Handi harus meregang nyawa akibat kecelakaan, meninggalkan Lisa dan kedua anak mereka.
Haris yang hidupnya diselamatkan Handi dan menyaksikan kematian Handi secara tragis mengalami trauma dan hampir gila. Dia menutup diri selama 1 tahun sejak kepergian sahabatnya.
Dini dan Bu Nani sudah kehilangan akal untuk memaksa Haris mendapatkan perawatan. Hingga akhirnya, Dokter Van Heerdt memberikan ide kepada Dini untuk mendekatkan Lisa dan anak-anaknya kepada Haris.
Di sela-sela usaha Lisa membantu Haris mendapatkan pengobatan atas traumanya, Arga hadir dengan menjanjikan cinta tulus kepada Lisa dan anak-anaknya. Saat itulah Haris menyadari bahwa dia jatuh hati kepada Lisa.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Akankah usaha Lisa membantu Haris berhasil?
Apakah Haris tega mengkhianati Dini dan beralih hati kepada Lisa?
Baca sampai tamat ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERITA HARIS
Haris sedang mengeringkan rambutnya ketika dia mendengar ketukan di pintu kamarnya.
" Haris, kamu sudah selesai berpakaian?," teriak Lisa dari luar.
" Iya, sudah," sahut Haris.
" Aku masuk ya."
" What?!," ucap lirih Haris.
Lisa langsung membuka pintu dan berjalan menuju Haris dengan merentangkan tangannya. Dia kemudian mengalungkan lengannya di leher Haris. Seketika rasa hangat masuk ke dalam hatinya. Inilah yang menjadi pertanyaan bagi Haris. Si monster Handi hanya muncul sekelebatan lalu lenyap bagai butiran debu.
Pelukan singkat itu diakhiri dengan senyuman paling manis dari Lisa. Cukup membuat Haris terpana. Haris melihat ada sedikit flek halus di pipi Lisa dan matanya berkantung. Kehidupan telah mengubahnya menjadi lelah. Kematian mendadak suaminya pasti memberikan efek yang luar biasa bagi Lisa. Membesarkan dua anak sendirian itu pastilah berat. Seorang perempuan yang mampu melewatinya pastilah sekuat baja. Haris sudah tahu bahwa Lisa memiliki kualitas itu. Justru hal itulah yang disukai Handi dari Lisa dulu.
Haris ingat betul dia pernah menemukan Handi lesu dan ketika Haris bertanya kepadanya, jawaban Handi sungguh di luar pemikiran," Lisa menolak kubayari makan."
" Apa?," Haris terbelalak. Dia tertawa terbahak-bahak kala itu. Handi langsung manyun. " Sorry, Bro. Hanya karena itu kamu lesu begini?"
Handi berbicara dengan bibir monyong," Dia bilang dia ngga minta aku yang bayar. Memang sih aku datang ke warung karena aku yang menyusulnya. Dia bilang padaku dia makan di warung lesehan sendirian. Lalu aku menyusulnya."
" Dan kamu ngga pesan makan?," lanjut Haris.
" Iya, aku kan sudah kenyang. Kita sudah makan sambil meeting tadi kan?" Hari itu Haris dan Handi memang meeting di sebuah restoran bersama dengan klien sambil makan. " Ketika aku hendak membayar makanannya, dia berdiri mendahuluiku membayar makanannya. Aku kan malu, Bro. Aku sudah mengeluarkan dompetku loh. Harga diriku jatuh."
Haris memegang bahu Handi sambil mengangguk-angguk menentramkan, meskipun dalam hati dia ingin tertawa.
" Dia bilang, dia ngga pernah minta aku membayarkan makanannya. Dia ngga suka. Selama dia belum jadi istriku dan dia masih bekerja, dia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Kadang aku bingung, Lisa itu sebenarnya laki-laki atau perempuan sih?," keluh Handi.
Kembali kepada kenyataan yang ada di depannya. Lisa masih berada di hadapannya, Tangan Lisa berada di dada Haris, sementara Haris memeluk pinggangnya. Lisa menepuk dada Haris pelan," Bisa lepaskan tanganmu?"
Haris seperti tersambar petir. Dia segera melepaskan tangannya dari tubuh Lisa. " Maafkan aku."
" Jangan suka minta maaf! Sini aku bantu mengeringkan rambutmu!," kata Lisa mengambil handuk.
" Ngga perlu, Lisa. Aku bisa sendiri."
" Aku ngga suka dibantah!" Lisa mendudukkan Haris di tempat tidur dan dia berdiri di belakang Haris. Dia mengusapkan handuk ke rambut Haris yang basah. Haris diam saja menikmati layanan Lisa ini. Baru kali ini ada seorang wanita yang mengeringkan rambutnya. Lisa mengoleskan minyak rambut, wangi sekali. Wanginya seperti bayi. Sekarang Lisa mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut Haris dengannya. Dia juga menyisiri rambut Haris dengan lembut dan rapi.
