Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: UNDANGAN YANG TAK BERTUAN
Dua hari menjelang hari besar yang akan dicatat dalam sejarah sosial Indonesia, suasana di kediaman utama Diningrat berubah menjadi pusat komando yang lebih sibuk daripada bursa efek. Ian telah pulih sepenuhnya. Bahunya tak lagi kaku, dan memar akibat insiden berkuda itu telah hilang berkat "terapi paksa" jamu Mbok Yem dan perhatian medis Rhea.
Ian berdiri di ruang kerja pribadinya, menatap setelan tuksedo berwarna hitam pekat yang tergantung di sudut ruangan. Di usianya yang ke-31, ia akhirnya mencapai titik di mana ia tidak lagi mengejar bayang-bayang atau membalas dendam. Namun, di atas meja mahoninya, terdapat satu kartu undangan berlapis emas yang belum diberi nama penerima.
Tangannya ragu. Di dalam kepalanya, berkecamuk sebuah nama yang pernah menjadi seluruh dunianya: Cansu.
Ia teringat janji-janji di Milan, tangisan di balik kabut Bogor, dan pengorbanan wanita itu untuk menyelamatkan nyawanya. Mengundang mantan kekasih—terlebih wanita yang pernah menjadi Ibu Negara dan memiliki sejarah sedalam itu—ke sebuah pernikahan mewah adalah tindakan yang bisa dianggap sebagai penghinaan bagi pengantin wanita. Ian tidak ingin harga diri Rhea tergores barang sedikit pun. Ia sangat mencintai Rhea, dan ia tidak ingin ada awan mendung dari masa lalu yang menutupi sinar matahari di hari pernikahan mereka.
"Kenapa belum ditulis?"
Suara lembut itu memecah lamunan Ian. Rhea berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun rumah sederhana namun tetap memancarkan keanggunan seorang calon nyonya Diningrat. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping Ian, menatap kartu undangan kosong itu.
"Aku berpikir untuk tidak mengirimkannya," ucap Ian jujur, suaranya berat. "Mengundangnya hanya akan membuktikan bahwa aku belum selesai dengan masa lalu, dan aku tidak ingin kamu merasa dibanding-bandingkan atau tidak nyaman, Rhea."
Rhea mengambil kartu itu, jemarinya mengusap ukiran timbul di permukaannya. Ia menatap Ian dengan binar mata yang tenang namun penuh kedewasaan.
"Ian, aku tahu Cansu adalah luka sekaligus bagian dari pertumbuhanmu. Aku tidak merasa terancam olehnya," ucap Rhea lembut. "Dia pernah menyelamatkanmu, dia pernah mengorbankan jiwanya demi kamu. Mengundangnya bukan berarti kamu mencintainya kembali, tapi itu adalah bentuk penghormatan terakhir untuk menutup bab lama sebelum kita membuka bab baru."
"Rhea, dia mantan kekasihku. Banyak orang akan bicara," Ian mencoba menyanggah.
Rhea tersenyum tipis, menggenggam tangan Ian yang hangat. "Biarkan dunia bicara. Yang penting adalah apa yang kita rasakan. Aku ingin kamu menikahiku tanpa ada penyesalan atau rasa 'tidak enak' yang tersisa. Undanglah dia. Aku baik-baik saja, sungguh."
Ian terdiam, terpaku oleh kebesaran hati wanita di hadapannya. Ia menarik Rhea ke dalam pelukannya, mencium keningnya lama. "Kamu adalah mawar yang paling indah, Rhea. Bukan karena warnanya, tapi karena akarnya yang begitu kuat."
Misteri di Milan
Melalui bantuan Yusuf, undangan itu dikirimkan secara pribadi ke alamat rahasia Cansu di Milan. Namun, balasan yang datang bukanlah sebuah konfirmasi kehadiran, melainkan sebuah surat balasan singkat di atas kertas parchment beraroma lavender yang sangat dikenal Ian.
"Selamat atas kebahagiaanmu, Adrian. Namun, aku tidak bisa hadir. Doaku selalu menyertai kalian dari kejauhan. Biarlah mawar yang sudah layu tetap tersimpan di dalam buku lama, jangan dibawa ke taman yang baru."
Surat itu dingin, namun sarat akan kesedihan yang tersembunyi. Tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, dan Yusuf melaporkan bahwa alamat pengiriman tersebut hanyalah sebuah kantor pos perantara. Cansu benar-benar menghilang. Ia memprivasi kehidupannya seolah ia ingin menghapus jejaknya dari dunia, seolah sosok "Cansu Alessandra" telah mati bersama jatuhnya rezim Pradikta.
"Dia menolak?" tanya Rhea saat Ian membacakan isi surat itu di ruang tengah.
"Iya. Dan dia menutup semua akses," jawab Ian dengan kening berkerut. "Yusuf bahkan kesulitan melacak keberadaannya yang sekarang. Dia seolah menguap."
