NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:617
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - Simbiosis

“Apa??” teriak Zara dan Citra serempak.

“Pura-pura....” Arsyad sengaja menjeda kalimatnya. Wajah istrinya, Citra dan Kevin serta Lila tampak menghibur baginya.

“Pura-pura apa?” Zara menggoyang-goyangkan lengan Arsyad karena kesal menunggu.

“Jangan bilang....”

“Yap! Seratus untuk Nala. Kak Arya dan Nala pura-pura pacaran dan publish hubungan. Kalau suasana udah reda buat aja kabar putus.” Ada berbagai reaksi saat mendengar ide dari Arsyad. Zara dan Citra melongo, terdiam mendengar ide tak masuk akal keluar dari Arsyad. Nala langsung menghela nafas lelah dan memijat keningnya yang teras pusing.

“Pura-pura pacaran berarti...” batin Arya yang terdiam setelah mendengar ide Arsyad

Pura-pura \= dekat

Arya memikirkan keuntungan dari ide itu. Dengan menjalankan ide Arsyad, dirinya akan semakin dekat dengan Nala. Berpura-pura juga bisa menjadi kenyataan. Dengan berpura-pura di awal, maka dirinya bisa berada dalam jarak yang dekat dengan Nala tanpa memikirkan banyak ide lagi.

“Boleh.” ujar santai Arya membuat semuanya menatap tak percaya, termasuk Kevin. Selama ini, Kevin berpikir bahwa Arya, bosnya, ingin mendekati Nala secara perlahan.

“Kak, kau yakin?” Arsyad sang pemberi ide pun tak menyangka bahwa idenya akan diterima semudah itu. Selama ini, Arya selalu memikirkan seribu langkah ke depan. Dan kali ini, ia menerima dengan mudah tanpa jeda dan berpikir terlebih dahulu. Rasanya dia baru saja mengucapkan idenya, seperkian detik Arya menyetujui. Sungguh kejadian yang langka.

“Yakin. Nggak ada salahnya. Sekalian ajang promosi, kan? Tema kali ini berhubungan dengan takdir, jika yang menjadi model adalah sepasang kekasih maka dianggap realistis kan?”

Penjelasan itu terdengar masuk akal. Namun, Arsyad yang tau sifat Arya sungguh tak memercayai hal ini. Sedangkan Kevin, sangat tau bahwa langkah yang digunakan bosnya ini ada udang dibalik batu. Mungkin diluar terlihat seperti membantu promosi, namun sebenarnya Arya sedang memanfaatkan keadaan untuk dekat dengan Nala tanpa sebuah hambatan.

Nala memperhatikan Arya. Wajah Arya yang tampak lebih tenang dibandingkan sebelumnya, seolah dia mendapatkan sebuah hadiah yang tak terduga. Kemudian melihat ke arah Kevin yang juga terlihat tenang.

Ide Arsyad bukannya tak masuk akal, hanya saja Nala merasa akan lelah jika melakukan hal itu. Memang ada keuntungan dan itu sesuai dengan yang dijabarkan Arya, hanya saja Nala merasa seperti akan masuk ke dalam kandang binatang buas yang siap menerkam.

“Baiklah, kita lakukan itu saja.” Keputusan Nala membuat semua kembali terkejut. Zara dan Citra menatap tak percaya bahwa Nala menerima dengan sangat lapang.

“Tapi, ada tapinya.” Nala menatap ke arah Arya, “Kita hanya akan terlihat dekat saat dibutuhkan. Sisanya kita berlaku seperti biasa, bagaimana?”

“Boleh.”

“Dan satu lagi, mungkin keluarga akan tau setelah berita dimuat. Jadi, sebaiknya kita beri tau yang sebenarnya agar mereka bisa menyesuaikan nantinya, bagaimana?”

“Boleh.”

“Baguslah, kita lakukan seperti itu saja.”

“Oke, jadi solusi sudah dapat. Tapi yang membuat berita, kita...”

“Biar saya yang urus. Ini sangat mudah dilakukan,” Arya memotong ucapan Citra dengan nada tenang yang mutlak. Jika yang lain bergerak mungkin akan memakan waktu lama, namun ini Arya. Arya memiliki unit khusus di bawah kendalinya yang bisa melacak, mencari tahu asal-muasal kebocoran gambar, dan menundukkan media dalam hitungan menit.

Semuanya mengangguk setuju. Melihat sorot mata Arya yang begitu yakin, mereka tidak punya alasan untuk membantah.

Arya kemudian merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan melangkah sedikit menjauh ke sudut ruangan yang agak redup. Ia menekan satu tombol panggilan cepat. Hanya dalam dua kali nada sambung, suara berat di seberang telepon langsung menyahut hormat.

“Cari tahu siapa yang menyebarkan foto studio Lazuardi ke media satu jam yang lalu,” perintah Arya tanpa basa-basi, suaranya merendah namun sedingin es. “Lalu hubungi jaringan Lami’s Media dan aliansi pers utama. Naikkan berita klarifikasi pernikahan Arsyad dan Zara dalam waktu lima belas menit. Setelah itu...”

