Kisah seorang gadis desa yang harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal, hanya karena dia pernah menolong ibu dari pria tersebut.
Devan Pratama dan Hanum Umaizah ialah dua anak manusia yang tidak pernah bertemu sebelumnya, kini mereka berdua di persatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Akan kah, mereka berdua dapat melewati kerikil-kerikil kecil dalam rumah tangga mereka berdua??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 16
" Kamu mau kan Dev menikah dengan Hanum secepatnya?!" pinta bu Vania.
JDDEEEERRRRR!!!!!!
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, saat mendengar permintaan sang mama membuat Devan sangat terkejut.
" Kenapa mama, tiba-tiba menyuruh aku menikah dengan Hanum secepatnya ma?" tanya Devan penasaran.
" Iya karena, mama tidak mau sampai calon menantu mama di ambil orang lain Dev " jawab bu Vania.
" Tapi kan, Hanum kemarin mengatakan kalau dia meminta waktu untuk memikirkan jawaban atas lamaran kemarin ma!" ujar Devan.
" Iya, mama tahu Dev. Tetapi mama, takut jika kepulangan dia kemarin itu untuk menikah dengan orang lain Dev!?" ujar bu Vania khawatir.
" Kamu sekarang telepon dia, dan tanyakan bagaimana jawaban atas lamaran kamu kemarin Dev!" kata bu Vania.
" Mama tidak perlu memikirkan hal-hal yang belum pasti ma, sekarang lebih baik mama istirahat agar mama cepat sembuh!" ujar Devan.
" Mama tidak mau Dev, mama hanya ingin kamu menelepon Hanum sekarang Dev!!!" kata bu Vania.
Huft...
Devan menghela napas berat sebelum berkata " Devan tidak mempunyai nomor handphone nya Hanum ma".
" Nanti mama akan mengirimkan nomor handphone nya Hanum ke kamu!" ucap bu Vania.
" Sekarang mama istirahat dulu ya, agar mama bisa cepat sembuh " bujuk Devan.
" Yasudah! Mama nanti akan istirahat tapi, sekarang kamu ambilkan handphone mama dulu!" ujar bu Vania sambil menunjuk ke arah meja di samping tempat tidur.
" Handphone?? Untuk apa ma?" tanya Devan bingung.
" Iya tentu saja mama mau mengirim nomor handphone Hanum ke kamu Dev " jawab bu Vania.
" Nanti saja ma, kirim nomor handphone nya Hanum ma" ujar Devan.
" Soalnya Dev, mau menghubungi Hanum nya nanti malam ma, biar bisa lama ngobrol nya" imbuh nya.
" Kenapa harus malam Dev? Sekarang saja menghubungi Hanum nya, lagi pula sekarang kan belum sore Dev?!" ujar bu Vania.
" Jadi begini ma, mungkin sekarang Hanum sedang mengobrol dengan keluarga nya atau mungkin dia sedang bermain dengan keponakan nya. Jadi, Dev tidak mau mengganggu quality time nya dia dengan keluarga nya ma" ujar Devan mencari alasan.
" Yasudah! Kalau mau kamu begitu, mama ikut kamu saja" jawab bu Vania.
" Tetapi, mama tetap mau kirim nomor handphone nya Hanum ke kamu sekarang!!" kata bu Vania kekeuh.
Huft
Devan menghela napas berat sebelum berkata " Yasudah!! Kalau mama mau kirim nomor handphone nya Hanum sekarang, yasudah kirim saja ma!".
Bu Vania langsung mengirimkan nomor handphone Hanum ke handphone Devan.
" Selesai!!" ucap bu Vania setelah beliau berhasil mengirimkan nomor handphone tersebut.
" Yasudah! Sekarang mama istirahat" ucap Devan.
" Kalau mama tidak mau istirahat di rumah, berarti kita ke rumah sakit sekarang!" kata Devan dengan nada mengancam.
" Iya, mama akan istirahat" jawab bu Vania dengan nada di buat seperti orang yang sedang sakit.
