Elias Alexander Rainer, menyaksikan sendiri bagaimana ibunya dibunuh di apartemen kecil mereka di Brooklyn. Tetapi, karena usianya yang masih kecil, kesaksiannya dianggap tidak benar. Kasus pembunuhan itu akhirnya ditutup sebagai perampokan biasa dan pembunuh ibunya tak pernah ditemukan.
20 tahun kemudian, Elias tumbuh menjadi pria jenius yang sangat berbakat di dunia digital. Ia bertekad untuk menemukan pelaku pembunuhan ibunya dengan menyamar menjadi seorang Programmer IT.
Namun, semakin ia mendekati sang pelaku utama, Elias justru terlibat makin dalam. Yang membuatnya terancam bahaya. Orang-orang dari Zenthera mulai mengejar dan menargetkannya.
Belum lagi, kedatangan seorang agen divisi kejahatan siber ikut memburunya dan mencurigai Elias sebagai pelaku dari skandal jatuhnya beberapa pejabat penting dan tokoh publik terkenal.
Akankah Elias berhasil menemukan pembunuh ibunya? Mampukah Elias membongkar kejahatan-kejahatan yang dilakukan Zenthera Corp?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THC 16
Selepas kejadian tiba-tiba itu, Anne memutuskan untuk membawa pergi Patricia ke suatu tempat untuk menenangkan diri sementara Christ kembali ke kantor untuk mengurus suatu hal.
“Kau mungkin merasa tidak nyaman setelah kejadian itu,” kata Anne membuka obrolan di tengah-tengah perjalanan mereka.
Patricia menoleh, wajahnya masih sembab dan kelihatan tidak baik-baik saja. Tetapi, perempuan itu mengangguk, “Aku merasa sangat hancur saat hakim memberi keputusan itu, tetapi juga merasa lega.”
“Jangan khawatir, aku dan timku pasti akan menyelidiki kasus ini bersama dengan polisi, termasuk mencari tahu pelaku itu,” ujarnya, berusaha tenang, meski beberapa hal benar-benar mengganggu pikirannya sekarang.
“Kau tahu? Kupikir ….” Patricia menjeda ucapannya, menimbang-nimbang haruskah ia mengutarakan isi pikirannya pada Anne atau tidak? Bagaimanapun, mereka baru saja saling kenal.
“Kau berpikir apa? Bahwa orang yang berteriak di ruang sidang itu adalah penyelamat yang kau ceritakan?” tanyanya.
“Kau juga menyadarinya?” tanyanya, setengah tak percaya.
“Uhm, aku juga tidak tahu pasti, tetapi kurasa dia mungkin berada di sana sebelumnya, mungkin untuk memastikan bahwa kau pantas mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan.”
Patricia terdiam, jika hal itu benar, ia merasa ingin bertemu dengan sosok misterius yang telah menjadi penyelamat hidupnya itu dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.
“Apakah menurutmu, aku bisa menemuinya? Meski hanya sebentar untuk mengucapkan terima kasih?” tanya Patricia tak yakin dengan dirinya sendiri.
Anne mengedikkan bahu. “Mungkin bisa, omong-omong, aku juga ingin bertemu dengannya, meski terkesan misterius dan penuh teka-teki, dia juga sudah banyak membantu penyelidikan kami.”
Mereka kembali terdiam, larut dalam isi pikiran masing-masing. Hingga ketika mobil Anne berbelok ke sebuah rumah, ia menarik rem tangan dan membuka pintu mobilnya.
“Kita sudah sampai,” kata Anne seraya membantu Patricia untuk turun dan mengambil barang-barangnya.
“Selama menunggu kasusmu ditinjau dan diselidiki ulang, kau akan tinggal selama beberapa waktu di rumahku, ya.”
Patricia tak banyak memprotes, tinggal bersama seorang sepertinya bukan keputusan yang buruk mengingat bahwa sebelumnya ia ingin kabur dari tempat tinggalnya sendiri.
“Aku sama sekali tidak keberatan jika itu tidak merepotkanmu,” katanya dengan tersenyum sungkan, kemudian mengikuti langkah Anne untuk masuk ke rumahnya.
***
Siang itu, publik kembali digemparkan dengan berita tertangkapnya seorang hakim agung yang telah menerima suap untuk beberapa kasus yang ia tangani. Salah satunya, kasus Dennis Caldwell.
Berita itu pun kembali menjadi trending topic, hingga menghiasi layar-layar besar di pusat perbelanjaan. Nama Mulholland terpampang jelas, mengundang cibiran dan makian dari banyak orang. Seolah menjadi topik yang tak boleh mereka lewatkan begitu saja.
Video penangkapan itu bahkan sudah ditonton sampai jutaan kali, menimbulkan beberapa reaksi berbeda, segelintir orang merasa tak percaya dan mempertanyakan kebenaran itu, tetapi yang lainnya langsung menghakimi.
“Astaga! Berita baru apa lagi ini?” tanya Noah setengah berteriak kala melihat ponsel dan membaca berita yang tengah menjadi perbincangan publik itu.
