NovelToon NovelToon
ANANDHITA

ANANDHITA

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:579.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dian Ekawati

Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.

Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.

Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.

Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.

Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.

Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.

Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.

Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.

Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.

Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Sebuah Rencana

“Dewi.., sebenarnya ada yang perlu Romo bicarakan berdua denganmu.”

Dewandaru berkata dengan raut wajah serius seraya menurunkan Anandhita dari gendongannya.

“Baik Kek. Ayo kita pergi. Kita bicara di luar saja.” Jawab Anandhita sambil menarik tangan kakeknya.

“Bukan dengan kamu Anak Cantik…. Tapi dengan Ibumu..”

Dewandaru menundukkan tubuhnya dan mencubit hidung Anandhita.

“Tadi Kakek bilang Dewi, nama Anan kan Dewi juga Kek? De wi A nan dhi ta.” Ujarnya tegas.

“Iyya, Kakek juga tahu nama cucu kakek yang cantik ini De wi A nan dhita, tapi kakek ingin bicara berdua dengan ibumu, De wi Astjar ja na.” Kata Dewandaru menirukan gaya bicara Anandhita.

“Anandhita sayang… coba cari paman pengawal dimana."

"Nanti kita bisa main sama-sama lagi kalau Ibu sudah selesai berbicara dengan Kakek Dewandaru.” Sela Dewi Astjarjana menghentikan perdebatan kakek dan cucu tersebut.

Anandhita menghela nafas panjang.

“Baiklah Ibunda….” Anandhita beranjak keluar ruangan mencari paman pengawal menuruti titah Ibundanya dengan malas.

Bibirnya melengkung ke bawah dan sedikit manyun.

“Bagaimana Romo…? Sepertinya… ada hal penting yang ingin Kanjeng Romo sampaikan..?”

Dewi Astjarjana memulai percakapan ketika Anandhita sudah menghilang di luar perpustakaan.

“Romo mendengar rumor di pasar. Romo kuatir ada apa-apa dengan Anandhita.”

Dewi Astjarjana menghela nafas dalam.

“Rumor itu betul Romo. Mereka membicarakan Anandhita…” Ucap Dewi Astjarjana tidak bersemangat.

“Bagaimana bisa?” Dewandaru masih berharap Dewi Astjarjana salah bicara.

“Anandhita... keluar kadipatenan tanpa sepengetahuan Nanda.”

Dewi Astjarjana menundukkan kepala. Ada nada sesal terkandung dalam suaranya.

“Ceritakan dengan lengkap.” Suara Dewandaru berubah tegas.

“Ampun Romo..., Nanda hanya mengetahui saat Anandhita kembali pulang dengan keadaan lesu."

"Tapi Anandhita tidak mengalami luka sedikit pun waktu itu.”

Mereka terdiam sejenak. Mata Dewandaru menerawang, membayangkan apa yang sudah dialami Anandhita, cucu kesayangannya.

“Romo hanya memikirkan bagaimana agar Anandhita bisa di terima di masyarakat tanpa harus memperdulikan kelebihannya.”

“Sepertinya sulit Kanjeng Romo, mengingat kesedihan Anandhita waktu itu, juga rumor yang beredar saat ini, sepertinya mereka tidak suka dengan kehadiran Anandhita, dan bahkan terkesan takut.”

Ada nada putus asa pada suara Dewi Astjarjana. Tak sedikitpun ia berani mengangkat kepala.

Wajahnya menunduk menatap ubin lantai yang dipijaknya.

“Bagaimana kalau Anandhita tinggal bersama Romo?”

Dewi Astjarjana mendongakkan kepala, tak disangkanya Ayah mertuanya akan mengucapkan hal itu.

“Perhatian Romo tidak akan terbagi bila Anandhita tinggal bersama Romo. Ada juga Dimas Arya yang bisa menjadi latih tanding Anandhita disana."

"Selain itu, Perguruan Kidang Kentjana letaknya jauh dari pemukiman penduduk."

"Tidak akan ada penduduk yang berani mengganggu Anandhita.” Dewandaru berkata dengan sungguh-sungguh.

Dewi Astjarjana menatap Dewandaru saat Dewandaru mengutarakan maksudnya.

Alih-alih segera menjawab, Dewi Astjarjana menghela nafas dalam-dalam.

“Romo tahu ini sulit bagimu. Anandhita adalah putrimu satu-satunya setelah lama menunggu. Tapi ini semua demi kebaikan Anandhita."

"Dia butuh latihan dengan disiplin sebagai bekal apabila ada hal-hal yang tidak kita inginkan di kemudian hari."

"Sedangkan fasilitas di kadipatenan ini tidak cukup untuk bakat Anandhita yang memiliki warisan kekuatan dan keahlian seorang Dewa.” Lanjut Dewandaru mencoba meyakinkan Dewi Astjarjana.

Dewi Astjarjana masih merasa ragu. Bagaimanapun, Anandhita adalah buah hatinya, separuh nyawanya, pelipur laranya, penguat hati dan pembunuh sepinya, apalagi disaat sekarang Elang Ganendra sudah tidak pernah pulang ke kadipatenan.

“Bagaimana bila Kanda Adipati El.…”

“Kau masih sempat memikirkannya?!! Anandhita lebih membutuhkan perhatianmu! Bapak tidak punya hati itu sudah mati!!”

Dewandaru tersulut emosi bila mengingat putranya, Elang Ganendra yang sudah tidak pernah kembali ke kadipatenan, tidak pula pernah peduli dengan anak istri dan juga orang tuanya, apalagi mengurusi Kadipaten Pringgondani dan Perguruan Kidang Kentjana.

