NovelToon NovelToon
Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Cerai / Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ara Nandini

Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.

Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.

Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.

Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.

Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.

Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?

Ikuti Kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Berjuang mendapatkan restu

Setelah sarapan bersama, Kamelia, Cika, dan Afkar bersiap-siap untuk kembali pulang.

Suasana hangat yang tadinya menyelimuti meja makan kini berubah menjadi penuh keharuan.

"Berpisah lagi deh..." ucap Alina pelan, suaranya terdengar bergetar menahan tangis.

"Baik-baik di sini, ya. Jangan terlalu sering keluar malam, dan jangan sampai kelelahan," pesan Kamelia sambil mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Mama juga," balas Alina sambil mengangguk.

Lalu ia melirik ke arah dua orang yang berdiri di belakang ibunya.

"Kalian jagain Mama aku, ya. Tapi jangan keseringan bermesraan di depan Mama, kasihan Mamaku sudah jomblo," celetuk Alina sambil tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana.

Cika langsung tertawa senang lalu memeluk Kamelia dari samping.

"Mama Kaka itu mama aku juga. Jadi tenang saja, kita bakal jagain. Nggak akan membiarkan Mama sendirian,"

Tak lama kemudian, Aeris keluar dari kamar. Bocah itu sudah selesai mandi, rambutnya masih basah dan tubuhnya harum, mengenakan kaus bergambar dinosaurus kesayangannya.

"Nenek, kenapa nggak tinggal lebih lama saja di sini? Aeris padahal senang banget ada temannya," ucapnya sambil berjalan mendekat.

Kamelia langsung berlutut agar sejajar dengan cucunya, menatap wajah itu lalu mengusap pipi tembam-nya.

"Jarak rumah kita tidak terlalu jauh, Sayang. Hanya dua jam perjalanan kok," kata Kamelia dengan lembut. "Lagi pula, kalau kamu kangen sama Nenek, tinggal telepon saja. Nenek pasti angkat."

Aeris memeluk Kamelia dengan erat.

"Nek... siapa sih keluarga tadi malam?" bisiknya pelan, hanya untuk didengar oleh Kamelia.

Kamelia menghela napas, lalu membalas pelukan itu.

"Kamu nggak perlu tahu, mereka itu bukan siapa-siapa," jawabnya dengan suara berbisik.

Aeris perlahan melepaskan pelukannya. Kamelia kemudian menatapnya dalam-dalam.

"Sudah ya, kamu baik-baik di sini. Jangan nakal sama Mama. Kalau nanti sudah masuk sekolah dasar, harus rajin belajarnya,"

Aeris langsung mengacungkan jempolnya dengan semangat.

Mereka bertiga berpelukan sekali lagi. Alina melambaikan tangan ketika taksi yang mereka tumpangi mulai melaju meninggalkan rumah.

"Kalau Mama kerja, Aeris sama siapa dong?" tanya Aeris sambil menatap Alina.

"Kamu ikut Mama dulu untuk sementara, sambil Mama cari TK baru buat kamu."

"Yes! Aeris ikut!" serunya kegirangan.

"Tapi ingat, ya, jangan mengganggu orang di sana. Nanti kamu dimarahi Pak Jeki."

Aeris mengangguk pelan. Ia masih teringat wajah garang pria berbadan besar itu, dengan otot-otot menonjol yang membuatnya ngeri. Memang, sesekali Alina membawa Aeris ke kantor, dan untungnya sang direktur telah memberikan izin.

"Kamu tunggu di sini, ya. Mama mau siapkan bekal dulu," kata Alina sebelum masuk ke dalam.

••••••

"Mas... Kamelia tinggal di Kota B, di Jalan Mardhinata nomor 12," kata Jesika saat melihat alamat yang tertera di plastik bekas kue yang dipesan tempo hari.

"Jadi dia tinggal di sana..." gumam Felix.

Felix dan Jesika memang tahu kalau Kamelia dan Alina telah pindah rumah, tapi mereka tidak tahu pasti lokasinya. Saat itu Felix sempat ingin menawarkan bantuan untuk melunasi hutang almarhum suami Kamelia. Namun ternyata, saat ia datang, rumah itu sudah dijual dan penghuninya pergi tanpa jejak.

Yang paling disesalkan Felix adalah kenyataan bahwa jarak mereka sebenarnya tidak terlalu jauh. Jika saja ia mencarinya lebih cepat, mungkin keadaannya akan berbeda.

"Mas... kita harus menemui Kamelia sekarang. Kita butuh kejelasan—apakah Aeris itu anak Revan atau bukan," kata Jesika.

"Kalau memang benar... apa yang akan kita lakukan?" tanya Felix pelan. "Aku rasa... mengambil Aeris dari mereka bukanlah keputusan yang bijak."

"Dengar, Ma. Biarkan Kamelia tenang dulu. Yang penting sekarang kita sudah tahu di mana mereka tinggal. Jangan gegabah, aku takut itu malah memperkeruh keadaan," ujar Felix lagi.

Jesika mengusap wajahnya kasar, perasaannya campur aduk.

"Apa selama ini mereka hidup dengan baik, ya?" gumamnya lirih. "Kalau memang Alina hamil waktu itu... kenapa dia nggak bilang apa-apa sama kita?"

"Mungkin ada alasan kuat yang membuatnya pergi, Ma. Jangan langsung menyalahkan dia," balas Felix.

