NovelToon NovelToon
Pesona Almira

Pesona Almira

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Nay Lissa

Almira merupakan abdi ndalem yang memiliki kepribadian ganda, kadang dirinya bersikap seperti preman karena dulunya di merupakan preman jalanan dan terkadang dia bersikap lemah lembut. Ia menikah dengan seorang Gus yang mana awalnya menjadi pembicaraan di keluarga suaminya karena Almira hidup sebatang kara. Dan Gus itu pun menerimanya hanya karena keterpaksaan dari orang tuanya. Bagaimana perjalanan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nay Lissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri jadi Santri

Di tengah malam dua mobil hitam memasuki pagar. Seorang wanita turun duluan, sambil menggendong anaknya yang tertidur.

"Afif bangun, ayo turun nak!" Suaminya membangunkan anaknya yang satu yang tertidur di sampingnya.

"Umi kami langsung ke pesantren dulu ya.." Ucap Almira dengan mata merahnya karena menahan kantuk.

"Nggak tidur di ndalem dulu nak besok baru ke pesantren lagian ini sudah tengah malam. Nanti biarkan Mbak Qila tidur sama dek Aqil dan Dek Afif nggak papakan Nduk Qila?" Qila hanya mengangguk dengan mata tak kalah merah seprti Almira jika seperti ini harapannya hanya ingin segera tidur. Lagian di kamar Aqil dan Afif ada kamar kecil yang biasa di gunakan abdi ndalem menemani kedua putranya saat mereka pergi.

Sampai di ndalem mereka mencari kamar masing-masing tanpa menyalakan lampu terlebih dahulu, hanya Almira yang tidak tau kamarnya. Ia memutuskan untuk tidur di ruang tamu karena mau bertanya pada Umi dan Abi mereka sudah masuk kamar duluan.

Setelah Agam menaruh mobil di bagasi dirinya langsung masuk ke ndalem. Saat menyalakan lampu ia terkejut melihat seorang wanita tidur di sofa ruang tamu sambil memeluk tasnya. Wanita itu tak lain istrinya.

Melihat tidurnya yang begitu pulas ia tak tega membangunkannya, sehingga dirinya harus membopong ke kamarnya. Saat tidur seperti ketika di rumah neneknya, Almira tidur di atas kasur dan dirinya tidur di sofa.

 

..............

 

Hari masih belum pagi, namun Almira sudah membuka matanya. Ia melihat sekelilingnya yang agak gelap karena hanya lampu tidur yang di nyalakan. Jika dilihat dari bentuk ruangannya ini bukan lagi ruang tamu, lebih tepatnya di sebuah kamar. Angin malam masih menari menembus korden jendela dan membuat rubunya terasa kedinginan padahal dirinya sudah berlapis selimut tebal.

Di bawah aina rembulan yang tembus hingga kamarnya, Almira melihat orang yang sedang tertidur pulas di atas sofa karena tempat tidurnya ia tempati. Pria itu tidur tanpa selimut. Segera Almira menyelimuti pria yang kedingan itu.

"Aku harus pergi sebelum yang lain ada yang tau." Ucapnya lalu meninggalkan kamar Agam.

Suasana ndalem masih sepi, belum ada tanda-tanda kehidupan. Tempat pertama yang di carinya adalah kamar tempat Qila tidur.

"Qil, bangun ayok kita pindah di pesantren!" Ucap Almira pelan supaya Afif dan Aqil tidak bangun.

"Jam berapa Al? Ini kan belum pagi kalo nanti umi nyariin gimana?" Tanya Qila masih mengumpulkan nyawanya.

"Itu nanti urusan saya, sekarang ayok kita ke pesantren!" Almira menuntun Qila yang masih setengah sadar.

Mereka lewat pintu tengah ndalem yang langsung terhubung dengan mushola pesantren putri.

