NovelToon NovelToon
Mengubah Takdirku Sendiri

Mengubah Takdirku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Time Travel / Balas dendam pengganti / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita_001

--Lebih baik menyinggung Raja Neraka, daripada menyinggung Feng Yaorao--

Dunia mengenal Feng Yaorao, putri sulung keluarga Feng, sebagai gadis yang pemalu, lemah dan tidak berpendidikan. Mereka menganggapnya sampah tak berguna yang bisa ditindas sesuka hati. Namun, mereka tidak tahu bahwa setelah sebuah kemalangan merenggut nyawanya, jiwa gadis lemah itu telah digantikan oleh seorang Top Assassin berdarah dingin dari Abad ke -24.

Licik, kejam, dan pendendam. Feng Yaorao yang baru tidak akan membiarkan siapapun yang menyakitinya lolos begitu saja. Siapapun yang berhutang padanya, harus membayar dengan darah. Siapapun yang menghalanginya, akan berakhir di kuburan massal.

Mengandalkan insting membunuh yang tajam serta Ular Darah-- makhluk spiritual mistis di dalam tubuhnya yang bisa bertransformasi menjadi cambuk mematikan, dia siap membalikkan dunia kuno ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 - Membalikkan Keadaan

Sementara itu, Feng Yaorao yang menyaksikan drama komedi mereka hanya bisa termenung dan mengeluh dalam hati, “Bagaimana bisa ada sekelompok bandit sebodoh mereka di dunia ini? Mereka ingin merampok, tapi bahkan tidak hafal kalimat gertakan standar.” Sungguh menggelikan. 

Bahkan Ular Darah dalam kesadarannya dan Xiao Bai yang masih siaga di depan kuda, tampaknya sudah malas menanggapi kebodohan mereka. 

Namun, hiburan gratis dari pada bandit amatir ini membangkitkan minat Feng Yaorao untuk bermain-main dengan mereka. 

Dia menarik sudut bibirnya, mengulas senyuman manis yang memikat. “Wah, kau pasti pemimpin dari kelompok hebat ini, bukan? Kau terlihat gagah dan berwibawa, dengan aura kepemimpinan yang sangat luar biasa. Hanya dengan sekali lihat saja, aku yakin kau ditakdirkan untuk menjadi orang hebat di masa depan.”

Melihat senyuman menawan Feng Yaorao yang seindah bunga mekar, pikiran pemimpin bandit itu langsung melayang ke awan. Di tambah lagi dengan pujian setinggi langit darinya, dia merasa kepalanya mendadak terasa pening karena terlalu senang. 

Dada pemimpin bandit itu membusung bangga saat dia berkata, “Tentu saja! Hahaha! Kau pasti terpesona padaku kan, Nona Muda? Kau benar-benar cantik sekali, rasanya aku ingin membawamu pulang ke rumah untuk kujadikan istri dan kurawat dengan baik. Tapi sayang sekali… ah, aku sudah punya harimau betina galak di rumah. Jika aku membawa wanita lain, harimau betina itu pasti akan menguliti tubuhku hidup-hidup saat aku tidur.”

Feng Yaorao langsung kehilangan kata-kata. Hei, siapa juga yang terpesona padamu?! Selain bodoh, ternyata tingkat kenarsisan pemimpin bandit ini sudah berada di tingkat stadium akhir, tidak bisa diselamatkan lagi! 

Sebelum Feng Yaorao sempat mengungkapkan kekesalannya, pemimpin bandit itu kembali berbicara dengan raut wajah penuh penyesalan dan rasa bersalah. “Karena aku tidak bisa menikahimu dan sudah melukai perasaanmu yang tulus, baiklah… kau boleh pergi! Aku memutuskan untuk tidak merampokmu hari ini.”

Feng Yaorao rasanya ingin muntah. Kalimat narsistik dari pemimpin bandit itu benar-benar membuat perutnya mual. Namun disisi lain, dia terkejut karena bandit ini ternyata memiliki sisi baik hati yang konyol dengan membiarkannya pergi begitu saja. 

Tapi, bagaimana mungkin seorang Top Assassin akan pergi begitu saja setelah dikasihani oleh bandit amatir? Berhubung dia sedang tidak terburu-buru, kenapa tidak sekalian membalikkan keadaan? 

