⚠️Warning⚠️
Cerita mengandung beberapa adegan kekerasan
Viona Hazella Algara mendapatkan sebuah keajaiban yang tidak semua orang bisa dapatkan setelah kematiannya.
Dalam sisa waktu antara hidup dan mati Viona Hazella Algara berharap dia bisa di beri kesempatan untuk menembus semua kesalahan yang telah di perbuatnya.
Keluarga yang dicintainya hancur karena ulahnya sendiri. Viona bak di jadikan pion oleh seseorang yang ingin merebut harta kekayaan keluarganya. Dan baru menyadari saat semuanya sudah terjadi.
Tepat saat dia berada di ambang kematian, sebuah keajaiban terjadi dan dia terbawa kembali ke empat tahun yang lalu.
Kali ini, Viona tidak bisa dipermainkan lagi seperti di kehidupan sebelumnya dan dia akan membalas dendam dengan caranya sendiri.
Meskipun Viona memiliki cukup kelembutan dan kebaikan untuk keluarga dan teman-temannya, dia tidak memiliki belas kasihan untuk musuh-musuhnya. Siapa pun yang telah menyakitinya atau menipunya di kehidupa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Setelah manager itu pergi, Freya dan yang lainnya langsung mendekati Viona.
"Viona, gue mau liat kartu yang tadi lo terima. Sini, coba liat!." Ziya mengulurkan tangannya untuk mengambil kartu itu dari tangan Viona, tetapi Viona menepis tangan Ziya dan memasukan kartu itu kedalam sakunya. Tangan Ziya terkulai canggung di udara.
"Viona, apa yang terjadi? Kenapa dia bilang kalau lo itu tamu VIP di sini?." Tanya Fero, menyuarakan keraguan dari semua teman-temannya. Viona tidak mengatakan apa pun, tetapi emosi bergejolak didalam dirinya. Tentu saja ini karena Varell. Pria muda itu benar-benar terlalu baik padanya. Klub Starlight, ia tahu bahwa itu pasti milik Varell.
Yang sebenarnya adalah Klub itu dulu milik Varell Jonathan Bramasta, tetapi tahun lalu, dia mengalihkan kepemilikan klubnya pada Viona Hazella Algara.
Pada ulang tahun Viona yang ke 18 tahun, gadis itu menyelinap keluar untuk menemui Leo yang kemudian membuat Arga sangat marah. Leo tidak hanya menolak untuk memberi Viona hadiah ulang tahun, tetapi lelaki itu juga mengacuhkannya, padahal Viona sudah membuat ayahnya marah demi Leo.
Untuk membuat perasaan Viona lebih baik, Varell memberinya hadiah yang besar berupa kepemilikan sebuah klub bernama Klub Starlight. Varell mengatakan pada Viona, jika gadis itu merasa bosan, dia bisa menghubungi managers dan pergi bermain di sana kapak saja Viona mau.
Saat itu, Viona justru mengabaikan dokumen transfer tersebut dan mau repot-repot membacanya. Viona benar-benar lupa tentang hal itu sampai kemudian Billy menyingung tentang klub itu hari ini. Viona mempertahankan raut wajah datarnya dan menyembunyikan kebahagiaannya yang tidak biasa sembari memikirkan wajah Varell yang tampan.
Viona tiba-tiba merasa ingin mengatakan terima kasih secara langsung pada pria itu.
"Viona lo denger nggak?." Ziya menyenggol Viona dengan cemas ketika mendapati Viona hanya melamun dan tidak memberikan tanggapan apa pun.
Viona menatapnya. "Gue pernah ketemu secara langsung sama pemiliknya... waktu gue ikut papa."
Jawaban Viona terdengar samar-samar dan yang lainnya sepertinya tidak langsung percaya. Namun, Viona tidak perduli. Jika Varell tidak ingin mengungkap bahwa dia pemiliknya, pasti ada alasannya. Jadi, Viona juga tidak ingin mengungkap terlalu banyak.
"Ngga masalah yang terpenting kita bisa masuk. Ayo!." Raut wajah Fero menunjukan kebahagiaan. Dia sudah lama mendengar reputasi tentang klub Starlight dan sudah lama ingin datang untuk melihatnya sendiri.
"Jangan terlalu cepat." Viona mengalihkan pandangannya ke arah Billy yang berdiri didekat Fero, lalu menunjuk ekspresi menggoda. "Bukan seharusnya lo minta maaf ke gue sekarang?."
Mendengar perkataan Viona, yang lainnya menatap Billy. Benarkah itu? Apakah Viona benar-benar membuatnya meminta maaf dengan bersujud?
