NovelToon NovelToon
Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Terlarang / Enemy to Lovers
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.

Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.

Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku juga milikmu

"Bau apa ini?" Myra mengendus aroma manis yang tiba-tiba memenuhi indra penciumannya.

Harum itu menyeruak, memanjakan suasana kafe yang didominasi warna pastel dan cahaya kuning hangat. Jajaran hiasan dinding berbagai motif menambah kesan estetik, membuat Myra tertegun. Ini kali pertama ia berkunjung ke tempat seceria ini.

Di rak kaca besar, barisan kue tertata rapi, menggoda siapa pun yang melihatnya. "Selama ini aku selalu memilih kursi outdoor. Ternyata duduk di dalam tidak buruk juga," gumam Myra dalam hati.

Rafan memilih meja di pojok belakang, sudut privat yang biasanya ditempati pasangan kekasih. Kini, Myra terpaksa duduk di sana bersama pria yang paling ia benci.

"Ayo makan!" ajak Rafan antusias saat pelayan mengantar pesanan. Ia menatap Myra lekat, seolah tak sabar melihat gadis itu mencicipi hidangan yang ia pilihkan.

Myra memutar bola matanya malas, menatap meja yang penuh sesak. Anehnya, piring-piring hidangan manis berbaris di depannya, sementara makanan berat menumpuk di hadapan Rafan.

"Dasar polisi gadungan," umpat Myra ketus.

"Kenapa memanggilku begitu?"

"Kamu memesan semua ini tanpa bertanya padaku. Kamu pikir kamu diktator?"

"Ini namanya perhatian, Myra. Aku ingin kamu tinggal duduk dan makan dengan nyaman," sanggah Rafan lembut.

"Dengar, aku bukan pajangan, apalagi hewan peliharaan yang menunggu tuannya memberi makan!"

"Baik, aku salah bicara. Maafkan aku," bujuk Rafan dengan tatapan memelas. "Tapi makanan ini tidak bersalah. Tolong, makanlah."

Myra bergidik ngeri melihat puppy eyes pria di depannya. Sejak kapan seorang abdi negara bertingkah sekonyol ini? "Aku tidak suka makanan manis," tolak Myra dingin.

"Eh? Bukankah gadis-gadis menyukainya?"

"Aku tidak sama dengan mereka."

"Kenapa?" tanya Rafan polos.

Myra mengepalkan tangan, menahan emosi yang nyaris meledak. "Kenapa otakmu selalu mengeluarkan pertanyaan bodoh!" bentaknya dalam hati. Namun, demi mengakhiri perdebatan, ia akhirnya menyerah. "Baiklah, aku makan. Kamu juga makanlah."

Myra mengangkat sendok kecil, memotong secuil kue stroberi dan memasukkannya ke mulut. Begitu krim dan selainya menyentuh lidah, Myra tertegun. Tekstur lembut dan rasa manisnya meleleh sempurna, membuat indra pengecapnya seolah meronta meminta lagi.

Tanpa sadar, ia mengambil suapan kedua yang lebih besar, lalu suapan-suapan berikutnya tanpa jeda. Myra memejamkan mata, menikmati sensasi bahagia yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Kamu semakin cantik saat tersenyum," gumam Rafan lembut.

Rafan mengulurkan tangan, ibu jarinya menyentuh sudut bibir Myra untuk menghapus noda krim di sana. Myra mematung, maniknya membulat sempurna saat merasakan sentuhan hangat itu di kulitnya.

"Aku bisa sendiri! Seharusnya kamu bilang saja," oceh Myra salah tingkah.

"Jangan sungkan. Kamu makan sangat lahap sampai aku penasaran rasanya," ujar Rafan sambil menyesap ujung jarinya yang terkena krim tadi. Ia menatap Myra dengan arti yang dalam. "Sangat manis."

Myra bergidik, merasa ngeri sekaligus gugup. Ia segera mengalihkan perhatian pada piring cokelat dan puding mangga di dekatnya. "Apa... ini juga milikku?" tanyanya pura-pura acuh.

Rafan terkekeh melihat sikap jual mahal Myra yang justru terlihat menggemaskan seperti anak kecil.

"Kenapa tertawa?!" protes Myra tersinggung.

"Tidak ada," jawab Rafan sambil menahan tawa. "Tentu saja, semua yang ada di meja ini milikmu."

"Tidak perlu semuanya. Aku ambil dua piring ini saja," sahut Myra sambil menarik piring-piring itu mendekat.

"Lalu aku?" tanya Rafan sambil mengangkat alis.

"Hah?" Myra mengernyit bingung.

"Aku juga milikmu. Apa kamu tidak ingin memakanku juga?"

Kalimat ambigu itu meledak bak bom di telinga Myra. Rafan segera menyadari ucapannya salah saat melihat wajah Myra yang memucat. "Aku hanya bercanda," bisiknya pelan.

"Lelucon yang buruk!" Myra tertawa hambar, lalu menyuap kue besar-besar untuk menutupi kegugupannya. Psikopat mesum! maki Myra dalam hati.

Suasana kembali serius saat Rafan bertanya, "Myra, kenapa mereka tidak membiarkanmu bebas?"

"Bebas? Kamu bicara seolah aku ini tahanan," sahut Myra dengan senyum singkat.

"Berapa lama kamu tinggal di sana? Kamu pasti merasa tertekan."

Myra menatap Rafan datar. "Aku tinggal di sana atas kemauanku sendiri. Aku tidak punya siapa-siapa sejak orang tuaku meninggal. Di sana aku merasa aman, hidupku terjamin, dan mereka menghormatiku."