Arya sengaja menjeda kalimatnya sejenak. Sorot matanya bergerak, melirik ke arah Nala yang sedang meminum air mineral dengan gerakan anggun yang selalu ia rindukan.

“...naikkan artikel bahwa Raditya Arya Wijaya dan Devika Nala sedang dalam masa pengenalan hubungan yang serius. Pastikan narasinya rapi, elegan, dan tidak bisa diganggu gugat oleh pihak luar mana pun. Lakukan sekarang.”

Setelah mendengar konfirmasi siap dari seberang telepon, Arya mematikan sambungan. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat terukir di sudut bibirnya. Krisis ini adalah berkah tersembunyi. Mulai besok, tidak akan ada satu pria pun yang berani mendekati Nala, karena seluruh kota akan tahu bahwa wanita itu berada di bawah perlindungan sang Matahari.

Wijaya Media, mungkin bukan wewenangnya untuk mengatur dan itu termasuk Lami's Media sebagai anak perusahaan milik Wijaya Media. Namun sebagai pewaris utama Wijaya, Arya berhak mengatur segalanya yang berada dibawah naungan Wijaya Group dan itu termasuk Wijaya Media.

Sementara itu, di tengah ruangan, Kevin yang berdiri di belakang Arya hanya bisa menggelengkan kepala samar. ‘Bos benar-benar bergerak secepat kilat jika sudah menyangkut Nona Vika,’ batin Kevin, menahan senyum gelinya sendiri.

“Baiklah semuanya! Karena badai medianya sudah dijinakkan oleh Kak Arya, mari kita selesaikan pekerjaan yang tertunda!” seru Arsyad dengan tepukan tangan yang memecah keheningan ruangan. Ia merangkul pundak Zara dengan protektif. “Kru studio sudah menunggu. Kita masih punya sesi foto berpasangan yang harus diselesaikan.”

Zara menghela napas panjang, namun ketegangan di wajahnya sudah jauh berkurang. Ia menatap Nala dengan pandangan yang sulit diartikan—setengah khawatir, setengah penasaran dengan apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu ke depan.

Nala yang menyadari tatapan Zara hanya bisa membalasnya dengan senyuman kecil, mencoba menenangkan sang sahabat meskipun di dalam hatinya sendiri, debaran aneh mulai bermunculan. Ia tahu, setelah melangkah keluar dari ruangan istirahat ini dan kembali ke bawah lampu sorot panggung bersama Arya, hidupnya tidak akan lagi sama.

Di koridor menuju panggung pemotretan, langkah kaki mereka menggema tegas. Di luar sana, ribuan benang merah takdir dan kilatan kamera telah menunggu untuk merajut kisah baru yang tak bisa lagi mereka hindari.

 

...****************...

Dipta dan Maya serta Agas baru saja hadir. Mereka menyusul ke Lazuardi Studio setelah melihat berita yang sedang tersebar. Ini adalah pemotretan pertama Nala setelah sekian lama, mereka takut Nala menjadi gugup atau gelisah, sedangkan Agas sedikit takut dengan ide yang dibuat saudara kembarnya yang terkadang sedikit nyeleneh.

Nala yang sedang menghadap kamera, melirik ke arah teman dan saudaranya berdiri. Berdiri di dekat Tania dan Hari, Nala tersenyum manis. Senyum itu membuat semua orang terpana bahkan fotografer tak henti-henti memotret senyum itu. Sedangkan Arya, dia tak henti-henti menatap ke arah Nala yang tersenyum.

“Nona Nala dan Tuan Arya, Anda sekalian bisa beristirahat terlebih dahulu.” ujar fotografer mengisyaratkan adanya pergantian model. Saat berjalan, Nala berpapasan dengan Ara. Dengan sengaja Nala sedikit menyenggol bahu Ara. “Sorry, nggak sengaja!” Nala melanjutkan langkah kakinya mendekat ke arah kakaknya.

Arya yang berjalan di belakang Nala tertawa kecil melihat aksi kecil itu. Arya tau bahwa Nala melakukan itu dengan sengaja. Apalagi raut wajah Nala yang berubah saat melihat Ara tak bisa disembunyikan.

“Om dan Tante, boleh meminta ruang untuk berbicara?” tanya Dipta dengan hati-hati. Berita tentang yang beredar sudah cukup membuat kepala pusing, dia tak ingin pembahasan ini juga akan berbuntut nantinya

“Tentu saja, di lantai paling atas ada ruang kecil untuk bersantai dan menghadap ke taman kecil. Sangat asri dan tenang.”

“Terima kasih om!”

“Tak masalah, om tau sedang ada berita tak mengenakkan dan kalian perlu membahas hal itu. Hasil keputusannya jangan lupa kasih tau om, mungkin ada yang bisa bantu.”

“Baik, om. Terima kasih sekali lagi. Kami ke lantai atas terlebih dahulu!” setelah berpamitan Dipta segera menarik Nala untuk mengikutinya dengan diikuti yang lain. Jika yang lain sedikit tegang, Nala malah terlihat santai.

