NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng sang pewaris takhta

Mereka pun duduk dan memakan buah itu bersama sama . Riu menyodorkan sebuah buah hutan yang sudah matang ke arah Nayan, lalu menyeringai lebar. "Makanlah ini Nayan . "

Riu mulai mengunyah bagiannya sendiri dengan suara yang sengaja dikeraskan. "Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya? Setelah tau kalau pria yang kau temani ini sebenarnya adalah seorang pangeran ."

Riu terkekeh, sengaja menyenggol lengan Cakra dengan bahunya.

"Gunakan saja mulutmu itu untuk makan Riu. Jangan sampai aku merasa perlu memindahkannya ke belakang kepalamu ." gumam Cakra tanpa menoleh, sibuk membersihkan sisa debu di zirah lengannya.

Riu justru terbahak. Ia malah bergeser mendekat ke arah Nayan, seolah mereka sedang membentuk aliansi baru untuk mem-bully sang Pangeran. "Tapi serius, Nayan. Kau belum pernah kan melihat Pangeran ini kalau sedang mengamuk? Benar-benar kehilangan kewarasannya di medan perang?"

Nayan menangkap nada bicara Riu dan memutuskan untuk ikut bermain. Ia menggigit buahnya, lalu menatap Cakra dengan tatapan menilai yang nakal. "Belum, Riu. Memangnya seburuk itu? Apakah wajah tampannya ini bisa berubah jadi mengerikan?"

"Sangat buruk!" seru Riu antusias, tangannya bergerak-gerak di udara. "Bukan cuma mengerikan, Nayan. Dia itu jadi monster! Tidak ada bedanya dengan setan yang haus darah. Sekali dia pegang pedang saat marah, lupakan soal belas kasihan."

PLAK!

Cakra menyambar sebuah buah yang lebih besar dan menyumpalkannya tepat ke mulut Riu yang sedang menganga lebar. "Makan Riu. Diamlah sebelum aku benar-benar memotong lidahmu itu ."

Riu tersedak, wajahnya memerah saat ia berusaha menelan buah itu secara paksa. Namun, bukannya diam ia malah melepehkan sisa kulitnya dan semakin gencar bergosip.

"Kau harus hati-hati, Nayan! Temperamen Pangeran kita ini setinggi langit, sumbunya pendek sekali!" Riu memberikan isyarat memotong leher dengan jarinya. "Salah sedikit saja kau bersikap, atau kalau kau membuatnya kesal, bisa-bisa lehermu jadi jaminannya. Dia ini tipe pria yang memenggal dulu baru bertanya kemudian!"

Nayan tertawa liar, tawa yang bergema di udara terbuka. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Cakra, menantang pria itu dengan keberanian yang sama besarnya dengan kecantikannya yang tajam.

"Oh, benarkah? Jadi leherku dalam bahaya sekarang, Pangeran?" Nayan menarik sedikit kerah baju Cakra agar pria itu menatapnya. "Ayo, katakan padaku. Apa kau akan benar-benar memenggal leherku kalau aku membuatmu kesal ?"

Cakra tidak menghindar. Ia justru mencengkeram pinggang Nayan dengan satu tangan, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka. Matanya menggelap, memancarkan kilatan yang jauh lebih berbahaya daripada sekedar kemarahan.

"Aku punya hukuman yang jauh lebih efektif daripada sekedar memenggal lehermu Nayan." bisik Cakra, suaranya parau dan dalam. "Dan percayalah, kau akan lebih suka mati daripada harus menerima hukuman itu berkali-kali dariku."

Riu langsung bersiul nakal, menutupi matanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya masih sibuk mengambil buah. "Aduh! Aku harus pindah tempat duduk! Hawanya tiba-tiba jadi lebih panas daripada matahari!"

Riu langsung melompat berdiri, wajahnya pura-pura panik sambil menutupi mata Ana yang masih asyik mengunyah buah dengan pipi kembung.

