Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Dengan kondisi pikiran penuh tanda tanya. Brian pun melangkah dan masuk kekamar mandi seperti apa yang Inara perintahkan.
Sampai di dalam kamar mandi , Brian tertegun sendiri.
Mengingat ini kali pertama, ia di perintah oleh seseorang. Bahkan dengan konyolnya , ia malah mengikuti perintah itu seperti orang bodoh.
" Sial! Kenapa aku malah mau mengikuti ucapannya." di dalam kamar mandi, Brian menggerutu sendiri. Sampai pria itu hendak berjalan keluar dari area kamar mandi lagi. Namun gerakan itu terhenti di tengah. Dengan hembusan nafas kasar ia keluarkan.
" Sudahlah. Aku lelah berdebat." tubuh tegap nan kekar milik Brian berbalik kembali. Dan memilih untuk membasahi dirinya di bawah kucuran shower yang mengalir deras.
Dengan kondisi pikiran, yang tentunya sampai saat ini masih memikirkan sikap Inara yang terlihat berubah sangat drastis kepadanya.
Sampai ia mengingat tentang hadiah yang sudah ia pesankan untuk Tomi siapkan dan kirimkan kepada Inara.
Disaat itulah sudut bibir Brian tertarik ke atas kembali.
" Apa hadiah yang di berikan Tomi tak begitu bisa memuaskannya? " gumam Brian masih setia berdiri di bawah kucuran shower yang kini sudah berhasil membasahi tubuhnya secara utuh.
Tubuh pria itu benar - benar terpahat dengan sangat sempurna.
Bahkan Inara yang sudah berulang kali pernah melihat dan menyentuh tubuh atletis milik pria itu pun di buat terkagum - kagum sampai terbayang ke alam mimpi.
Tapi sepertinya itu dulu.
Tidak lagi untuk sekarang. Mengingat jika tubuh terpahat sempurna milik pria itu ternyata secara diam - diam sudah di pergunakan untuk menjamah tubuh wanita lain di belakangnya.
Bahkan lebih gilanya lagi , wanita itu sampai dalam kondisi berbadan dua.
Apalagi yang bisa Inara lakukan sekarang . Jika bukan menghempaskan sosok pria menjijikan itu dari dalam hidupnya.
" Sepertinya aku harus memberikan hadiah yang lain lagi untuk membuatnya tak merasa kesal. " Brian tersenyum semakin lebar.
Dan melanjutkan aktivitas mandinya. Hingga tubuh pria itu terlihat segar dan tercium bau wangi.
Klek.
Brian keluar dari dalam kamar mandi. Dan mendapati Inara yang sudah terlihat tertidur lelap di atas ranjang.
Padahal ia ingin mengobrol sejenak dengan wanita itu.
Tapi sudahlah...
Sepertinya Inara terlihat sangat lelah. Sehingga Brian sedikit tak tega untuk membangunkannya.
Sampai Brian teringat akan hadiah yang ia suruh Tomi berikan.
" Memangnya tadi Tomi mengirimkan hadiah apa untuknya? " Brian bertanya - tanya dalam hati.
Karena merasa penasaran , akhirnya pria itu pun memutuskan untuk menghubungi Tomi melalui saluran telepon.
Namun sialnya..
Baru juga Brian berniat untuk menghubungi Tomi. Benda pipih miliknya malah sudah terlebih dahulu berdering. Dengan nama love tertera di layar.
" Love ? " kening Brian mengkerut dalam. Dan memandangi nama love yang tertera di atas layar ponsel yang tengah dalam kondisi menyala tersebut.
Sampai Brian sendiri pun memutuskan untuk menjawab panggilan atas nama love itu. Dengan kondisi hati terselimuti penuh tanda tanya.
Siapa pemilik nomor yang tersimpan dengan nama love di dalam ponselnya itu?
Mengingat jika selama ini Brian tak pernah menyimpan kontak seseorang dengan kalimat bucin seperti itu.
Sampai sebuah nama tak sengaja terlintas di dalam benak Brian.
Hingga pria itu pun mengangkat panggilan tersebut guna memastikan. Apa seseorang yang saat ini tengah tak sengaja terlintas di pikirannya , merupakan sosok pemilik dari nomor telepon bernama love tersebut.
Sampai tombol hijau di atas layar pun Brian geser, dengan suara lembut seorang wanita terdengar menyapa di seberang sana.
" Brian.. Terima kasih hadiahnya. Kau selalu tahu saja apa yang kuinginkan sekarang." teriak Anita kegirangan di seberang sana.
Bagaimana wanita itu tak senang. Baru juga ia membeli kalung mahal dengan menggunakan black card milik Brian.
Eh.. pada malam harinya pria itu malah mengirimkan sebuah hadiah lagi untuknya.
Sebuah gaun mahal berwarna hitam dengan hiasan berlian di bagian bawahnya.
Yang Anita bisa perkirakan. Jika harga gaun itu lebih mahal dari harga kalung limited edition yang tadi siang baru ia beli.
__
Brian yang mendengar suara familiar Anita pun sempat terdiam sejenak.
Hadiah untuk Anita?
Hadiah apa yang ia kirimkan untuk wanita itu?
Hati Brian bertanya - tanya.
Mengingat jika ia tak pernah mengirimkan satu pun benda untuk Anita. Mengingat jika calon istri keduanya itu sudah berbelanja ratusan juta dollar dalam sehari hanya untuk membeli sebuah kalung berukuran kecil.
Jadi mana mungkin Brian akan mengirimi wanita itu hadiah lagi. Kecuali jika Anita meminta sendiri kepadanya.
Karena ia tak ingin membuat anak yang saat ini di kandung Anita berubah jadi ileran.
Maka mau tak mau , Brian pun harus menuruti keinginan dari sosok cinta pertamanya itu.
" Brian.. Kau masih ada di sana? "
" Ah ya.." Brian tertegun sejenak. Dan berusaha kembali ke dalam alam sadarnya. Dengan suara yang ia netralkan sebiasa mungkin. Agar Anita tak menaruh curiga. Bahwa sebenarnya hadiah yang Anita terima itu bukanlah hadiah yang benar - benar di tujukan untuknya.
Melainkan hadiah salah kirim karena miss komunikasi yang Brian lakukan pada Tomi.
" Apa kau suka dengan hadiahnya? "
" Ya.. Aku sangat menyukainya Brian. Dan sepertinya anak kita juga sangat menyukainya."
Brian tersenyum tipis. " Baguslah kalau kau suka. kalau begitu tidurlah sekarang. Jangan tidur larut malam. Tak baik bagi ibu hamil sepertimu."
" Siap kapten. Kalau begitu aku tidur dulu ya. Oh ya.. Aku lupa memberitahumu tadi tentang nama kontak yang ku ubah di ponselmu. Tidak apa - apakan kalau aku menyimpan nama ku dengan Love di ponselmu. Mengingat aku juga menyimpan namamu dengan nama seperti itu di dalam ponselku."
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra