Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Unlimited Card
Rayga tertidur begitu nyenyak.
Bahkan dia tidak bangun sampai sore, Aurellia yang menunggunya di sana jadi bosan dan kelaparan, mau cari makan keluar Aurellia juga tak berani karena Rayga berpesan Aurellia tidak boleh keluar kamar tanpa izinnya, sedangkan di dalam kamar itu tidak ada makanan kecuali semangkuk bakso milik Rayga yang ada di atas meja.
Itu pun sebelum dia tidur Rayga akan kembali memakan baksonya, mana mungkin Aurellia berani untuk memakan bakso tersebut jika sudah dikatakan begitu.
Sempat Aurellia ikut tertidur di atas sofa sampai satu jam lamanya, setelah bangun perutnya makin terasa lapar.
Sekarang Aurellia duduk di sofa menahan rasa laparnya.
Telah dia coba alihkan pikirannya dengan memainkan game dan lanjut menonton film kungfu kesukaannya, tetapi tetap saja rasa lapar memyerang perut Aurellia.
Sedangkan Rayga yang ditunggunya tak kunjung bangun.
Hendak menelpon Xander, nomor pria itu tidak ada sama Aurellia.
"Astaga, dia tidur apa mati suri?" Aurellia berkata sendiri dengan rasa jengkelnya.
Jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul lima sore, tetapi Rayga masih belum ada tanda-tanda untuk bangun.
Sedangkan perut Aurellia sudah terasa perih menahan lapar.
Aurellia mendekati Rayga dan naik ke atas tempat tidur secara pelan.
Memandang wajah pria itu yang terlihat begitu damai saat tertidur.
"Sebetulnya dia lebih baik tidur saja selamanya seperti itu, tetapi masalahnya sekarang aku laper banget," memandang lamat-lamat wajah pria yang telah menikahinya.
gumam Aurellia.
Setelah bertemu Rayga, baru kali ini Aurellia memandang wajah Rayga secara rinci dalam waktu yang lumayan lama.
Tidak bisa bohong, Aurellia mengakui kalau pria itu sangat tampan dan mempesona.
"Dia hanya tampan saat tidur saja, kalau bangun berubah seperti harimau gila yang kelaparan," ungkap Aurellia, dia mengira ucapannya itu tidak akan terdengar oleh Rayga yang memejamkan matanya masih seperti orang tidur.
Rayga terbangun dari tidurnya karena merasakan ada pergerakan di sampingnya, tetapi dia tidak langsung membuka mata.
Memilih tetap memejamkan mata seperti orang tertidur, tetapi menajamkan pendengarannya karena mendengar omelan Aurellia yang berada di sampingnya.
"Dia menginginkan aku tidur selamanya karena menganggap aku kalau bangun seperti harimau gila?" Rayga terkejut mendengar Aurellia yang sangat berani padanya, tetapi Rayga penasaran ingin mengintip lebih banyak ungkapan hati Aurellia yang
diucapkannya secara langsung.
"Mending tadi aku tidak mengikuti saran Tuan Xander untuk ikut ke sini," gerutu Aurellia menyesali kehadirannya di apartemen Rayga, karena rasa lapar terus mendesak Aurellia untuk segera makan.
"Tuhan ... kalau pria ini tak juga bangun, aku bisa mati kelaparan di sini." Aurellia memegang perutnya yang terus keroncongan.
Rayga membuka matanya dan langsung disuguhkan dengan wajah lesu Aurellia yang kelaparan di dekatnya.
Dia bangkit dari posisinya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Dia sudah bangun? Sejak kapan? Kok bisalangsung bangun dan berjalan seperti orang tidak lagi bangun tidur seperti itu?" Aurellia menatap punggung Rayga yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Apa sejak tadi dia sudah bangun dan berpura-pura tidur saja?" sangsi Aurellia.
"Kalau beneran dia sudah bangun dari tadi, keterlaluan sekali dia membiarkan aku kelaparan," sungut Aurellia terus mengoceh.
Tak lama di kamar mandi, Rayga kembali menampakkan wajahnya dari balik pintu kamar mandi.
Berjalan santai tanpa menoleh pada Aurellia yang menatap kesal padanya.
