NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

POV:
Kamu jatuh cinta pada dosen dingin dan tampan… lalu berusaha keras mengejarnya.
Mulai dari cari perhatian, pura-pura kebetulan ketemu, sampai diam-diam cemburu pada perempuan lain di dekatnya.

Tapi plot twist-nya...

Dosen itu ternyata tunanganmu sendiri. 😭
Tunangan hasil perjodohan yang dulu kamu tolak sebelum sempat bertemu!

Sekarang siapa yang sebenarnya sedang mengejar siapa?

✨ Romance kampus
✨ Professor x mahasiswa
✨ Lucu, manis, bikin gemas
✨ Banyak momen salting & cemburu

Baca gratis di NovelToon:
Mr. Profesor⁠�

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1

Seorang wanita berdiri tak bergerak, tubuhnya terperangkap dalam dekapan dingin sosok di belakangnya. Laras pistol yang menempel di pelipisnya membuat kepalanya sedikit miring, seolah dipaksa tunduk pada keadaan.

Cahaya senja menembus melalui celah ruangan, jatuh tepat ke wajahnya yang pucat… terlalu pucat, hingga hampir menyatu dengan warna dinding di belakangnya.

Tak ada suara yang keluar dari bibirnya yang membiru. Nafasnya tertahan, nyaris tak meninggalkan jejak di udara.

Matanya terbuka lebar.

pupilnya gelap dan pekat, berpadu dengan coklat muda di bagian tengahnya. Bulu matanya panjang dan lentik, namun tipis, mempertegas sorot tatapannya yang rapuh di bawah tekanan yang mencekam itu.

Pupil gelapnya bergetar pelan, menyatu dengan coklat muda di bagian tengah irisnya. Bulu matanya sangat panjang, namun tampak rapuh…

Dengan pelan, tatapannya bergerak.

Ke belakang.

Dinding di balik meja resepsionis dilapisi panel kayu vertikal, dengan logo Bank XX terpampang di tengahnya. Di depannya, meja panjang berwarna putih dengan aksen kayu membentang rapi, terbagi menjadi empat loket layanan dengan komputer yang masih menyala.

Di balik meja itu, empat petugas perempuan berseragam berusaha menyembunyikan diri. Tubuh mereka meringkuk, seolah semakin kecil akan membuat mereka tak terlihat.

Di sisi lain, deretan kursi tunggu berwarna hijau muda tampak berantakan. Beberapa orang bersembunyi di baliknya, tubuh mereka gemetar.

Sebagian bahkan tak mampu bertahan… seseorang terlihat telah pingsan, tergeletak di lantai yang dilapisi keramik putih mengkilap.

Udara di ruangan itu terasa menyesakkan. Tak ada yang berani bersuara, bahkan suara napas pun terdengar ditahan sekuat mungkin.

Sesekali terdengar bunyi benda jatuh dari arah meja pelayanan, membuat beberapa orang refleks menutup mulut mereka sendiri agar tidak menjerit.

Tiba-tiba, sorot mata wanita itu berubah.

Ketakutan yang semula memenuhi wajahnya seakan membeku di tengah jalan… lalu perlahan menghilang, digantikan sesuatu yang jauh lebih dingin.

Dalam satu gerakan cepat, tubuhnya berputar ke samping sambil menangkap pergelangan tangan pria di belakangnya. Jemarinya mencengkeram kuat, lalu memutar lengan itu ke arah berlawanan hingga sendi bahunya tertarik paksa.

Pria Itu bahkan belum sempat bereaksi ketika tubuhnya didorong ke depan. Pada saat yang sama, kaki pria itu disapu keras dari belakang lututnya.

Bugh!

Keseimbangannya langsung hilang. Lututnya menghantam lantai dengan suara keras, sementara lengannya masih terpelintir di belakang punggung. Erangan tertahan keluar dari mulutnya karena rasa nyeri yang menusuk.