Billy mengikutinya dari belakang, bersiap memasuki ruangan. Namun, setelah mendengar permintaan Viona, raut wajahnya berubah masam. Ia tidak percaya bahwa Viona benar-benar berhasil membuatnya minta maaf.
"Minta maaf? Ha! Viona, siapa yang tahu trik yang lo gunain supaya bisa dapetin keinginan lo. Gue ngga akan sudi minta maaf sama Lo." Balas Billy.
"Seriusan? Lo ngomong gitu? Nyerah dari tantangan lo sendiri?." Viona menyipitkan matanya.
Billy melihat sekilas tatapan menghina dari Viona dan dalam kemarahan memutuskan untuk mengabaikannya dengan hati-hati. "Ya, kalau gue nyerah dari tantangan gue sendiri. Lo mau apa?."
Viona tidak percaya betapa tidak malu dan tidak menyesalnya Billy dengan ucapannya sendiri. Viona kehilangan kata-kata. Ini pertama kalinya dia bertemu seseorang yang begitu berani.
Setelah melihat apa yang terjadi, Ziya menarik lengan Viona. "Viona udah dong, kita akhiri aja semuanya hari ini. Kita semua berteman di sini dan gue ngerasa ngga nyaman kalau kita terus berantem."
Viona menoleh padanya, tampak terkejut. "Ziya, waktu Billy minta gue supaya minta maaf ke dia, kenapa lo ngga ngomong sesuatu? Dan kenapa lo tiba-tiba berubah?."
Ziya terkejut. "Lo ngomong apa? Gue ada di pihak lo kok."
Billy mengeluarkan kartu undangannya dan mendengus. "Viona, kalau lo mau pamer, silakan aja. Gue ngga butuh lo. Gue bisa masuk sendiri."
Freya segera mengaitkan lengannya ke lengan Billy. "Ya, kami sama sekali ngga butuh lo. Billy, ayo masuk."
Setelah berbicara, mereka berdua berjalan masuk. "Billy, gue ngga ngizinin lo masuk!." Katanya dengan nada dinginnya.
"Kami punya kartu undangan, apa urusan lo?." Freya memutar matanya ke arah Viona.
Viona menatapnya seolah-olah dia sedang melihat orang bodoh. 'Kartu undangan? Apa gunanya itu! Kalau Starlight punya gue!.'
Viona mengulurkan tangannya dan mengambil kartu nama yang baru saja diberikan manajer kepadanya, melambaikannya di depan mereka. "Menurut lo apa yang akan terjadi kalau gue telpon manager Klub sekarang dan nyuruh dia buat ngelarang kalian masuk?."
Mendengar perkataan Viona. Billy menghentikan langkahnya, menoleh untuk menatapnya dengan tidak percaya. Dia telah melihat sikap manajer itu terhadap Viona sebelumnya. Dia yakin bahwa jika Viona tidak mengizinkan mereka masuk, manajer itu pasti akan menurutinya! Sialan, bagaimana semuanya bisa menjadi seperti ini!
"Viona, lo udah gila! Kami punya kartu undangan, kenapa lo ngga ngizinin kami masuk?." Freya dapat menahan diri untuk tidak meninggikan suaranya.
"Gue bersedih." Katanya dengan enteng, membuat keduanya begitu marah hingga hampir muntah darah.
"Viona, apa sikap lo ini ngga berlebihan? Lo udah kelewatan." Ziya menatapnya dengan sikap penuh kemenangan dan merasa sangat tidak senang.
"Ngga akan mustahil buat masuk kalau lo memohon. Billy, cepetan minta maaf!." Kata Viona dengan tenang.
'Berusaha bersikap ngga adil sama Billy?! Huh! Mustahil!.' Batin Freya sangat marah hingga dia berbalik.
"Sayang, jangan masuk! Ini kan Klub Starlight sama sekali ngga ada hebatnya juga. Kita cari tempat lain."
Setelah selesai berbicara, Freya mengulurkan tangannya dan menarik lengan Billy karena mengajaknya pergi ke tempat lain, tetapi Billy justru diam dan tidak mau bergerak. Membuat Freya mengernyitkan dahinya. "Sayang, ada apa?."
"Diem!." Brandon tak kuasa menahan diri untuk menggeram pada pacarnya sendiri.
Gadis bodoh ini? Dia sudah membuatnya gila! Tweet-tweet terkait Klub Starlight yang telah Billy posting sudah ramai dibicarakan. Jika dirinya tidak bisa masuk ke klub Starlight hari ini, semua temannya akan tahu bahwa dirinya sedang membual.
Jika Billy tidak masuk, dia akan malu di depan semua teman-temannya. Namun jika dia meminta maaf kepada Viona sembari bersujud, dia hanya akan merasa malu di depan beberapa orang di sekitar mereka.
