NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Trauma masa lalu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.

Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Tidak terima

"Aurin...?!"

​Ezra yang sejak tadi duduk di sofa ruang tengah sontak berdiri. Tatapan matanya membulat penuh tidak percaya saat sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya benar-benar berdiri tepat di hadapan. Gadis yang bahkan baru saja hendak ia cari ke mana-mana nyatanya berada di sini, di rumah sang kakak.

​Cowok itu mendekat perlahan, selangkah demi selangkah dengan napas yang terasa semakin berat. Matanya tidak lepas dari wajah Aurin, seolah takut gadis itu akan menghilang lagi jika ia berkedip terlalu lama.

​Lalu saat jarak mereka tinggal sejengkal, Ezra langsung menarik tubuh kecil Aurin ke dalam pelukannya. Erat. Sangat erat. Pelukan itu datang terlalu cepat hingga Aurin bahkan tidak sempat menolak.

​"Au... ini kamu beneran, kan?" suara Ezra terdengar berat dan sedikit bergetar. "Kamu kenapa ada di sini? Kata mereka kamu sakit. Kamu tidak masuk sekolah hampir dua minggu dan itu bikin aku khawatir setengah mati sejak tadi..."

​Tangannya semakin mengerat di punggung Aurin, ​"Clara juga bilang kamu kabur dari rumah. Kenapa? Mereka ngapain kamu lagi? Apa mereka memperlakukanmu buruk?" tanyanya bertubi-tubi penuh kecemasan.

​Ezra sempat mengendurkan pelukannya sebentar hanya untuk memastikan Aurin benar-benar baik-baik saja. Tatapan matanya menyapu wajah gadis itu cepat, lalu kembali menarik Aurin ke dekapannya tanpa memberi ruang sedikit pun bagi Aurin untuk bicara.

​"Jadi kenapa kamu bisa sampai di rumah Kak Gallel?" lanjutnya lagi cepat. "Kamu kerja di sini, Au? Kamu lagi butuh uang? Kalau kamu butuh duit, bilang sama aku. Kamu tidak perlu kerja sampai ninggalin sekolah kayak gini."

​"Ezra... sesak..." suara Aurin tercekat pelan.

​Napasnya benar-benar terasa sulit karena pelukan cowok itu mengunci tubuhnya terlalu erat. Namun belum sempat Ezra melepaskan pelukannya, suara langkah sepatu yang pelan di atas lantai marmer mendadak terdengar dari arah belakang.

​Tenang dan pelan. Namun entah kenapa justru terasa menekan.

​"Menurutmu bagus memeluk perempuan yang statusnya kakak iparmu di rumahnya?"

​Suara dingin itu membuat tubuh Aurin langsung menegang. Refleks gadis itu mendorong pelan tubuh Ezra sebelum buru-buru mundur beberapa langkah ke belakang. Wajahnya mendadak pucat saat tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan sorot mata tajam milik Gallelio yang berdiri tidak jauh dari sana.

​Pria itu masih mengenakan jas kerja hitamnya. Satu tangannya berada di saku celana, sementara tatapannya menusuk lurus ke arah Ezra dan Aurin secara bergantian. Atmosfer ruang tengah mendadak berubah mencekik hanya karena kehadirannya.

​Sedangkan Ezra, cowok itu masih diam di tempat dengan napas yang belum beraturan. Kepalanya perlahan mencerna kalimat sang kakak yang terasa begitu jelas menghantam pendengarannya.

​Kakak ipar.

​Ezra menggeleng pelan. Denial. Tatapan matanya kembali berpindah ke arah Aurin yang kini menunduk diam dengan jemari saling meremas gelisah.

​"Apa itu pantas menurutmu, Ezra?" suara Gallelio kembali terdengar. Tegas. Dingin.

​Ezra menoleh menatap sang kakak, lalu kembali lagi pada Aurin. "Au..." panggilnya pelan, seperti berharap gadis itu segera mengangkat kepala dan mengatakan bahwa semua ini salah. Bahwa apa yang baru saja ia dengar hanyalah kesalahpahaman.

​Namun Aurin tetap diam. Dan diamnya gadis itu terasa seperti jawaban paling menyakitkan. Gadis yang ia sukai ternyata adalah istri kakaknya sendiri.

​"Tidak..." Ezra menggeleng semakin lemah. Suaranya tercekat rendah. "Nggak mungkin..."

​Cowok itu menatap Gallelio dengan mata memerah penuh emosi. "Kak, bilang kalau ini nggak benar," suaranya mulai meninggi. "Kenapa harus Aurin, Kak?!"

​Tatapan Ezra kembali jatuh pada Aurin. Kecewa. Marah. Dan hancur dalam waktu bersamaan saat gadis itu tetap tidak membantah satu kata pun.

​"Shit..." umpatnya kasar sambil mengacak rambutnya frustrasi.

​Lalu tanpa bisa lagi menahan emosinya, Ezra menatap tajam ke arah Gallelio. "Kakak ngambil milikku!"

​Kalimat itu keluar begitu saja dengan suara serak penuh amarah sebelum Ezra meraih helmnya kasar dari atas meja lalu keluar dari rumah itu.

​"Ezra!" suara Gallelio terdengar memanggil dari belakang.

​Tetapi cowok itu tidak peduli. Pintu rumah terbuka keras. Beberapa detik kemudian, suara motor besar milik Ezra menggema kasar dari halaman rumah sebelum melesat cepat meninggalkan kediaman kakaknya.

