Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjuangan Kai
Hari mulai menjelang sore, sejak pulang dari toko Benang Langit tadi. Kai langsung sibuk di halaman rumahnya.
Anak itu duduk bersila sambil meraut bambu dengan hati-hati, serpihan-serpihan tipis jatuh berserakan di lantai kayu, sementara jemarinya tetap meraut hingga batang bambu itu lentur sesuai keinginannya.
“Yang ini terlalu keras…” gumamnya pelan sambil mengganti potongan bambu lain.
Meski usianya masih delapan tahun, cara Kai bekerja terlihat begitu teliti dan sabar. Setiap ukuran dihitung dengan rapi agar kerangka layang-layangnya seimbang dan kuat saat diterpa angin nanti.
Namun saat kerangka selesai dibuat ingatannya kembali pada harga benang dan biaya tiket masuk yang belum ia dapat sama sekali. Bahkan uang tabungannya hampir habis, hanya sekedar membeli kain ristop dan bambu saja.
Persetan dengan itu semua, tekad Kai untuk membuat layang-layang seolah tidak terpatahkan, tatapan matanya berubah penuh dengan tekad.
“Yang penting Kai bikin dulu layang-layang terbaiknya.” Perlahan bibir kecilnya terangkat tipis. “Kelihatannya… ini sudah sempurna.”
Kai menekuk bambu itu perlahan menggunakan kedua tangannya untuk memastikan kekuatannya. Setelah merasa cukup puas, anak itu mulai mengambil kain ristop biru langit miliknya.
Dengan penuh hati-hati, ia mulai menyusun kerangka demi kerangka layang-layang itu, seolah sedang membangun mimpi besarnya sendiri sedikit demi sedikit.
Kai menggunting kain ristop itu pelan, mengikuti pola kerangka yang sudah dibuatnya barusan, matanya tidak berkedip mengikuti arah tangannya memotong kain tersebut.
Selesai menggunting pola kainnya, Kai menghela napas lega. Setidaknya pola yang ia buat sesuai dengan keinginannya. Tidak ada kesalahan ataupun kain yang terpotong melenceng seperti yang tadi sempat ia khawatirkan.
Perlahan jemari kecilnya mulai mengambil lem, lalu mengoleskannya sedikit demi sedikit pada setiap sisi bambu dengan penuh kehati-hatian.
Tatapan matanya begitu fokus. Kai kemudian mulai merekatkan kain ristop biru langit itu pada kerangka bambu yang sudah ia bentuk sebelumnya. Tangannya bergerak pelan namun teliti, memastikan setiap sudut menempel sempurna agar layang-layangnya nanti kuat saat diterpa angin.
Sedikit demi sedikit… Bentuk layang-layang itu mulai terlihat sempurna.
Dan tanpa sadar, senyum kecil itu muncul dari bibirnya saat melihat mimpi mulai terbentuk di depan dirinya sendiri.
"Yes... akhirnya," gumam Kai seolah tidak percaya dengan hasil karyanya sendiri.
Setelah selesai merekatkan seluruh layang-layang, kau memundurkan tubuhnya sejenak. Layang-layang berwarna biru lautnya sudah sempurna menurut pemandangannya sendiri.
Akan tetapi entah kenapa seperti ada yang kurang. Kai mulai memikirkan hal itu sambil menopang dagunya sendiri. Angin sore mulai berhembus pelan, sementara tatapannya masih memikirkan pada bagian layang-layang yang kosong tadi.
"Kalau cuman begini," gumamnya pelan. "Rasanya terlalu biasa saja," ungkapnya sendiri.
Anak itu mulai berpikir keras. Festival layang-layang bukan hanya sekedar siapa yang paling tinggi menerbangkan layang-layangnya, tapi juga tentang makna dan keindahan yang di bawa ke langit.
Dan Kai ingin layang-layangnya memiliki satu arti, tentang keseharian yang sudah melekat di dalam hidupnya.
Perlahan langkah kecilnya mulai berjalan menuju meja belajar tua di dalam kamarnya, di bawa kolong meja, terdapat beberapa kaleng cat yang selalu ia simpan dengan rapi.
Tubuhnya sedikit berjongkok lalu mengambilnya satu persatu. Di situ ada empat kaleng cat, dengan warna yang berbeda.
Akan tetapi ia memilih satu warna saja untuk menghiasi layang-layangnya yang terlihat kosong itu.
"Sepertinya warna putih cocok," gumamnya sendiri, lalu dengan cepat ia mengambil cat tersebut beserta dengan beberapa kuas yang ia punya.
Ia kembali duduk di depan layang-layangnya, lalu mulai menggerakkan kuas kecil di atas kain ristop itu dengan hati-hati.
Garis demi garis mulai terbentuk. Kai melukis awan-awan putih lembut di bagian pinggir layang-layang, lalu sebuah rembulan besar di tengahnya. Warna biru langit dan putih itu perlahan menyatu begitu indah.
