NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Jejak yang Tertinggal

Langit perlahan berubah warna dari kelabu gelap menjadi jingga pucat saat fajar mulai menyapa bumi, namun sinar matahari pagi itu tak mampu menembus kegelapan yang masih menyelimuti hati kami. Dermaga tua itu kini kembali sunyi senyap, seolah tak pernah ada badai dahsyat yang melanda tempat ini semalam. Tidak ada lagi cahaya merah yang menyilaukan, tidak ada lagi suara mencekam yang bergema, dan tidak ada lagi sosok sahabat kami yang berdiri di hadapan kami. Yang tersisa hanyalah papan-papan kayu yang basah oleh embun laut, sepotong kepingan batu yang kini berwarna abu-abu kusam, dan sepi yang terasa begitu menyakitkan.

Erlan berlutut di tempat terakhir Dimas menghilang, tangannya meraba papan kayu yang kosong seolah masih berharap bisa menyentuh tangan sahabatnya itu sekali lagi. Bahunya bergetar pelan, menahan isak tangis yang tak sanggup ia tumpahkan dalam kata-kata. Selama ini Dimas bukan sekadar asisten atau sekutu, ia adalah saudara yang selalu ada di saat paling sulit, orang yang rela berkorban demi kebenaran meski harus melawan segala arus. Dan kini, dengan cara yang paling menyakitkan, ia pergi meninggalkan kami dengan pesan yang masih menggantung penuh teka-teki: "Kalian pikir perang sudah selesai? Kebenaran yang sesungguhnya baru saja dimulai..."

Aku berjalan mendekat, lalu berlutut di sampingnya, merangkul bahunya yang kaku. Tidak ada kata penghiburan yang sanggup aku ucapkan, karena kami sama-sama tahu bahwa kehilangan ini bukan sekadar perpisahan biasa namun ada sesuatu yang belum selesai, ada benang kusut yang belum terurai, dan ada rahasia yang sengaja disembunyikan hingga detik terakhir.

"Kita harus pulang," ucap Erlan pelan setelah sekian lama diam, suaranya berat namun mulai kembali teguh. "Dimas berkorban agar kita bisa bertahan. Kita tidak boleh membiarkan pengorbanannya sia-sia."

Perjalanan pulang terasa begitu panjang dan sunyi. Sepanjang jalan, pikiranku terus berputar pada kalimat terakhir Dimas. Jika perang belum selesai, lalu siapa atau apa yang masih menanti kami di depan? Jika kebenaran baru saja dimulai, berarti apa yang kami ketahui selama ini hanyalah permukaan dari kenyataan yang jauh lebih besar dan mengerikan. Sesampainya di rumah, kami segera memeriksa kotak penyimpanan tempat benda pusaka itu diletakkan. Kini benda itu tampak biasa saja, seolah hanyalah perhiasan antik tanpa daya magis sedikit pun. Namun saat aku menyentuhnya, aku merasakan getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhku—seolah benda itu masih menyimpan pesan yang belum sempat tersampaikan sepenuhnya.

Siang harinya, kami kembali menyusuri setiap catatan lama, setiap surat, dan setiap jejak yang pernah ditinggalkan leluhur kami. Kami mencari sebutir kebenaran yang terlewat, satu kalimat yang tersembunyi, atau satu petunjuk yang terabaikan. Hingga sore menjelang, Erlan menemukan sebuah lembaran kertas yang terselip di bagian belakang sampul buku harian kakeknya—lembaran yang sebelumnya tertutup noda tua sehingga tak pernah terlihat. Di atasnya tertulis tulisan tangan yang sedikit bergetar, seolah ditulis saat penulisnya sedang terdesak waktu:

"Jika suatu hari kalian berhasil menutup gerbang itu namun salah satu dari kalian harus tinggal di sana sebagai pengunci, ketahuilah bahwa itu bukanlah akhir. Itu hanya tanda bahwa benih perselisihan yang lebih besar belum benar-benar musnah. Pengunci itu tidak akan pernah benar-benar hilang, namun ia tidak akan bisa kembali sepenuhnya sebelum benih itu dicabut hingga ke akarnya. Dan benih itu... tumbuh tepat di antara dua hati yang menyatukan waktu itu sendiri."