Pria itu menatapnya dengan tajam, amarah menyala di matanya.

“Apa yang kamu lakukan?!” bentaknya.

“Cut!” teriak sutradara, memecah ketegangan seketika.

Keheningan langsung menyebar di lokasi syuting.

Pria yang terjatuh itu masih meringis, sementara beberapa kru saling berpandangan, jelas tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

Adegan itu tidak ada di naskah.

Seharusnya wanita itu hanya terjatuh… bukan melawan.

Namun yang membuatnya terdiam bukan hanya karena kesalahan itu… melainkan cara gadis itu melakukannya. Gerakannya begitu elegan, mengalir tanpa ragu, dan tegas di setiap titik.

Itu bukan gerakan spontan biasa… melainkan seperti seseorang yang benar-benar terlatih dalam bela diri.

Semua kru dan aktor lain menatap dengan kaget, saling bertukar pandang penuh heran.

Tapi… bukankah seharusnya dia sedang berperan sebagai wanita lemah yang akan ditembak mati?

Lalu apa barusan itu?

Gerakan yang terlalu cepat, terlalu rapi, dan… terlalu keren!

Sutradara mengerutkan kening, jelas tidak puas.

“Zoya,” suaranya tegas, “bukankah sudah dijelaskan? Kamu hanya perlu melawan sebentar, lalu jatuh. Adegan itu berakhir dengan tembakan.”

Ia berhenti sejenak, menahan napas.

“Kenapa kamu melakukan itu tadi?”

Zoya masih berdiri di tempatnya mengerutkan kening. Wajahnya yang dirias dengan tone kuning kusam tampak semakin berkerut, membuat ekspresinya terlihat kurang nyaman dipandang.

Ehem…

Sutradara langsung memalingkan wajah sejenak, tak tega melihat hasil riasan yang kurang rapi itu, lalu kembali bertanya,

“Ada apa denganmu?”

Karena sebelumnya Zoya adalah seorang influencer, dan ini merupakan pengalaman syuting pertamanya, sutradara masih berusaha bersikap sabar dan cukup ramah padanya.

Zoya menatap aktor yang baru saja dibantu berdiri itu, lalu berkata tanpa ragu,

“Dia meraba-rabaku.”

Seketika suasana menjadi hening.

Sutradara: “…”

Dunia hiburan memang dikenal tidak selalu bersih. Di balik sorotan kamera, insiden “memanfaatkan adegan” seperti itu bukan hal baru… sering terjadi, terutama pada wanita pendatang baru yang belum memiliki jaringan kuat.

Banyak artis memilih diam, menahan diri demi menjaga kelancaran karier.

Namun Zoya berbeda.

Ia berdiri di sana tanpa ragu, tanpa mencoba menutupi apa yang baru saja terjadi… sesuatu yang jarang dilakukan orang di posisinya.

Di balik layar, kenyataan itu sering kali lebih kejam daripada yang terlihat.

Bahkan ketika ada yang berani bersuara, respons publik tidak selalu berpihak. Alih-alih didengar, justru banyak yang menyerang balik di media sosial.

>“Kalau kamu tidak menggodanya, kenapa dia harus melecehkanmu?”

>“Kalau kamu sendiri memakai pakaian seksi, mana mungkin hal seperti itu terjadi?”

>“Di zaman sekarang, banyak perempuan sengaja cari perhatian lalu bermain korban.”

>“Jangan cuma menyalahkan laki-lakinya, pasti ada alasannya dia berani begitu.”

>“Kalau memang benar jadi korban, kenapa baru berani bicara sekarang?”

>“Dia sendiri yang terlalu ramah, jadi jangan heran kalau disalahartikan.”

>“Kalau benar trauma, mana mungkin masih bisa tampil tenang seperti itu?”

Komentar-komentar seperti itu dengan cepat menyebar, mengaburkan inti persoalan dan mengalihkan kesalahan pada korban… terlebih jika yang dituduh adalah sosok senior yang punya pengaruh besar di industri.

