Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Busuk
"Anda yakin ingin melaporkannya pada ayahanda? Maksud saya, Yang Mulia Raja Valemira sendiri?" suara Otto datar.
Stella menaruh secangkir anggur di atas meja kayu dengan suara yang keras, bam. Pipinya yang biasanya pucat kini sedikit merona merah di bawah cahaya lilin yang berkedip-kedip, alis tipisnya berkerut mendalam membentuk jurang kecil di dahinya, dan matanya yang biru menatap tajam lekukan mata topeng kelinci itu. "Hah? Tentu saja! Mana mungkin aku diam saja dan membiarkan para tua bangka itu bertindak seenaknya! Ini sudah keterlaluan, sudah melampaui batas!"
"Begitu."
"Kenapa? Kau tidak setuju dengan rencanaku?" Stella mencondongkan wajahnya ke depan, mendekati Otto hingga hanya beberapa inci memisahkan mereka. Bau anggur murah yang manis dan asam tercium kuat dari napasnya yang hangat.
"Bukan begitu maksud saya, Tuan Putri." Otto menggeleng pelan, suaranya tetap tenang. "Saya hanya memikirkan... apa yang akan terjadi setelah Anda melapor. Reaksi mereka, konsekuensi jangka panjangnya. Bukan hanya untuk Lavernus, tapi untuk Anda secara pribadi, untuk hubungan antara kerajaan dan Gereja yang sudah rapuh ini."
Setelah secangkir gelasnya yang kosong diisi kembali hingga penuh oleh pelayan, gadis bermata biru itu menarik diri sedikit ke belakang kursinya lalu meminumnya lagi dalam satu tegukan panjang dan kasar, sambil melirik Otto dari balik tepi gelas yang buram. "Hmm..." Ia meletakkan gelas dengan bunyi thuk yang tumpul, suaranya merendah, lebih dalam, lebih berat. "Kau habis dihasut habis-habisan ya di ruangan belakang tadi? Oleh mereka?"
"Tidak. Kenapa Anda bertanya seperti itu?"
"Yah, sekarang aku jadi penasaran... apa sebenarnya yang mereka katakan padamu di balik pintu tertutup itu." Stella melirik keadaan sekitar dengan waspada, memastikan tak ada telinga yang menguping terlalu dekat di meja sebelah. Suaranya turun menjadi bisikan yang serak oleh alkohol dan kemarahan yang tertahan. "Si dua belas brengsek licik, pengecut, dan munafik itu."
Otto menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya tiba-tiba kering. "Ah, perkataan Yang Mulia terlalu blak-blakan. Saya bisa kena imbasnya juga jika ada yang dengar."
Mendengar itu, gadis itu malah tertawa terbahak-bahak, suaranya nyaring memotong keriuhan kedai. Tangannya yang ramping memukul permukaan meja kayu yang penuh cincin bekas gelas dan noda anggur, membuat gelas-gelas lain di sekitarnya bergetar dan berdenting.
Wajahnya semakin memerah di bawah cahaya lilin, dan matanya yang biru mulai berkaca-kaca oleh tawa dan alkohol. "Astaga, Steve... Kau panik ya? Padahal yang berhadapan langsung dan berdebat dengan mereka tadi aku, bukan kau! Kau hanya diam di belakangku!"
"Siapa yang tidak panik dalam situasi seperti ini, Tuan Putri? Usiaku masih terlalu muda untuk dipenjara atau dihukum mati karena tuduhan menghasut putri kerajaan melawan para petinggi Gereja."
"Hahaha, kau punya selera humor yang bagus, Steve! Aku suka itu!" Stella tertawa lagi, lebih keras, lalu tiba-tiba ekspresinya berubah drastis dalam sekejap, menjadi melankolis dan jauh. Matanya menerawang ke suatu tempat yang tak terlihat. "Ngomong-ngomong... sekarang sudah puncak musim salju ya. Tiba-tiba saja, tanpa terasa."
"Ya," Otto mengangguk pelan, matanya melirik ke jendela kedai yang berkabut oleh uap dari dalam dan dingin dari luar, di mana butiran salju putih pertama mulai menari-nari liar di kegelapan, menempel di kaca lalu meleleh perlahan.
