NovelToon NovelToon
Anaknya Disusui, Daddy-nya Yang Terpikat

Anaknya Disusui, Daddy-nya Yang Terpikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Janda / Cinta Seiring Waktu / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ita Yulfiana

Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.

Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Diam-Diam Melindungi

"Mengenai berita tentang Firda yang dinyatakan sebagai orang hilang oleh ibu mertuanya sebaiknya kita rahasiakan dari orang yang bersangkutan, Pras. Aku akan menghimbau para pelayanan dan pekerja di rumah untuk tidak membicarakannya jika seandainya mereka sempat melihat berita itu di televisi mau pun di sosial media."

"Keputusan yang bagus, Bos. Karena kita sudah tahu maksud dan tujuan nyonya Risma melakukan itu," ujap Pras setuju.

"Sebaiknya kamu hubungi lagi intelijen swasta itu untuk menyelidiki penyebab kasus kematian Aris Kusnandar, juga tentang bayi Firda apakah benar-benar meninggal ataukah nyonya Risma justru membuang anak itu ke suatu tempat. Atau mungkin bisa jadi malah disembunyikan untuk dijadikan sebagai senjata ampuh menekan Firda. Tidak ada yang tahu, orang licik seperti itu bisa saja menghalalkan segala cara. Masalah surat wasiat yang dibuat tuan Kusnandar, mungkin nyonya Risma sudah curiga sejak awal, jadi dia sedia payung sebelum hujan."

Pras mengangguk mantap. "Siap laksanakan, Bos." Pria itu menatap jauh ke depan, tepatnya di luar dinding kaca gedung kantor pusat Valmara Holding. "Demi dek Firda tercinta, Mas Pras akan berusaha mengusut kasus ini hingga ke akar-akarnya ... dengan sepenuh jiwa, raga, dan juga dengan sisa-sisa tenaga lemburnya Mas, dek."

Arman memutar bola mata. "Dasar lebay," katanya melempar dada Pras menggunakan pulpen yang ada di saku jasnya.

"Apa sih, Bos? Kok saya dilempar lagi?" protes Pras yang refleks menangkap pulpen itu.

"Kamu lebay." Arman melipat kedua tangannya di depan dada, lalu membuang muka.

"Lebay bagaimana? Orang cuma lagi jatuh cinta." Pras tidak habis pikir. "Perasaan akhir-akhir ini Bos jadi aneh."

"Apa maksudmu mengatakan aku aneh?" Seketika Arman menjadi sewot, wajahnya sedikit merona.

"Ya aneh. Setiap kali aku ingin mendekati Firda, pasti Bos selalu saja berusaha menghalang-halangi. Apa jangan-jangan ..." Pras memicingkan mata menatap Arman penuh selidik, "jangan-jangan Bos juga suka sama dia. Bos cemburu, ya?"

Arman memutar badan membelakangi Pras. "Ngawur kamu! Mana mungkin aku suka sama dia," bantahnya, diam-diam menggigit sudut bibir.

"Serius nih Bos tidak suka?"

"Tentu saja. Kamu tahu sendiri 'kan kalau dia itu–"

"Anaknya pak Subroto, 'kan?" Pras memotong ucapan Arman dengan cepat.

"Nah, itu kamu tahu. Jadi, aku tidak mungkin suka apalagi jatuh cinta sama dia." Arman terdengar sangat yakin dengan ucapannya.

Pras tersenyum. Senang sekaligus lega. "Syukurlah kalau begitu, Bos. Jadi kita tidak perlu saingan untuk mendapatkan hati dek Firda."

Arman diam tak menanggapi. Sementara Pras lantas berdiri tepat di sampingnya. Ikut melihat pemandangan kota dari ketinggian gedung. "Kalau memang tidak suka dengan dek Firda, berarti mulai sekarang Bos juga tidak boleh menghalang-halangiku untuk mendekatinya. Setuju, Bos?"