Sesampainya di lantai paling atas studio, mereka sedikit terpana melihat taman kecil itu. Asri, dengan berbagai bunga dan kebun sayur kecil-kecilan. Semuanya tertata, tidak berantakan. Ruang yang lebih mirip pendopo dengan ukuran cukup panjang menjadi tempat mereka berdiskusi.

“Jadi, bisa kalian ulangi solusi yang kalian temukan. Solusi konyol itu mau kalian lakukan!” Ketidak setujuan Dipta dapat dimengerti. Apalagi ini menyangkut nama baik Nala, mana mungkin ia mengambil resiko yang begitu besar seperti itu.

“Lalu Abang punya solusi yang lebih baik?” tanya Arsyad

“Berita soal pernikahan Zara sendiri itu sudah cukup menurutku tanpa perlu menyeret Nala maupun Arya “

“Tapi bang, takutnya malah ada hujat Nala nanti. Apalagi foto yang beredar itu adalah foto dengan gaya yang sedikit mesra, terlalu mesra malah. Tapi emang bagus sih, terutama untuk promosi,” Arsyad melirihkan suaranya saat menjelaskan kalimat terakhirnya. Melihat tataan tajam Dipta, rasanya tubuh Arsyad merinding.

“Lagipula Nala juga sudah setuju. Citra juga sudah membuat beritanya tinggal mengunggah berita itu ke internet.”

“Nala!”

“Abang!

Semua yang berada di sana dapat merasakan ketegangan di antara kedua saudara itu. Nala tau apa yang ia lakukan, dan lagi dia tak terlalu ingin melakukan hal yang lebih ribet lagi. Memikirkan ide yang lain, terlalu membuang waktu bagi Nala.

“Tapi langkah ini menyelesaikan beberapa hal. Selain berita saat ini, ini juga membantu Citra dan masalah Kak Arya.”

“Apa maksudmu Agas?” Maya tak memahami maksud Agas. Yang dia tau, solusi ini hanya akan menyelesaikan masalah berita dan menambah promosi, lalu apalagi yang terjadi jika menggunakan solusi ini.

“Program Citra. Citra ingin membuat program untuk pasangan serta sahabatnya untuk berlibur dan bermain. Dia ingin orang-orang yang telah menikah  tetap bisa berkumpul dengan keluarga dan teman-temannya. Benarkan sayang?” Agas meminta persetujuan Citra. Citra meringis melihat suaminya malah membeberkan rencana programnya disaat yang tidak tepat. Kemudian melihat ke arah Dipta yang sudah siap menerkam.

“Awalnya Citra ingin mengajak kita, tapi dia tak ingin meninggalkan Nala. Tapi kalau media tau Nala memiliki hubungan dengan seseorang itu akan menguntungkan. Citra bisa mengajak Nala, dan Kak Arya tak dikejar oleh Bunda yang nagih minta menantu.”

“Lihat, 1 solusi untuk banyak masalah. Lagipula aku juga diuntungkan bang. Aku bisa meminta bantuan tuan muda ini untuk promosi kafe baruku. Kebetulan dekat dengan kantor milik dia, jadi Abang tau kan maksudku,” Nala memang setuju tapi mana mungkin tanpa sebuah alasan. Dia tentu saja tak ingin dirugikan, jika semua untung maka dirinya juga harus mendapatkan sebuah keuntungan.

“Otak licik bisnis Nala memang tak main-main,” bisik Maya pada Dipta. Dipta sendiri terkadang tak habis pikir dengan pola pikir adiknya. Setiap keputusannya selalu ada niat terselebung di dalamnya

“Terserah. Tapi setiap rencana kalian, kalian harus lapor. Tak mungkin kan hanya membuat berita tanpa aksi nyata. Pasti kalian akan membuat acara pura-pura kencan atau apalah itu, itu semua harus lapor. Mengerti??!!!!” ultimatum yang jelas dan tegas itu mana mungkin Nala tak mengangguk. Semua ide yang melibatkan Arya telah tersusun, mana mungkin ia melewatkan ini.

“Jadi kita saling memanfaatkan?” bisik Arya. Nala menoleh ke arah Arya. Saling tatap, dengan jarak dekat. Nala mampu melihat mata Arya yang jernih. Dengan senyum, Nala membalas dengan anggukan. “Yap, mari bekerja sama!”

1
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
kenapa ya jaman sekarang kl anaknya nggak nikah, yang bingung orang tuanya, tetangganya sama semua orang sampe bingung 🤣🤣🤣
Anyelir: soalnya iri sama tetangga, pengin momong cucu. biasa ajang pamer cucu setelah ajang pamer anak
total 1 replies
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
Halah kalian semua kebanyakan alasan, emang sengaja sih menurutku, mereka nggak mau jemput nala/Shy/
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
tega banget, sampai lupa jemput nala.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
nggak semua cinta itu buruk ya nala, coba buka lagi cara pemikiran kamu.
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!