Bahaya!
Seorang gadis manis menjual dirinya sendiri pada kakak iparnya. Kirana namanya dia mendapat perlakuan sadis dari sang suami yang menyuruhnya menjadi wanita malam.
Kirana tidak pernah di sentuh oleh suaminya, sehingga hubungan terlarang antara dirinya dan kakak iparnya perlahan menjadi sebuah kerangka cinta.
Mampukah cinta mereka meruntuhkan norma, dan membebaskan Kirana dari cengkeraman suaminya?
Simak kisah lengkapnya dalam Novel Pelacur tapi Perawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekasih Alvin
Pagi hari cerah nampak indah di sebuah istana megah dengan sejuta keindahannya, matahari nampak sudah naik namun empat pasang mata nampak masih terpejam di bawah selimut tebal.
Baju yang semula mereka kenakan sudah jatuh di bawah ranjang dan teronggok begitu saja, Alvin dan Kirana mereka belum mampu membuka mata mereka.
Waktu kembali berjalan hingga nampak jam menunjukkan angka 9, sangat aneh pikir semua pelayan dengan kejadian tersebut.
TOK.. TOK.. TOK..
Suara pintu kamar itu akhirnya bersuara, mata Alvin akhirnya perlahan terbuka dan tampaklah pemandangan paling indah di dunia yang kini berada di upuk matanya.
Suara pintu kembali terdengar dan membuat mata Alvin melotot karena Kirana hampir terbangun, Alvin mengambil ponselnya lalu menelpon kepala pelayannya.
"Ya Tuan?" Suara tua terdengar dari balik telpon saat sambungan terhubung dan langsung di angkat.
"Siapa yang berani mengetuk pintu kamarku? Beri tahu dia, hari ini aku tidak keluar kamar." Ucap Alvin dengan suara yang sedikit berbisik.
"Ta..tapi Tuan, ini sudah jam 9. Anda dan Nona Kirana belum makan apapun, saya khawatir dengan kondisi kehamilan Nona." Sanggah kepala pelayan hingga akhirnya membuat seulas senyum tergambar di bibir Alvin.
Semua pelayan tahu bila mereka dalam kondisi terancam dan hanya ada satu cara untuk membuat keras kepala Alvin melunak, yaitu membawa nama Kirana dan bayi yang ada dalam perut Kirana.
"Baiklah, taro saja di depan pintu. Ingat, jangan ada yang berani mengetuk lagi. Mengerti?" Alvin dengan suara berbisik yang sedikit terdengar marah langsung di iyakan saja oleh Kepala pelayan dan sambungan teleponpun akhirnya terputus.
"Sayang, pengen..." Terdengar rengekkan Kirana dan terasa benar oleh Alvin tangan nakal itu mulai kembali liar menjamah daerah urat besarnya.
"Belutnya hidup lagi kan." Cibir Alvin namun dengan nada menggemaskan dan saat itu juga dia langsung menerkam tubuh Kirana.
Entah sudah berapa kali mereka melakukan hal itu, namun Kirana nampak selalu menginginkan Alvin meski lelah terpampang jelas dalam wajah polosnya.
Saat sudah kembali tertidur akhirnya Alvin menuju kamar mandi dan membersihkan diri sebelum akhirnya dia mengambil makanan yang semula di biarkan di depan pintu kamarnya.
Kepala pelayan nampak senyum senyum di sana melihat bercak kemerahan di leher Alvin, Kepala pelayan itu kemudian berbisik.
"Maaf Tuan saya melakukan itu, bagaimana malamnya apa menyenangkan?" Alvin mengangkat alisnya.
"Tenang Tuan, saya sudah konsultasikan pada Dokter. Obat itu aman meski tidak boleh terlalu sering." Alvin kemudian teringat dengan kejadian beberapa saat yang lalu.
"Kerja bagus." Alvin mengangkat jempolnya dan di angguki oleh Kepala pelayan tersebut.
Semalam Alvin benar benar di manjakan oleh Kirana, belut extra besarnya di manjakan dengan kenikmatan luar biasa. Kirana juga tak sungkan menggunakan konsep Oreo untuk memanjakan anu nya.
"Pantas dia sangat liar." Lirih Alvin melihat Kirana yang kini lelap dalam tidurnya.
Alvin yang menunggu Kirana terbangun akhirnya mulai mengerjakan beberapa pekerjaannya di kamar itu, dia mulai melakukan pengecekan kembali data yang semalam sudah dia susun dengan baik dalam leptopnya.