"Hem ...."

...****************...

Diam-diam Arman sangat peduli terhadap Firda, tapi begitu bertemu dengan wanita itu di rumah, dia selalu saja bersikap dingin dan datar. Memang, semenjak kejadian malam itu, tak pernah lagi Firda temui Arman yang dulu hangat dan begitu perhatian padanya.

Seperti malam itu saat Arman baru pulang kerja, dia tak sengaja mendapati Firda sedang duduk bersantai di sofa ruang keluarga sambil asyik menscrool reels sosial medianya ketika Baby Akira sedang terlelap. Suasana rumah yang biasanya sunyi, tiba-tiba dipenuhi suara gemuruh video viral di ponsel Firda.

"Pemirsa, saya Wahyu Harianto melaporkan, seorang wanita bernama Fi—" Konten berita yang sedang ditonton Firda itu mendadak terhenti karena ponselnya tiba-tiba saja melayang dari tangannya, membuatnya terkejut.

Firda sontak menoleh, rupanya sudah ada Arman berdiri tepat di belakangnya, sambil berkacak pinggang. Sorot mata pria itu menajam menatap Firda, membuat Firda merasa seperti tertangkap basah mencuri kacang rebus😅

"Tu–Tuan Arman ...."

"Siapa bilang kamu boleh buka sosial media di handphone ini, hm?" Pertanyaan dengan nada ketus dan mengintimidasi itu membuat Firda tertunduk.

"Ma–maaf, Tuan."

"Aku membelinya untukmu, bukan untuk kamu pakai berselancar media sosial, melainkan agar kamu bisa mengabadikan momen berharga pertumbuhan Akira. Apa kamu lupa?" Suara Arman memang pelan, tapi cukup membuat Firda merasa diserang oleh rasa bersalah.

"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan." Firda semakin menekuk wajahnya. Kedua tangannya meremas kain baju yang dia kenakan dengan gugup.

"Mulai sekarang aku peringatan, selain aplikasi WhatsApp, tidak ada lagi aplikasi sosmed lainnya yang boleh diinstall di handphone ini. Mengerti?!" tanya Arman sok galak. Padahal dalam hati dia juga merasa tegang tadi. Hampir saja Firda melihat berita itu.

Firda mengangguk, menjawab dengan lirih, "Mengerti, Tuan."

"Memangnya apa tujuanmu membuka sosmed?" tanya Arman disela-sela dia mengunistall aplikasi Instagram yang dibuka Firda tadi.

"Saya ... saya hanya berniat mencari hiburan saat Akira sudah tidur, Tuan."

Gerakan tangan Arman sontak terhenti di atas layar ponsel. Mencari hiburan katanya. Seketika hatinya dihinggapi perasaan bersalah. Dia mengerti kalau wanita itu pasti sangat bosan terkurung di rumahnya selama hampir 4 bulan. Bukan hal yang mudah bagi sebagian orang. Pasti rasanya seperti dipenjara di dalam sangkar emas.

Tapi membawa Firda keluar jalan-jalan untuk saat ini juga bukan keputusan yang tepat karena sangat beresiko, mengingat nyonya Risma sedang berusaha menyebarkan luaskan berita kehilangan Firda di luar sana dengan berbagai cara. Barang siapa yang berhasil membawa Firda ke hadapannya dalam keadaan selamat tanpa lecet sedikit pun, dia akan memberikan imbalan dengan nominal fantastis. Arman tahu, dia harus menjaga Firda tetap aman, tidak peduli betapa sulitnya itu.

Meski merasa bersalah, Arman tetap saja berkata dengan ketus kepada Firda, "Mencari hiburan katamu? Lalu apa gunanya buku-buku yang berjejer di rak itu? Bukankah aku membelikan buku-buku dan novel-novel fiksi itu agar kamu punya hiburan di rumah?" Arman melirik rak buku yang penuh dengan novel dan buku-buku tebal.

