NovelToon NovelToon
Bukan Simpanan Biasa

Bukan Simpanan Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Putri asli/palsu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembalasan

"Dika, aku ingin dalam waktu tiga hari, nama baik Starla sudah harus dibersihkan!"

"Tapi, Tuan... bukannya sebelumnya Anda menolak untuk membantu Nona Starla?" tanya Dika.

Tampang Nino terlihat kesal. Dia menatap sang asisten dengan alis berkerut tak suka.

"Lakukan saja apa yang aku perintahkan, Dika! Jangan banyak tanya!" bentak Nino.

Dika sedikit terperanjat. Namun, diam-diam asisten pribadi Nino itu malah tersenyum lebar.

Akhirnya, sang atasan memilih jalur yang benar.

"Baik. Saya akan segera melakukan perintah Anda."

"Jangan lupa! Pastikan semua orang yang sudah memfitnah Starla, mendapatkan pelajaran yang setimpal. Aku ingin mereka semua menderita."

"Bagaimana dengan Tuan Arlo dan Nona Kanaya?" tanya Dika penasaran.

Kaki tangan sudah pasti akan diurus oleh Dika. Tapi, bagaimana dengan dalangnya?

Nino pun diam sejenak. Dia sedang menimbang keputusan yang akan dia ambil.

"Sebelum mengambil tindakan terhadap mereka, aku harus menyelidiki sesuatu terlebih dulu," jawab Nino. "Cari tahu, apakah Arlo benar-benar memberikan semua warisannya kepada Kanaya atau tidak. Kalau memang iya, maka menghancurkannya akan jadi lebih mudah."

"Saya mengerti."

Nino mengangguk. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil menengadah menatap ke langit-langit ruangan.

Wajah marah Starla tak mau menghilang dari otaknya. Dan, entah kenapa, hal itu membuat Nino merasa jadi takut.

Dia takut, Starla tak akan pernah melihat ke arahnya lagi. Lebih parah, Starla bisa saja memilih pria lain.

"Andai kamu tahu, kalau aku melakukan semua ini demi mendapatkan kamu, Starla..." lirih Nino sambil menghela napas berat.

Tepat tiga hari kemudian, orang-orang yang memfitnah Starla akhirnya tertangkap semua. Dika menyeret mereka ke sebuah gedung terbengkalai yang sudah lama tidak dijamah manusia.

Disana, mereka dipukuli hingga babak belur lalu dipaksa memakan makanan yang sudah dicampurkan dengan cicak mati.

"Ayo, makan! Bukankah, kalian suka sekali mencampurkan cicak mati ke dalam makanan?" ujar Dika dengan nada suara yang menakutkan.

"Hanya dia yang memfitnah Nona Starla dengan memasukkan cicak ke dalam makanannya. Bukan kami," ujar pria bertubuh pendek yang menuduh Starla pernah merayunya sambil menunjuk ke arah pria berbadan tinggi kurus disampingnya.

"Ya, itu benar," imbuh sang istri membenarkan.

"Kalau kalian tidak mau makan, maka terpaksa, satu jari kalian harus aku potong," kata Dika dengan ekspresi tak main-main.

"Baik, kami makan. Kami makan," sambar pria tinggi kurus itu dengan cepat.

Selang beberapa saat, Nino tiba bersama dua orang bodyguard yang mendampingi. Suasana di tempat itu seketika kian mencekam. Hawa dingin perlahan menyergap.

"Tuan... Selamat datang!" sambut Dika ketika Nino tiba di tempat tersebut.

Seorang pria berbadan kekar langsung memberikan kursi untuk Nino. Ia mempersilakan sang atasan untuk duduk dengan sedikit membungkukkan badan.

Nino mengangguk. Dia duduk dengan satu kaki yang diletakkan diatas kaki yang satunya. Tatapan tajamnya seolah hendak membunuh sekumpulan orang-orang yang diikat ditengah-tengah ruangan. Asap putih yang mengepul dari mulutnya, menyebarkan aroma nikotin yang pekat di udara.

"Bagaimana? Apa mereka semua sudah mengaku?" tanya Nino dengan nada rendah, sarat akan ancaman.

"Sudah," jawab Dika. "Mereka semua memang orang-orang suruhan Tuan Arlo dan Nona Kanaya," jawab Dika.

Nino menyeringai sinis. Dia membuang rokoknya ke lantai sebelum memberi perintah dengan nada dingin.

"Hajar lagi!"

Degh!

Empat orang dengan keadaan terikat itu langsung bereaksi ketakutan.

"Tidak. Jangan pukul lagi! Tolong ampuni kami, Tuan!" ucap perempuan yang pernah menuduh Starla merayu suaminya. Dia menangis tersedu-sedu. Tubuhnya sudah memar dimana-mana. Penyiksaan yang Nino berikan, benar-benar tidak pandang bulu.

