NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 032: Kikir Tersembunyi di Pengait Keamanan

Pagi berikutnya, kabar buruk datang lebih dulu.

Lilis Handayani menarik kembali keterangannya.

Surat itu datang lewat pengacara.

Melainkan lewat surat pernyataan yang dikirim pengacara manajemen ke Polres Batu, ditembuskan ke Polda Jatim, RSUD, dan beberapa media.

Isi surat itu pendek, tetapi cukup beracun.

Ia mengaku memberi keterangan karena tertekan.

Ia mengaku bingung.

Ia mengaku tidak yakin apakah Ratna benar-benar keluar selama dua puluh lima menit.

Ia mengaku pembayaran Rp 3.000.000 adalah bantuan kerja, tanpa maksud menutup mulut.

Bambang membaca surat itu tiga kali, lalu meletakkannya di meja dengan wajah muak.

"Maaf, Bu. Saya tahu tidak boleh emosi. Tapi ini jelas disetir."

Adira tidak membantah. "Jelas bukan berarti otomatis kuat. Secara berkas, keterangannya jadi goyah."

"Kita masih punya mutasi."

"Mutasi menunjukkan uang. Belum menunjukkan tujuan."

Arka berdiri di dekat papan kerja. Nama Lilis yang kemarin ditulis sebagai saksi berubah menjadi tanda tanya.

Satu pukulan dari pengacara cukup untuk membuat jalur saksi retak.

Mawar tidak perlu membuktikan dirinya bersih.

Ia hanya perlu membuat semua orang tampak ragu.

Dimas mengirim pesan dari Surabaya.

Akun gosip naik lagi. Narasi baru: saksi mengaku ditekan polisi.

Bambang mengusap rambut. "Kalau begini, semua saksi bisa mundur."

Adira menatap Arka. "Pendapat?"

"Kembali ke benda."

"Pengait?"

"Ya. Saksi bisa takut. Uang bisa diputar. Tapi logam tidak bisa menunjuk pengacara."

Mereka pindah ke ruang barang bukti teknis Polres Batu pukul sepuluh.

Pengait keamanan sudah dikembalikan sementara dari Polda untuk pencocokan foto lapangan sebelum dikirim lagi ke laboratorium provinsi. Kotaknya masih tersegel. Petugas mencatat pembukaan dengan kamera menyala.

Teknisi lokal bernama Arman menyiapkan meja pemeriksaan.

"Kami sudah coba serbuk sidik jari standar di bagian luar," katanya. "Tidak ada yang layak. Permukaan terlalu sering disentuh dan sebagian terkontaminasi."

"Bagian dalam alur pengunci?" tanya Arka.

"Sulit. Terlalu sempit. Kalau dipaksa, malah merusak jejak."

Adira melihat Arka. "Anda ingin cek sendiri?"

"Dengan dokumentasi. Saya hanya melihat. Tidak menyentuh area kritis."

Arman menyerahkan sarung tangan baru dan kaca pembesar portabel.

Arka mendekati pengait.

Di atas meja putih, benda itu tampak tidak berbahaya. Logam kecil, satu sisi patah, beberapa goresan, sedikit noda gelap di sudut.

Tetapi kasus ini tidak lagi tentang ukuran benda.

Ia mengatur napas.

Sistem muncul.

[Objek Kunci Terdeteksi]

[Pengait Keamanan Wiraga]

[Mode Pindai Standar: Terbatas]

[Apakah Mengaktifkan Mode Pindai Mendalam?]

Peringatan kecil muncul di bawahnya.

[Biaya: Beban Neurologis Ringan]

[Durasi Aman: 180 Detik]

Arka belum pernah memakai mode itu.

Ia tahu sistem punya lapisan kemampuan yang belum terbuka penuh. Selama ini label cukup untuk membaca luka, benda, dan jejak kasar. Tapi sekarang, semua jalur biasa sedang diserang.

Ia memilih aktif.

Ruangan mendadak berubah.

Ruangan tidak benar-benar gelap.

Tetapi bagi mata Arka, warna dunia turun. Suara kipas terdengar jauh. Di atas pengait, garis-garis biru tipis membentuk jaring seperti peta permukaan logam.

Setiap goresan menjadi lembah.

Setiap noda menjadi pulau.

Setiap celah menyimpan sejarah kecil.

Arka menahan napas agar kepalanya tidak berdenyut lebih cepat.

[Mode Pindai Mendalam Aktif]

[Analisis Permukaan Mikro]

[Area Abrasi Mekanis: Terkonfirmasi]

[Jejak Alat Abrasif: Pola Linear Halus]

Ia mengikuti garis biru ke sisi dalam pengunci.

Di sana ada cekungan sempit, kurang dari dua milimeter dari tepi patahan.

Hampir tidak terlihat oleh mata biasa.

Di bagian terdalam, cahaya keemasan pucat muncul.

[Sidik Jari Laten]

[Komponen: Residu Keringat / Lipid Kering]

[Posisi: Alur Dalam Pengunci]

[Probabilitas Pemulihan: +/- 35%]

[Metode Disarankan: Vacuum Metal Deposition]

Kepala Arka berdenyut tajam.

Ia mundur setengah langkah.

Adira langsung bertanya, "Dok?"

"Ada kemungkinan jejak laten di alur dalam. Sangat kecil. Tidak cocok untuk serbuk biasa."