Darahku terasa berhenti mengalir sejenak. Antara dua hati... apakah itu berarti ancaman yang sebenarnya tersembunyi di dalam ikatan cinta kami sendiri? Apakah kasih sayang yang selama ini menjadi kekuatan terbesar kami justru mengandung benih yang kelak akan memisahkan kami? Atau ada pihak lain yang memanfaatkan ikatan itu untuk tujuan yang tak kami ketahui?

Malam itu, saat aku sedang merapikan barang-barang peninggalan Dimas yang ada di kantor Erlan, sebuah buku catatan kecil jatuh dari saku jaket yang tergantung di kursi. Buku itu milik Dimas. Halaman-halamannya sebagian besar sudah terisi catatan penyelidikan yang pernah ia lakukan, namun di halaman paling belakang, tertulis tulisan yang baru saja ia tulis tak lama sebelum kejadian di dermaga:

"Mereka bukan hanya ingin keseimbangan. Mereka ingin memecahkan kesatuan dua hati itu agar bisa mengambil alih kekuatan yang tersimpan di dalamnya. Kekuatan itu bukan milik batu atau logam, melainkan milik ikatan yang terjalin. Jika ikatan itu retak, maka kekuatan itu akan jatuh ke tangan yang salah. Dan tanda yang muncul... bukanlah tanda perjanjian, melainkan tanda pengawasan yang sejak awal telah ditanamkan."

Belum sempat aku selesai membaca, tiba-tiba tanda merah samar di pergelangan tangan Erlan yang sedang duduk di seberang ruangan kembali bersinar pelan. Kali ini cahayanya tidak mengancam, namun terasa seperti isyarat. Erlan segera mendekat, dan saat ia membaca catatan itu, wajahnya berubah pucat perlahan.

"Tanda ini..." bisiknya sambil menatap pergelangan tangannya. "Saat ia menyentuhku di puncak bukit dulu... ia tidak hanya memberi tanda. Ia menanamkan sesuatu di dalam diriku. Sesuatu yang memantau setiap gerak-gerikku, setiap perasaanku, dan setiap pikiranku."

"Berarti sejak awal..." suaraku tercekat, "kita sudah diawasi. Setiap langkah yang kita ambil, setiap rencana yang kita susun, semuanya sudah diketahui oleh musuh yang sebenarnya."

Erlan mengangguk pelan, rahangnya terkatup rapat menahan amarah yang meluap. "Dan jika benih itu ada di antara kita... berarti ada sesuatu yang sengaja disusupkan untuk merusak kepercayaan kita satu sama lain. Sesuatu yang perlahan akan membuat kita ragu, curiga, dan akhirnya menjauh. Saat itulah ikatan itu akan retak, dan saat itulah mereka akan mengambil alih segalanya."

Tiba-tiba ponsel Erlan berdering. Bukan pesan, melainkan sebuah foto yang dikirim dari nomor tak dikenal. Foto itu memperlihatkan kami berdua—saat kami sedang berjanji di puncak bukit dulu. Namun di sudut gambar yang tak pernah kami sadari, terlihat bayangan samar yang berdiri diam mengawasi kami dari kejauhan. Dan di bawah foto itu tertulis satu kalimat singkat yang membuat bulu kuduk kami meremang:

"Terima kasih telah merawat benih itu dengan sangat baik. Tak lama lagi... panen akan tiba."

Kami saling berpandangan, dan di tatapan itu kami tahu satu hal pasti: musuh yang kami hadapi bukanlah entitas yang sudah kami usir kemarin. Musuh yang sebenarnya masih ada di sini, bergerak di antara bayang-bayang kepercayaan kami, dan perlahan merusak fondasi yang kami bangun dengan susah payah. Dan yang paling mengerikan... kami bahkan belum tahu wajah aslinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!