"Hmm... Cukup dingin ya di luar."
Suasana di antara mereka menjadi hening tiba-tiba, hanya diisi oleh gemuruh percakapan pelanggan lain dan bunyi gelas berdenting. Otto hanya diam, tidak tahu harus mengisi keheningan yang canggung ini dengan apa. Sedangkan Stella, ia menggerakkan jari telunjuknya yang lentik dengan lambat di sepanjang tepi cangkir anggurnya yang basah, mengikuti bentuk lingkaran gelas, seolah-olah. Dagunya menempel di meja kayu yang lengket dan berbau anggur, matanya kini terlihat setengah tertutup, berat oleh kelelahan yang mendalam dan efek alkohol yang mulai bekerja penuh.
"Bukankah lebih baik Yang Mulia kembali ke kerajaan sekarang" tawar Otto. "Anda terlihat sangat lelah."
"Hm? Entahlah. Aku... ngantuk sekali rasanya."
"Tunggu, Tuan Putri, Anda tidak boleh tertidur di sini." Otto mencoba membangunkannya dengan menyentuh lengan bajunya yang halus dan mahal, sedikit menggoyangkannya.
Tapi kecapaian yang menumpuk dan efek wine yang memabukkan akhirnya menaklukkan Stella sepenuhnya. Kepala gadis berambut pirang itu tersungkur berat ke lengan yang ia lipat di atas meja, helaian rambutnya terurai kusut di atas permukaan kayu yang lengket dan penuh noda anggur.
Di hadapannya, gelas anggur kosong berdiri tegak bagai monumen kecil atas kekalahannya di hari itu, sisa-sisa tetes terakhir anggur merah melesak perlahan ke dalam serat kayu yang menyerapnya.
"Tuan Putri?"
Sial... Tidur beneran dia.
Otto bangkit dari kursinya yang berderit dengan suara kreek panjang, lalu mengamati sekeliling dengan waspada, matanya yang biru di balik topeng bergerak cepat memindai setiap sudut.
Mereka sedang berada di Kedai Kuda Hitam yang sama, tetapi suasana telah berubah drastis sejak siang tadi. Ruangan yang tadi siang hening, berdebu, dan porak-poranda setelah pertarungan kini telah padat oleh tubuh-tubuh lelaki besar, hiruk-pikuk percakapan kasar, dan udara yang menggumpal panas oleh napas, asap tembakau, dan keringat yang membanjiri ruangan.
Gemuruh suara para lelaki—tukang roti dengan lengan berotot dan wajah tertutup tepung, penggali parit dengan kuku hitam dan pakaian berlumpur, kusir kereta yang masih berbau keringat kuda dan tanah beku—membentuk dinding suara yang konstan, tak kenal ampun, dan memekakkan telinga.
Asap pipa tembakau yang murahan menggenang di bawah balok langit-langit kayu yang rendah seperti kabut racun yang mengambang, dan lilin-lilin minyak ikan di dinding berkedip-kedip redup, menyaksikan keriangan yang semakin menderu seiring malam yang semakin dalam.
"Hei, nak!" sebuah suara serak dan berat memanggil dari meja sebelah, memotong lamunan Otto.
Otto menoleh cepat. Seorang pria tua yang gembrot, dengan perut buncit melingkar melebihi ikat pinggangnya, kumis tebal yang kusut dan basah oleh bir serta kuah, sedang melambai-lambaikan tangannya yang besar dan kotor. Matanya terlihat berat, setengah tertutup oleh kelopak yang kendur.
"Ya, Pak? Ada perlu apa?"
"Siapa namamu? Topengmu... menarik sekali, lain dari yang lain," ucap pria itu, sambil menyeruup dari cangkir timahnya yang besar. Suaranya berat dan serak.
"Oh, terima kasih pujiannya. Namaku St—"
"Loh?" Pria itu memotong dengan kasar, matanya yang sayu tiba-tiba melebar dan menatap tubuh Stella yang tertidur pulas dengan kepala di atas meja. "Bukankah itu... Putri Stella?"
"Iya, benar. Ada masalah, Pak?"
