Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
Mereka sampai di rumah. Begitu motor Jeremy berhenti, Jolina langsung turun dengan tergesa dan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikit pun.
“Hei, kenapa kalian pulangnya lama banget?” tanya Mama dari ruang tengah.
Jolina sama sekali tidak menanggapi. Ia langsung menaiki tangga menuju lantai atas.
“Eh, Jolina?” Mama mengernyit bingung. “Kenapa dia?”
Jeremy masuk ke dalam rumah dan seketika mendapat tatapan tajam dari Ayah. Sementara Mama masih terlihat kebingungan.
“Kamu ganggu kakak kamu lagi?” tanya Ayah dingin.
“Aku?” Jeremy terkejut. “Ganggu dia?”
“Memangnya saudara Jolina siapa lagi?”
Jeremy mendengus kesal. “Aku nggak ganggu dia. Dianya aja yang aneh.”
"Kamu ga usah bohong Jeremy!"
"Ngapain aku bohong?"
“Mas, sudah lah…” Mama mencoba menengahi.
"Kamu jangan sampai buat Jolin ga nyaman dirumah ini"
“Sumpah, Pa, Ma. Aku beneran nggak ngapa-ngapain.”
Mama menghela napas panjang. “Sudah - sudah... Kamu ke kamar saja, ganti baju sana”
"Tapi aku belum selesai bicara sama Jeremy, dia itu harus dikasih pelajaran karena ganggu kakak nya terus"
"Sudah lah mas" Mama menimpali cepat. “Biar aku yang bicara sama Jolina nanti.”
“Awas ya kamu, Jeremy,” ujar Ayah mengingatkan.
"Udahlah mas..."
Jeremy tak menjawab lagi. Ia langsung melangkah naik ke atas menuju kamarnya, meninggalkan suasana rumah yang mendadak terasa dingin.
Di dalam kamarnya, Jolina menghentakkan kakinya ke lantai berkali-kali. Dadanya naik turun menahan kesal.
Entah kenapa, perkataan Jeremy terus berputar-putar di kepalanya. Mengganggu. Menyebalkan.
“Jolina, lo kok bodoh banget sih…” gumamnya frustasi.
“Kenapa harus ketiduran di ruang seni? Kenapaaa?!”
Ia memukuli bantal dengan kasar.
“Kenapa gue nggak ingat apa-apa?”
Kepalanya terasa penuh.
“Apa Jeremy bohong sama gue?”
Atau…
“Atau… dia yang macem-macem sama gue…?”
Jolina terdiam sesaat, lalu mengepalkan tangan.
“Iya… dia kan mesum. Udah pasti dia yang ngapa-ngapain gue, kan?”
Amarahnya naik begitu saja.
“Dasar cowok mesum. Tukang ngibul.”
“Awas aja lo, Jeremy. Gue bakal balas.”
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki. Pintu kamar Jeremy berderit saat dibuka.
Jolina langsung keluar kamar.
“Heh!” serunya tajam. “Mana kunci kamar gue?”
“Oh… kunci kamar lo?” Jeremy menoleh santai.
Ia merogoh saku celananya.
“Ah, ini dia.”
“Apa?!” Jolina melotot. “Lo bohong ke gue lagi?! Katanya ada di kamar lo!”
“Ah… gue baru inget kalau gue yang bawa.”
“Lo bener-bener keterlaluan, ya, Jeremy!”
“Lain kali jangan naro sembarangan. Gue kira udah nggak perlu lagi.”
“Nggak perlu gimana? Lo gila?!”
“Udah.” Jeremy menyodorkan kunci itu. “Kunci kamar lo udah gue balikin. Sekarang lo pergi dari sini.”
“Dih? Gue juga mau pergi kali.”
“Ya mana tau lo masih mau berhadapan sama gue, cari-cari alasan biar bisa ketemu.”
“Lo nggak usah GR jadi orang.”
Jeremy tersenyum. Senyum tipis itu—menyebalkan. Membuat darah Jolina semakin mendidih.
“Gue nggak nyangka,” ucap Jeremy santai, “ternyata lo kakak yang agresif.”
