NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hormon kehamilan Yang Stabil

Setelah pertarungan lima belas menit yang menguras tenaga itu mereda, Alina menyandarkan kepalanya yang lemas di dada bidang Devan. Napasnya terengah-engah, peluh dingin membasahi pelipis dan lehernya.

Devan meraih handuk kecil yang telah dibasahi air hangat dari rak khusus, mengusap wajah dan mulut Alina dengan sangat telaten dan penuh kehati-hatian, seolah-olah ia sedang membersihkan porselen yang sangat rapuh.

"Sudah lebih baik?" tanya Devan pelan, mengecup puncak kepala istrinya yang basah oleh keringat.

Alina mengangguk pelan, memejamkan matanya. Kehangatan tubuh Devan dan detak jantung pria itu yang berdebar kencang di balik kemejanya menjadi satu-satunya jangkar yang menahan akal sehat Alina dari kelelahan fisik yang luar biasa.

"Maafkan aku, Mas Devan ..." bisik Alina, suaranya hampir tak terdengar akibat lemas. "Aku tadi membentakmu ... Aku marah-marah untuk hal yang tidak penting. Aku sendiri tidak bisa mengendalikan emosiku ..."

Devan menghembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang menyalurkan seluruh beban ketegangan yang sempat mengikat dadanya. Ia merengkuh tubuh lemas Alina semakin erat ke dalam pelukannya, menyesuaikan posisi duduknya di lantai kamar mandi agar Alina bisa bersandar dengan nyaman.

"Jangan pernah meminta maaf untuk sesuatu yang tidak bisa kamu kontrol, Alina," sahut Devan tulus. Tangannya mengusap punggung istrinya dengan irama teratur. "Dokter Hendra sudah menjelaskan bahwa perubahan hormon trimester pertama memang mengacak sistem saraf dan emosimu. Jika kamu harus marah, menangis, atau membenciku setiap pagi agar kamu merasa lebih baik, maka lakukanlah. Aku akan berdiri di sini untuk menampung semuanya."

Alina membuka matanya sedikit, menatap garis rahang suaminya dari bawah. Di balik segala barikade posesif, gelang pelacak, pengawal bersenjata, dan aturan-aturan kaku yang sempat membuat Alina merasa terkungkung, Devan adalah sosok pria yang bersedia menanggalkan seluruh harga diri dan kenyamanannya hanya untuk berlutut di lantai kamar mandi, menahan tubuh lelah istrinya yang sedang berjuang menyajikan kehidupan baru ke dunia.

"Sekarang," Devan melanjutkan, mengalihkan pandangannya menatap mata Alina dengan kelembutan yang jarang ia perlihatkan pada orang lain, "kita kembali ke tempat tidur. Dokter Hendra dan tim nutrisi sudah menyiapkan sarapan pengganti yang tidak memiliki aroma menyengat sama sekali."

Devan kembali mengangkat tubuh Alina dengan mudah, membawanya keluar dari kamar mandi menuju area tempat tidur. Namun, saat Devan merebahkan Alina di atas tumpukan bantal ergonomis, pintu kamar tidur diketuk dua kali secara sopan dari luar.

Pak Bagas melangkah masuk dengan hati-hati, memegang sebuah tablet digital di tangan kirinya. Wajah pengawal senior itu tampak sedikit tegang, menandakan ada laporan penting yang harus disampaikan.

"Tuan Devan," panggil Pak Bagas seraya membungkuk hormat, menjaga jarak aman dari tempat tidur sesuai protokol internal.

Devan berbalik, menyilangkan tangannya di dada. Aura hangat yang baru saja ia perlihatkan kepada Alina seketika menguap, berganti menjadi sikap dingin seorang pemimpin tertinggi Dirgantara Group. "Ada apa, Bagas?"

"Laporan dari divisi operasional dan Sekretaris Hendra," ujar Pak Bagas pelan.

"Jadwal rapat evaluasi saham gabungan dengan konsorsium Eropa yang seharusnya digelar secara online pukul delapan pagi ini mengalami perubahan dari pihak klien. Mereka meminta Anda hadir secara langsung di ruang rapat utama kantor pusat selama satu jam, karena ada penandatanganan berkas fisik yang tidak bisa diwakilkan."

