NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Kaizan berjalan ke arah Feryal dan tangannya ia julurkan untuk mengucapkan selamat atas kemenangannya itu.

"Masih sama ya ternyata" ucapnya santai "tapi it's okey selamat Fey" celetuk Kaizan sambil menaruh helmnya ke setang motor.

"Harus nya elo udah tau kali" ucap Feryal sambil mengangkat alisnya.

"Iya, tapi kali ini gue kira tuh bakal beda loh." sahut Kaizan seraya mengangguk. Feryal mengalihkan pandangannya ke arah lintasan saat.

"Lo hampir dapet padahal tadi," sahut Feryal. Kaizan terkekeh dibuatnya. ""Hampir itu tetep aja bakal kalah Fey."

Deg. Feryal langsung menoleh ke arahnya dengan refleknya saat itu, ia menatap.kaizan lebih lama dari biasanya.

"Kok aneh ya, dia caranya ngomongnya kenapa beda" batin Feryal. Tak lama panitia acara pun datang mendekatinya dan menyerahkan uang kemenangannya sebesar 10 juta.

"10 juta sesuai kesepakatan."

"Oke thanks" Feryal pun menerimanya tanpa banyak basa basi, uang langsung ia lipat dan memasukannya ke dalam kantong saku jaketnya.

Kaizan memperhatikannya, "langsung disumbangin lagi?" tanya Kaizan. Feryal sedikit terkejut dibuatnya, "tau dari mana dia?" begitulah pikirnya saat ini.

"Liat nanti paling" sahut Feryal sambil mengangkat bahunya.

"Tapi ujung ujungnya palingan sama juga," celetuk Kaizan. Feryal menoleh dan tersenyum ia tidak membantah ucapan Kaizan saat itu karena apa yang ia katakan benar adanya.

Malam yang semakin dingin, tapi jalanan masih ramai tapi satu persatu mulai pada menguap dan ampih bubar jalan, sebagian masih membahas balapan tadi yang kelewat menegangkan dari biasanya.

Banyak pertanyaan sebenarnya di kepala Kaizan tapi ia lebih memilih menyimpannya lebih dulu dalam flashdisk di ingatannya itu. duduk santai di motornya sambil natapin feryal yang tidak ada bosannya.

Wajahnya yang manis tapi tidak membuatnya bosan sama sekali, "Lo kalo lagi kacau,..larinya ke sini ya?" tanyanya tiba tiba.

Deg. Feryal langsung terdiam seketika, entah kenapa dari cara Kaizan bicara sejak tadi begitu aneh tidak seperti biasanya ia pun hanya menatapnya dalam diam akan tetapi dirinya tidak merasa tersinggung sama sekali hanya saja dirinya memang paling tidak suka di tebak, jadi sedikit risih saja dibuatnya.

"Kenapa emangnya?" sahutnya dengan wajahnya yang kelewat datar. Kaizan hanya mengangkat bahunya sementara "enggak kok,..cuma keliatan aja"

"Kenapa emang?" balasnya datar.

Kaizan mengangkat bahu. "Enggak cuma keliatan aja." Feryal langsung tersenyum dan geleng kepala "haish ada ada aja"

"Besok balapan lagi yuk?" ajaknya lagi tapi matanya sebentar ke lintasan sebentar ke Feryal.

"Enggak kapok kalah?" tanya Feryal sedikit heran.

"Malah ketagihan gue."

Deg.

"Kayaa pan,..duit gampang bener dibuang buang" kekeh Feryal sambil menggelengkan kepalanya.

"Aneh banget dia" batinnya.

Hari itu sudah pagi lagi, Syahira sudah duduk di atas sajadahnya. Mushaf terbuka di pangkuannya. Akan tetapi jemarinya menahan halaman yang sesekali digerakkan oleh angin yang datang mampir begitu saja dari jendela yang terbuka.

Bibirnya masih terus menghafal setiap ayat maupun hadits yang ditugaskan. diiringi helaan nafas dan kilatan bayangan yang muncul tanpa diminta.

Deg.

"Ya Allah,.jangan sampai hati hamba condong ke tempat atau arah yang salah hamba mohon" lirih Syahira yang secara tiba tiba mencengkram mushaf Al-Qur'an yang sedang dibacanya saat dirinya lagi lagi wajah kakak iparnya selalu saja melesat begitu saja dalam ingatannya.