"Mama nggak menyalahkan Alina," jawab Jesika pelan, namun nada suaranya berubah menjadi tajam. "Tapi kalau ternyata alasannya karena Revan dan Devi... Mama nggak akan tinggal diam," katanya tegas.

Sementara itu, di apartemennya, Revan tengah bersiap-siap. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07.00. Hari ini ia dijadwalkan untuk menandatangani dokumen penting terkait pengalihan kepemimpinan perusahaan milik Erwin—yang akan ia ambil alih.

Ting tong!

Bel berbunyi. Revan tersenyum tipis. Ia tahu persis siapa yang datang. Begitu pintu dibuka, ia langsung menarik pinggang wanita itu ke dalam dan menutup pintu.

"Kamu belum siap!?" seru Devi begitu melihat Revan masih mengenakan kemeja yang belum dikancingkan, memperlihatkan dada bidangnya.

"Aku maunya kamu yang bantu," kata Revan, terkekeh.

Tanpa banyak bicara, Devi mendorong pelan dada Revan dan mulai mengancingkan kemejanya satu per satu dengan cekatan.

"Mana dasinya!?"

"Sebentar, aku ambil dulu," kata Revan lalu berjalan ke kamar.

Beberapa detik kemudian, ia kembali dengan dasi biru di tangan, lalu menyodorkannya pada Devi. Wanita itu segera menerimanya dan mulai memasangkannya di leher Revan. Saat tangannya sibuk membenarkan dasi, Revan sempat-sempatnya mencuri kecupan ringan di bibirnya. Tangannya pun melingkar santai di pinggang ramping Devi.

"Kebayang nggak kalau kita sudah menikah? Aku kerja, kamu di rumah menyiapkan ini-itu… lalu ada anak yang mengganggu kita," Revan tergelak sendiri. "Kita nikah sekarang, yuk."

Devi menatapnya sejenak. "Ck, Re... restu. Ingat restu."

"Malam ini kita ke rumahku."

"Nggak mau, ah."

"Hitung-hitung pendekatan dengan Mama," ucap Revan, kini melepaskan pelukannya dan menangkup lembut pipi Devi. "Aku yakin, kok. Lama-lama Mama pasti luluh melihat kebaikan kamu."

Devi hanya bisa mengangguk pelan, walau dalam hati masih terselip rasa cemas.

1
Lili Inggrid
lanjut
Bunda Dzi'3
blm Up Thor...smngts thor
olyv
hancurkan revan
buat alina n leon bahagia thor
Syamsudin Oke
up thor
Sunaryati
Memangnya Alina menyerahkan anaknya ke Revan? PD sekali Devi. Bu Sitha orang tua itu biasanya mau berkorban apa saja demi kebahagiaan anaknya, tapi yang ibu lakukan egois, hanya demi kebahagiaan anda sendiri.
Sunaryati
Kenapa Revan, seperti tak punya hati.
Bunda Dzi'3
up thor
Bunda Dzi'3
heammmm ketemu dahh
Bunda Dzi'3
hadehhh berat bngt alana...mertuanya nenek lampur
Bunda Dzi'3
thor jgn biarin itu mantan balik lagi aja
Bunda Dzi'3
alina jgn mau balik lgi sma pria plinplan
Alma Hyra
gak gregetan karena baper dengan peran karakter tokoh²nya, tapi lebih greget sama Thor yang bikin cerita alurnya.../Speechless/
Rieya Yanie
kpn revan nyesel thor
sdah tua jg msh ky abg
Rieya Yanie
kasian alina..
Sunaryati
Jika kalian berbuat jahat sama anak Alina, dipastikan pernikahan Revan dan Devi gagal. Ternyata keluarga Devi tabiatnya buruk, mungkin mengincar harta dan nebeng nama. Jika orang baik akan menerima anak sambung. Benar firasat mama Revan jika Devi jadi menantunya mungkin mereka ikut menikmati kekayaan Revan bukan sewajarnya.
rin ini siapa thor🤔
Amazing Grace
rasanya terlalu berlebihan kalo Alina masih cemburu dan nyimpen rasa padahal sudah 7 tahun, kesannya seolah olah dia murahan karena masih ngarep padahal tuh cowok udah rendahin dan punya pacar juga
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏
Adelio
Udah bab 33 kok masih gini2 aja ya, kayak kurang greget..
Alma Hyra
terus kenapa juga aeris karakternya jadi anak bandel, yang baca mau kasian ke aeris malah mamang enggak jadi, harusnya aeris itu jadi anak yang tertindas, bukan dijauhin teman karna karakternya tapi karna keadaanya enggak punya ayah ... gitu lebih wow
Alma Hyra
huhhj... alurnya malah gimana gitu, pindah ke novel sebelah dulu aja, nanti balik lagi kalau si revan udah menyesal menyia²kan Alina aja ... soalnya ceritanya kurang ngena banget di hati, masa si Revan masih makin cinta ke Devi, tapi semuanya udah mau ke bongkar engak dag dig dug derrr aja rasanya, kecuali revannya udah mulai punya rasa bersalah, rasa menyesal, atau mulai ada rasa ke Alina gitu baru semuanya terbongkar kan jadi wow gitu yang baca terharu... ini kenapa yang sakit hati Alina cintanya tidak terbalas, yang di sia²kan Alina, masih aja yang dibuat sewot ngelihat Revan sama Devi juga Alina, enggak adil sama sekali, trs kpn munculnya rasa Revan ke Alina, masa sama Leon aja juga enggak ngaruh perasaannya Revan ke Alina...
astr.id_est 🌻: gak jelas alur cerita nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!