Devan membantu sang mama untuk berbaring di tempat tidur nya kembali.
Setelah memastikan sang mama benar-benar sudah tidur, baru lah Devan pergi.
Devan langsung menuju ke dapur untuk mencari keberadaan bi Nina.
" Bi, mama sejak kapan sakit nya kambuh?" tanya Devan.
" Beberapa hari yang lalu mas" jawab bi Nina.
" Ada apa ya mas?" tanya bi Nina.
" Tidak apa-apa sih bi, aku hanya khawatir kalau sampai seperti dulu lagi bi" jawab Devan.
" Mas Devan ber do' a saja agar ibu tidak sakit seperti dulu lagi mas" ucap bi Nina.
" Oh iya bi! Mama pernah tidak cerita tentang keinginan beliau kepada bibi?" tanya Devan penasaran.
" Cerita tentang apa mas?" tanya bi Nina bingung.
" Iya misalnya, mama pingin jalan-jalan atau pingin apa begitu" jawab Devan.
" Tidak mas. Ibu tidak pernah cerita kalau ibu pingin pergi jalan-jalan mas" jawab bi Nina.
" Yasudah! Aku ke kamar dulu ya bi" kata Devan.
" Iya mas" jawab bi Nina sambil menganggukkan kepala.
Baru saja Devan berjalan beberapa langkah, tiba-tiba...
" Oh iya mas! Bibi baru ingat!!" ucap bi Nina.
Mendengar ucapan bi Nina, Devan langsung berbalik dan berjalan menuju asisten rumah tangga nya.
" Bibi ingat apa?" tanya Devan antuasias.
" Bibi ingat kalau beberapa hari yang lalu, ibu pernah bilang kalau beliau bertemu dengan seorang gadis di jalan dan beliau ingin sekali menjadikan gadis itu menantu di rumah ini mas" jawab bi Nina.
Devan terkejut dengan jawaban asisten rumah tangga nya yang mengatakan jika sang mama memang sangat ingin menjadikan Hanum sebagai menantu, walaupun beliau baru bertemu pertama kali dengan Hanum.
" Terus mama cerita apa lagi bi?" tanya Devan penasaran.
" Ibu waktu itu bilang kalau dia ingin sekali mengetahui nama gadis itu mas" jawab bi Nina.
" Kalau mas Devan tidak percaya, mas Devan tanya saja Tarjo dia kan yang selalu mengantar ibu kemanapun ibu pergi mas" ucap bi Nina.
" Pasti dia juga mengetahui nya mas" imbuh nya.
" Terimakasih ya bi, informasi nya" ucap Devan.
" Iya sama-sama mas" jawab bi Nina.
Devan pun langsung berjalan menuju kamar nya.
" Apa benar ya kalau mama sangat ingin menjadikan Hanum sebagai menantu walaupun mama belum mengetahui latar belakang nya" pikir Devan.
" Kalau di bandingkan dengan Keysa, dia memang beda sih" ujar Devan.
" Apa mungkin karena dia berasal dari desa maka nya dia terlihat beda jauh dengan Keysa ya?!" pikir Devan.
" Kenapa malah aku membanding-bandingkan Hanum dengan Keysa ya?!" ucap Devan.
Devan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia mengambil handphone nya untuk melihat nomor handphone Hanum.
Devan menambah nomor handphone Hanum kedalam handphone nya.
Dia melihat nomor tersebut sambil berkata " Telepon sekarang tidak ya?!".
Saat dia akan menekan tombol telepon, dia langsung menghentikan nya.
" Nanti saja lah!!" pikir Devan.
" Kira-kira kalau aku menghubungi dia, dia akan langsung menerima panggilan telepon dari ku tidak ya??" ucap Devan.
Saat Devan sedang berbicara sendiri, tanpa sadar jari tangan nya menekan tombol telepon, dan...
" Halo!" ucap seseorang dari seberang telepon.
Mendengar ada suara seseorang, Devan sangat terkejut dan dia pun langsung melemparkan handphone nya.
lanjuuuuit