Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Membawa Pulang
Teriakan Gilang membuat tiga pintu terbuka hampir bersamaan.
Bik Inah muncul dari arah dapur dengan tangan masih basah. Bu Rahayu keluar dari ruang tengah sambil melepas kacamata baca. Di lantai atas terdengar langkah berat yang berhenti di ujung tangga.
"Gilang, jangan berteriak di dalam rumah," tegur Bu Rahayu.
"Tapi, Umi, Om Bram bawa pacar!"
Remaja itu menunjuk ke arah gerbang seperti baru menemukan benda langka. Ketika Bram dan Laras masuk ke halaman, Gilang langsung menutup mulut. Mungkin baru menyadari perempuan asing tersebut mendengar semua ucapannya.
"Maaf," katanya pelan.
"Tidak apa-apa," jawab Laras. "Kabar penting memang harus diumumkan dengan tenaga penuh."
Gilang tersenyum malu. Bram memberinya tatapan yang cukup untuk membuat remaja itu mengambil sepeda dan mendorongnya ke samping rumah.
Bu Rahayu berdiri di teras. Tatapannya berhenti pada putranya, lalu Laras, lalu jaket Bram yang membungkus bahu perempuan itu. Harapan dan kekhawatiran melintas begitu cepat di wajahnya.
"Bram?"
"Sore, Ibu."
"Kamu tidak bilang akan pulang hari ini."
"Keputusannya mendadak."
"Ibu bisa melihat itu."
Suara lain terdengar dari ambang pintu.
"Bawa tamumu masuk dulu. Jangan bicara di teras."
Pak Hardjono telah turun. Usianya melewati enam puluh, tetapi tubuhnya masih tegak. Rambutnya memutih di pelipis. Ia tidak memakai seragam, hanya batik lengan panjang dan celana gelap, tetapi suasana halaman berubah seperti ada seorang komandan baru mengambil alih.
Bram mengangguk. "Baik, Bapak."
Laras mengikuti mereka masuk.
Ruang tamu itu luas tanpa terlihat berlebihan. Foto keluarga dan beberapa penghargaan militer tersusun di dinding. Di sudut ruangan terdapat rak buku medis milik Bu Rahayu. Laras memilih duduk di ujung sofa, dekat dengan pintu, sebelum menyadari kebiasaan itu mungkin sedang diamati.
Bik Inah datang membawa teh hangat. Matanya mencuri pandang dengan rasa ingin tahu, tetapi ia tetap tersenyum ramah.
"Silakan diminum, Mbak."
"Terima kasih, Bik."
Saat Laras meraih cangkir, lengan jaketnya tersingkap. Bekas merah di pergelangan tangannya terlihat.
Bu Rahayu langsung mendekat. "Tanganmu kenapa?"
Laras refleks menarik tangan. "Terbentur, Ibu. Tidak parah."
Sebagai mantan dokter, Bu Rahayu jelas tidak percaya. Namun ia tidak menyentuh tanpa izin. "Nanti saya lihat kalau kamu bersedia. Wajahmu juga pucat."
"Saya hanya kelelahan."
Pak Hardjono duduk di kursi tunggal. Sejak tadi ia belum bertanya satu pun, tetapi tatapannya seolah sudah mengumpulkan setiap detail: pakaian pinjaman, tas kecil, bekas memar, cara Bram membawa tas Laras, juga posisi duduk mereka yang tidak terlalu dekat.
"Perkenalkan," kata Bram. "Ini Larasati Purnama. Panggilannya Laras."
Laras merapatkan kedua telapak tangan di pangkuan. "Selamat sore, Bapak, Ibu. Maaf saya datang tanpa kabar."
Bu Rahayu mengangguk. "Selamat datang, Laras."
Pak Hardjono tetap menatap Bram. "Statusnya?"
Satu kata, langsung ke inti.
Bram menjawab sama singkatnya. "Calon istri saya. Kami akan menikah."
Cangkir di tangan Bu Rahayu berdenting mengenai tatakannya. Bik Inah yang baru berbalik menuju dapur berhenti satu langkah, lalu buru-buru melanjutkan jalan.
Gilang, yang mengintip dari lorong, membelalakkan mata. "Bukan pacar?"
"Gilang," tegur tiga orang sekaligus.
Remaja itu menghilang.
Bu Rahayu meletakkan cangkir. "Menikah? Kamu menolak dua kali saat Ibu mengajak bertemu anak teman. Lalu sekarang kamu pulang membawa calon istri tanpa pernah bercerita?"
"Saya baru mengenal Laras di Surabaya."
"Berapa lama?"
Bram menatap jam tangannya, seolah benar-benar menghitung.