"Hey, hey! Sudah! Cukup!" seru Riu dengan nada protes yang dibuat-buat. "Paling tidak tunggulah sampai kita tiba di istana dan kalian punya ranjang yang layak! Apa kalian benar-benar mau melakukannya di sini, di atas tanah berdebu begini?"

Riu sedikit bergeser untuk memastikan Ana tidak melihat tatapan intens antara Cakra dan Nayan. "Pangeran... ingat, ada anak kecil di sini! Tolong jaga martabatmu sedikit sebagai sedra pangeran ."

Mendengar gerutu panik Riu, ketegangan panas di antara Cakra dan Nayan seketika pecah. Keduanya melepaskan cengkeraman masing-masing dan tertawa renyah secara bersamaan.

"Kau terlalu banyak berpikir Riu..." sahut Cakra sambil menggelengkan kepala, meski matanya masih menyisakan kilat jahil ke arah Nayan.

"Bilang saja kau iri karena hanya bisa memeluk pedangmu yang karatan itu." timpal Nayan yang langsung dihadiahi lemparan kulit buah oleh Riu.

***

Terompet perak ditiupkan dengan nada yang agung, membelah udara dingin Utara. Di depan gerbang raksasa, Pangeran Elias berdiri dengan tenang. Wajahnya tampak begitu tulus, sebuah topeng kesedihan yang dipahat dengan sangat sempurna sehingga tak ada yang akan menyangka bahwa tangan yang kini terkatup rapi itu adalah tangan yang sama yang telah merenggut nyawa ayahnya sendiri.

Elias melangkah maju saat Raja Indra turun dari kudanya. Ia membungkuk dalam, menunjukkan rasa hormat yang luar biasa.

"Sebuah kehormatan besar, Yang Mulia..." ucap Elias, suaranya terdengar bergetar seolah menahan emosi.

"Dari langit sana, ayahanda pasti sangat senang melihat kedatangan Anda. Beliau selalu membicarakan Anda sebagai saudara paling setia yang ia miliki."

Raja Indra, yang hatinya masih dipenuhi duka tulus, melangkah mendekat dan mengusap pelan bahu Elias. Ia tidak melihat kilat licik yang tersembunyi di balik mata pemuda itu.

"Pangeran Elias...aku sungguh minta maaf !" Raja Indra berkata dengan nada berat.

"Aku minta maaf karena baru bisa datang sekarang. Kehilangan ayahmu adalah luka yang dalam bagi kita semua."

Elias mendongak, matanya tampak sedikit berkaca-kaca sebuah akting yang luar biasa meyakinkan. "Jangan berkata begitu, Yang Mulia. Takdir memang kejam, tapi kehadiran Anda di sini membuktikan bahwa persahabatan sejati tidak akan mati meski orangnya telah tiada."

Elias memberikan isyarat tangan kepada para penjaga gerbang dengan anggun. "Mari Yang Mulia. Masuklah ke dalam. Utara memang dingin, tapi istana kami terbuka lebar untuk menyambut pahlawan besar seperti Anda. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan... termasuk masa depan kerajaan ini tanpa ayahanda."

Raja Indra mengangguk, merasa terenyuh dengan sikap bijaksana putra sahabatnya itu. "Terima kasih pangeran Elias. Kau adalah putra yang luar biasa. Ayahmu pasti bangga padamu."

Elias tersenyum tipis sebuah senyum yang bagi orang awam terlihat seperti rasa syukur, namun bagi yang tahu kebenarannya, itu adalah senyum kemenangan seorang pembunuh yang berhasil menipu dunia.

"Tentu saja, Yang Mulia.." bisik Elias dalam hati sambil mempersilakan Raja Indra masuk ke dalam jebakannya.

"Beliau akan sangat bangga melihat betapa rapinya aku membersihkan jalanku menuju takhta." Ucap Elias dalam hati .

Bersambung...

🐣🐣🐣🐣

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!