Ia menghela nafas lebih dulu sesekali memejamkan kedua netranya seraya menghembuskannya perlahan. Dan tak lama kemudian ia kembali membaca dan menghafalnya lagi lebih cepat seperti kayak dikejar debt colector, saking cepatnya.

Dikampus.

Beberapa orang terlihat sibuk dengan buku dan sebagian lagi sibuk dengan ponsel dan obrolan receh mereka. Sedangkan Syahira masih dengan kitab yang dibawanya ia peluk didadanya yang kedua netranya hanya terfokus ke depan tanpa nengok kanan kiri lagi.

"Kalo.jalan hati hati sis" celetuk seseorang tiba tiba.

Deg.

Hampir saja ia menabrak seseorang namun tangan itu lebih dulu menahan pundaknya. Meski sangat singkat tapi bikin dia napasnya jadi tersendat setelahnya.

Syahira pun langsung mundur dan berkata "maaf.." katanya cepat tanpa menoleh siapa yang ada di hadapannya saat ini.

"Aman" sahutnya dan mendengar jawaban itu malah bikin dia tersentak dan membeku seketika. Ia langsung mendongak melihat siapa yang ada dihadapannya itu.

Deg.

Syahira membeku lidahnya pun serasa keluar seketika, sementara Bilal rahangnya semakin mengeras tiba tiba namun berusaha ia tutupi dari Syahira.

Syahira dengan cepat menundukkan kepalanya lagi tanpa ia sadari "maaf ustadz" ucap Syahira.

"Enggak apa apa, jangan lupa hafalannya" sahut Bilal.

Syahira hanya mengangguk tak lama keduanya malah saling diam tanpa kata dan suara, dan setelahnya "lain kali fokus Sya, ya sudah saya masuk dulu" ucap Bilal lagi memecah keheningan keduanya yang nampak kaku kikuk.

Bilal langsung berjalan dengan langkah kaki sedikit cepat sambil mengepalkan tangannya, "Ini salah ya Allah enggak boleh,..jangan sampai astaghfirullah" ucap Bilal diiringi debaran jantung yang jedag jedug dibuatnya.

Begitupun adik iparnya Syahira yang masih berdiri ditempatnya hanya menatapnya menjauh dengan debaran jantung yang sama. "Ya Alloh masa iya Syara harus suka sama Abang ipar syara sendiri, enggak mau. Syara enggak mau kayak gini ya Alloh, tolong ilangin dong rasa ini,.. please Syara mohon."

Batin Syara. Berkali kali ia hembuskan napasnya perlahan untuk menenangkan hatinya lebih dulu.

Sedangkan Kaizan Altaz masih melamun, otaknya masih belum hilang pada bayangan yang semalam. Bisa balapan bareng lagi sama Feryal yang bikin dia malah jadi ketagihan.

Sambil mengendarai motor menuju kampusnya, sesekali ia tersadar dan malah tersenyum sendiri dibuatnya. Setelah sampai ke tempat parkir kampus ia turun dari motornya lalu ia lepas helmnya dan digantung disetang. Kedua netranya menyapu ke area sekitar, tapi secara kebetulan saat itu tumbenan ia tidak melihat saat Bilal dan Syahira saling beradu tatap.

Pikirannya malah ke Feryal lagi Feryal lagi. Bayangannya masih seperti melihat area lintasan sirkuit maupun kecepatan dan gerakan lincah yang cantik dari seorang ratu sirkuit. Sampai senyum ya itu terbit begitu saja seolah ada rasa kagum yang belum sadar ia akui.

"Gila sih itu cewek keren banget gerakannya" gumam Kaizan.

Tapi setelah tersadar dari lamunannya, sekilas kedua netranya malah tak ingin mengabaikan apa yang ia lihat meski hanya sekilas.

Jarak diantara Syahira maupun Bilal kali ini benar benar tidak bisa Kaizan abaikan, tapi ia tidak langsung mendekat hanya cukup tau dan memperhatikannya dari jauh saja.

Dan instingnya lah yang bekerja, "hmm gitu ya,..enggak boleh dibiarin ..gila ya udah punya bini enggak ada bersyukur" batin Bilal.

"Haish kenapa gue jadi ngurusin hidup orang Mulu sih ya Alloh" gerutu Kaizan dalam batinnya yang sedikit kesal selalu saja tebakannya tepat, tak jarang bukan seorang dua orang yang Mak jleb sama Kaizan ketika ditebak begitu saja olehnya endingnya jadi pada mager dekat sama Kaizan.

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!