NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan untuk pulang

"Kau benar-benar sudah memikirkannya, Al? Secara matang?" Arka meletakkan gelas wine-nya di meja marmer balkon. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh deru angin malam.

Alya merapatkan syal pemberian Arka. "Aku tidak pernah seserius ini, Arka. Enam bulan di sini memang damai, tapi setiap kali aku melihat Arsenio, aku merasa ada bagian dari dirinya yang hilang."

"Bagian apa? Dia sehat, dia aman, dia punya segalanya."

"Dia tidak punya identitas," sahut Alya cepat. "Dia akan tumbuh besar mengira dunianya hanyalah taman-taman di London dan salju. Aku ingin dia tahu dari mana ayahnya berasal. Aku ingin dia melihat matahari Jakarta yang terik."

Arka tertawa sinis, sebuah tawa yang sarat akan kepahitan. "Matahari Jakarta hanya akan membakar kita, Al. Kau tahu siapa yang menunggu di sana? Para pemangsa yang belum puas melihat kita hancur."

"Dan kau adalah raja di antara pemangsa itu sekarang, bukan?" Alya melangkah mendekat, menyentuh rahang kokoh suaminya. "Apa yang kau takutkan?"

"Aku tidak takut pada mereka," desis Arka, matanya berkilat. "Aku takut padamu. Aku takut melihat matamu kembali redup karena kenangan di kota itu. Aku membangun taman di atas reruntuhan mansion itu untuk menghapusnya dari peta, bukan untuk mengundangmu kembali ke sana."

"Justru itu," Alya tersenyum lembut. "Kau membangun sesuatu yang indah di atas penderitaan. Itu adalah simbol, Arka. Aku ingin kita berdiri di tengah taman itu dan berkata pada dunia—dan pada diri kita sendiri—bahwa kita menang."

Arka terdiam, membiarkan keheningan London menyelimuti mereka sejenak.

"Bagaimana dengan Papa dan Mama?" tanya Arka akhirnya. "Prasetyo dan Dewi... mereka baru saja mulai merasa tenang di sini."

"Mama merindukan kebunnya di Jakarta. Papa? Dia terus membaca berita bisnis Jakarta setiap pagi. Mereka hanya bertahan di sini demi kita, Arka. Kita semua sedang berpura-pura bahagia dalam pengasingan ini."

Arka membuang muka, menatap cakrawala. "Jika kita pulang, pengawalan akan menjadi dua kali lipat. Tidak ada jalan-jalan santai tanpa protokol keamanan. Kau siap hidup seperti itu?"

"Bukankah kita sudah hidup seperti itu di sini?"

"Di sini berbeda. Di sini, orang tidak mengenal siapa Arka Baskoro. Di Jakarta? Setiap langkah kita adalah berita utama."

"Maka biarlah menjadi berita yang baik," balas Alya. "Berita tentang kepulangan sang ahli waris yang membawa perubahan, bukan skandal."

Arka menarik napas panjang, udara dingin mengisi paru-parunya. "Kau keras kepala."

"Aku belajar dari pria terbaik yang pernah kutemui."

"Siapa? Arsenio?" canda Arka, mencoba mencairkan ketegangan.

"Ayahnya," bisik Alya sembari menyandarkan kepala di dada bidang Arka.

Arka mendekap istrinya erat, mencium puncak kepalanya lama. "Baiklah. Kita pulang. Tapi aku punya satu syarat."

Alya mendongak. "Apa?"

"Jika situasi memanas, jika ada satu saja ancaman yang mendekati kalian, kita kembali ke London atau ke mana pun yang kukatakan. Tanpa bantahan. Setuju?"

Alya mengangguk mantap. "Setuju."

Arka merogoh ponsel di saku celananya. Jam menunjukkan pukul sebelas malam waktu London, yang berarti fajar di Jakarta.

"Halo, Dimas?" Arka berbicara ke ponselnya begitu sambungan tersambung.

"Ya, Tuan Arka? Ada instruksi mendesak?" suara asistennya terdengar waspada di ujung sana.

"Siapkan jet pribadi untuk keberangkatan lusa. Kosongkan jadwal rapatku di London untuk dua minggu ke depan. Dan satu lagi..."

"Apa itu, Tuan?"

"Siapkan unit keamanan terbaik di Jakarta. Pastikan rumah di Menteng siap huni, tapi aku ingin tim keamanan menyisir taman kota yang baru dibangun itu. Sterilkan area. Kami akan mendarat lusa malam."

Ada jeda di seberang telepon. "Tuan... Anda serius? Anda akan kembali ke Jakarta?"

"Jangan buat aku mengulanginya, Dimas. Lakukan sekarang."

Arka menutup telepon. Ia menatap Alya kembali. "Puas?"

Alya tersenyum lebar, senyum paling tulus yang pernah dilihat Arka selama berbulan-bulan. "Sangat puas. Terima kasih, Arka."

"Jangan berterima kasih dulu," Arka membelai pipinya. "Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Besok, beri tahu Papa dan Mama. Aku yakin Dewi akan mulai mengepak koper sebelum kau selesai bicara."

"Dan Prasetyo akan berpura-pura mengeluh padahal dia sudah menyiapkan dasi terbaiknya," tambah Alya tertawa.

Malam itu, untuk pertama kalinya, angin dingin London tidak terasa membekukan bagi mereka. Karena di dalam hati mereka, api kepulangan telah menyala—sebuah pernyataan kemenangan yang akan segera mereka gaungkan di tanah air.

"Jakarta, kami datang," gumam Arka, matanya menatap tajam ke arah timur, seolah bisa menembus ribuan mil jarak menuju kota yang telah membesarkan sekaligus menghancurkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!