"Wah, ada urusan apa kau dengannya sampai bisa sedekat ini? Kau... pelayan barunya, ya?" Prianya mengamati pakaian Otto yang sederhana, bahkan cenderung lusuh, dengan tatapan merendahkan.
"Hanya obrolan kecil biasa, Pak. Dia butuh pendengar, saya kebetulan ada."
"Obrolan kecil ya..." Pria itu mengamati Stella yang tak sadarkan diri dengan senyuman licik yang mulai merekah perlahan di bibirnya yang tebal dan pecah-pecah. "Apa dia mabuk berat, nak?"
"Ya," jawab Otto singkat.
"Begitu." Pria tua itu mengangguk pelan beberapa kali, berpura-pura berpikir, lalu wajahnya berubah drastis menjadi ekspresi 'pria baik'. "Lalu, apakah dia sudah membayar minumannya? Atau... jangan-jangan kau yang harus menanggung semua tagihannya sendirian?"
"Huh? Belum, Pak. Dan saya sendiri juga bingung bagaimana cara mengatasinya sekarang. Uang saya jelas tidak cukup untuk minuman bangsawan."
"Astaga, kasihan sekali kau ini, nak. Tertimpa masalah begini." Pria gembrot itu tiba-tiba bangkit dari kursinya yang berat dan berjalan mendekat, lalu merangkul bahu Otto. Bau alkohol busuk dan keringat yang tak pernah dicuci menyerang hidung Otto dengan keras, membuatnya hampir mual. "Tenang saja, nak. Kau bisa pergi sekarang juga. Pulanglah dan istirahat. Biar aku yang mengurusi dia, mengantarnya pulang dengan selamat." Suaranya merendah, hampir seperti bisikan.
"Pergi? Mana mungkin saya pergi begitu saja, Pak. Bagaimana dengan keselamatannya?"
"Tenang, jangan khawatir, aku akan mengurusnya sebaik mungkin, seperti anak sendiri. Aku bahkan akan membayar semua minumannya, lunas. Anggap saja... ini perbuatan baikku malam ini, sedekah."
"Benarkah, Pak? Sungguh?"
"Ya! Sudah, pergilah cepat. Jangan buang-buang waktumu di sini, makin larut makin dingin di luar." Akhirnya pria itu melepaskan rangkulannya yang mencekik, memberi tepukan keras di punggung Otto yang seolah mendorongnya untuk segera pergi.
"Aku... aku sangat menghargai kebaikan Bapak, sungguh. Tolong sampaikan salamku padanya, katakan Steve titip salam, saat dia bangun nanti."
"Tentu, tentu. Aku akan sampaikan. Sekarang pergilah."
Setelah Otto berbalik dan berjalan pelan menuju pintu masuk—yang kini hanya berupa lubang besar menganga yang ditutupi terpal kasar dan tebal karena kerusakan tadi pagi—pria gembrot itu langsung melesat dan duduk di kursi Otto yang masih hangat. Matanya berbinar-binar penuh kemenangan.
"Beruntungnya aku malam ini," gumamnya puas. Tangannya yang besar, kotor, dan berkuku hitam naik perlahan, merapikan sehelai rambut pirang Stella yang terjatuh menutupi pipinya yang merona. "Jangan khawatir, sayangku," bisiknya. "Aku akan merawatmu dengan sangat baik nanti. Sampai di rumahku yang hangat."
Otto yang sedang melangkah keluar ke dalam dinginnya malam yang membekukan tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu.
Angin salju yang menusuk tulang menyapu wajahnya yang terlindung topeng, tapi yang membuatnya membeku di tempat adalah pikiran yang tiba-tiba menyerbu otaknya: Tunggu... Apa yang kulakukan? Apa aku baru saja hendak meninggalkan seorang gadis yang mabuk dan tak sadarkan diri sendirian?
Dada Otto berdegup kencang, memompa adrenalin. Mata birunya di balik topeng membelalak lebar, menatap kegelapan malam yang putih oleh salju sejenak sebelum ia berbalik dengan gerakan cepat dan tegas.
Bodohnya aku. Bodoh sekali.
