Akibat desakan dari sang mommy akhirnya Noah terpaksa menikah dengan Zoe adik tirinya. Noah menganggap Zoe sebagai adiknya sendiri bahkan, setelah menikah-pun Noah tetap mengatakan pada semua orang bahwa Zoe adalah adik bukan istrinya.
Pernikahan rahasia antara Noah dan Zoe dari publik ternyata membuat Zoe cukup sakit hati. Ia menaruh perasaan pada Noah yang ia anggap sebagai pria satu-satunya setelah sang daddy yang pantas di jadikan suami tapi, Noah tak pernah mengakuinya lebih dari gelar ADIK.
Apa yang akan Zoe lakukan? Mungkinkah ia akan selalu bersabar menunggu posisi barunya atau pasrah melepaskan Noah?!
....
Bagi yang baru baca cerita ini mohon baca dulu novel IMPOTEN HUSBAND.
Jangan lupa vote, like and komennya say, mohon kritik dan saran tapi dalam bahasa yang manusiawi ya😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil anak Noah
Dari pagi Zoe menemani Noah bekerja. Tak ada yang banyak di lakukan gadis itu selain duduk di sofa lalu beralih naik ke meja kerja Noah dan terkadang ia duduk di pangkuan pria itu lalu kembali naik ke meja yang sengaja Noah sisihkan sedikit ruang untuk bokong gadis itu.
"Bosan?" Tanya Noah sesekali menatap Zoe yang masih nyaman duduk di mejanya.
"Sedikit."
"Kakak masih kerja. Bermainlah dulu di luar."
"Em." Zoe mengangguk. Tapi, bukannya bermain ia justru berdiri di belakang kursi Noah dan memijat bahu kokoh pria itu.
"Zoe?"
"Zoe sedang bermain. Kakak kerja saja!" Jawab Zoe menjawab panggilan Noah yang akhirnya menghela nafas membiarkan Zoe melakukan apa yang dia mau.
Setelah beberapa lama, ponsel Noah berdering. Zoe memicingkan matanya melihat nama Bei La di sana sebelum akhirnya Noah mematikan panggilan itu lalu membalikan posisi ponselnya jadi menghadap meja.
"Dia memang tak jera," Batin Zoe menahan geram kala ponsel itu kembali berdering.
Zoe hanya diam melihat respon wajah tampan datar Noah yang terganggu akan deringan ponselnya.
"Kenapa tidak di angkat?"
"Tak penting," Acuh Noah masih fokus dengan laptopnya.
Sudut bibir Zoe terangkat. Dengan pijatan beralih ke pelipis Noah yang menikmati pijatan dari jemari lentik yang adik.
"Jawab saja-kak. Siapa tahu dari Vivian."
"Bukan Vivian."
"Lalu?" Tanya Zoe sontak langsung menghentikan jari Noah yang tadi lihai mengotak-atik keyboardnya.
"Bukan siapa-siapa."
"Kalau bukan siapa-siapa kenapa terus menelepon?" Sindir Zoe agak kesal sampai Noah mengadah menatap wajah cantiknya.
"Kenapa kesal, hm?"
"Tidak ada," Gumam Zoe memanyunkan bibirnya lalu berjalan ingin pergi ke sofa.
Tapi, lengannya langsung di tarik Noah hingga Zoe jatuh ke pangkuannya. Dagu Noah bersandar ke bahu Zoe yang membiarkan kedua lengan Noah membelit perut datarnya.
"Hanya urusan kecil. Sangat tak penting."
"Hm."
"Masih marah?"
Zoe menggeleng tapi wajahnya masih di tekuk masam dengan bibir manyun. Noah tersenyum tipis, gadis ini memang selalu spesial di matanya.
"Kenapa marah, hm?"
"Apa itu kekasih kakak?" Tanya Zoe merendahkan suaranya.
Noah terdiam dan di situlah jantungnya berdegup kencang menduga jawaban Noah yang akan menyakiti hatinya.