Billy berpikir sejenak untuk mempertimbangkan pilihannya dan kemudian membuat keputusan. Dia menyingkirkan tangan Freya dan berjalan beberapa langkah ke arah Viona. "Kalau gue minta maaf, apa lo akan berhenti nyimpen dendam sama gue dan ngizinin gue masuk?." Tanya lelaki itu.
"Ya, gue kan ngga kayak lo. Gue ngga akan mengingkari janji." Jawab Viona.
Wajah Billy memerah lalu pucat karena marah. Ia ingin melampiaskan amarahnya, tetapi ia tidak berani.
Freya terkejut dengan perilaku Billy. "Billy, kenapa lo malah mau tunduk sama cewek kayak Viona? Mendiangan kita pergi aja dari tempat ini." Serunya.
Viona tertawa kecil. "Oh, gue kagum deh sama keberanian pacar lo. Freya, apa lo mau gabung sama Billy dan bersikap songong?!." Tanya Nya.
Perkataan Viona terasa seperti tamparan di wajah Billy. Billy melotot kearah Freya. "Lo bisa diem ngga?."
Freya terkejut dan dengan kemarahan Billy dan dengan patuh menutup mulutnya. Billy menarik napas dalam-dalam seolah-olah dia telah mengumpulkan seluruh keberaniannya. Namun ketika dia berbicara, kata-katanya sekecil suara nyamuk. "Ya, gue minta maaf. Gue udah salah."
Viona menempelkan tangannya di dekat telinganya, dengan ekspresi bingung. "Apa? Lo ngomong langsung apa dari hati? Gue ngga denger apa pun!."
Billy menjadi marah, berpikir bahwa Viona tidak boleh main-main dengannya di masa mendatang, atau dia akan membunuhnya!
Billy mengepalkan tangannya dan meminta maaf dengan suara keras. "Maaf, gue minta maaf! Gue ngaku salah!."
Viona mengangguk puas, tak kuasa menahan senyumnya. Lelaki sombong yang biasanya pamer di kampus ini juga mengalami hari seperti itu! Melihatnya tampak seperti baru saja makan kotoran sungguh memuaskan!
Wajah Billy dipenuhi rasa malu, dari leher hingga telinganya memerah. Malu, terlalu memalukan! Dia melihat Viona tidak puas, menggertakkan giginya dan berkata, "Apa itu cukup?"
Viona mengangguk puas, tak kuasa menahan senyumnya.
"Cukup?." Viona menoleh dan menatapnya tak percaya. "Lo bilang tiga kali tadi dan lo masih sekali ini minta maaf ke gue. Ayo, lanjutin lagi!."
Billy merasa ingin muntah darah. 'Sial!!' pikirnya. Dia harus membalas dendam, kalau tidak dirinya tidak akan pernah bisa menelan amarah ini!
Setelah sedikit kekacauan, Billy akhirnya meminta maaf dengan canggung. Mereka akhirnya berdamai dan mulai berjalan masuk kedalam Klub Starlight satu per satu. Kecuali Viona yang sedang dalam suasana hati yang baik, yang lainnya tidak terlihat terlalu baik.
Freya teringat dengan adegan memalukan yang baru saja dilakukan Billy dan tak kuasa menahan diri untuk mengeluh, "Billy, apa-apaan sih? Kenapa lo minta maaf sama Viona? Apa yang lo lakuin tadi bener-bener bikin gue malu."
Billy juga merasa malu. "Semua ini gara-gara lo, Freya." Katanya.
"Apa? Karena gue... lo bilang?."
"Ya, ini semua karena lo." Kata Billy. "Kalau bukan karena lo yang kepengen banget buat dateng ke sini. Gue ngga akan minta maaf sama Viona supaya gue ngga ngecewain lo!." Katanya berbohong, bukan itu alasan dia sebenernya mengotot agar bisa masuk ke klub ini.
Mendengar perkataan Billy, Freya menatapnya dengan heran. "Jadi, semua yang ada dipikiran lo itu tentang gue? Billy... gue minta maaf, karena udah salah menilai lo selama kita pacaran." Freya memeluk lengan Billy, memperlihatkan sedikit emosi di wajahnya.
Ziya berjalan di depan keduanya dan tentu saja mendengar percakapan mereka dengan jelas, ia tidak dapat menahan diri untuk mengejek mereka dalam hatinya.
Freya benar-benar tidak punya otak, percaya pada segala macam omong kosong. Namun justru karena itulah Ziya bisa mengambil inisiatif untuk menjadi sahabat Freya.
Dengan begitu, Ziya hanya perlu menggerakkan mulutnya untuk memancing Freya melakukan sesuatu.