Mendengar hal itu, alis Devan menyatu tajam. Mata hitamnya memancarkan penolakan mutlak. "Batalkan. Kirimkan kuasa hukum atau minta Hendra yang menandatanganinya atas namaku. Aku tidak akan meninggalkan penthouse ini hari ini."

"Tapi Tuan," Pak Bagas mencoba menjelaskan dengan sangat hati-hati, "ini berkaitan dengan akuisisi aset bernilai empat puluh triliun rupiah yang sudah kita proses selama enam bulan. Kehadiran fisik Anda sebagai CEO utama adalah syarat mutlak dalam klausul perjanjian."

"Aku tidak peduli berapapun nilai asetnya, Bagas," potong Devan dengan nada suara yang sanggup membekukan ruangan.

"Tidak ada nilai transaksi di dunia ini yang lebih tinggi dari keselamatan dan kenyamanan istriku di kamar ini. Beritahu mereka, jika mereka tidak bisa menyesuaikan dengan jadwal online-ku, perjanjian akuisisi itu dibatalkan detik ini juga."

Pak Bagas terpaku di tempatnya berdiri. Mengorbankan proyek transaksi bernilai empat puluh triliun rupiah demi tetap berdiri di samping tempat tidur istrinya yang sedang mengalami gejolak hormon pagi hari adalah keputusan yang sangat tidak masuk akal dalam dunia bisnis.

Namun bagi Devan Dirgantara, tidak ada ruang untuk negosiasi jika itu menyangkut keputusannya menjaga Alina secara langsung.

Alina, yang mendengarkan percakapan itu dari tempat tidur, mendadak membelalakkan matanya. Rasa terkejut bercampur pusing kembali melingkupi kepalanya.

"Mas Devan, kamu gila?!" seru Alina, mencoba duduk kembali. "Empat puluh triliun? Pergi ke kantor hanya butuh waktu satu jam! Kenapa kamu harus membatalkan transaksi sebesar itu hanya untuk menungguku di kamar ini?!"

Devan berbalik menatap Alina, raut wajahnya tetap tidak tergoyahkan. "Aku tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi emosi dan fisik yang belum stabil seperti ini, Alina. Titik."

"Aku baik-baik saja! Dokter Hendra dan para perawat ada di lantai bawah!" Alina menatap suaminya dengan mata membulat penuh penegasan. Gejolak hormonnya mendadak bergeser dari rasa sedih menjadi kejengkelan luar biasa melihat betapa keras kepalanya Devan.

"Jika kamu membatalkan proyek itu hanya karena alasan konyol ini, aku swear aku tidak akan mau berbicara denganmu selama seminggu penuh!"

Devan menatap Alina intens, mengukur tingkat keseriusan dalam ancaman istrinya. Selama beberapa detik, keheningan mencekam menyelimuti kamar tidur utama penthouse. Pak Bagas berdiri mematung di dekat pintu, tidak berani bernapas terlalu keras di tengah duel ketegangan antara pasangan suami istri tersebut.

Akhirnya, Devan menghembuskan napas kasar. Pria itu mengacak rambutnya yang rapi dengan jemarinya, sebuah gestur langka yang menandakan kekalahan mutlak seorang Devan Dirgantara di hadapan istrinya.

"Satu jam," Devan menunjuk Alina dengan jari telunjuknya, menetapkan batas waktu dengan nada sangat protektif. "Aku hanya akan pergi ke kantor pusat selama tepat enam puluh menit. Hendra harus menyiapkan seluruh berkas di meja tepat saat aku melangkah keluar dari lift. Dan kamu ..." Devan berjalan mendekati Alina, menunduk dan mencium kening istrinya dengan tekanan yang dalam, "...kamu harus tetap berada di atas tempat tidur ini, mengenakan gelang dan sepatu bersensormu, serta membiarkan Pak Bagas dan tim medis menjaga area depan pintu."

Alina menghembuskan napas lega, tersenyum kecil meski dadanya masih terasa agak sesak. "Iya, Mas Devan. Satu jam. Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan memintamu membuang seluruh jas kerjamu."