"Tidak."
"Benar?" Tanya Zoe lagi memastikan bahkan ia menoleh pada Noah yang mengangguk.
"Zoe pernah lihat kakak dekat dengan wanita asing?"
"Tidak. Tapi.."
"Jangan dengarkan rumor apapun. Kakak hanya fokus bekerja. Tak ada waktu untuk menjalin percintaan."
"Janji, ya?" Pinta Zoe menunjukan kelingkingnya. Dahi Noah mengkerut menatap sosok cantik itu penuh tanya.
"Janji?"
"Iya, janji kakak jangan punya pacar. Kalau kakak punya berarti Zoe boleh pacaran!" Tegas Zoe masih mempertahankan jari kelingkingnya di depan mata Noah.
"Pacaran?"
"Em." Mengangguk.
"Jika kakak punya Zoe akan cari pacar sendiri. Tak peduli masih sekolah atau tidak," Imbuh Zoe membuat Noah menghela nafas.
"Zoe tak boleh pacaran sebelum selesai sekolah."
"Tergantung. Kalau kakak duluan maka Zoe akan ikut juga," Sengit Zoe hingga Noah akhirnya menautkan jari kelingking mereka.
Zoe tersenyum puas akan janji Noah. Jika begini, ia tak akan khawatir lagi soal kekasih kakaknya.
"Pergilah bermain. Kakak akan selesai satu jam lagi!" Mengacak puncak kepala Zoe yang mengangguk.
"Zoe boleh jalan-jalan keluar-kan?"
"Hm. Tapi, jangan jauh-jauh. Minta temani penjaga di bawah!" Tegas Noah tak mau adiknya terluka.
Zoe mengangguk. Ia turun dari pangkuan Noah lalu berjalan pergi keluar. Setelah tak melihat Zoe lagi barulah Noah mengerjakan pekerjaannya dengan fokus.
Di luar sana, Zoe tak meminta di kawal siapapun. Ia turun ke lantai bawah menaiki lift lalu melihat beberapa miniatur dan patung-patung estetik yang ada di bagian depan perusahaan.
"Nona Zoe!"
Sapa para karyawan dan staf yang melihat Zoe berkeliling. Zoe hanya tersenyum menganggukkan kepalanya seraya terus berjalan ke area luar perusahaan.
"Benar-benar tak berubah. Daddy mempertahankan kekhasan gedung ini," Gumam Zoe menatap penuh binar sebuah patung lampion yang ada di dekat pancuran taman mini perusahaan.
Zoe berjalan-jalan sendirian sampai tak sadar jika langkahnya sudah jauh dari lingkungan perusahaan. Karena bosan, Zoe menyebrang area jalan berniat membeli minum.
Tapi, lirikan mata Zoe tertuju pada satu mobil hitam yang berhenti di belakangnya. Awalnya Zoe tak begitu peduli dan terus berjalan maju tapi tiba-tiba saja ada tangan besar seseorang yang membekap mulutnya kuat dengan sapu tangan.
"Ehmm!!!" Berontak Zoe tapi sayang ia di bius.
Suasana di jalan ini tak begitu ramai jadi dua pria bermasker dan topi itu menyeret Zoe masuk ke dalam mobil mereka lalu melaju meninggalkan area perusahaan.
"Kita bawa dia ke tempat yang di katakan nona!"
"Tapi, apa perlu kita nikmati dia dulu?" Tanya pria satunya terlihat berhasrat melihat bagian dress bawah Zoe tersingkap hingga menampilkan paha mulus dan putihnya.
"Jangan konyol! Nona tak membolehkan kita menyentuhnya sebelum mereka bertemu. Sabarlah sedikit."
"Ck! Padahal dia sangat cantik," Decah pria itu hanya bisa meredam hasratnya.
Sebenarnya Zoe tak pingsan. Saat tangan itu membekapnya Zoe sigap menahan nafas lalu pura-pura lemas. Telinganya menajam mendengar pembicaraan mereka.