" Apa dulu kamu pernah jadi pegawai salon?," tanya Haris.
" Ngga pernah."
" Apa dulu Handi juga selalu kamu keringkan rambutnya seperti ini?," tanya Haris lagi.
" Tentu saja."
Haris diam. Pantas rambut Handi selalu rapi dan wangi.
" Kamu pakai minyak rambut apa ini?," kata Haris.
" Oh, ini minyak rambutnya Hamza. Hehehe.... Kamu tidak suka ya?," jawab Lisa.
" Oh, ngga, aku suka kok. Pantas saja wanginya seperti bayi. Rambut Handi dulu juga wanginya seperti ini."
" Iya, dulu Ayah juga aku pakaikan minyak rambut ini."
Haris memandang Lisa lewat kaca di seberang tempat tidurnya. Lisa masih serius menata rambutnya.
" Lisa,..."
" Hmm...." Lisa serius sekali bekerja.
" Ini sudah malam, rambutku ngga perlu ditata."
" Loh?," Lisa menegakkan kepalanya. " Memangnya kamu ngga mau pergi keluar?"
" Ngga," jawab Haris.
" Hahahaha.....," Lisa tertawa renyah. " Aku pikir kamu mau pergi keluar."
" Ngga, aku mau tidur kok. Aku capek beberapa hari ini mengurus laporan keuangan."
" Hahaha....," Lisa tertawa lagi. " Ya ampun, mau tidur aja tampan begini."
Haris tersenyum juga akhirnya. Lisa mematikan hair dryer dan mengembalikannya ke tempatnya semula. Haris berdiri hendak mencapai pintu ketika Lisa berteriak keras," Jangan buka pintu!"
Haris berhenti. Dia berbalik menoleh kepada Lisa. Tangannya masih di gagang pintu.
Lisa berkata dengan canggung," Hamza ada di luar sedang menonton TV. Maaf, dia terbiasa menonton TV pada jam sekian. Jadi tadi dia menangis dan dia memaksa ingin nonton."
Oh, pantas Lisa masuk kamar Haris. Sebetulnya dia ingin mengatakan hal tersebut dan menahan Haris agar tetap di kamar.
" Bisakah aku memintamu untuk tetap di kamar selama dua jam ini? Tolong maklumi Hamza, dia masih kecil."
" Baiklah," kata Haris. " Bisa minta tolong ambilkan aku minum?"
" Oke." Lisa kemudian keluar dan kembali dengan beberapa botol air putih dan gelas kosong, juga ada jus jeruk dan sepiring roti serta camilan.
" Kamu mau makan malam?," tanya Lisa.
" Ngga usah. Ini aja udah buat aku kenyang," jawab Haris.
" Baiklah, aku keluar dulu ya."
" Bisakah kamu di sini aja?" Haris seperti tidak sadar saat mengucapkannya. Kenapa juga kata-kata itu meluncur dari mulutnya? Haris tidak tahu, tapi setiap ada Lisa hatinya menjadi tenang dan dia ingin Lisa berada di sampingnya. Lisa terpana, sementara Haris yang pikirannya tak karuan, berusaha makan camilan dengan santai. Lisa kemudian berhasil menguasai dirinya lagi.
" Baiklah, aku akan meminta Hana menemani adiknya. Tunggu sebentar ya." Lisa keluar dari kamar Haris dan saat itu Haris mengutuk dirinya sendiri. Dia sampai menepuk mulutnya berkali-kali karena mengatakan itu. Apa dia sudah gila? Beraninya dia meminta Lisa menemaninya alih-alih menemani anaknya menonton TV. Memangnya dia siapanya Lisa? Lisa mau saja menuruti permintaan Haris. Apa karena dia berpikir Haris gila? Ya, pasti begitu. Dia saja tidak ingat apa yang dilakukannya tadi sore. Apa namanya kalau bukan gila? Lisa mungkin prihatin melihat keadaan Haris, makanya dia berusaha menuruti semua keinginan Haris.
Lisa kembali ke kamar Haris agak lama. Setibanya di dalam kamar, dia langsung memeluk Haris, tapi kali ini dari belakang. Haris sedang duduk di tepi tempat tidur dan sedang makan camilan, posisinya tidak memungkinkan untuk memeluknya dari depan.
" Kalau aku memelukmu dari belakang seperti ini, apa dia menghilang juga?,"bisik Lisa di telinga Haris. Bulu kuduknya meremang ketika napas Lisa menderu di telinganya.
" Dari tadi dia tidak ada," jawab Haris, berusaha biasa saja, padahal jantungnya berdegup kencang.
