NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman yang memberi rasa nyaman

Hari ini Nadia ada kuliah pagi, seperti biasa sebelum berangkat, Nadia selalu menyiapkan sarapan simpel, sepotong roti dengan selai coklat atau kental manis coklat. Lumayan untuk mengganjal perut menjelang makan siang.

Setelah sarapan, Nadia langsung bersiap. Sementara Laura masih meringkuk diatas kasurnya dengan hampir seluruh tubuh berbalut selimut.

"Beb, lo gak kuliah?" tanya Nadia dengan menyentuh tangan Laura di balik selimutnya.

Laura menggeliat pelan, mata bengkaknya pun ikut terbuka. "Gue gak enak badan, kepala gue pusing. Tenggorokan gue juga seret banget, beb."

"Mau gue ambilkan minum?"

"Hmm, dikit aja."

Nadia langsung ke dapur mengambil setengah gelas air putih. Laura sedikit menegakkan punggung dan kepalanya untuk bisa mereguk air putih itu.

"Mau minum obat sakit kepala gak?"

"Boleh deh kalau ada."

Nadia mencari obat sakit kepala di dalam laci lemarinya. Untungnya ada dan langsung di berikan pada Laura.

"Lo istirahat aja dulu. Nanti gue bilang Yuri supaya dia bisa izinin lo sama dosen."

"Makasih ya, beb."

"Iya."

Nadia pun langsung menelpon Yuri.

"Beb, lo kuliah kan hari ini?"

(Iya. Ini gue lagi siap-siap mau jemput Laura. Kenapa? Mau berangkat bareng juga?)

"Gak kok, beb. Gue cuma mau ngasih tau, Laura gak masuk kuliah hari ini."

(Laura kenapa?)

"Laura demam." melirik pada Laura yang sudah kembali menutup matanya.

(Parah demamnya?)

"Sekarang sih udah mulai membaik kok. Cuma kepalanya pusing gitu katanya."

(Mau gue belikan obat pusing?)

"Gak usah, beb. Laura udah minum obat pusing kok."

(Ya udah, terus sekarang gimana? Mau ke dokter?)

"Gak mau dia. Katanya cuma mau istirahat di rumah aja."

(Oke deh. Tapi lo kuliah kan?)

"Iya, ini baru mau berangkat."

(Ya udah tunggu. Bareng gue aja ke kampus.)

"Gak usah beb. Gue naik motor aja..."

(Ayo lah, Beb. Bareng gue aja, gue malas berangkat sendiri. Pokoknya tunggu depan gerbang.)

"Iya deh, iya."

Selesai bicara dengan Yuri, Nadia merapikan selimut Laura yang sedikit berantakan.

"Beb, gue kuliah dulu ya. Kalau ada apa-apa telpon aja."

Laura mengangguk lemas. Matanya masih bengkak, wajahnya juga pucat.

"Lo yakin gak mau ke dokter?"

"Gak usah, nanti juga baikan kok. Udah sana kuliah." usirnya dengan suara seraknya yang hampir habis.

"Ya udah, gue berangkat ya."

Nadia menutup pintu kamar, meninggalkan Laura yang masih belum berniat bangkit dari tempat tidurnya.

Sementara di apartemennya Yuri sudah siap mau berangkat ke kampus. Namun, saat membuka pintu, rupanya dokter penghuni kamar di depannya baru saja pulang.

"Baru pulang ya, dok?" tanya Yuri yang membuat dokter Bastian tersentak menoleh kebelakang.

"Eh Yuri! Iya nih saya baru pulang. Kamu mau ke kampus?"

Yuri mengangguk sambil tersenyum. "Istirahat yang cukup, dokter."

"Thank you. Kamu juga semangat belajarnya."

"Itu pasti."

Yuri pun melangkah pergi meninggalkan Bastian yang masih menatap punggung gadis itu. Kedua sudut bibir Bastian melengkung sempurna, ada kebahagiaan tersendiri setiap kali dia tidak sengaja mengobrol dengan Yuri.

"Manis juga ternyata." lirihnya sebelum akhirnya masuk ke apartemennya.

Bas langsung mandi, berganti pakaian santai, lalu merebahkan tubuhnya di sofa besar ruang tengah. Matanya mulai berat, tapi suara dering di ponsel menyegarkan kembali mata itu.

"Hmm." jawabnya malas.

(Lo di mana?)