"Ada yang ingin bermain-main denganku," Batin Zoe menggeram.
Ia tetap memejamkan matanya dan mendengarkan setiap apa yang di katakan dua pria itu. Zoe merasakan jalan yang di lewati mobil ini mulai berubah agak sempit dan rusak.
Jadi mereka membawaku menjauh dari pusat kota, pikir Zoe tapi tetap tenang.
Selang 1 jam kemudian mobil itu berhenti. Zoe mendengar suara pintu di buka lalu tubuhnya di angkat seperti karung beras.
"Tanah lembab," Batin Zoe membuka kecil matanya dan melihat tanah yang terlihat basah dan di tumbuhi rerumputan.
Ia juga melihat ada satu mobil berwarna merah terparkir di depan tempat ini hingga ingatan Zoe berputar kebelakang.
PABRIK TEBU?
Pikir Zoe mengingat tempat ini. Ini adalah pabrik tua dimana dulu saat kecil ia di sekap oleh Alice dan disini juga pertarungan mommy Moa dan wanita yang sudah tak ada kabar sejak kini.
"Nonaa!!"
Panggil mereka pada seseorang. Zoe kembali memejamkan matanya membiarkan pria itu membawanya naik ke arah tangga hingga selang 10 menit kemudian tubuh Zoe di masukan ke dalam ruangan yang terasa pengap.
"Kami sudah mendapatkannya."
"Bagus. Tak ku sangka mendapatkan gadis ini sangat mudah," Sahut wanita yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka.
Zoe terdiam mendengar suara yang begitu familiar itu.
"Ikat dia dan bangunkan!"
"Baik, nona!"
Keduanya langsung mengikat Zoe dengan tali. Zoe sengaja tetap tak bergerak karena jika ia bangun sekarang, tali itu akan di ikat kuat.
"Siram tubuhnya dengan air dingin!" Titah wanita itu berdiri tepat di hadapan Zoe.
Salah satu suruhannya keluar dan membawa masuk sebotol air dingin yang sudah di siapkan di dekat pintu.
Tanpa perasaan mereka langsung menyiram wajah Zoe dengan air itu hingga Zoe pura-pura terperanjat.
"A..aku..aku dimana?" Gemetar Zoe menatap kedepan hingga matanya menajam melihat sosok wanita yang sekarang menyeringai padanya.
"BEI LA?" Batin Zoe tak menyangka jika wanita ini nekat menculiknya.
"Kau gadis yang tengah dekat dengan calon suami-ku, bukan?" Tanya Bei La terlihat marah.
Ia tadi menunggu di depan perusahaan Noah karena pria itu tak memperdulikan panggilannya. Tapi, saat melihat Zoe masuk ke perusahaan dan mendengar desas-desus beberapa orang yang mengatakan Zoe adalah kesayangan presdir Noah, amarah Bei La kian naik.
"Wajahmu memang cantik tapi kau terlihat kaku di ranjang."
"Sialan!" Batin Zoe mau muntah melihat kepercayaan diri wanita ini.
"Dan hanya aku yang pantas bersanding dengannya."
Mendengar itu tawa Zoe pecah. Bei La bahkan tak bisa menandingi debu di sepatunya tapi masih berani berkata demikian.
Melihat Zoe tertawa, Bei La langsung mengepalkan tangannya.
"Berhenti tertawa karena kau akan menangis setelah inii!!"
"Hey, kotoran kuda! Kau jangan terlalu percaya diri," Santai Zoe geli akan keangkuhan Bei La.
"Kauuu!!"
"Apa? Kau bahkan tak secantik itu ingin bersaing denganku," Jengah Zoe sampai wajah Bei La mulai merah padam menahan emosi.
"Yah. Walau aku tak secantik kau tapi aku HAMIL ANAK NOAH!!"
DEGG..
...
Vote and like sayang