Lisa melepaskan pelukannya dan duduk di hadapan Haris. Dia tersenyum. Jantung Haris masih berdegup tidak karuan. Dia minum air putih banyak-banyak untuk menenangkan dirinya. Dia kan tidak boleh berdebar.
" Bolehkah aku bertanya kepadamu?," kata Lisa.
Haris sedikit terkejut tapi masih bisa menutupinya. Dia menghabiskan minumnya dengan santai dan meletakkannya di atas nampan. " Apa?"
Lisa mendekatkan dirinya kepada Haris, membuat Haris agak mundur sedikit. " Sebenarnya bayangan Handi seperti apa yang kamu lihat?"
Haris tidak bisa menyembunyikan bahwa dia mendelik kepada Lisa. " Apa sih yang kamu bicarakan?"
" Kamu tahu apa maksudku, Haris." Muka Lisa tampak sadis.
" Kamu menakutkan ah."
" Kenapa kamu ngga mau membagi masalahmu dengan orang lain?," cecar Lisa, raut wajahnyaberubah sangat serius. " Itu bukan sesuatu yang bisa kamu tanggung sendiri."
Haris diam. Dia hanya bisa menatap Lisa. Bibirnya sudah ditekuk.
" Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu selama ini? Visual apa yang kamu lihat?"
Haris menundukkan kepalanya. " Maaf, Lisa, aku ngga bisa."
Lisa menyingkirkan nampan makanan dan minuman yg ada di tempat tidur, lalu dia mendekat kepada Haris. Dia menegakkan kepala Haris. Dia menggenggam tangan Haris dan membelainya. " Haris, kamu harus memaafkan dirimu sendiri. Kamu ngga bisa menanggungnya sendiri. Aku di sini untuk membantumu. Kamu bisa percaya padaku."
" Tapi, Lisa, kamu kan..."
" Istrinya Handi, dan justru karena itulah aku di sini. Aku melakukan semua ini demi Handi dan aku sudah memaafkanmu."
Haris menangis. Lisa membiarkannya saja sampai dia tenang dan bisa bercerita. Dia masih menggenggam tangan Haris. Dia juga mengelap air mata Haris yang terus-terusan jatuh. Lisa menunggu Haris tenang dengan sabar.
Haris akhirnya membuka mulutnya. " Aku selalu bermimpi buruk. Mimpi itu selalu sama selama satu tahun. Aku berada di ruangan kosong yang putih terang. Kemudian Handi datang, dia jatuh tepatnya. Entah darimana aku ngga tahu. Dia jatuh menelungkup. Aku mendekatinya. Aku hendak menolongnya. Tapi, waktu dia mengangkat kepalanya, aku takut melihat wajahnya."
Haris mengambil napas panjang, dia membersit hidungnya yang basah, lalu dia melanjutkan," Dimana seharusnya ada wajah, ada hidung, mata dan mulut, di sana ngga ada apa-apa. Wajahnya hancur, penuh dengan darah. Bola matanya bahkan hampir keluar. Hidungnya tak ada. Darah segar berwarna merah menetes-menetes."
Haris bergidik ketakutan. Tubuhnya mulai berkeringat dingin. Tubuhnya mulai gemetar. " Dia tersenyum. Senyumnya mengerikan. Dia memanggil namaku dengan suara Handi yang sangat kukenal. Lalu dia mencengkeram kerah bajuku. Dia membuat wajahku dekat sekali dengan wajahnya yang mengerikan. Lalu...lalu...."
Haris menundukkan kepalanya. Air matanya jatuh menetes. " Dia menerkam kepalaku. Hu...hu..."
Lisa memeluk Haris. Dia menempelkan pipinya kepada pipi Haris. Dia tidak melingkarkan lengannya kepada Haris. Dia memeluk keseluruhan tubuhnya. Haris mulai tenang. Dia tidak sesenggukan lagi.
" Dan ketika kamu melihatku dan anak-anak, dia muncul di hadapanmu lagi kan?," bisik Lisa.
Haris mengangguk. " Lisa, aku minta maaf. Aku yang menyebabkan kematian Handi."
Lisa menepuk-nepuk bahu Haris dengan lembut. " Sudahlah. Semua sudah berlalu. Aku sudah memaafkanmu."
" Aku membuatmu jadi janda. Aku membuat anak-anakmu jadi yatim. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."
" Kami semua sudah memaafkanmu," sela Lisa. " Tidak ada yang akan menyalahkanmu lagi."
Haris membenamkan kepalanya di ceruk leher Lisa. Dia masih menangis menumpahkan semua masalahnya. Lega rasanya ada yang diajak bercerita. Lega rasanya bahwa Lisa telah memaafkannya. Dia sungguh bersyukur.
/Angry//Angry/
kadang kondisi kesehatan ga memungkinkan buat up tiap hari 😄
terimakasih sudah setia membaca 🥰