Arman mengerutkan kening. "Di alur itu? Saya lihat kosong."

"Dengan mata biasa memang hampir tidak terlihat. Coba lampu miring dari kanan, pembesaran maksimal. Jangan pakai serbuk."

Arman mengatur lampu dan lensa. Ia menunduk lama.

"Saya melihat perubahan kilap tipis," katanya akhirnya. "Tapi belum bisa sebut sidik."

"Jangan disebut sidik dulu," kata Arka. "Sebut indikasi residu pada alur sempit. Kalau kita pakai metode salah, hilang."

Adira menatapnya. "Metode apa?"

"VMD. Vacuum Metal Deposition. Deposisi logam dalam ruang vakum. Biasanya emas dan seng, tergantung protokol lab. Dipakai untuk jejak laten yang sulit, terutama pada permukaan tertentu yang sudah gagal dengan metode biasa."

Arman langsung mengangkat kepala. "Polres tidak punya alat itu."

"Polda Jatim punya akses laboratorium provinsi?"

Adira menjawab, "Bisa diminta."

"Minta sekarang. Peluangnya mungkin cuma tiga puluh sampai empat puluh persen. Tapi kalau berhasil, kita dapat jejak dari bagian yang tidak wajar disentuh kecuali oleh orang yang memegang pengait saat melemahkan atau memasang ulang."

Bambang yang sejak tadi diam berkata, "Kalau sidik itu milik Raka?"

"Maka Raka pernah menyentuh area kritis."

"Kalau milik orang lain?"

"Maka kita punya pintu baru."

Adira mengambil ponsel dan menelepon Polda.

Arka tetap menatap pengait.

Mode Pindai Mendalam belum padam sepenuhnya. Garis biru masih menempel di benda itu. Di titik emas pucat, sistem memberi satu peringatan tambahan.

[Kontaminasi Rendah Karena Posisi Terlindung]

[Prioritas Tinggi]

Kepalanya makin berat.

Ia mematikan mode.

Dunia kembali normal terlalu cepat. Warna ruangan naik, suara kipas mendekat, dan nyeri tajam menusuk pelipis kanan.

Arka memejamkan mata sebentar.

Bambang memperhatikan. "Dok, Anda pucat."

"Kurang kopi."

"Itu jawaban orang yang perlu duduk."

Adira selesai menelepon. "Polda bisa terima malam ini. Tapi mereka minta alasan teknis tertulis kenapa perlu VMD, karena prosedur ini mahal."

Arka membuka buku catatan.

"Tulis: metode serbuk standar gagal, area potensial berada di alur sempit yang terlindung dari kontak umum, terdapat perubahan kilap/residu tipis berdasarkan pemeriksaan oblique light dan pembesaran, barang bukti bernilai tinggi dalam perkara kematian publik. Direkomendasikan metode non-destruktif atau minimal-destructive sesuai protokol lab."

Arman mengangguk cepat. "Itu bisa saya masukkan catatan teknis."

"Jangan tulis yakin ada sidik," kata Arka. "Tulis potensi jejak laten. Kita tidak boleh menjual harapan lebih mahal dari bukti."

Adira menatapnya sejenak.

"Anda baru saja menemukan satu-satunya celah setelah saksi ditarik, tapi masih sempat menahan bahasa."

"Kalau bahasa terlalu besar, pengacara Mawar akan memakannya."

"Benar."

Proses penyegelan ulang dilakukan lebih hati-hati daripada sebelumnya. Pengait difoto ulang, area alur diberi penanda pada foto referensi, tanpa menyentuh benda. Kotak bukti ditutup, segel baru ditempel, nomor rantai bukti dicatat, dan kurir Polda diminta datang langsung.

Sore hari, surat dari pengacara Mawar beredar di media.

Saksi Bantah Ditekan Manajemen, Tuduhan Polisi Dipertanyakan.

Bambang membaca judul itu dari ponsel, lalu mematikan layar.

"Mereka menang di berita hari ini."

"Biarkan," kata Adira. "Berita hari ini tidak selalu jadi bukti besok."

Arka duduk di kursi pojok, menekan pelipis dengan dua jari.

Sistem muncul pelan.

[Mode Pindai Mendalam: Penggunaan Pertama Selesai]

[Beban Neurologis: Ringan]

[Disarankan Istirahat]

[Progres Misi: 38%]

[Objek Kunci Baru: Sidik Jari Laten Pada Alur Pengait]

[Status: Menunggu Pemulihan Laboratorium]

Ia menutup mata.

Di luar, Mawar sedang memindahkan opini publik.

Di dalam kotak bukti, logam kecil itu menyimpan kemungkinan tiga puluh lima persen.

Tiga puluh lima persen bukan angka yang nyaman.

Tetapi dalam penyidikan, kadang satu kemungkinan kecil yang dijaga dengan benar lebih kuat daripada sepuluh saksi yang bisa dibeli.

Malam itu, pengait keamanan dikawal ke laboratorium Polda Jatim.

Tidak ada kamera.

Tidak ada konferensi pers.

Hanya kotak bukti, segel, formulir, tanda tangan, dan harapan tipis yang tidak boleh dibicarakan terlalu keras.

Jika VMD berhasil, seseorang akan meninggalkan wajahnya di tempat yang ia kira sudah bersih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!