...----------------...

Gallelio mendekat ke arah Aurin. Setiap langkahnya terasa seperti tekanan bagi gadis itu yang semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"Tu... tuan..."

​"Ikut saya!" Suara Gallelio dingin. Ia menarik kasar tangan Aurin lalu menyeretnya menuju lantai dua. Langkah kaki kecil Aurin yang harus mengimbangi langkah panjang Gallelio membuatnya beberapa kali nyaris terjatuh, namun pria itu sama sekali tidak peduli.

​Geanetta yang sejak tadi ketakutan terpaksa berlari kecil di belakang mereka. Gadis kecil itu menangis sesenggukan, tidak sanggup menatap mata ayahnya yang sejak dulu selalu terasa mengintimidasi. "Papi, lepasin Mami!" ujarnya memohon.

​Bugh!

​Tubuh Aurin didorong kasar masuk ke dalam kamar. Gallelio segera menunduk, mencengkeram rahang gadis itu hingga ia terpaksa mendongak.

​"Jadi begini aslinya kamu?!" suara Gallelio merendah, penuh ancaman.

​Sebuah senyum sinis tercetak di wajahnya. Matanya menggelap tajam. "Setelah berhasil menyeret saya dalam pernikahan, kemudian membuat kedua orang tua saya percaya dengan wajah polos namun manipulatif ini, dan sekarang adik saya? Kamu mau menguasai keluarga saya, hah!!"

​Ia menarik rambut gadis itu ke belakang hingga membuat Aurin berdesis kesakitan.

​"Masih kecil sudah jadi jalang! Kamu pikir saya akan membiarkan adik saya terjebak dalam wajah polosmu ini?!"

​"Cukup orang tua saya yang berhasil kamu bodohi, tapi saya... saya sama sekali tidak akan tinggal diam, Aurin!" lanjut Gallelio penuh penekanan.

​Mata Aurin berkaca-kaca, berusaha menahan rasa sakit dan hinaan yang kembali terlontar dari mulut pria itu, padahal beberapa hari terakhir Gallelio sempat bersikap jauh lebih manusiawi.

​"Jangan pernah keluar dari sini sebelum saya suruh!"

​Pria itu mendorong tubuh Aurin ke belakang lalu berdiri tegak. Saat ia berbalik, ekor matanya menangkap sosok Geanetta yang bersembunyi di balik pintu dengan tubuh gemetar hebat karena tangis.

​"Shit!" umpat Gallelio. Ia berjalan cepat keluar lalu menarik tangan putrinya itu. "Kamu juga tidak boleh keluar!" ujarnya kasar. Ia ikut mendorong Geanetta masuk ke dalam kamar yang sama dengan Aurin sebelum akhirnya membanting pintu dan menguncinya dari luar.

​"Mami..." panggil Geanetta dengan suara bergetar, lalu berlari menubruk tubuh Aurin.

​Aurin menghapus air matanya dengan cepat, memaksakan sebuah senyum lalu merentangkan tangan untuk memeluk dan mengusap punggung gadis kecil itu dengan lembut.

.

.

Tujuan Gallelio untuk makan siang di rumah mendadak buyar begitu saja.

​Ia turun dari lantai dua dengan langkah cepat. Jemarinya masih menggenggam kunci kamar Aurin dan Geanetta dengan kuat hingga buku-buku jarinya memucat.

​Wajah pria itu gelap. Sangat gelap.

​Rahangnya mengeras, sementara isi kepalanya sejak tadi terus dipenuhi bayangan Ezra yang memeluk Aurin tepat di depan matanya. Ia keluar dari rumah dengan langkah lebar, berjalan lurus menuju mobilnya.

​Brak!

​Pintu mobil dibanting keras.

​Beberapa detik kemudian, mobil mewah itu melesat keluar dari halaman rumah dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan siang tanpa tujuan yang jelas selain satu yaitu rumah utama Alastar.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Rosita Zaky
bagisss
ChaManda
😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
cih kesal
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kan kan kan kocak ini si Gel... bilang aja aku minta no kamu biar kalau ada apa-apa gampang/Curse//Curse//Curse//Curse/ pke alesan sebagai terima kasih
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: gengsi kk🤣🤣😭
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤔 apa ini? kau mulai water? cihhh... dasar Gelooooooo/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣jangan lama2 dia dinginnya, ntar beku kak
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
huhuhuair mataku😭😭😭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
jeng jeng jeng jeng..... Gel... baik2 bini mu incaran adik lelaki mu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: maca iya yuk lah buat Erza nyemek2
total 4 replies
ChaManda
aduhh kasian juga yaa si Clara
ChaManda
🫵🏻🫵🏻🫵🏻
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ihhh msh kesel sama pak duda ngeselin😑
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
heh astagaaa keliarga gilaa ku penggal juga itu kepala kalian biar sekalian gk ounya otak😑
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
idih.... mulai nyaman dia natap yang belum tumbuh🤭
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Udah tumbuh tapi belum keliatan menarikknya🤣🤣
total 1 replies
ChaManda
buat istrimu atau buat kamu?☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Gallelio: buat gadis itu, biar gak kuyuss krempeng
total 1 replies
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
🤣
ChaManda
🤣😭🫵🏻
ChaManda
🤣🤣🤣🤣 aku suka gayamuu
ChaManda
😭😭😭
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
heleh heleh🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!