Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"RASYAKA! Hentikan!"
Tangan Rasya yang menggenggam pecahan guci berhenti di udara saat mendengar suara seorang laki-laki yang memanggil namanya dengan penuh kebencian. Amarahnya semakin tak terkendali, ia tak peduli dengan dunia yang sedang dihadapinya.
"Tolong aku! Dia tiba-tiba menjadi gila!" teriak Shakira sembari menahan rasa sakit yang berdenyut di kedua pipinya.
"Rasya, dengar! Jangan melakukan hal bodoh seperti itu, Rasya. Turunlah dan kita bicarakan baik-baik. Ok?" rayu seorang wanita yang datang bersama laki-laki itu.
Rasya menggelengkan kepala, baginya tak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan mereka. Selama ini tak satu pun dari mereka yang meminta pendapatnya atau bertanya apa yang dia inginkan dan dia butuhkan. Rasya hidup di bawah aturan ketat mereka. Satu kesalahan saja ia lakukan, hukuman berat pun harus ia terima.
"Tahan dia untukku!" titah lelaki yang datang tak lain adalah paman Rasya.
"Coba saja kalau berani!" bentak Rasya, suaranya tak kalah tinggi dari mereka. Amarah yang dipendamnya benar-benar menjadi kekuatan tak terduga oleh mereka.
Sret!
Sekali lagi ia menyayat wajah Shakira, tapi tangan wanita itu segera menutupinya. Sayatan cukup besar pun menggores kulit putihnya.
"Argh!"
Shakira dan beberapa orang di sana kembali menjerit, melihat darah yang mengalir dari tangan Shakira hingga menetes di lantai. Mereka terhenyak, orang-orang yang hendak menahan Rasya pun terhenti karena hal tak terduga tersebut.
Mereka semua panik, Rasya terlalu dekat dengan Shakira. Jika mereka terlalu memaksa maka Shakira yang akan terluka.
"Rasya, cukup! Sekarang turun. Bicaralah baik-baik apa yang kau inginkan? Ayo!" rayu wanita yang tak lain adalah bibinya itu.
Rasya menoleh, tatapan matanya tak lagi sama. Bukan tatapan seperti anak kecil yang merengek meminta sesuatu. Itu tatapan membunuh yang membuat mereka bergetar ketakutan tanpa sadar.
"Kalian tidak pernah berbicara baik-baik denganku. Kalian tidak pernah mendengarkan aku. Kalian selalu berbohong kepadaku bahwa kalian akan membawa ibuku pulang. Tapi, sampai detik ini kalian tidak pernah memenuhi janji itu," ujar Rasya bergetar. Bagaimanapun dia hanyalah seorang anak kecil yang membutuhkan kasih sayang dan pelukan hangat.
"Kali ini kami berjanji ... kita bicara baik-baik. Ok? Turunlah!" rayu sang bibi berharap Rasya akan mendengar.
"Tuan Muda, jangan hanya karena aku mereka menghukum Anda lebih keras. Menurutlah! Aku yakin Tuan Muda selalu menjadi anak yang baik," ucap si Tukang Kebun menatap Rasya memohon.
Mata anak itu melemah perlahan, tapi hatinya masih sekeras batu. Ia belum ingin beranjak dari tubuh Shakira. Lalu, pandangannya beredar mencari sosok Mayra. Ia tak ingin gadis itu bernasib sama seperti si tukang kebun.
Pandangannya beradu dengan pandangan Mayra yang basah oleh air mata. Gadis kecil itu mengangguk pelan nyaris tak terlihat. Matanya berkedip pelan, meminta Rasya untuk mengikuti ucapan si tukang kebun itu.
Rasya menunduk, menatap Shakira yang ketakutan. Wanita itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, khawatir pukulan Rasya kembali mendarat di sana. Rasya menghela napas, mendekatkan wajah pada telinga Shakira.
"Berterimakasihlah kepadanya. Jika bukan karena dia, kau tak akan hidup malam ini!" desisnya seraya beranjak turun dari tubuh Shakira.
Paman dan bibinya berbohong, begitu Rasya turun dua orang laki-laki langsung menahan kedua tangannya.
"Lepaskan!" Ia memberontak, tapi tenaga kedua laki-laki dewasa bukanlah tandingannya.
Ia menatap paman dan bibinya dengan nyalang. Mereka tersenyum kecil melihat ketidakberdayaan Rasya.
"Kalian berbohong lagi! Seharusnya aku tidak pernah mempercayai kalian. Harusnya aku tidak melepaskan wanita itu. Kalian semua ... akan aku ingat!" kecam Rasya dengan kedua tangan mengepal dalam cekalan dua laki-laki itu.
"Kau pikir kau siapa? Dengan kau melakukan ini kami punya alasan untuk mengirim mu ke rumah sakit jiwa. Kau selamanya akan dikurung di sana!" ujar sang bibi tanpa perasaan.
"Kau!" Rasya mengutuk di dalam hati.
"Benar. Kirim dia ke rumah sakit jiwa malam ini juga. Semua luka di tubuhku bisa menjadi bukti kebrutalannya. Hadrian juga tidak akan mencegah," timpal Shakira berapi-api sembari menahan sakit di tubuhnya.
Si Tukang Kebun menganga tak percaya, Mayra meremas jemarinya sendiri. Dikirim ke rumah sakit jiwa. Apakah kehidupan Rasya akan lebih baik ataukah justru lebih menderita. Ia memejamkan mata, menahan tangis yang menyesakkan dada. Ingin menolong, tapi gelengan kepala Rasya mencegahnya.
"Kalian keterlaluan! Tuan Muda baik-baik saja, kenapa dikirim ke rumah sakit jiwa? Kalian benar-benar biadab! Lebih kejam dari binatang!" ucap si tukang kebun dengan napas yang tersisa di tenggorokan.
Shakira menoleh, menatap padanya penuh benci.
"Oh, hampir melupakan dirimu. Pukuli dia sampai mati dan buang jasadnya ke hutan! Ini peringatan untuk semua orang!" titah Shakira menatap semua pelayan di rumah itu.
"TIDAK! Jangan bunuh dia. Aku akan pergi ke rumah sakit jiwa. Tapi, tolong, jangan bunuh dia. Biarkan dia kembali ke rumahnya! Kumohon!" ucap Rasya dengan isak tangis yang tak terbendung.
"Tidak, Tuan Muda!" Laki-laki tua itu menggelengkan kepala.
"Kalian dengar! Bawa dia ke rumah sakit jiwa sekarang juga!" titah Shakira kepada mereka.
Rasya terpaksa pergi, tapi mereka juga tidak melepaskan si tukang kebun.
"Kau pikir aku akan menuruti ucapannya? Jika aku melepaskanmu maka kau pasti akan mengadu kepada Hadrian. Lakukan sesuai perintahku!" pungkas Shakira lagi tanpa perasaan.
"Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu! Lepaskan dia!" jerit Rasya sembari memberontak, tapi percuma.
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