“Maksud lo apa?!” bentak Jolina.
“Pikir aja sendiri.”
Tanpa peringatan, Jeremy mengangkat tangan dan mendaratkan jari telunjuknya di dagu Jolina. Senyum nakal itu muncul lagi sebelum ia berbalik dan masuk ke kamarnya.
“Jeremy!!!” Jolina berteriak.
“Lo gilaaa!!!”
Jolina mendobrak pintu kamar Jeremy berkali-kali. Napasnya memburu, wajahnya merah oleh amarah.
Saat ia berbalik, Mama sudah berdiri di belakangnya, dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
Jolina menatap Mama malas.
“Jolina?”
“Apa sih, Ma?”
“Ayo, kita bicara.”
Tanpa menunggu jawaban, Mama menarik tangan Jolina menuju kamarnya.
“Apaan sih, Ma?”
“Kamu berantem lagi sama Jeremy?”
“Ma?” suara Jolina meninggi. “Dia duluan yang ganggu aku. Terus menurut Mama aku harus diam aja kalau dia bully aku? Mama mau aku ditindas sama saudara tiri aku?”
“Jeremy itu nggak mungkin seperti itu,” potong Mama tegas. “Dia anak yang baik.”
“Ma?” Jolina tertawa hambar. “Harus pakai cara apa lagi aku jelasin ke Mama? Dia itu nggak sebaik yang kalian kira.”
“Apapun cerita kamu, please, Jolina,” suara Mama mulai melembut tapi tetap tegas.
“Jangan buat keributan. Sikap kamu tadi itu nggak sopan. Masuk rumah nyelonong begitu aja.”
“Maaf kalau aku nggak sopan,” jawab Jolina cepat. “Tapi itu semua karena Jeremy. Sejak Jeremy masuk ke hidup aku, semuanya jadi berantakan, Ma.”
“Berantakan gimana?” Mama menghela napas.
“Kita hidup enak sekarang. Jangan suka-suka hati kamu sendiri. Patuhi aturan Mama. Jangan bertengkar lagi sama Jeremy.”
“Tapi, Maa—”
“Apapun alasannya,” potong Mama.
“Mama nggak mau lihat kalian bertengkar lagi. Kamu yang ngalah, oke?”
Mama langsung keluar dari kamar, meninggalkan Jolina sendiri.
Pintu tertutup pelan.
Jolina mengepalkan tangannya.
“Mengalah?” gumamnya dingin.
“Ga akan pernah.”
“Dia yang mulai duluan.”
“Dan gue bakal balas semuanya.”
***
Di meja makan, Jolina datang paling belakangan. Sejujurnya, ia sangat malas turun untuk makan malam. Terlebih lagi setelah melihat Jeremy duduk santai di sana—rasa mualnya langsung naik.
“Jolina, ayo duduk,” panggil Papa.
“Iya, Pa…”
Dengan langkah enggan, Jolina duduk tepat di samping Jeremy.
Jeremy menoleh dan tersenyum manis ke arahnya.
Sandiwara apalagi ini? batin Jolina.
Tanpa diminta, Jeremy meraih centong dan mengambilkan nasi untuknya.
“Gue bisa sendiri,” ucap Jolina dingin.
“Gapapa, Jolina,” sela Mama. “Biar Jeremy aja yang ambilin.”
“Gapapa, Ma. Aku bisa sendiri kok,” Jolina menarik piringnya sedikit menjauh.
“Jeremy, lo makan aja. Nggak usah repot-repot.”
Jeremy tak membalas dengan kata-kata. Hanya senyum tipis yang membuat Jolina semakin kesal.
“Senang banget Papa lihat kalian kayak gini,” kata Papa sambil tersenyum lebar.
“Jangan bertengkar lagi, ya.”
“Siapa yang bertengkar sih, Pa?” Jeremy terkekeh ringan.
“Kita baik-baik aja, ya kan, Kak?”
Belum sempat Jolina menjawab, Jeremy merangkul bahunya yang sedang makan.