Satu kakinya sudah membengkak. Sepertinya, pergelangan kakinya mengalami masalah akibat dipukul dengan tongkat besi.

"Kau yang melempar kepala Starla dengan batu, kan?" tanya Nino sambil menunjuk perempuan itu.

Perempuan tersebut langsung tertunduk ketakutan. Ekspresi pria tampan itu sangat menakutkan untuk dilihat.

"Sa-saya minta maaf. Saya hanya menuruti perintah saja. Nona Kanaya yang meminta saya untuk menyakiti Nona Starla."

Hah!

Lagi-lagi Kanaya. Tangan Nino terasa sangat gatal untuk meremukkan batang leher perempuan itu.

Gara-gara Kanaya, dia hampir kehilangan Starla.

"Hajar!" titah Nino kepada para anak buahnya.

Enam orang pria berbadan kekar mulai maju dan kembali memukuli empat orang itu dengan tongkat besi. Suara jerit kesakitan terdengar sangat nyaring bersahut-sahutan.

"Ampun... ampuni kami," pinta seorang pemuda sambil menangis tersedu-sedu.

Anak buah Nino terlalu pintar. Mereka tidak memukul wajah dan hanya memukul dari dada hingga kaki.

"Bawa dia kemari!" pinta Nino kepada anak buahnya.

Seseorang langsung menarik pemuda itu dan mendorongnya ke hadapan Nino. Dia jatuh tersungkur tepat di dekat kaki pria tampan itu.

"Kau... si gelandangan yang tidak tahu diri itu, kan?" tanya Nino.

Pemuda itu reflek mendongak. Cukup terkejut, karena Nino tahu latar belakangnya.

"Ah, kesayanganku masih tetap sama. Dia masih terlalu baik pada semua orang. Dia pasti merasa kasihan padamu makanya dia memungut mu dan memberimu tempat tinggal serta pekerjaan. Iya, kan?"

Telapak tangan pemuda itu perlahan mengepal. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh Nino.

"Ma-maaf," ucapnya dengan air mata yang mulai menetes.

Bugh!

Nino tiba-tiba menendangnya dengan keras. "Jangan minta maaf kepadaku!" hardiknya. "Kau tahu? Orang yang seharusnya kau tempati meminta maaf, hampir saja mati bunuh diri karena perbuatan mu."

Nino berdiri. Setengah membungkuk, dia menarik kerah baju pemuda itu.

"Dia sangat mempercayai mu. Tapi, kenapa kamu malah mengkhianatinya, hah?" tanya Nino marah.

"Nona Starla hampir bunuh diri? Benarkah?" tanya pemuda itu dengan perasaan bersalah.

"Ya," angguk Nino. "Dan, andai nyawanya benar-benar melayang, maka nyawa kalian semua juga akan aku pastikan ikut-ikutan melayang."

Orang-orang itu terperanjat kaget. Seluruh tubuh mereka merinding ketakutan.

Siapa yang menyangka, gadis muda yang katanya tidak punya bekingan siapa-siapa itu, malah memiliki orang seperti Nino dibelakangnya?

Pria ini tak hanya kejam. Dia juga orang yang nekat.

"Bagaimana keadaan Nona Starla sekarang? Apa dia baik-baik saja?" tanya pemuda yang bernama Boris itu.

Dua hari pertama, dia memang sangat bersenang-senang dengan uang yang diberikan oleh Arlo. Namun, setelah dua hari itu berlalu, dia menyadari bahwa dirinya sudah melakukan kesalahan.

Setelah dipikir-pikir lagi, dia sudah mengambil jalan yang salah. Uang itu tidak sebanding dengan perhatian yang diberikan Starla selama ini terhadap dirinya.

Sang atasan tak hanya menganggap dia sebagai bawahan. Starla memperlakukan dirinya layaknya keluarga.

"Kau tidak berhak bertanya soal Starla," desis Nino.

Bugh!

Dia memukul perut Boris berkali-kali hingga pemuda itu memuntahkan darah dari mulutnya.

"Ampun," lirih Boris yang nyaris sekarat.

Nino tersenyum puas. Dia senang melihat penderitaan orang-orang itu.

"Rekam pengakuan mereka dan sebarkan ke seluruh platform sosial media! Dan, jika ada yang menolak bekerja sama, habisi saja!" titah Nino dengan tatapan liar, seolah sangat siap untuk melenyapkan siapapun yang berani menyinggungnya.

1
Yulia Dhanty
bagus n menarik
mery harwati
Bagus Starla 👍
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
mery harwati
Nino sama tolol & bodohnya dengan Arlo bila cara berpikirnya Starla akan datang & minta pertolongan sama dia, padahal Starla jelas² sudah bilang tak mau barang bekas Kanaya (termasuk Nino)
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪
Wiwit Manies
mana ini lanjutan nya /Pooh-pooh/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!