Bagi Dewandaru, putranya tersebut sudah mati, sudah tidak layak dibicarakan lagi.

“Ba baiklah Romo, Nanda akan memanggil Anandhita...” Jawab Dewi Astjarjana sambil membungkukkan badan kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan.

Tubuhnya gemetar. Baru kali ini Dewi Astjarjana merasakan emosi Dewandaru.

Kakek yang penyabar, sangat bijaksana dan bersahaja itu ternyata sungguh menakutkan saat ia mengingatkannya pada sosok Elang Ganendra yang tidak lain adalah putra Dewandaru sendiri.

“Tiga.. Empat…hahaha… Enam lagi Paman, Lima…”

“Anandhita… kemarilah sayang..!” Dewi Astjarjana memanggil Anandhita yang sedang menghitung hukuman paman pengawal.

Paman pengawal yang telah kalah bermain itu berjongkok dan melompat dengan tangan terkait di belakang kepala.

Anandhita menoleh sebentar.

“Teruskan sampai sepuluh ya Paman, tidak boleh curang!" Kata Anandhita sejenak sebelum bergegas melangkah ke arah ibunya.

Paman pengawal hanya mengangguk sambil terus melompat dan berhitung.

“Tujuh… Delapan…”

“Anandhita, ayo ikut Ibu ke perpustakaan. Kakeknda Dewandaru ingin menanyakan sesuatu pada Anandhita.”

Dewi Astjarjana menatap mata Anandhita sejenak, kemudian menggandeng tangannya menuju perpustakaan.

“Baik Ibu…” Anandhita menuruti langkah Ibunya sambil meloncat-loncat senang.

“Kakeeeek….” Anandhita berlari memasuki perpustakaan berniat memeluk Dewandaru. Dewandaru menyambut pelukannya.

Dibiarkannya Anandhita memeluknya sampai puas karena memang sudah hampir dua bulan beliau meninggalkan kadipatenan untuk kembali ke kediamannya mengurus perguruan Kidang Kentjana yang lama terbengkelai.

“Kakek, Nenek mana? Koq Nenek tidak ikut Kakek?” Tanya Anandhita melepaskan pelukannya ketika baru sadar bila Nenek Danastri tidak datang bersama Kakek Dewandaru.

“Nenekmu di rumah, Cucuku… Apakah Anandhita rindu sama nenek?” Tanya Dewandaru sambil mengelus kepala Anandhita.

Anandhita mengunci bibirnya rapat sambil mengangguk cepat, kemudian menengadah menatap Dewandaru.

Dewandaru membungkukkan badannya agar sejajar dengan mata Anandhita.

“Anandhita mau ikut Kakek? Kita ketempat nenek. Nenek pasti senang kalau Anandhita datang.”

“Mau Kek… Anan mau!” Dengan antusias Anandhita menjawab.

Bagaimana pun, Anandhita sudah merasa bosan tinggal di kadipatenan yang menurutnya sempit dan sepi ini.

“Ibu, Ibunda ikut?” Anandhita berganti memeluk Dewi Astjarjana.

Yang ditanya hanya menatap Dewandaru. Dewandaru menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Iya Sayang…” Jawab Dewi Astjarjana singkat.

“Siapkan bajumu, kita berangkat sekarang juga. Aku akan meminta Gayatri menyiapkan kereta kuda.” Kata Dewandaru sambil melangkah pergi.

“Baik Romo...” Ucap Dewi Astjarjana sambil membungkukkan badan.

“Horeeeee…. Anandhita mau ke tempat nenek… Horeee…” Anandhita bersorak kegirangan sambil meloncat-loncat kecil.

Dewi Astjarjana kemudian mengajak Anandhita kembali ke Griya Kenanga untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

1
Putra_Andalas
dikiranya OREO kalee...😁
Putra_Andalas
knapa juga menyalahkan si Bayi...lah bapak e dwe ELANG..wajar toh punya sayap 😁
Nona Bucin 18294
Hai kak aku mampir, semangat terus berkarya... salam dari Menikah muda 🤗😊👍💜
Intanksm98
Haha, kang udin, kang udin ≧∇≦
Intanksm98
(♡˙︶˙♡)
Intanksm98
mohon maaf baginda raja, itu seratus orang bandit lumayan banyak juga 😭 kasian Adipati Elangnya... 🙏

Haha, salam dari Clarissa ❣️
Intanksm98
Nyimak dari awal ❣️
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: Semoga terhibur, Kak
total 1 replies
.
aku gak kuat baca yg beginiaaan 😭😭😭
.: ish ish iiishhh
total 2 replies
.
nyesek....😭😭😭
🌿𝒇𝒂
kok jd syedih gini sih Anan...😭😭
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak😄
total 1 replies
.
😭😭😭
🌿𝒇𝒂
woow...😍
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: hehe.. ketinggian ngayalnya ya Kak? 🤣🙈
total 1 replies
Ary
part ini bikin deg-degan sampe tahan nafas 😆
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: hehe.. cuma novel Kakak 😁
total 1 replies
🌿𝒇𝒂
penasaran sama resep jamunya 😂
🌿𝒇𝒂: itu beneran resep....?🤔
total 2 replies
Ary
Anan kereen....
🌿𝒇𝒂
Anan masih bersih, rasane ko ga rela...😭
🌿𝒇𝒂
Awaang ...😭
🌿𝒇𝒂
ikut senyum2 kaya awang 🥰🥰
🌿𝒇𝒂: lanjuuut....
total 2 replies
🌿𝒇𝒂
cerdas Anan...
🌿𝒇𝒂
lg tegang2 iklan loh 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!