Daniel seketika menoleh, “Aku dengar persidangan itu jadi kacau,” kata Daniel.
“Benar-benar sangat di luar dugaan.”
“Akhir-akhir ini, kenapa jadi banyak public figure yang tertangkap karena skandal memalukan, ya?”
“Entahlah, aku benar-benar tak habis pikir, padahal sebelumnya mereka terlihat seperti orang baik dan bijaksana, tapi ternyata ….”
Elias yang baru kembali beberapa waktu lalu itu hanya mendengarkan pembicaraan timnya dari balik meja. Diam-diam tersenyum sinis melihat ketidaktahuan mereka.
Ia merogoh sakunya, mengambil buku catatan kecilnya dan melakukan hal yang sama seperti terakhir kali, mencoret nama yang tertera di sana dengan tinta merah.
“Hei, El.”
Mendengar Noah memanggilnya, Elias cepat-cepat meletakkan kembali buku catatan itu ke dalam sakunya dan menoleh tepat ketika Noah berdiri di samping meja kerjanya.
“Apa? Jangan ajak aku bergosip,” kata El berpura-pura sibuk.
“Tidak, siapa juga yang mau bergosip denganmu? Aku hanya ingin bertanya, ke mana kau pergi tadi pagi?” tanya Noah langsung, menatap Elias penuh selidik.
“Aku? Pergi menyelesaikan urusanku,” jawab Elias singkat tanpa menatap Noah.
“Aku tahu kau pergi menyelesaikan urusanmu, setiap kali pergi, alasanmu selalu itu. Kau ini memang tidak pandai membuat alasan.” Noah berkacak pinggang, menatap Elias serius dan penuh tanda tanya.
“Ya, memang itu alasannya, kau mau dengar apa lagi?”
“Ayolah, El. Kenapa kau tidak jujur saja?” tanya Noah lagi, kali ini berbisik-bisik agar orang-orang di sekitar mereka tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Elias menatap dengan kening berkerut dalam, “Apa yang kau bicarakan, sih?”
Selama beberapa saat, Noah menatap Elias serius, seolah hendak mencari kebenaran di kedua mata teman baiknya itu.
“Ikut aku, kita tidak bisa membicarakan hal ini di sini,” katanya kemudian mengajak Elias ke luar ruangan.
Noah menuntun Elias untuk masuk ke sebuah ruangan kosong yang tidak terpakai, mengunci pintunya untuk memastikan tak akan ada siapa pun yang masuk dan mengganggu pembicaraan penting mereka.
“Kau pergi ke persidangan Dennis Caldwell itu, kan?” tanya Noah tanpa berbasa-basi lagi.
Elias sedikit terkejut, tetapi kemudian dengan cepat memasang raut wajah sesantai mungkin. “Apa, sih, yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti,” kilahnya memalingkan wajah.
Merasa Elias tak akan semudah itu mengaku, Noah pun mengambil ponselnya, menunjukkan rekaman video penangkapan Mulholland, kemudian menunjuk ke salah seorang yang terlihat tidak asing dalam penayangan video itu.
“Lihat ini, di menit ke 10.37, perhatikan ke kursi di pojok itu, orang yang memakai setelan serba hitam dan topi itu … kau, kan, El?”
Noah bahkan menunjukkan hasil tangkapan layarnya dan foto Elias dengan angle yang sama. Kedua gambar itu begitu mirip, sehingga Noah merasa yakin bahwa ia tidak salah duga.
“Itu kau, kan? Aku yakin sekali itu kau, aku mengenalmu lebih baik dari siapapun, El. Aku bahkan tahu caramu bernafas, berjalan, duduk dan gerak-gerik tubuhmu,” terang Noah, membuat Elias tak bisa berkelit lagi.
Elias mundur beberapa langkah ke belakang dengan kepala yang tertunduk lemah dan sorot mata yang tidak bisa Noah artikan sebagai tatapan putus asa, kesedihan atau dendam.
“Kenapa kau melakukan hal itu, El? Mengenai skandal Dennis Caldwell itu … kau juga yang melakukannya, bukan?” tanya Noah hati-hati.
“Aku membenci mereka semua, Noah. Aku membenci mereka hingga aku berada di tahap ingin menghancurkan mereka!” seru Elias marah. Matanya nyalang menatap Noah.
Pria itu bahkan beringsut mundur, takut dengan Elias yang sekarang. Sisi Elias yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“El, tenangkanlah dirimu, kita bisa membicarakan hal ini baik-baik. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi aku tahu bahwa kau tidak mungkin melakukan semua ini tanpa alasan.” Noah berusaha menenangkan.
“Kau tidak akan mengerti, Noah!” bentak Elias lalu pergi dari sana begitu saja.
“El? Elias! Kau mau ke mana?” Noah berlari mengejar langkah Elias yang menjauh.
entahlah, apa lagi yang harus kubilang, terkadang aku merasa, ko sengaja menulis genre ini, biar aku bisa belajar banyak hal (kepenulisan). Terimakasih, karya yang luar biasa, Thor! 🙆🏻♂️