Dengan langkah mantap penuh tekad, ia kembali masuk ke dalam keriuhan dan kepanasan kedai yang pengap. Matanya yang tajam segera mencari. Di sana, ia melihat pria gembrot tadi sudah berdiri di samping Stella, sedang mencoba membangkitkan gadis itu dari kursinya dengan menggoyang-goyang bahunya dengan kasar dan tidak sabar. "Ayo, sayang, bangun. Saatnya kita pulang..."
"Ehem..." Otto berdiri tepat di belakangnya.
Mendengar suara tak terduga itu, bahu pria gembrot itu segera terangkat kaku refleks. Matanya yang tadi berbinar penuh nafsu membelalak penuh keterkejutan dan ketakutan, dan mulutnya yang terbuka masih menahan senyuman yang kini membeku di wajahnya. Ia berbalik perlahan, sangat perlahan. "K-kau... Kenapa kau balik lagi, nak? Bukankah sudah kukatakan dengan jelas—"
"Aku baru ingat sesuatu yang penting," potong Otto, suaranya tenang. "Soal bayaran pesanan Tuan Putri. Saya lupa menyebutkan jumlah pastinya. Dan saya ingin memastikan, melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa Anda benar-benar mampu membayarnya."
"B-bukankah sudah kubilang kalau aku yang akan membayarnya dengan senang hati?!" suara pria itu meninggi. Beberapa kepala di meja sebelah mulai menoleh ke arah mereka, penasaran.
"Iya, Anda bilang begitu. Tapi saya mulai ragu," Otto melangkah lebih dekat, sangat dekat, sedikit membungkuk agar tatapan matanya yang dingin sejajar dengan wajah pria itu. "Karena harganya... lumayan tinggi, tidak seperti yang Anda kira."
"Huh? Berapa sih? Paling-paling cuma dua atau tiga Ravenn receh itu, kan?" ejek pria itu, berusaha keras terdengar santai dan tak peduli, meski keringat dingin sudah mulai merayap di pelipisnya.
Otto menggeleng pelan, dengan sengaja memperlambat gerakannya. "Lima Aureus, Pak. Lima koin emas."
Seketika, warna wajah pria tua itu memudar drastis, dari merah padam menjadi putih pucat pasi. Mulutnya terbuka lebar, bergerak-gerak tak mampu mengeluarkan suara. "Li-li-lima aureus?" ia akhirnya berhasil membisikkan, suaranya nyaris tak terdengar, pecah oleh keterkejutan. "Apa... apa saja yang dia pesan sampai segitu?!"
"Yah, begitulah, Pak. Namanya juga bangsawan kerajaan." ucap Otto. "Selera dan gaya hidup mereka memang tinggi, di luar nalar orang biasa. Ada apa, Pak?" Ia mencondongkan kepala sedikit ke samping, topengnya yang retak menangkap cahaya lilin. "Anda kan sudah berjanji akan membayar semuanya. Kalau begitu, tunjukkan sekarang."
Pria itu tidak bisa berkata-kata lagi, hanya terdiam membatu. Dadanya yang gembrot naik turun dengan cepat, dan butiran keringat dingin yang besar mulai merayap deras di pelipisnya yang merah dan botak. Matanya yang panik melirik ke arah Stella yang masih tertidur, lalu ke pintu keluar, lalu ke sakunya yang jelas-jelas kosong dan tak mungkin berisi lima koin emas.
"Pak?" Otto mendesak dengan suara yang sekarang lebih rendah. "Ah, jadi ternyata Anda tidak bisa membayarnya, ya?" Ia berhenti sejenak. "Atau... jangan-jangan dari awal Anda sama sekali tidak berniat sedekah? Anda hanya mengincar dia, tubuhnya, dan berharap bisa pergi begitu saja tanpa konsekuensi?" Otto menghela napas yang panjang, menggelengkan kepala. "Astaga, Pak. Itu langkah yang sangat bodoh. Berencana menodai seorang putri mahkota kerajaan? Hukuman untuk kejahatan itu bukan main-main, Pak. Mereka punya algojo khusus untuk kasus seperti ini."
Tepat setelah kata-kata terakhir itu terucap dengan dingin, pria gembrot itu melirik Stella sekali lagi—kali ini dengan tatapan panik murni, penuh ketakutan luar biasa—lalu tiba-tiba, tanpa peringatan, ia mendorong tubuh Otto dengan sekuat tenaga, membuatnya terhuyung beberapa langkah, dan berlari sekencang-kencangnya menuju pintu keluar.