"Juga, apa gunanya alat-alat make up lengkap yang kusediakan untukmu? Bukankah katamu merias diri adalah hobimu yang paling menyenangkan?" Arman mengangkat alis, menantang Firda untuk membantah.

"Atau, kamu juga bisa membantu bi Wati memasak di dapur jika kamu mau, ketimbang membuka sosial media yang tidak berguna ini. Buang–buang waktu saja," kata Arman, membanting ponsel di sofa dengan sedikit lebih keras dari yang dia maksudkan, membuat Firda terlonjak kaget.

"Ma–af, Tuan. Tapi tadi saya login di akun saya baru 5 menit kok, belum lama." Firda menjawab dengan suara pelan, berusaha membela diri.

"Mau baru 5 menit kek, 3 menit kek, 1 menit kek, pokoknya aku tidak suka. Titik."

"Maaf, Tuan, saya tidak akan mengulanginya lagi," lirih Firda, tak berani mengangkat wajahnya menatap Arman. Dia takut karena sepertinya Arman sangat marah padanya.

Merasa cukup dengan peringatannya, Arman pun berlalu dari hadapan Firda. Ketika sampai di kamarnya, Arman akhirnya bisa bernapas lega sambil bersandar pada pintu kamarnya, melepas napas perlahan.

"Syukurlah, dia tidak menangis saat aku marahi. Bagaimana pun juga, ini demi kebaikannya. Sampai hari ini dia masih harus rutin terapi, aku tidak mau dia kepikiran sampai tidak bisa tidur kalau tahu masalah itu. Kalau kesehatan mentalnya terganggu, bisa-bisa produksi ASI-nya juga terganggu."

"Ya, semua ini aku lakukan demi Akira. Bukan seperti yang dituduhkan Pras tadi siang bahwa aku ... ah, sudahlah. Lagi pula, itu tidak mungkin."

1
Cindy
lanjut
Lisa
Good morning Kak Ita..makasih y utk updatenya..
Lisa: Sama² Kak Ita..Amin..terimakasih juga y Kak..🙏💪
total 2 replies
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Indry Saleh
bagus karya..
Ita Yulfiana: ulala Kak Indry... thanks sudah jadi orang pertama yang kasih penilaian😍🫰🥰
total 1 replies
Indry Saleh
dek firza ohhhhhh di firza🤣🤣🤣🤣
Cindy
lanjut
💕Rose🌷Tine_N@💋
lanjut dong.. aku dah kasih vote ku yg satu satu nya nih😂
Ita Yulfiana: makasih banyak loh Kak sudah jadi orang pertama yang ngasih vote🫰😘🤭
total 1 replies
💕Rose🌷Tine_N@💋
apakah org tua Firda penghianat di perusahaan Arman ya?
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..
💕Rose🌷Tine_N@💋
jd penasaran...ada informasi apa ttg Firda ya?
💕Rose🌷Tine_N@💋
aku mampir😍
Ita Yulfiana: makasih banyak Kak Rose🙏🏼🥰 semoga suka yah😊😊
total 1 replies
Indry Saleh
sippppp ceritanya, masih dipantau bab selanjutnya
Ita Yulfiana: makasih banyak Kak Indry🙏🏼🥰 semoga suka yah😊😊
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
emng lu tau firda masuk jajaran penghianat?😏
Lisa
Padahal Arman suka sama Firda 😊🤭
Cindy
lanjut
Lisa
Nah mulai terungkap tuh kejahatannya Ibu Risma..ayo Arman bereskan masalah itu..lindungi Firda..
Sastri Dalila
😂😂😂
Lisa
😊😊😊 ya tuh 2 pria mulai memperebutkan 1 wanita 🤭
Lisa
Wah Pras mulai berani menggoda Firda y 😊🤭
Sastri Dalila
😅😅😅😅😅kocak 2 org ne
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!