"Mana sisa baksoku tadi?" tanya Rayga sambil berjalan mendekati lemari di sebelah tempat tidurnya.
"Di atas meja," jawab Aurellia singkat.
Rayga tak lagi menanggapi jawaban Aurellia, dia juga tidak meminta Aurellia memanaskan bakso tersebut.
Dibukanya lemari di depannya untuk mengambil sesuatu di dalam sana.
Setelah mengambil apa yang dicarinya dalam lemari, Rayga mendekati Aurellia yang masih betah duduk di atas tempat tidur.
"Apa ini?" tanya Aurellia saat Rayga meletakkan sebuah kartu berwarna hitam di kaki Aurellia yang duduk.
"Untuk kamu," jawab Rayga acuh, lalu kembali berjalan menuju sofa dan mengambil mangkuk bakso yang ada di atas meja.
"Pin kartunya xxxx" ujar Rayga sambil membuka mangkuk baksonya.
Aurellia mendengar dengan jelas bahwa kartu itu untuknya dan mendengar dengan jelas juga saat Rayga memberitahu password kartu tersebut, tetapi dia tidak menjawab walau hanya mengucapkan sebatas kata terima kasih.
Karena Aurellia merasa heran dan tak yakin kalau kartu itu untuknya atau Rayga punya rencana lain lagi.
"Hooeek... basi!" Rayga mual ketika tutup mangkuk bakso dibuka, ternyata bakso itu telah basi dan aromanya sangat menusuk hidung.
Rayga kembali meletakkan mangkuk di tangannya, sedangkan Aurellia turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati Rayga.
"Maaf, Tuan. Aku cukup dikasih makan saja agar tidak kelaparan selama pernikahan ini berjalan. Aku tidak membutuhkan ini."
Aurellia meletakkan kartu yang diberikan Rayga ke atas meja.
Rayga menatapnya tajam membuat Aurellia menundukkan kepalanya.
Saat ini rasa lapar di perut Aurellia lebih besar daripada rasa takut pada Rayga yang menatapnya seperti itu.
"Aku hanya tak mau menambah hutang budiku pada, Tuan. Saat ini yang aku butuhkan dalam hidupku hanya makan agar tetap hidup, aku tak butuh yang lain," ujar Aurellia masih menundukkan kepalanya.
"Ambil!" titah Rayga, tetapi Aurellia tak berniat untuk mengambil kartu itu.
"Kau tuli?!"
Aurellia menggeleng, masih tak mau menambah hutang budinya pada Rayga.
"Aku ambil kartu ini juga tak ada gunanya, Tuan. Yang aku butuhkan hanya makanan. Walaupun kartu itu aku ambil, tidak akan ada gunanya juga, hanya menambah hutang bud-"
"Aku tak suka dibantah!" potong Rayga.
Setelah mengatakan itu, Rayga mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan langsung menelepon Xander.
"Halo, Bos," sapa Xander saat panggilan telepon mereka tersambung.
"Belikan bakso yang tadi dan makanan yang banyak," titah Rayga.
"Makanannya apa saja, Bos?" tanya Xander tidak mau salah beli, karena Rayga tak menyebutkan makanan yang akan dibelinya secara spesifik.
Rayga menoleh pada Aurellia. "Mau makan apa?" tanyanya.
"Terserah apa saja, yang penting bisa mengisi perutku," jawab Aurellia sambil memegang perutnya.
"Belikan apa saja yang bisa mengisi perut lapar," ujar Rayga, lalu memutus panggilan teleponnya pada Xander.
Rayga meletakkan ponselnya di atas meja setelah selesai menelepon dengan Xander, dia juga sekalian mengambil kartu hitam yang diletakkan Aurellia di atas meja tersebut.
"Yang ada dalam perutmu itu anakku. Semua keinginannya harus dipenuhi. Kamu ngidam itu adalah keinginan anakku, jadi kamu bisa memenuhi keinginannya dengan kartu ini. Beli apa saja yang dia mau," kata Rayga menyodorkan kartu itu pada Aurellia.
"Tapi..." Aurellia memegang perutnya.
"Aku tidak pernah ngidam, Tuan. Kan Anda sudah diwakili ngidamnya," ujar Aurellia ragu-ragu.