Ada beberapa santri yang sudah bangun menunaikan sholat tahajud. Mereka kembali kemarin, sehingga pesantren sudah ramai termasuk kamarnya.

Cklek.

Terlihat Mila dan Salwa masih tertidur, masih banyak tempat yang kosong karena kamarnya hanya dihuni 4 orang. Qila langsung kembali tidur di samping Mila, sedangkan Almira memilih untuk menunaikan sholat tahajud.

"Loh Mbak Al pulang kapan?" Tanya seorang santri yang sedang mengambil wudhu di sampingnya.

"Tadi dek." Ucap Al. Almira terkenal ramah di kalangan para santri, sehingga banyak adek-adekny yang menyukainya.

Almira menghadap Sang Pencipta hingga waktu sholat subuh tiba. Saat-saat seperti inilah ia merasakan kedamaian dalam jiwanya. Bebannya terasa terangkat.

Teeettttt....!!!! Teeeetttt....!!!!Teeeetttt...!!!

Suara bel tanda waktu jama'ah subuh sudah di bunyikan dengan keras. Para pengurus yang bertugas mulai membangunkan setiap kamar sambil.

"Subuh..!!Subuh...!!!Ayooo banguunn!!!" Ucap Mereka sambil memukul-mukul pintu kamar menggunakan sapu.

Inilah yang membuat Almira ingin tertawa mengingat dirinya pernah membangunkan para santri saat tidak ada pengurus yang membangunkannya. Saat ia gedor-gedor pintu kamar mereka, mereka langsung bangun, tapi saat Almira menunggu di bawah tidak ada satupun santri yang turun berjamaah. Ternyata mereka kembali tidur lagi.

"Mbak! Pak Yai kok belum Dateng ini hampir pukul lima?" Tanya Nia yang berada di samping Almira.

"Mungkin masih capek karena sampainya larut malam." Jawab Almira.

"Mbak Dina gimana ini?" Tanya Nia kepada ketua pesantren tersebut.

Dina memutuskan untuk menjadi imam mewakili Kyai Fatih karena dirinya ketua pondok.

Setelah jama'ah subuh Almira membangunkan teman-temannya untuk menunaikan sholat subuh.

"Kapan Lo pulang Al?" Tanya Salwa setelah mengumpulkan nyawanya.

"Tadi malam. Sekarang bangun sudah jam lima sebentar lagi matahari terbit." Ucap Almira menarik tangan Qila dan Mila yang masih molor.

"Al gue masih ngantuk." Ucap Qila tapi Almira terus menarik tangan Qila hingga berdiri.

.............

Sinar mentari menebus korden kamar Agam hingga membuat matanya terbuka. Agam langsung bangun seketika menyadari dirinya bangun kesiangan dan tak menemukan Almira di atas kasur.

"Kenapa dia tidak membangunkan ku untuk sholat shubuh?" Agam menyimpan dulu amarahnya pada Almira. Ia langsung bergegas mengambil Air wudhu. Ternyata bukan hanya dirinya yang telat bangun semua keluarganya juga telat mungkin karena kegiatan kemaren serta perjalanan semalam yang amat melelahkan.

"Umi Sarah lihat Mbak Al nggak?" Tanyanya setelah mengqodlo' sholat subuh.

"Loh kok kamu masih panggil istri kamu dengan mbak?" Goda Umi Sarah.

" Assalamu'alaikum umi." Tepat sekali apa yang di cari Agam sekarang berada di depannya.

"Mbak.." Umi Sarah langsung menatap tajam anaknya "Maksudku Dek Al kenapa tadi nggak bangunin kita semua?" Tanya Agam sambil merasa aneh dengan panggilannya terhadap Almira menggunakan kata "dek".

Almira menahan tawanya saat mendengar panggilan Agam untuknya "Maaf umi saya pindah ke pesantren saat masih pukul tiga." Ucap Almira merasa bersalah.