"Di rumah. Baru juga pulang. Ada apa?"

(Rio masih belum sadarkan diri. Gue khawatir dia kenapa-napa. Tadi malam dia minum banyak banget.)

"Ya udah gue kesana sekarang!"

(Rio di rumah gue.)

Bas meraih sweater rajutnya sebelum ia pergi menuju apartemen Kevin.

Sementara itu, di perusahaannya Sean baru saja memulai rapat rutin yang selalu di jadwalkan dua kali dalam seminggu. Diana, sekretarisnya sedang presentasi di depan mewakili kepala tim dari setiap divisi.

Getar ponsel membuatnya hampir naik darah, untungnya yang menelpon Kevin. Segera Sean keluar dari ruangan rapat itu untuk menjawab panggilan.

"Gue lagi rapat."

(Sorry Sean, tapi gue khawatir nih sama Rio.)

"Dia masih belum bangun juga!"

(Belum, sekarang suhu tubuhnya dingin banget, wajahnya juga pucat.)

"Ya udah bawa ke rumah sakit aja. Nanti selesai rapat gue yang nungguin dia."

(Gue lagi buru-buru, ada janji sama klien. Gue juga mau jemput cewek gue, antar dia kuliah.)

"Ya udah, gue ke sana sekarang!"

(Nanti aja selesai lo rapat. Tadi gue udah nelpon Bas. Dia udah jalan ke sini.)

"Oke. Gue rapat dulu."

Sean menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. "Rio, Rio. Tau rasa kan lo. Itu namanya lo lagi dikejar KARMA." lirihnya sebelum kembali ke ruang rapat.

Di depan gerbang kontrakan, Nadia menunggu Yuri. Tidak lama, mobil Yuri berhenti di depannya. Nadia pun langsung masuk ke mobil itu.

"Laura demam parah?"

"Gak, cuma gak enak badan aja katanya."

"Oh gitu ya. Padahal kemaren sih baik-baik aja."

Nadia hanya tersenyum menanggapi Yuri.

"Lo kuliah ampe sore?"

"Hari ini gak, sampai siang aja."

"Bisa dong nanti temanin gue ke mall."

"Gak bisa deh kayaknya, beb. Sorry." ucap Nadia menyesal.

"Kerja?"

Nadia mengangguk pelan. "Ada pemotretan katalog, sama Jeni juga."

"Oh oke. Kalau gitu gue ke mall sendiri aja deh."

"Mau beli apa emangnya?"

"Hadiah, Eki ultah besok."

Lagi, Nadia hanya merespon dengan anggukan.

Yuri menyetir sambil bersenandung. Cukup membosankan sebenarnya, karena Yuri suka ngomong, biasanya kalau ada Laura atau teman teman yang lain, Yuri ngomong terus sepanjang jalan. Tapi, karena sekarang bersama Nadia, dia memilih menahan diri untuk mengajak Nadia ngobrol.

Yuri kenal setiap karakter sahabatnya. Kalau bersama Laura dia bisa ngomong apa saja dan mereka nyambung. Kalau sama Jeni, Yuri suka menggoda Jeni dan dia suka melihat Jeni kesal. Tapi, kalau sama Nadia, Yuri sangat berhati-hati, dia tidak ingin membuat Nadia merasa tidak nyaman.

Seingat Yuri, dulu awal-awal kenal Nadia, dia sering banget buat Nadia tersinggung. Bahkan Nadia sampai berhari-hari gak mau ikut nongkrong sangking gak nyamannya Nadia dengan mulut Yuri yang asal ceplos saja.

"Gimana dokter ganteng tetangga lo, beb?" Nadia inisiatif ngajak Yuri ngobrol.

"Kok lo tau! Ini pasti Laura yang ngasih tau lo, kan?"

"Iya, Laura bilang ada dokter tampan yang baru pindah ke dekat kamar lo."

"Ya gitu deh, Dokter muda. Namanya Dokter Bastian. Kita tetanggaan hampir sebulan..."

Yuri lanjut bercerita banyak tentang tetangganya si dokter muda itu. Nadia mendengarkan sambil sesekali merespon dengan sekedar anggukan atau ikut tertawa bersama Yuri.

Baru kali ini Nadia benar-benar mengobrol cuma berdua dengan Yuri dan ternyata Yuri teman yang asik dan juga membuatnya cukup nyaman.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!