“Bisa turunin tangan lo nggak?” bisik Jolina tajam.
Jeremy justru tertawa kecil.
“Kakak gue ini gemaaaas banget,” katanya sambil mencubit pipi Jolina.
Papa dan Mama tampak semakin bahagia melihat pemandangan itu.
“Kayaknya kalian udah bisa jaga adik, ya,” ucap Mama ceria.
"Apa??"
Jolina berhenti mengunyah.
“Adik?” suaranya nyaris tercekat.
Papa dan Mama hanya saling pandang lalu tersenyum penuh arti.
Jeremy perlahan menurunkan tangannya dari bahu Jolina. Ia melirik Jolina sekilas—tatapan yang tak lagi sepenuhnya ramah.
Jolina menelan ludah.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa ada sesuatu yang benar-benar salah.
Setelah makan malam selesai, Jolina mondar-mandir di depan kamarnya. Langkahnya cepat, gelisah. Kepalanya penuh oleh satu kalimat yang terus berputar.
“Kalian udah bisa jaga adik.”
“Apa maksudnya, sih…?” gumamnya pelan.
Jolina menghentikan langkah, menatap kosong ke dinding.
Adik?
Jaga adik?
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Jangan-jangan…” napasnya tercekat. “Mama hamil?”
“Hamil?”
Jolina mengacak rambutnya frustasi.
“Enggak, enggak, enggak… ini nggak masuk akal,” katanya sambil menepuk dahinya sendiri. Tapi semakin ia menolak pikiran itu, semakin kuat rasa panik menekan dadanya.
Langkah kaki terdengar mendekat.
Jeremy muncul di ujung lorong dengan wajah santai, tangan di saku celana, seolah tidak terjadi apa-apa.
Melihat itu, emosi Jolina langsung meledak.
“Ini semua gara-gara lo!” bentaknya.
Jeremy mengerutkan kening.
“Hah? Gara-gara gue?”
“Iya! Pokoknya ini semua gara-gara lo, Jeremy!”
Jeremy mendengus kecil.
“Lo ngomong yang jelas dong. Gue baru mau masuk kamar, tiba-tiba disalahin. Emang gue salah apa?”
“Mama gue hamil!” suara Jolina bergetar, antara marah dan panik.
“Dan itu gara-gara lo!”
Jeremy terdiam sesaat, lalu tertawa kecil tak percaya.
“Lo gila ya? Papa gue yang nikahin mama lo. Kok bisa-bisanya lo nyalahin gue?”
“Kalau aja lo kompak sama gue dari awal,” Jolina menunjuk dadanya sendiri, “ini nggak bakal kejadian! Harusnya kita nggak ngebolehin mama hamil! Gue nggak mau!”
Jeremy menatapnya lama, ekspresinya berubah datar.
“Yaudah? Lagian mama lo hamil sama papa gue. Mereka nikah sah. Papa gue nggak bakal kabur, dia tanggung jawab.”
“Bukan itu maksud gue!” Jolina membentak frustasi.
“Lo tuh nggak ngerti!”
Jeremy menghela napas panjang.
“Udah ya, Jo. Gue capek. Mau istirahat. Pikiran lo emang aneh.”
“Oke!” Jolina menahan air mata yang hampir jatuh.
“Kalau bayi itu lahir, lo yang bantu mama gue ngerawat. Gue nggak mau!”
Jeremy menoleh tajam.
“Kakak macam apa lo? Nggak punya tanggung jawab.”
“Lah gue dari awal nggak setuju mama hamil!” Jolina membalas cepat.
“Yang nggak keberatan itu cuma lo!”
Jeremy menggeleng pelan.
“Lo emang aneh, Jolina.”
Ia berbalik dan masuk ke kamarnya, meninggalkan Jolina berdiri sendiri di lorong yang tiba-tiba terasa sempit.
Jolina mengepalkan tangan.
Bukan gue yang aneh, batinnya.
Ini hidup gue yang pelan-pelan dirampas.
Dan entah kenapa… bayi yang bahkan belum pasti itu, sudah membuatnya merasa kalah.