Devan berbalik menatap Pak Bagas dengan tatapan membunuh. "Siapkan pengawalan jalur cepat. Hubungi Hendra, katakan padanya jika ada satu dokumen saja yang terlambat disiapkan sehingga menambah waktuku di kantor lebih dari satu menit, aku akan memotong seluruh bonus tahunannya."

"Siap, Tuan Devan!" Pak Bagas membungkuk cepat dan segera keluar kamar untuk mengeksekusi perintah.

Devan mengambil jas hitamnya yang terikat rapi di gantungan, mengenakannya dengan gerakan tangkas. Namun, sebelum pria itu melangkah keluar dari pintu kamar, ia kembali menoleh ke arah tempat tidur, menatap Alina dengan tatapan posesif yang tak memudar sedikit pun.

"Aku memantau grafik jantungmu dari ponselku sepanjang perjalanan," peringat Devan tegas. "Jangan coba-coba mematikan atau melepas gelang itu."

"Iya, Mas Devan. Hati-hati di jalan," balas Alina lembut.

Pintu kamar tertutup rapat, menyisakan Alina yang kembali bersandar di tumpukan bantalnya. Wanita itu mengelus perutnya yang masih terasa hangat, mengulas senyum tipis di tengah rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya.

Pagi itu, gejolak hormon kehamilannya baru saja memenangkan satu babak pertempuran, membuat seorang CEO yang paling ditakuti di dunia bisnis harus bertekuk lutut dan mengatur ulang seluruh prioritas hidupnya demi sebaris senyuman dari istri dan calon anaknya.

1
sunaryati jarum
Segera buat adonan baby
MayAyunda: ha ..ha ..itu yang di tunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Syukurlah Arimbi menerima keputusan Devan yang mencintai Alina
sunaryati jarum
Katanya pergi kok ada undangan
sunaryati jarum
Mantaaap,tanpa drama.Akhirnya cinta terungkap
MayAyunda: he he 😄
total 1 replies
sunaryati jarum
Benar - benar tindakan kesatria , melindungi istri dengan pengakuan ke publik.Sekaligus membungkam kesombongan Arimbi dan menghentikan langkah Hendra yang ingin merebut perusahaan alm ayahmu
MayAyunda: baca ceritaku yang lain kak judulnya ke grep preman tengil . sama" suami Dadakanku ternyata bos baruku "
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah kan, Devan sudah mencintaimu Alrna/Drool//Drool//Drool/
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Tenang Alina,suami kilatmu ada dipihakmu jangan berpikir kau sendirian
sunaryati jarum
Alina untuk melindungi hatimu dari kecewa, ingatkan dirimu jika Devan menikahimu secara kontrak jangan banyak berharap tapi berdoa jika jodohmu lancarkan Segala urusan Devan
sunaryati jarum
Diam- diam memberi pengawasan dan perlindungan
sunaryati jarum
Mampus ,Clara
sunaryati jarum
Devan sepertinya.mulai ada rasa padamu Alina, bentengi diri dulu.Agar kamu tidak kecewa , jangan mudah terlena ,lihat kesungguhan Pak Devan dulu.
sunaryati jarum
Devan memilihnya bukan kebetulan, sebelumnya pasti sudah menyelidiki, mungkin Rumah Sakit tempat ibumu dirawat itu miliknya
sunaryati jarum
Itu seharusnya bukan kesalahan besar ,Alina.Sepertinya Clara menjatuhkan kamu,hati- hati.
sunaryati jarum
Itu juga Bos Devan Alina, tidak usah cemas
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Devan sebelumnya sudah tahu padamu Alina.Itu dugaan emak.Mungkin dia juga jatuh cinta padamu,sakit ibumu sebagai pengikat kau dekat dengannya.Semoga kedepannya kalian menjadi suami istri sesungguhnya
sunaryati jarum
Memangnya file Alina langsung dihapus, katanya berkualitas mau menjebak cuma laporan offline , yang pasti ketahuan lah.
Maseni Maseni: licik tapi ga pakai otak ya kak, alina kan masih ada soffile yg benar

ayo qta buktikan
total 2 replies
Siti Zaenab
next lanjut
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!