesin taktisnya dipacu maksimal. Di luar sana, di tengah kegelapan perairan bebas yang pekat, kilatan cahaya tembakan pertama mulai memecah malam.

Badai yang sesungguhnya telah tiba, dan kali ini, Adrian dan Elena berada tepat di tengah-tengahnya, siap membakar siapa saja yang menghalangi langkah mereka.

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!