"Sayang.." Suara lembut nan eksotis membuat urat besar Alvin menegang saat tak sengaja ******* lembut sengaja di buat Kirana.
"Sayang sudah dulu ya, makan dulu ok?" Alvin memindahkan kembali leptopnya ke atas meja dan memeluk tubuh Kirana.
"Sayang, tubuhku aneh. Setiap liat kamu aku jadi mau." Kirana duduk di pangkuan Alvin dan kembali menjilat leher Alvin membuat darah Alvin berdesir cepat.
"Sayang, tapi kasihan anak kita. Makan dulu ya, habis itu kita.." Alvin tak melanjutkan kata katanya saat tak sengaja dia melihat leher dan dada Kirana yang di penuhi warna merah.
"Kenapa?" Kirana penasaran dan melihat dirinya sendiri di cermin, Kirana menggelengkan kepalanya dan mengambil handuk meluncur ke kamar mandi.
Kirana membersihkan dirinya dan merasakan tubuhnya yang seolah tertabrak truk puso itu perlahan menyatu, kondisi Kirana juga kian membaik dia mulai merasakan kenormalan dalam tubuhnya.
Di luar kamar Alvin yang melihat bercak itu menutupi wajahnya, dia benar benar merasa malu pada Kirana. Apa karena satu bulan itu dia tak bertemu Kirana hingga melakukan hal sebrutal itu? Namun Alvin akui kemampuannya memanjakan Kirana bisa membuatnya berpuas diri.
Kirana keluar dia menatap Alvin ang tengah mempersiapkan makanannya, Kirana memilih baju yang pantas, dia mengenakannya dan meluncur mendekati Alvin. dengan satu handuk masih melilit di kepalanya.
"Pagi.." Sapa Kirana memeluk Alvin dari belang, Alvin tersenyum berbalik memeluk Kirana. Alvin mengecup kening Kirana sekilas dan mendudukkan tubuh Kirana di tepi ranjang.
"Makan dulu ya?" Alvin menyodorkan sendok berisi sayur dan nasi, Kirana menggeleng kemudian dengan manjanya dia menekan pipi Alvin.
"Cium dulu." Alvin terkekeh dan langsung menyiapkan sendok itu ke mulutnya, dengan cara itu Kirana makan, Alvin menyuapi Kirana dengan bibirnya sendiri.
Hari demi hari akhirnya terlalu pasangan yang tidak terikat tali pernikahan itu bersama, hingga suatu hari seorang wanita berpenampilan cantik, bertubuh tinggi, bermata indah dan bersambut pirang mengusik ketenangan Kirana.
"Siapa kamu?" Tanya wanita itu saat tak sengaja dirinya datang ke kediaman Alvin dan sayangnya saat itu Alvin tidak ada di rumah.
"Kenapa anda tanya saya, seharusnya saya yang tanya bukan?" Kirana berjalan menuju tempat di mana kini wanita itu duduk di ruang tamu.
"Aku Violet, kekasih Alvin." Mata Kirana membulat seketika, wanita itu berdiri dari duduknya dan langsung menelpon Alvin.
"Baby, aku di rumahmu sekarang. Siapa wanita yang ada di rumah ini yang tengah hamil itu hah?" Wanita itu terdengar kesal hinga suara Alvin terdengar dari seberang.
"Untuk apa kamu ke Indonesia? Aku tidak mengharapkan apa apa dari mu. Pulang sana, dan ingat! Bila kamu berani menyinggung wanita itu akan ku pastikan kamu tidak akan hidup dengan nyaman." Alvin berbicara dengan nada mengancam.
Rapat yang terjadi di kantornya sudah usai, dan siang itu Alvin memang berencana segera pulang dan sangat merindukan Kirana, dia tidak menyangka Violet akan datang ke kediaman itu.
"Sial!" Kesal Alvin dan cepat cepat bergegas meninggalkan kantornya, dia seperti manusia yang kesetanan saat melajukan kendaraan super mewahnya. Dia khawatir bila Kirana akan salah faham akan hubungannya dengan Violet.
Kirana yang memiliki indra pendengaran cukup tajam dapat mendengar suara Alvin yang kesal dan ancaman yang di berikan Alvin pada wanita di hadapannya.
Kirana kini yakin bila dia percaya pada Alvin, Violet nampak kesal dan menghentak hentakan kakinya ke lantai. Kirana tak perduli dan memilih berbalik meninggalkan wanita itu menuju tangga untuk beristirahat.
Bersambung...
Mbak baru mau maraton lagi dikarya kak Nuah yang sudah tamat
ceritanya bagus👍👍