Feng Yaorao memasang ekspresi cemas yang dibuat-buat, berpura-pura ingin bernegosiasi. “Ah, tapi bagaimana ini? Aku kebetulan tidak membawa uang sama sekali. Bagaimana kalau begini saja… sebagai gantinya, bagaimana kalau aku yang merampok kalian?” 

“Oh, boleh, boleh! Kebetulan aku punya beberapa koin tembaga di kantongku, ambil saja semuanya!”

Tanpa diduga, pemimpin bandit yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat sanjungan dan senyuman Feng Yaorao, langsung melepas kantong uang dari ikat pinggangnya, mengambil segenggam koin tembaga dan melangkah maju untuk menyerahkannya kepada Feng Yaorao.

Bawahan yang sebelumnya mengoreksi kalimat gertakan bosnya, sudah tidak bisa menahan diri lagi melihat tingkah bosnya. Wanita cantik ini jelas-jelas mempermainkan bosnya yang berotak udang, dan bosnya malah dengan senang hati menurutinya! 

Sebelum bosnya mendekati kuda Feng Yaorao, bawahan itu buru-buru melompat menghadang di depan bosnya. “Bos! Sadar, Bos! Wanita ini jelas-jelas sedang mempermainkanmu! Bagaimana bisa kau malah mau memberikan uang kita kepadanya? Jika kau pulang tanpa hasil dan malah kehilangan uang tabungan, Kakak Ipar benar-benar akan mengulitimu hidup-hidup!” 

Mendengar kata ‘Kakak Ipar' dan ancaman ‘mengulitimu hidup-hidup’, pemimpin bandit itu seketika langsung tersadar. Dia tersentak, menyadari bahwa dirinya baru saja dipermainkan dengan mudahnya. Wajahnya langsung memerah karena malu dan marah. Dia menatap Feng Yaorao dengan tatapan melotot galak, mencoba bersikap sekejam mungkin. 

“Gadis sialan! Aku sudah berbaik hati ingin melepaskanmu, tapi kau malah berani mempermainkanku seperti ini, hah?! Jangan kira kelompok kami tidak berani memukul wanita!”

Feng Yaorao mendengus acuh, tatapannya berubah sedingin es dalam sekejap. “Ancaman itu baru berlaku jika kalian memang memiliki kemampuan untuk mengalahkanku. Tapi, karena kalian sudah menghiburku hari ini, aku akan memberi kalian satu pengecualian. Enyahlah dari hadapanku sekarang juga, atau jangan salahkan aku jika aku bersikap kasar pada kalian.”

Nada bicara Feng Yaorao tidak sekejam saat dia menghadap sekelompok pembunuh dari Istana Hantu sebelumnya. Dia merasa bahwa mengotori tangannya untuk membunuh sekelompok bandit berotak tumpul seperti mereka hanya akan menurunkan kelasnya sebagai seorang pembunuh bayaran profesional. 

Mendengar gertakan balik itu, pemimpin bandit merasa harga dirinya sebagai penguasa wilayah benar-benar diinjak-injak. Dia berteriak marah, “Sungguh bualan yang lucu! Aku sudah menjadi Raja di hutan ini selama bertahun-tahun dan tidak pernah takut pada siapapun! Jika kau menyuruhku pergi dan aku langsung lari begitu saja, dimana aku harus menaruh wajahku?!” 

“Jadi, kau lebih memilih kehilangan nyawa demi menjaga harga dirimu yang tidak seberapa itu?” Feng Yaorao memutar matanya dengan malas, rasa bosan dan kesabarannya kini mulai menipis. Jika para bandit bodoh ini masih bersikeras mencari mati, dia tidak akan ragu untuk mengeluarkan Cambuk Ular Darahnya lagi. 

Pemimpin bandit itu terkejut mendengar gertakan balasan Feng Yaorao. Dia melongo, mengatupkan bibirnya berulang kali dan tergagap dalam waktu yang lama tanpa bisa mengatakan sepatah katapun. 