Ia menabrak beberapa pelanggan lain yang berseru marah dan kaget, menjatuhkan meja dan gelas, sebelum akhirnya tubuhnya yang gembrot menghilang ditelan kegelapan malam dan badai salju di luar.
Otto hanya berdiri di tempat, mengamati punggung pria itu yang lenyap, lalu menghela napas lega yang tak terdengar.
...****************...
Hari sudah semakin larut. Di luar, badai salju kecil yang turun sejak sore telah berubah menjadi hantaman penuh dan dahsyat. Salju putih menghajar bumi dengan padat dan keras, mengubur semua jejak kaki dan menelan suara apa pun selain desisan angin yang menderu panjang dan melengking di antara bangunan-bangunan.
Di tengah-tengah hantu-hantu putih yang menari liar dan membutakan itu, dua sosok melekat menjadi satu siluet yang bergerak pelan dan berat, berjuang mati-matian melawan amukan angin.
Otto, dengan jubah tebalnya yang sudah hampir membeku dan basah kuyup oleh salju yang terus-menerus meleleh karena panas tubuh, terus merangkul erat Stella ke dadanya yang lapang.
Ia membungkus tubuh gadis itu yang menggigil hebat tak terkendali dengan sisa-sisa kehangatan yang masih bisa ia berikan, sambil terus berjalan tertatih-tatih di atas salju yang sudah setinggi mata kaki.
Melalui tirai salju yang tak henti-hentinya, bentuk-bentuk megah menara dan dinding tinggi kompleks Istana Valemira akhirnya mulai samar-samar terpampang di depan mata.
"Maaf sudah merepotkanmu seperti ini, Steve," ucap Stella tiba-tiba, suaranya lemah dan serak, hampir tertiup angin. Matanya terbuka setengah. "Seharusnya... aku tidak meminum terlalu banyak. Bodoh sekali, sangat bodoh."
Sial, ujung-ujungnya aku juga yang harus mengantarnya pulang sampai ke rumah, pikir Otto dalam hati, tapi yang keluar dari mulutnya dengan lembut adalah: "Tidak masalah sama sekali, Tuan Putri. Hampir sampai, sebentar lagi."
"Terima kasih, sungguh." Stella memejamkan matanya lagi, menahan sakit kepala yang berdenyut hebat di pelipisnya. "Ngomong-ngomong... bukankah aku belum membayar minumanku tadi? Berapa totalnya?"
"Pemilik kedai itu bilang tidak usah bayar. Dia benar-benar bersyukur karena kita mau membantunya merapikan tempat itu dengan sukarela tadi siang. Anggap saja itu sebagai bayarannya, katanya."
"Ah... pemilik yang baik hati, ya..."
Yah, lagipula harga pesananmu tidak terlalu mahal, pikir Otto sambil menyeret langkahnya yang berat di atas salju yang semakin dalam dan licin. Cuma lima Ravenn.
Dengan satu tarikan napas terakhir, Otto akhirnya sampai di gerbang pelayanan sisi timur kompleks istana. Para penjaga malam yang mengenali Stella segera bergegas membantu dengan wajah penuh keheranan dan kekhawatiran yang mendalam.
Otto menyerahkan tubuh Stella yang lemas dan menggigil itu dengan hati-hati ke pelukan para penjaga, memastikan dia aman dan tak terjatuh, lalu melangkah mundur perlahan ke dalam bayangan gerbang yang gelap.
"Kau tidak ikut masuk, Tuan?" tanya salah satu penjaga dengan nada heran, sambil menopang Stella.
Otto menggeleng pelan. "Saya punya urusan lain. Tolong jaga dia baik-baik."
Sebelum penjaga itu sempat bertanya lebih lanjut atau memprotes, Otto sudah berbalik dan melangkah tegap, menghilang kembali ke dalam tabir salju yang putih dan sunyi, meninggalkan hanya jejak kaki yang cepat tertutup dan ditelan oleh badai serta kegelapan malam yang pekat.