Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Direbutin ibu-ibu komplek
Mereka baru beberapa suap ketika ponsel Adipati bergetar. Ia melirik layar ponselnya berdering, lalu berdiri.
“Bentar ya,” katanya singkat.
"Saya angkat telepon dulu.”
Adipati melangkah menjauh ke teras, lalu mengangkat panggilan itu.
“Halo,” ucapnya dingin.
“Ngapain kamu nelepon aku lagi, Sin?”
Di seberang terdengar suara perempuan yang terdengar menyesal.
“Aku mau minta maaf, Raden. Aku salah waktu ninggalin kamu. Aku menyesal… aku mau kita balik lagi seperti dulu.”
Adipati menghela napas, rahangnya mengeras.
“Aku sudah punya istri tolong jangan ganggu aku lagi.”
“Istri kamu itu?” Sinta tertawa kecil meremehkan.
“Cewek yang baru lulus kedokteran itu nggak sebanding sama aku. Kita pacaran empat tahun, Raden. Aku lebih kenal kamu daripada dia.”
Nada suara Adipati berubah tajam.
“Empat tahun pacaran, tapi kamu ninggalin aku demi pria botak yang perutnya buncit itu Sin.”
“Kamu tau kan waktu itu aku nggak punya pilihan,” bela Sinta cepat.
Adipati terkekeh tanpa humor.
“Iya. Karena waktu itu aku miskin, nggak punya apa-apa.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan dingin.
“Sekarang kamu tau aku punya uang, makanya kamu hubungi aku lagi. Coba aku masih seperti dulu—kamu pasti nggak akan nelepon.”
Di seberang sana, Sinta terdiam.
“Aku nggak mau ngulang masa lalu,” lanjut Adipati tegas.
“Sekarang aku punya istri, dan aku bahagia. Tolong jangan hubungi aku lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, Adipati menutup panggilan.
Selina yang tadi sempat mendengar percakapan itu segera berbalik dan kembali ke meja makan, berpura-pura tenang.
Sri langsung menatapnya penuh selidik.
“Siapa yang nelepon tadi?”
Bejo ikut menimpali sambil terkekeh kecil.
“Ibumu ini kepo banget. Sampai nyuruh Selina nguping segala.”
Selina tersenyum kaku.
“Mas Adipati hanya membicarakan pekerjaan,Pak.”
Sri mendecak pelan.
“Ah, ibu cuma pengen tau aja. Jangan sampai Adipati selingkuh.”
Tak lama kemudian, Adipati kembali ke meja makan.
“Maaf ya, tadi ada telepon dari klien,” katanya santai.
“Oh,” sahut Sri singkat, lalu tersenyum.
“Kerjaan ya? Semoga lancar ya,Di.”
Sarapan pun dilanjutkan sampai selesai. Setelah itu Selina membereskan piring, Adipati ikut membantu mengangkat gelas dan sisa makanan.
Sri berdiri di dekat dapur.
“Sel, kamu sama Adi ke pasar ya. Sayurannya dikulkas sudah habis.”
Selina menoleh.
“Baik, Bu. Tapi masa ke pasar naik mobil?”
Bejo tertawa kecil.
“Pakai motor Bapak aja. Lebih gampang.”
Selina melirik Adipati.
“Mas Adi mau?”
Adipati tersenyum lebar.
“Gak apa-apa.Ayo kita berangkat sekarang sebelum siang. ”
Selina tersenyum kecil mendengarnya, lalu mengangguk.
“Ya udah, kita siap-siap.”
Sri memperhatikan mereka berdua dengan wajah puas.
“Hati-hati di jalan,” pesannya.
Adipati mengambil kunci motor, lalu keluar rumah dan menyalakan mesin. Suara motor memecah pagi yang tenang.
Selina keluar sambil membawa tas belanja. Ia naik membonceng dan memeluk pinggang Adipati dengan ragu.
“Pegangan ,Sel.” ucap Adipati singkat.
Motor melaju menuju pasar. Sesampainya di sana, mereka memarkir motor lalu berjalan berdampingan menyusuri lapak-lapak.
Belum lama berjalan, suara nyaring Bu Yuyun terdengar.
“Eh, Mas Adipati!”
Ia mendekat sambil tertawa kecil.
“Maaf ya Mas, sebenarnya Niken itu mau nikah sama kamu . Kalau kamu bilang dari awal maharnya lima miliar plus berlian.”
Selina terdiam. Tangannya refleks mencengkeram tas belanja.
Bu Ayu ikut menyahut.
“Iya, iya. Kalau sama Sari juga cocok. Anak itu pinter masak, Mas.”
Bu Yuli tertawa genit.
“Mas Adi, Yuli juga mau kok jadi istri kedua.”
Selina berdehem pelan.
“Ehem…”
Bu Yuyun baru menyadari keberadaan Selina.
“Eh, Selina… maaf ya, Sel. Kemarin kami nolak lamaran Mas Adipati,karena saya kira dia pengangguran habis gak pernah pergi kerja dirumah aja. ”
Bu Ayu menimpali cepat.
“Iya, waktu itu dia ngelamar Niken, tapi ibu tolak. Sekarang Niken sudah menikah, tapi maharnya cuma tiga ratus ribu.”
Bu Yuyun terkekeh.
“Kalau tahu Mas Adipati banyak uang, rumah yang diujung desa direnovasi segede dan semewah itu, sudah saya nikahin sama Sari.”
Adipati menghela napas, lalu melangkah sedikit ke depan Selina.
“Maaf, Bu-bu. Saya sudah menikah dengan Selina dan tidak berniat poligami.”
Ia menoleh singkat ke Selina, lalu kembali menatap para ibu.
“Soal anak, nanti juga Allah kasih.”
Bu Ayu menyipitkan mata.
“Tapi Selina kan dokter, Mas. Pasti jarang dirumah gak bisa mengurus rumah.Kalau anak saya sudah siap ngurus rumah, bukan kejar karier.”
Selina tersenyum tipis, lalu menatap Bu Ayu dengan tenang.
“Yang penting saya tidak hamil duluan seperti anak Bu Ayu.”
Suasana langsung hening.
“Ih! Mulut kamu ya!” seru Bu Ayu tersinggung.
“Dokter itu nggak boleh ngomong sembarangan!”
Adipati langsung angkat bicara, suaranya tegas.
“Istri saya tidak salah bicara. Tolong jaga ucapan juga.”
Ia menggandeng tangan Selina.
“Kami pamit.”
Mereka berjalan meninggalkan kerumunan. Selina menunduk, napasnya agak berat.
“Mas…”
“Tenang,” potong Adipati lembut.
“Mas tidak akan membiarkan kamu,digosipkan yang tidak-tidak dengan mereka.”
Selina tersenyum kecil, merasa hangat di tengah riuh pasar yang kembali berisik.