Sekuel After Marriage.
"Anha nggak mau menikah lagi, Ma."
Karena masa lalunya yang kelam, Anha di ceraikan di malam pertamanya.
Satu kali diceraikan, satu kali gagal menikah, itu semua membuat Anha trauma akan yang namanya pernikahan. Anha tidak mau menikah lagi dan memilih untuk sendiri saja.
Hamkan, anak dari teman Mamanya diam-diam memiliki rasa kepada Anha. Akankah Anha mau membuka hati untuk Hamkan?
***
Instagram: Mayangsu_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayangsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilabrak 2
Ketika mama melangkahkan kaki memasuki ruang tamu. Ikram berdiri menyambutnya.
“Mama tumben dateng ke sini,” kata Ikram berbasa-basi dengan begitu manisnya. Tapi air muka mama tidak sedemikian rupa. Sudah tidak menjadi menantunya lagi lalu untuk apa masih tidak punya muka sampai berani memanggil dengan sebutan mama.
“Mama datang ke sini naik apa? Anhanya nggak ikut? Duduk dulu, Ma,” kata Ikram mempersilakan tamunya untuk duduk.
Mama memejamkan mata sejenak.
Sudahlah! Tidak perlu berbasa-basi lagi. Mama memilih untuk lebih baik to the point saja menyampaikan maksud kedatangannya kepada Ikram, tanpa perlu berbasa basi lagi. Tidak perlulah duduk ataupu disuguhi teh segala. Dia tidak perlu itu!
“Apa maksud kamu ngelakuin kayak gitu ke Anha sampai pernikahannya sama Hasan batal?!”
Ikram terkejut mendengar tiba-tiba mama Anha mengatakan hal tersebut kepadanya. Namun Ikram mencoba menampilkan ekspresi sedater mungkin dan berpura-pura tidak tahu menahu.
“Ma-maksud Mama apa, ya? Ikram nggak ngerti.”
Anak ini benar-benar membuatnya bertambah sebal saja. Bisa-bisanya dia berpura pura tidak tahu seperti itu.
“Kamu nggak usah pura-pura kayak gitu! Tante udah tahu semuanya dan Anha sudah ceritain semua ke Tante kalau kamu nyuruh mantan Anha buka aibnya Anha biar dia gagal nikah, kan, sama Hasan!”
Napas mama berembus cepat, kembang kempis, dia benar benar marah. Memangnya orang tua mana yang tidak marah jika putri semata wayangnya diperakukan sedemikian rupa?
Garis bibir Ikram melengkung sedikit, hampir tidak tertangkap mata sama sekali. Ada perasaan senang di dalam benaknya mengetahui Anha ternyata benar-benar gagal menikah dengan tunangannya itu.
Bahagia di atas penderitaan orang lain. Memang terdengar jahat, tapi itulah adanya. Obsesi menggelapkan akal sehatnya, sampai segala cara pun ditempuhnya.
Tidak sia-sia Ikram membayar Frans dengan mahal.
Awalnya Frans hanya mencari tahu latar belakang Anha. Di mana rumahnya, di mana sekolahnya dulu, siapa saja teman-teman yang dekat dengan dirinya. Tapi kebetulan sekali Frans memiliki teman kuliah yang dulu satu sekolahan dengan Anha sewaktu SMA.
Awalnya Frans hanya menanyai apakah temannya itu kenal dengan Anha. Tapi tanpa terduga obrolan mereka menjadi panjang sampai semua seluk beluk Anha dipaparkan. Nama Anggalah yang terkahir disebutkan. Siapa sangka ternyata Angga dapat menjadi celah sebagai kartu AS untuk menghacurkan pernikahan Anha dengan pacarnya saat ini.
Apalagi kehidupan Angga saat ini karut marut. Dia pecandu. Dan dia bisa dijadikan boneka bagi Ikram untuk menghancurkan pernikahan Anha.
Pikirnya saat ini adalah jika Anha batal menikah dengan Hasan. Maka Ikram akan memiliki kesempatan untuk mendekati Anha lagi. Namun sayangnya pikiran Ikram tersebut terlalu pendek.
Dia tidak berpikir jika yang dia lakukan itu malahan membuat Anha semakin membencinya saja.
“Kenapa kamu sampai tega kayak gitu sama anak Tante!” ulang mama dengan nada tinggi menyadarkan Ikram dari pikirannya.
“Ikram nggak ngerti maksud Tante apa.”
“Kamu nggak usah pura-pura nggak tahu! Tega banget, ya, kamu sampai ngerusak hidup anak saya. Dulu aja waktu anak saya jadi istri kamu nggak kamu perlakuin dengan baik. Tapi setelah bercerai sama kamu, kamu masih tega-teganya ganggu hidup dia!”
Mata mama memanas, mulai memerah dan berkaca. Ikram terdiam membeku melihatnya. Dia tidak pernah mengira mama Anha akan samarah ini kepadanya.
“Inget, ya, kata-kata saya ini. Jangan pernah lagi kamu ganggu hidup anak saya! Kalau sampai kamu berani-beraninya ngusik kehidupan anak saya, saya nggak bakalan tinggal diam lagi.”
Mama mengatakannya dengan tegas sambil menunjuk wajah Ikram.
“Lagi pula, saya juga nggak akan ngasih restu ke kamu buat ngedeketin anak saya lagi.”
“Tapi, Ma—”
Ikram bergerak hendak memohon kepada mama. Namun mama kini sudah berbalik badan.
“Dan satu lagi yang perlu kamu inget. Jangan pernah panggil saya dengan sebutan ‘Mama’ lagi.”
Setelah itu mama melangkah keluar dari rumah mewah itu. Semua itu bukan gertakan, jika Ikram berani menggangu hidup Anha lagi. Maka jangan sebut dosa, dia akan melakukan hal yang setimpal dan menyakitkan yang Ikram sendiri tidak akan bisa menduganya.
***
Hai, aku mau ngasih info. Setelah aku selesai nulis ANHA. Aku bakalan nulis kisahnya SEAN. Tapi aku nggak tahu bakalan aku publish di mangatoon atau engga. Kalian silakan follow IGku: Mayangsu_ ya buat tahu info cerita SEAN. Makasih.
makasih udah bikin karya sebagus ini
banyak pembelajaran yang bisa diambil
si hamkan pula juga msh banyak perempuan suci msh ngejar² bekas orang