"Ya udah nggak papa, sekarang yuk ikut makan bersama!" Ajak wanita yang sudah menjadi ibunya itu.

"Maaf umi, saya bukan maksud ingin menolak hanya saja saya takut ada santri yang melihatnya." Ucapnya.

" Kamu beneran nggak ingin tinggal di sini? Di sini kan kamu tetep masih bisa mengaji dan menjadi santri di pesantren ini. Bagaimana pun kelak para santri juga akan kalau kamu istri Agam."Agam langsung menatap tajam istrinya tanpa sepengetahuan umi Sarah.

"Bukan begitu umi.." Almira merasa tbah sungkan.

"Ya.. umi paham kok, tapi kamu kalo butuh sesuatu jangan sungkan me ndalem. Ndalem selalu terbuka untukmu. Apalagi sekarang kamu sudah menjadi anak umi."

"Insya Allah umi."

Liat di depan umi Sarah saja sok lugu coba kalau di depanku, batin Agam pengen mencubit pipi Almira hingga merah sebagai ganti kekesalannya karena mendapat perlakuan yang berbeda.

Kenapa dia memanggil ibunya dengan namanya, dasar anak durhaka.

Sepeninggalan Umi Sarah mereka hanya saling menatap tajam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.

*Nggak papa lah gue masih kerjain dia saat ngajar ngaji, itung-itung buat perlakuannya yang tidak adil padaku.

Gue harus siap, pasti si Gus songong itu sudah buat rencana untukku nanti malam. Nggak papa ini termasuk cobaan menjadi santri sekaligus istri jika memiliki suami yang songong seperti Agam*.

" Ngapain Lo masih ada di sini?" Tanya Agam ketus.

"Ya terserah gue dong, ini kan juga rumah gue." Balas Almira sewot.

Agam memilih pergi duluan sebelum ada abdi ndalem yang lihat, begitu juga Almira yang langsung mengerjakan kegiatannya seperti biasanya di ndalem yang tak lain mengurus anak-anak umi Sarah yang kini telah menjadi adiknya.

1
lizam libanon
apa sih maksud dari kata "Sedikit" di paragraf ini?
Abel Yasmin
good
Eva Sri Wahyuni
ngakak wkwk
Widya Aza
🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak ya allah
Widya Aza
🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak ya allah
Widya Aza
ngakak ya allah 🤣🤣🤣🤣🤭
Har Tini
lanjut tjor baru MMpir👍
Nurul nurul
kapan mp nya??
Nurul nurul
kok agak aneh,klo Agam ngajar pagi bukannya sebelum berangkat seharusnya Almira dibangunin dulu
Nurul nurul
othor dari Tuban kah,berarti kita tetanggaan,aq Tuban rengel
Nurul nurul
pondoknya wilayah mana??ada Tuban...ada Bojonegoro...apa pondoknya wilayah Widang?Lamongan?atau mbabat...kan di mbabat ada ponpes terkenal,pondok langitan
Nurul nurul
mentang² istrinya mantan preman mau dijadikan ketua keamanan😂😂ada² aja lu gam
Nurul nurul
"Adam i'm coming"😂
Nurul nurul
pondoknya critanya asal mana ya,kok ada daerah Tuban juga...btw aq juga dari Tuban ,wilayah kecamatan Rengel
Nurul nurul
bukannya klo rebus telur itu pas airnya masih dingin,kok itu dimasukin pas udah mendidih
Nurul nurul
Thor,pake bahasa indo yg jelas napa,ada bahasa getek segala,kan bisa pake galah...untung aq Jawa,klo luar Jawa kn aq ngk faham
osie
semangat thor...
Ummi Alfa
Ibu tirinya koq gitu sih! ndak mencerminkan istri Kyai.
Ummi Alfa
Bener kata si Mbah kalo mereka mirip ternyata memang adik kakak.
Rini Apriyanti
Mentang2 istrinya preman, mau dijadikan ketua keamanan 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!