Namun setelah selesai menggambar corak itu. Kai kembali terdiam. Tatapannya jatuh pada ruang kosong di bawah gambar rembulan itu.
Untuk beberapa detik anak itu seperti memikirkan sesuatu yang jauh lebih dalam, lalu tanpa sadar. Bibir kecilnya tersenyum hangat.
"Ah, sepertinya aku menemukan ide." ucapnya begitu antusias.
Perlahan kuas itu kembali bergerak, membentuk wajah sedikit demi sedikit satu sosok wanita mulai tergambar, lalu satunya lagi dan satu lagi. Hingga akhirnya ada empat wanita yang berdiri di bawah rembulan itu.
Empat sosok sederhana yang saling bergandengan tangan.
Mama Alena.
Ibu Rinna.
Ibu Senna.
Dan Ibu Anne.
Kai menggambar mereka dengan versi paling indah di matanya sendiri, tidak ada kesempurnaan di dalam gambarannya itu, tapi entah kenapa dari lubuk hatinya ada kebanggaan tersendiri saat gambar itu sudah jadi.
Karena bagi Kai… mereka adalah alasan kenapa dirinya masih bisa tersenyum sampai hari ini.
Anak itu menatap hasil lukisannya cukup lama sebelum akhirnya berbisik pelan.
“Kalau layang-layang ini terbang tinggi…” gumamnya lirih. “Kai mau seluruh dunia tahu kalau aku punya empat wanita hebat.”
Selesai menggambar tanpa ia sadari sang ibu datang dan langkahnya berhenti di depan pagar kayu halamannya. Mata Alena mulai mengembun saat tahu empat wanita yang tergambar jelas di bawah rembulan itu.
Perlahan ia mulai menyadari, jika keinginan sang anak untuk mengikuti Festival itu bukan hanya sekedar rasa sukanya terhadap layang-layang. Namun dibalik itu semua ada mimpi besar yang ingin anaknya tunjukkan pada dunia.
"Nak ... kamu memang anak yang tidak lantang menyerah," gumam Alena.
Perlahan ia mulai melangkah masuk lalu mulai mendekati sang anak.
"Mama pulang," sapanya dengan lembut.
Seketika Kai tersentak kecil melihat salah satu sosok perempuan yang ia gambar hadir tiba-tiba.
"Mama, kenapa tidak bilang-bilang," kata Kai dengan nada terkejutnya.
"Mama, sengaja gak bilang," ujarnya. "Karena Mama takut menganggu anak Mama yang sedang menikmati hasil karyanya sendiri," imbuh Alena.
Kai tersenyum namun beberapa detik kemudian senyumannya itu mulai pudar, anak itu seolah tidak yakin bisa ikut ke festival nanti.
"Ma," panggil Kai pelan.
"Iya Nak," sahut Alena.
Kai masih terdiam, rasanya seperti sungkan untuk berterus terang, akan tetapi di momen seperti ini ia merasa harus berkata jujur pada ibunya.
"Uang hasil tabungan Kai tinggal sedikit setelah membeli bahan-bahan layang-layang tadi," ucapnya pelan penuh hati-hati. "Ternyata mimpi itu mahal ya Ma," lanjutnya.
Alena menatap wajah Kai penuh haru. Ia tidak ingin menyalahkan putranya. Tidak juga ingin mematahkan mimpi kecil yang sejak tadi begitu bersinar di mata anak itu.
Perlahan wanita itu meraih tangan Kai lalu menggenggamnya hangat.
“Dengar Mama ya…” ucap Alena pelan.
“Mimpi memang nggak selalu mudah diraih.”
Tatapannya mulai berkaca-kaca. “Tapi bukan berarti orang yang hidup sederhana nggak boleh punya mimpi besar.”
Kai terdiam mendengarkan, dan perlahan mulai membuka suara. "Tapi Ma, biaya tiket dan harga benang sangat mahal sekali."
"Kai urusan itu biar Mama yang ngatur," sahutnya meskipun ia sendiri masih belum mempunyai uang sebesar itu.
"Gak usah Ma," tolak Kai.
"Sudah jangan pikirkan itu yang terpenting Mama akan usaha," ucap Alena meyakinkan sang anak.
"Makasih ya Ma," ucap Kai akhirnya.
Alena tersenyum tipis meski hatinya terasa nyeri. “Dan selama Kai masih mau berusaha…” jemarinya mengusap pelan kepala anak itu. “Mama yakin suatu hari nanti langit akan membuka jalannya sendiri buat kamu.”
Keduanya saling menatap seolah saling menguatkan satu sama lain. Meskipun dalam keadaan seperti ini kondisi mereka sedang tidak baik-baik saja.
Bersambung
Selamat pagi Kak ... Jangan lupa komen ya biar semakin rame lapak aku ...
Terima kasih ...♥️♥️♥️🙏🙏🙏🙏