NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Sidang Pleno Geng Sembilan Nyawa

Baru juga sehari di rumah, ponsel Aiswa sudah bergetar seperti mau meledak. Grup video call "Sembilan Nyawa" menyala. Begitu diangkat, wajah kedelapan sahabatnya langsung memenuhi layar, masing-masing dengan ekspresi siap bergosip level nasional.

"WOI! AISWA! HIDUP LO UDAH KAYA DRAMA KOREA YA SEKARANG!" teriak Elena paling kencang sampai Aiswa harus menjauhkan ponsel dari telinga.

"Cerita sekarang! Detail! Dari jet pribadi sampai si duda sultan yang nganterin lo balik!" sambung Bella, sambil asyik maskeran.

Aiswa menghela napas panjang, lalu mulai menumpahkan segala keluh kesahnya. Tentang Devan yang memaksanya pulang, tentang Zianna yang tiba-tiba minta mama baru di depan orang tuanya, sampai reaksi Aditya yang setenang air di dalam botol mineral.

"Gila nggak sih? Gue tuh ngerasa kayak diculik secara halus, Guys! Si Devan itu beneran red flag berjalan. Posesifnya nggak masuk akal!" keluh Aiswa berapi-api.

Namun, bukannya prihatin, Shena malah nyeletuk santai sambil ngemil seblak.

"Tapi Ai... red flag-nya kan berlapis emas murni. Kalau red flag-nya pengangguran baru lo nangis. Ini mah, bendera merahnya ditiup pake AC jet pribadi, wangi dolar pula!"

"Bener!" timpal Lalita.

"Belum jadi apa-apa udah dikasih kalung berlian. Lah kita? Dikasi harapan palsu aja udah sujud syukur. Udahlah Ai, gass aja tuh duda sultan. Zianna juga udah sayang banget sama lo, kan?"

Aiswa langsung melotot ke kamera.

"Heh! Kalian ini beneran temen gue bukan sih? Gue tersiksa batin, jiwa, dan raga! Lu pada malah belain si bapaknya Zianna yang otoriter itu!"

"Tersiksa apanya, Ai?" Mikha tertawa mengejek.

"Tersiksa karena bingung mau taruh kalung berlian di mana? Atau tersiksa karena sandaran di bahu CEO itu terlalu nyaman? Ngaku lo!"

Tawa pecah di layar ponsel. Aiswa hanya bisa cemberut, merasa deritanya malah jadi bahan komedi. Tapi kemudian, obrolan mulai bergeser saat Aiswa menceritakan respons Aditya.

"Tapi yang paling aneh itu Mas Adit," ujar Aiswa pelan.

"Masa gue cerita dipaksa balik, dianterin pulang pakai jet pribadi, sampai dilamar jalur bocil, dia cuma bilang 'Mas percaya kamu, Ai'. Dia nggak cemburu sama sekali, Guys. Malah muji si Devan itu orang baik."

Suasana di grup mendadak sedikit hening. Elena, yang biasanya paling berisik, memperbaiki posisi duduknya.

"Gini ya, Ai..." ujar Elena dengan nada sedikit serius.

"Percaya itu bagus. Tapi kalau denger ceweknya dideketin laki-laki lain yang speknya 'Dewa' gitu tapi dia tetep lempeng kayak jalan tol... itu antara dia emang suci banget, atau dia sebenernya nggak ngerasa terancam karena dia nganggep lo 'pasti' nggak bakal kemana-mana."

"Atau..." sela Shena.

"Dia terlalu fokus sama dunianya sendiri sampai nggak sadar kalau bentengnya lagi digempur sama tank baja. Ai, cowok kalau sayang itu normalnya ada sense of crisis. Apalagi lawan lo itu Devan Argian, bukan tukang parkir depan komplek."

Aiswa terdiam. Ucapan Shena ada benarnya. Kadang ketenangan Aditya malah membuat Aiswa merasa... apakah dirinya kurang berharga untuk diperjuangkan secara agresif?

"Coba lo pikir deh," lanjut Mikha.

"Si Devan itu effort-nya gila-gilaan buat dapetin perhatian lo. Salah sasaran sih emang caranya, tapi dia gerak. Sedangkan Mas Adit... dia cuma senyum. Di mata cowok, kadang 'percaya' itu cuma kedok buat 'malas ribet'."

"Duh, kok kalian malah bikin gue overthinking sih!" seru Aiswa sambil mengacak rambutnya frustrasi.

"Kita nggak bikin lo overthinking, Ai. Kita cuma mau lo buka mata. Hidup itu nggak cuma butuh kenyamanan, tapi juga butuh kepastian kalau lo itu prioritas nomor satu," tutup Elena bijak, sebelum akhirnya kembali konyol.

"Tapi ya tetep sih, kalau jet pribadinya nganggur, ajak-ajak kita ya!"

Video call berakhir dengan tawa riuh, tapi pikiran Aiswa tidak bisa berhenti berputar. Kata-kata sahabatnya seperti kepingan puzzle yang mulai masuk ke tempatnya. Ia menatap layar ponselnya yang gelap, merenungkan perbedaan antara 'ketenangan' Aditya dan 'obsesi' Devan.

Tanpa Aiswa tahu, benih keraguan yang ditanam sahabat-sahabatnya adalah awal dari badai yang akan menghancurkan keyakinannya pada Aditya, tepat saat Devan mulai menarik tali jeratnya lebih kencang.

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!