Belum lagi tekanan dari para penggemar mereka yang ikut menyerang, mengirim pesan bernada ancaman, hingga meneror kehidupan pribadimu.

Di sisi lain, ada juga risiko balasan dari aktor yang dituduh… terutama jika ia memiliki pengaruh besar di industri. Perlahan, jalur karir mu bisa dibuat sulit: kehilangan peluang kerja, nama yang sengaja dibatasi di proyek tertentu, hingga pintu-pintu audisi yang tiba-tiba tertutup tanpa penjelasan.

Di dunia entertain ini, keberanian untuk berbicara sering kali datang dengan harga yang sangat mahal.

Opini publik yang ekstrim seperti itu bukan hal baru… dan sudah berkali-kali terbukti dalam berbagai kasus. Korban seringkali justru berubah menjadi bahan konsumsi publik, dibedah, dihakimi, lalu dilupakan begitu saja setelah sensasi mereda.

Di tengah kondisi seperti itu, banyak artis…. bahkan yang saat ini sudah lama berada di puncak karier… akhirnya memilih diam. Bukan karena tidak tahu benar atau salah, tetapi karena sadar ada konsekuensi yang bisa menghancurkan karir mereka perlahan.

Itulah sebabnya, sosok seperti Zoya terasa begitu berbeda.

Menurut rumor, Zoya dikenal sebagai wanita yang lembut dan cenderung tenang… lebih sering terlihat kalem di depan kamera maupun di balik layar.

Tapi barusan…

Cara dia bergerak sama sekali tidak cocok dengan citra itu. Cepat, presisi, dan tanpa keraguan… seperti seseorang yang terbiasa menghadapi situasi fisik secara langsung.

Itu membuat banyak orang di lokasi syuting mulai bertanya-tanya…

1
Tamirah
Semangat Thor untuk selalu berkarya.Novel mu menarik untuk dibaca bila belummm ada komentar bukan karena gak suka tapi masih mengikuti alur cerita nya komplik belum terlalu panas. masih aman-aman saja Thor.
fhallenopsis amabilis: trmkasii, o iya ini pertama kali nya nulis... sedikit kesulitan 🤭
total 1 replies
Tamirah
Menarik cerita ini,Arlo gak tahu Kalau Jaiden dan Zoya kakak beradik. Apa lagi Arlo tahu Jaiden seorang casanova.bayangan dia jangan sampai Jaiden jatuh cinta sama Zoya menakutkan.Apa reaksi Arlo Kalau tahu Zoya adik nya Jaiden.
Tamirah
Zoya sang artis yg terpikat pada dosen nya tapi ia tidak memperlihatkan ketertarikan biar tidak dianggap murahan.Karena banyak wanita yang mendekati dosen tampan itu dgn menggunakan cara yg sdh bisa ditebak oleh dosen tsb.Beda nya sang artis punya pertanyaan jitu yg bernuansa ilmiah dan juga tdk banyak omong gestur tubuh annggun,gerakan tubuh normal tidak ada unsur menggoda .Justru itu yg membuat dosen tampan penasaran.
fhallenopsis amabilis: Jadi, Gimana.. apakah metode mengejar Zoya ini ampuh? 😄
total 1 replies
Hizbi Hizbi
tentang dunia hiburan?
Ratna Sriistiani
bagus banget 🤗
Nuznul aini
kerennn
Nuznul aini
kerennn👍
EvhaLynn
Semangat Thor😉
fitriana dian85
Thor, tuan muda saksomo kakaknya zoya sangat ketat sama adiknya! kasian arlo
Rahil Ziazun
ih.. seru juga ternyata 😍🤣 semangat Thor 💪
Alia Chans: seru nih, semangat ✍️ nya

dan jangan lupa ya kalo ada waktu mampir juga😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!