Laras mendahuluinya. "Belum satu hari, Ibu."
Sunyi turun begitu cepat.
Bu Rahayu memejamkan mata. Pak Hardjono justru tampak semakin tenang, pertanda yang membuat Laras lebih gugup.
"Jelaskan dari awal," katanya.
Bram duduk tegak. "Saya bertemu Laras dalam keadaan berbahaya. Ada pihak yang hendak memanfaatkan dan mencelakainya. Saya membawanya keluar dari situasi itu. Dalam perjalanan ke Malang, kami membantu petugas mengungkap dugaan penculikan dua anak. Polisi sudah mencatat kami sebagai saksi."
Semua itu benar. Namun Bram menyusun kalimatnya seperti dinding, menutupi kamar 302, dua gelas berisi obat, dan tubuh Laras yang tidak mampu melawan.
"Lalu karena itu kamu mau menikahinya?" tanya Pak Hardjono.
"Karena apa yang terjadi membuat hidup kami terikat. Saya memilih bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab atas apa?"
Pertanyaan itu tajam.
Jari Laras mencengkeram ujung jaket. Ia ingin bicara agar Bram tidak menanggung semua kecurigaan. Namun Bram menoleh sedikit, cukup untuk memberi isyarat agar ia tidak membuka luka di depan semua orang.
"Atas keputusan saya sendiri," jawab Bram. "Laras tidak memaksa, tidak meminta uang, dan tidak meminta pernikahan. Saya yang menawarkan."
Pak Hardjono menyandarkan punggung. "Kamu membawa perempuan yang baru dikenal ke rumah, berkata akan menikah, lalu berharap kami menerima tanpa bertanya?"
"Saya berharap Bapak dan Ibu memberi Laras tempat aman selama dokumen dan izin saya diproses. Pertanyaan tentang diri saya akan saya jawab. Hal pribadi Laras hanya akan diceritakan jika dia siap."
Bu Rahayu menatap putranya lama. "Kamu serius sekali."
"Saya tidak pernah bercanda soal pernikahan."
Nada Bram tetap hormat, tetapi tidak bergeser sedikit pun.
Laras baru mengerti mengapa ia tidak memaksa pulang sejak awal. Bram tahu keluarganya akan terkejut. Ia juga tahu tidak satu pun dari mereka mudah dipengaruhi. Karena itu ia datang bukan untuk meminta mereka memutuskan, melainkan menyampaikan keputusan sambil tetap mencari restu.
Bu Rahayu menarik napas, lalu kembali menatap Laras. Kali ini matanya lebih lembut.
"Kamu sudah makan?"
Pertanyaan sederhana itu hampir meruntuhkan Laras.
"Sudah sedikit di kereta, Ibu."
"Bik Inah akan menyiapkan makan. Setelah itu kamu bisa mandi dan istirahat di kamar tamu. Soal lain kita bicarakan pelan-pelan."
"Terima kasih."
"Kamar tamunya punya kunci," lanjut Bu Rahayu, seakan mengetahui hal yang paling Laras butuhkan. "Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, bilang langsung kepada saya."
Laras melirik Bram. Rupanya kebiasaan memberi jalan keluar itu berasal dari rumah ini.
"Saya tidak ingin merepotkan terlalu lama, Ibu. Besok saya bisa mencari kos sambil menunggu urusan dokumen."
"Dokumen apa?" tanya Pak Hardjono.
Bram menjawab, "KTP Laras perlu diurus ulang. Setelah itu saya mengajukan izin kawin dan litsus melalui satuan."
Pak Hardjono mengetukkan satu jari ke sandaran kursi. "Tanpa KTP, asal daerahnya belum bisa diverifikasi. Tanpa verifikasi, kamu tidak bisa sekadar membawa berkas ke komandan dan berharap ditandatangani."
"Saya tahu prosedurnya. Saya tidak minta dilangkahi."
"Bagus. Karena nama keluarga tidak boleh dipakai untuk menutup lubang dalam pemeriksaan."
"Saya setuju."
Percakapan ayah dan anak itu terdengar seperti dua bilah besi beradu. Tidak keras, tetapi sama-sama tidak mau bengkok.
Pak Hardjono mengangkat tangan, meminta percakapan belum ditutup. Tatapannya berpindah dari Bram kepada Laras.
"Putra saya sudah menyampaikan keputusannya," katanya. "Sekarang saya ingin mendengar keputusanmu sendiri."
Laras menelan ludah. Semua mata tertuju kepadanya.
Pak Hardjono mencondongkan tubuh sedikit.
"Nak, kamu benar mau menikahi anak saya?"