Vier yang sedang duduk di sofa sambil menyuapi Nara sepotong buah, ikut menimpali. "Mungkin itu caranya untuk sembuh, Kak. Menghadiri pernikahan mantan kekasih terhebatnya dengan wanita lain di tempat yang penuh kenangan pahit... kurasa itu terlalu berat untuknya, sekuat apa pun dia berpura-pura."
Nara mengangguk setuju. "Ada orang yang memilih sembuh dengan cara menghadapi masa lalu, dan ada orang yang memilih sembuh dengan cara menguburnya dalam-dalam. Cansu sepertinya memilih yang kedua."
Meskipun pertanyaan-pertanyaan besar menggantung di benak Ian dan Rhea tentang bagaimana kabar Cansu sebenarnya atau apakah dia sedang menderita, mereka terpaksa menerima keputusan itu. Fokus mereka kembali ke persiapan akhir yang megah.
Komedi Menjelang Hari-H
Di lantai bawah, suasana jauh dari kata melankolis. Mbok Yem sedang memimpin "pasukan kebersihan" dengan sangat diktator.
"Pak Totok! Itu patung singa di depan jangan dipakaikan pita warna pink! Ini pernikahan Tuan Muda, bukan acara ulang tahun kucing!" teriak Mbok Yem dari teras.
Pak Totok yang sedang sibuk menghias taman depan menggerutu. "Lho, Mbok, katanya Nona Rhea suka warna lembut. Pink itu lembut!"
"Lembut matamu! Ini tema keraton modern! Pasang pita emas!" Mbok Yem memutar sodetnya yang entah kenapa selalu ia bawa ke mana-mana.
Sementara itu, Yusuf sedang mengalami krisis identitas. Sebagai orang yang biasanya memegang senjata dan alat penyadap, kini ia harus memegang daftar tamu VIP dan mengatur tempat duduk agar menteri-menteri yang saling bermusuhan tidak duduk semeja.
"Tuan Muda Vier," panggil Yusuf dengan wajah frustrasi. "Tolong beritahu saya, apakah mantan menteri pertahanan dan gubernur saat ini bisa diletakkan di satu meja tanpa risiko terjadi perang saudara di tengah acara?"
Vier tertawa terpingkal-pingkal. "Kasih mereka banyak makanan enak, Yusuf. Orang kenyang biasanya malas berkelahi."
Mbok Yem tiba-tiba masuk ke dapur dan melihat Yusuf yang sedang stres. "Mas Yusuf, ini minum dulu ramuan Mbok. Biar otaknya encer ngatur tamu-tamu sombong itu."
Yusuf melihat segelas cairan berwarna ungu tua di tangan Mbok Yem. Ia menatap Ian yang kebetulan lewat di dekat situ. Ian hanya memberikan tatapan 'Rasakan sendiri penderitaanku kemarin' sambil berlalu dengan senyum penuh kemenangan.
Yusuf menelan ludah, meminumnya dengan ragu, dan seketika matanya melotot. "Mbok... ini rasa apa?"
"Rasa tanggung jawab, Mas!" jawab Mbok Yem sambil tertawa lengak-lenggok.
Malam Sebelum Janji Suci
Malam terakhir sebelum mereka resmi menjadi suami istri, Ian dan Rhea duduk di balkon paviliun, menatap lampu-lampu taman yang mulai dinyalakan. Seluruh Jakarta seolah menahan napas menantikan acara esok hari.
"Apa kamu masih memikirkan Cansu?" tanya Rhea pelan.
Ian menoleh, menarik tangan Rhea dan mencium jari manisnya yang sudah dihiasi cincin pertunangan. "Sedikit. Bukan karena rindu, tapi karena aku berharap dia juga menemukan kedamaiannya sendiri. Tapi malam ini, dan selamanya, pikiranku hanya milikmu, Rhea."
Rhea tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Ian. Di kejauhan, mereka melihat Pak Totok yang masih sibuk membenahi lampu hias yang mati-nyala, dan mendengar suara Mbok Yem yang masih mengomeli Yusuf soal jumlah porsi rendang.
Di balik kemewahan dan protokol ketat yang akan mereka jalani besok, mereka tahu bahwa kekuatan mereka ada pada kesederhanaan orang-orang di sekitar mereka. Cansu mungkin telah memilih untuk menjadi rahasia yang terkunci di Milan, namun Ian dan Rhea telah memilih untuk menjadi kebenaran yang terbuka bagi dunia.
Besok, tidak akan ada lagi kontrak. Tidak akan ada lagi pelarian. Hanya akan ada Adrian dan Rhea, di atas puing-puing masa lalu yang telah mereka bangun menjadi istana masa depan yang baru.
"Siap untuk besok, Nyonya Diningrat?" bisik Ian.
"Sangat siap, Tuan Algojo," jawab Rhea penuh keyakinan.
Fajar akan segera tiba, membawa akhir dari sebuah pencarian panjang dan awal dari sebuah simfoni cinta yang sesungguhnya. Tanpa duri, tanpa kepalsuan. Hanya kebahagiaan yang tumbuh tulus di tanah yang benar.