Melihat situasi yang mendadak canggung, bawahan lain di sampingnya menyenggol lengan bosnya dan berbisik memprovokasi, “Bos, mengapa membuang-buang waktu dengannya? Jumlah kita begitu banyak, apa pantas kita takut pada seorang gadis kecil sendirian?” 

Pemimpin bandit itu berpikir sejenak dan merasa ucapan bawahannya itu ada benarnya. Dia kembali menegakkan punggungnya, menatap Feng Yaorao dengan pandangan yang dipaksakan garang. “Cukup omong kosongnya! Serahkan semua uangmu sekarang juga, atau jangan salahkan kami jika kami terpaksa bertindak kasar.” 

“Oh, bertindak kasar? Aku justru ingin melihat bagaimana bandit seperti kalian bertindak kasar padaku,” Feng Yaorao mencibir. “Karena kalian menolak niat baikku, baiklah, aku akan mengabulkan keinginan kalian untuk merasakan penderitaan.”

Begitu ucapannya selesai, seberkas cahaya merah darah yang pekat melesat dari balik lengan baju Feng Yaorao, mengeras menjadi seutas cambuk panjang berwarna serupa. Sebelum para bandit menyadari apa yang terjadi, Feng Yaorao sudah mengayunkan pergelangan tangannya. 

Cetass! Cetass! Cetass! 

Suara cambukan yang keras dan nyaring membelah udara, disusul oleh serangkaian jeritan melengking yang memilukan. 

Ketika kepulan debu mereda, para bandit yang tersisa serentak melotot ngeri. Beberapa rekan mereka sudah terkapar di tanah, berguling-guling sembari mengerang kesakitan akibat luka cambukan yang terasa membakar kulit. 

Perubahan situasi ini membuat nyali para bandit lainnya menciut drastis. Apa yang baru saja terjadi? Mereka bahkan tidak melihat gerakan wanita itu dan tiba-tiba rekan mereka sudah berjatuhan. 

Saat mereka melihat cambuk di tangan Feng Yaorao yang memancarkan aura haus darah, barulah mereka sadar bahwa mereka telah salah memilih lawan. Mata mereka seketika di penuhi oleh rasa takut yang luar biasa, seolah melihat Raja Neraka datang menjemput mereka.

Buk! Buk! Buk!... 

Satu demi satu suara lutut yang menghantam tanah terdengar bergantian. Belasan bandit itu serentak berlutut, bersujud ke arah Feng Yaorao yang masih duduk anggun di atas punggung kudanya. Para bandit yang beberapa menit yang lalu berniat merampok orang, kini justru berakhir menjadi korban yang tidak berdaya. 

Inilah yang disebut dengan roda kehidupan yang berputar terlalu cepat! 

“Pahlawan wanita! Ampuni kami, ampuni nyawa kecil kami!” para bandit itu membenturkan kepala mereka ke tanah, memohon belas kasihan dengan tubuh bergetar hebat. Ratapan penyesalan memenuhi hati mereka, jika saja mereka tahu gadis ini adalah seorang iblis berwujud dewi, mereka tidak akan pernah berani mendekatinya bahkan dalam mimpi mereka sekalipun! 

“Bagaimana jika aku menolak?” 

Suara Feng Yaorao terdengar tanpa emosi. Namun, bagi para bandit yang sedang ketakutan, nada datar itu terdengar bagai bisikan dari malaikat maut yang membuat bulu kuduk mereka meremang. 

“Pahlawan wanita, kasihanilah aku!” Pemimpin bandit itu mulai menangis histeris sembari merangkak maju sedikit. “Aku memiliki seorang ibu tua berusia delapan puluh tahun yang harus dipenuhi kebutuhannya, dan juga seorang bayi yang masih menyusu di rumah. Kami benar-benar tidak memiliki barang berharga lagi untuk dijual, jika tidak terdesak, kami tidak akan berani merampok orang!”

“Kalimat ratapanmu itu sudah terlalu kuno, sama sekali tidak berguna padaku,” sahut Feng Yaorao dengan tatapan meremehkan. 

“Guk… guk… guk…” Xiao Bai menggonggong dua kali, mendongakkan kepalanya dengan angkuh seolah ikut mengejek kekalahan para bandit itu. 