Ia melanjutkan dengan nada tegas, "Jadi, meskipun kamu mencari bukti kejahatan mereka lewat aku, kamu tidak akan menemukan apa pun. Mereka mengurusku dengan baik. Mereka adalah keluargaku."

"Myra, apa kamu masih memikirkan lelucon tadi?" suara Rafan memecah keheningan, menyadarkan Myra yang sedari tadi melamun dengan sendok menggantung di udara.

Myra tersentak. Manik matanya bertemu dengan tatapan khawatir Rafan. "Ah, tidak. Aku hanya berpikir... apa kamu tidak heran melihat tahanan sepertiku bisa bebas keluar masuk rumah, pergi ke toko buku, bahkan menyetir mobil sendiri?" tanyanya, mencoba menguji logika pria di hadapannya.

Rafan merendahkan suara, tatapannya melembut. "Mereka punya banyak aliansi. Bukan hal sulit untuk mengawasimu. Mereka membiarkanmu berkeliaran karena tahu kamu tetap tidak akan bisa kabur, benar kan?"

Myra tertegun hingga sendok kecilnya tersangkut di bibir. "Dia benar-benar punya dunianya sendiri," batin Myra sembari melanjutkan kunyahannya. Harapannya untuk membongkar identitas asli tanpa drama seketika sirna karena pola pikir Rafan yang terlalu "pahlawan".

Namun, suasana dingin di antara mereka perlahan mencair, digantikan kehangatan yang tenang layaknya sepasang kekasih yang tengah menikmati malam.

"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan tentangku?" selidik Myra, iseng memancing rasa penasaran pria itu.

"Kucing liar," sahut Rafan spontan.

"Apa?!"

"Bukan---maksudku, bukan begitu!" Rafan gelagapan membela diri.

Myra mendengus, membuang muka. "Kamu menganggapku tawanan. Apa kamu pernah membayangkan apa saja yang sudah kulakukan di sana? Atau apa yang telah mereka lakukan padaku?"

Rafan terdiam seribu bahasa. Pertanyaan itu seolah menghantam logikanya.

"Bagus, biarkan dia mengira aku adalah wanita yang telah digilir . Dia pasti akan berpikir dua kali untuk mendekat," pikir Myra puas. Ia memasang wajah memelas. "Sebelas tahun aku di sana. Menurutmu, apa aku masih punya masa depan di dunia luar? Aku tidak punya keluarga, tidak punya rumah. Mau makan apa aku nanti? Bekerja apa? Memikirkannya saja membuatku sesak."

Myra sengaja merendahkan suaranya, membiarkan kebohongan itu meresap demi membuat Rafan putus asa dan menjauhinya.

Pukul 22.00

Jeep hitam itu berhenti di depan pekarangan rumah kayu yang cukup asri. Myra melirik sinis ke arah jendela rumah, di mana Sukma tampak santai menonton televisi. "Wanita sialan, dia enak-enakan sementara aku terjebak masalah," rutuknya dalam hati.

"Ini, oleh-oleh untukmu." Rafan menyodorkan kantong plastik berisi empat potong kue. Ia tersenyum mengingat betapa lahapnya Myra makan di kafe tadi.

"Hm." Myra meraih kantong itu tanpa menolak hal yang ia sukai. Ia segera melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil tanpa sepatah kata pun.

"Selamat malam, Myra!" seru Rafan dari dalam mobil.

Myra tak menyahut. Ia menaiki tangga teras dengan cepat, ingin segera menghilang dari pandangan pria itu. Begitu masuk, ia mendapati Sukma yang tersentak kaget.

"Sudah pulang?" tanya Sukma, matanya beralih ke jendela. "Mobil siapa itu?"

Myra mengintip dari balik tirai. Ternyata Rafan belum pergi, pria itu malah melambai ceria saat melihat wajah Myra di balik kaca.

SRAK! Myra menutup tirai dengan kasar. "Dasar gila! Apa dia mau menginap sampai fajar?"

"Siapa dia? Dan di mana mobilmu?" tanya Sukma curiga.

"Mobilku habis bensin berkat kecerobohanmu! Dan pria itu... dia polisi," sahut Myra datar.

Sukma tersentak, langsung memeriksa tubuh Myra. "Polisi? Apa kamu terluka? Kenapa tidak meneleponku? Bagaimana kalau dia punya rencana jahat?"

"Kurasa tidak. Polisi itu, dia tertarik kepadaku," gumam Myra sembari memijat pelipisnya yang pening.

Sukma terdiam sejenak. "Tertarik? Seperti anak kecil yang tertarik pada buah Belladona? Mereka memakannya karena mengira itu manis, lalu mati?"

Myra mengangguk lemas. "Kurang lebih begitu."

Sukma menarik tangan Myra menuju sofa, rasa ingin tahunya memuncak. "Lalu bagaimana pendapatmu?"

"Dia hanya pria keras kepala yang kebanyakan menonton film romansa. Dia bermimpi menjadi ksatria yang menyelamatkan gadis malang," cibir Myra muak.

"Apa dia berbahaya bagi rencana kita?"

"Saat ini tidak. Otaknya hanya penuh khayalan cinta."

Sukma tersenyum penuh arti. "Kalau begitu, jangan dibunuh. Manfaatkan saja dia. Pengaruhi dia sampai tergila-gila padamu. Dengan begitu, kita bisa tahu rencana kepolisian, apalagi setelah kasus pembunuhan terakhir ini."

Myra menatap Sukma tajam. "Kamu menyuruhku mendekati pria semacam itu?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!