“Pahlawan wanita, tolong kasihanilah kami! Istriku sakit parah dan terbaring lemah di ranjang! Dia sedang menungguku membawa uang untuk membeli obat!” ratapan bandit lainnya, tidak mau kalah. 

“Pahlawan wanita, kelompok kami bahkan belum makan sesuap nasi selama dua hari! Kami benar-benar tidak punya pilihan lain selain merampok!”

“Pahlawan wanita…”

Suara tangisan dan ratapan yang saling bersahutan itu membuat kepala Feng Yaorao sakit. Dia membentak, “Diam kalian semua!” 

Seketika itu juga, suara ratapan langsung berhenti serentak. Keheningan yang mencekam tiba-tiba menyelimuti area hutan tersebut, begitu senyap hingga suara kepakan sayap burung gagak yang terbang melintas di atas mereka terdengar sangat jelas. 

Krittt…klotak…klotak… 

Di tengah keheningan itu, samar-samar terdengar suara langkah kaki kuda yang teratur disertai derit roda kayu yang bergesekan dengan tanah. Tak lama kemudian, sebuah kereta kuda yang tampak mewah dan elegan muncul dari balik tikungan jalan hutan. Kereta itu dikemudikan oleh seorang pemuda yang mengenakan jubah abu-abu sederhana namun rapi. 

Melihat itu, para bandit yang masih berlutut saling memandang dengan bingung. Mereka mencuri pandang ke arah Feng Yaorao yang masih duduk di atas punggung kudanya, hati mungil mereka dilanda kekacauan. 

Masih ketakutan melihat kekuatan cambuk Feng Yaorao sebelumnya, mereka tentu saja tidak memiliki nyali untuk merampok kereta kuda yang baru datang itu. Mereka sangat ingin melarikan diri dari tempat ini sekarang juga, tapi tanpa izin dari Feng Yaorao, mereka tidak berani menggerakkan kaki mereka sedikitpun. Akhirnya, belasan pria kekar itu hanya bisa terus berlutut kaku di tanah dengan ekspresi kebingungan yang menggelikan. 

Dari kejauhan, pemuda berjubah abu-abu yang mengemudikan kereta telah menyadari keberadaan kerumunan bandit di tengah jalan. Alisnya yang tajam langsung bertaut rapat, dan kilatan niat membunuh memancar dari sepasang matanya. 

Meski melihat ada potensi bahaya di depan, pemuda itu sama sekali tidak berniat menghentikan laju kudanya. Dia terus memacu kereta kudanya, melesat lurus menyusuri jalan menuju ke arah kepungan Feng Yaorao dan para bandit. 

1
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪💪💪
marlaina marliana
double up ya kaka otor, masih kuyang anyakkkk 🙂🙂🙂💪💪❤❤🙊
Rubiyata Gimba
baru tau rasa tukang gosip tidak tau diri
marlaina marliana
lanjut lagi dong ❤❤
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Rubiyata Gimba
tapi jangan marah thor, tapi perpindik kan bunga2nya
Rubiyata Gimba
kenapa banyak bertele tele ya langsung saja lah ceritnya apa yang di mahu panjang sekali bunga-bunganya🤭
Rubiyata Gimba
bertahan lah kau disana
marlaina marliana
terlalu ribet dgn kata kata🙄🙄
Author Nita_001: bagian mananya yang ribet kak, nanti aku perbaiki
total 1 replies
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut lagi thor
Siti Hawa
lanjut lagi thoor.. up yg banyak ya.. 1 vote untuk mu💪💪🙏
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
lin sya
klo baca ini sllu penasaran alur brkutnya, plus greget sm pemeran cwok yg sok brkuasa. tp sayangnya bab alurnya trllu pndek dan update tan nya lama, sorry ya thor msukan aj💪
lin sya: ok author
total 2 replies
Siti Hawa
ok thoor 2 tangkai mawar untuk mu
semangat selalu up nya🙏💪💪🥰
Siti Hawa
ok lanjut thoor 1 vote untuk mu, biar tambah semangat up nya💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Siti Hawa
duh thoor... fokus 1 satu dulu doon novel nya, biar kami semangat mm baca setiap karya nya.. paling tidak up nya 3 bab gitu.. semangat selalu thoor 2 mawar untuku🙏🙏💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!